It'S Me

It'S Me
Episode 61



“Wah… sebentar lagi ada penambahan anggota Squart Gibah ya.” Kata Gu Ana sambil tertawa melihat ekspresi dari pangeran Zang Limo.


Mendengar kata kata Gu Ana sontak membuat pangeran Zang Limo, Zang Handrong, dan tuan Gu bingung dengan kata kata Gu Ana.


“Apa tadi? Se… sequart Gibah? Apa itu.” Tanya pangeran Zang Handrong.


Sementara Gu Min menepuk kepanya karna hal tersebut.


“Itu artinya perkumpulan gosip pangeran.” Kata Gu Min menjelaskan pertanyaan dari pangeran Zang Handrong.


“Ooo…” kata kata itu keluar secara serempak dari mulut pangeran Zang Handrong, pangeran Zang Limo dan Tuan Gu.


“A… tidak aku hanya penasaran dengan kekasih Gege Handrong.” Kata pangeran Zang Limo menolak pernyataan Gu Ana


“Bagaimana mereka menjadi kekasih, bahkan Gege Handrong belum menyatakan cinta kepada gadis tersebut.” Kata Gu Jun yang menimbulkan tawa di antara mereka.


“Ah… padahal malam itu aku melihatnya selalu curi curi pandang dengan gadis itu.” Kata Gu Ana semakin membuat tawa orang orang tertawa.


Mendengar perkataan Gu Ana dan Gu Jun sontak saja membuat pangeran Zang Handrong wajahnya memerah seperti tomat.


“Ah… jangan jangan kau jatuh cinta dengan adikku?” tanya pageran Nan Cheng mencoba menebak siapa sebenarnya yang disukai pangeran Zang Limo.


Mendengar pertanyaan Nan Cheng sontak membuat jantung pangeran Zang Handrong berdetak cepat, lidah pangeran Zang  Handrong menjadi keluh seketika.


Sementara Gu Ana yang mendengarkan perkataan dari pangeran Nan Cheng sontak terkejut, sungguh tebakan yang tepat sasaran.


“Ah, kau akan mendapatkan hadiah nobel.” Kata Gu Ana sambil tersenyum senyum.


“Ha… benar kah?” tanya Gu Min dan Gu Jun serempak.


Pangeran Nan Cheng yang mendengarkan hal tersebut hanya menganga tak percaya, pandangannya dialihkan kepada pangeran Zang Handrong, menetap tak percaya.


“Benarkah? Wah aku tak menyangka.” Kata pangeran Nan Cheng dengan senyuman yang tak dapat ditebak.


“Aku… Aku, ah sudah lah kenapa kita membicarakan ini sih? An’er bagaimana keadaanmu saat ini, apa yang kau rasakan?” tanya pangeran Zang Handrong mengalihkan pembicaraan.


Mendengar pertanyaan pangeran Zang Handrong, Gu Ana sontak saja tersenyum, nampak jelas bahwa pangeran Zang Handrong hanya mengalihkan pembicaraan, ditambah saat ini pangeran Zang Handrong salah tingkah karna pangeran Nan Cheng mengetahui bahwa Ia menyukai adiknya, putri Nan Ling


“Ah… kau jangan khawatir begitu, aku akan mendukungmu, akan kukatakan kepada Ling’er bahwa kau mengajaknya berkeliling istana mala mini.” Kata pangeran Nan Cheng dengan santainya, sambil berlari meninggalkan tempat itu.


Melihat pangeran Nan Cheng melarikan diri dari tempat itu sambil mengatakan hal tersebut, sontak membuat pangeran Zang Handrong mengejarnya.


“Ais… Cheng jangan macam macam.” Kata pangeran Zang Limo dengan wajah memerah.


Melihat mereka sudah keluar dengan adegan kejar kejaran membuat Gu Ana mengerutkan keningnya.


“Apa aku baru saja melihat adegan film India? Ah cupke cupke ho tahe.” Kata Gu Ana sambil menggoyangkan kepalanya seperti orang India sedang berbicara.


“Mohabetten tu orang.” Kata Gu Jun lebih ngaur lagi.


“Kayaknya Naggin deh, acha.” Kata Gu Ana tak mau kalah.


“Nehi, My Name Is khan Tanhaji Bajrangi Bhaijaan Hindu Medium Danger.” Kata Gu Jun menyebutkan seluruh judul film india yang pernah Ia tonton.


Gu Min yang mendengarkan hal itu jengah dibuatnya, mulai dari judul film, lirik lagu, dan judul lagu dari Boliwood sudah mereka sebutkan.


Jangan tanya tuan Gu dan pangeran Zang Limo, mereka sudah bingung dengan apa yang Gu Ana dan Gu Jun sebutkan. Tidak ada satupun yang mereka mengerti.


“Apa yang kalian bicarakan? Kami sungguh tak mengerti.” Tanya tuan Gu penasaran.


Mendengarkan pertanyaan dari tuan Gu sontak membuat Gu Ana dan Gu Jun tertawa keras. Sementara Gu Min melihat hal tersebut hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Ah… Ayah jangankan kita yang tak mengerti bahasa mereka, bahkan mereka saja tak mengerti apa yang mereka bicarakan.” Kata Gu Min sambil menggelengkan kepalanya.


“Ya ampun… ya sudah kau istirahatlah terlebih dahulu, ayah harus mengurus urusan ayah dulu.” Kata tuan Gu meninggalkan Gu Ana dan yang lainnya.


Mendengar hal tersebut soantak membuat Gu Min dan Gu Jun mengikuti ayahnya, karna pekerjaan mereka juga masih banyak.


“Ayah tuanggu kami…” kata Gu Min dan Gu Jun serempak sambil menyusul tuan Gu.


“Pangeran tolong Jaga An’er.” Kata Gu Min kepada pangeran Zang Limo.


Setelah kepargian mereka tinggallah kini Gu Ana dan pangeran Zang Limo, pangeran Zang Limo tersenyum melihat Gu Ana sambil berjalan kearah Gu Ana. Kerinduannya akan Gu Ana kini telah terobati.


“An’er…” kata pangeran Zang Limo sambil memeluk Gu Ana dengan erat.


“Ah… Limo, jangan memelukku begitu erat, aku kesulitan bernafas.” Kata Gu Ana yang saat ini berada dalam pelukan pangeran Zang Limo.


Mendengar hal itu, pangeran Zang Limo melepaskan Gu Ana secara perlahan. Pangeran Zang Limo kemudian memperhatikan wajah Gu Ana lalu menghujaninya dengan ciuman terus menerus.


“Aku merindukanmu…” kata pangeran Zang Limo memandangi wajah Gu Ana, lalu mencium kening Gu Ana, kemudian pandangannya beralih ke bibir Gu Ana, bibir yang selama ini di rindukannya. Perlahan namun pasti pangeran Zang Limo menutup matanya dan mendekatkan bibirnya ke bibir Gu Ana.


“Kruk…” terdengar suara dari Gu Ana yang menghentikan aktifitas dari pangeran Zang Limo.


Mendengar suara perut Gu Ana yang meminta untuk di isi, pangeran berdiri memanggil pelayan agar membuatkan bubur untuk Gu Ana.


Mendengar perintah pangerannya para pelayan dengan sigap membuatkan bubur untuk Gu Ana. Tiga puluh menit kemudian bubur Gu Ana telah siap, sementara Gu Ana sudah uring uringan menunggu bubur tersebut karana kelaparan yang melandanya.


“Biar aku yang menyuapimu, kau masih lemah.” Kata pangeran Zang Limo meniup bubur yang masih panas tersebut. Setelah pangeran meniup bubur tersebut, kira kira bubur tersebut sudah cukup dingin untuk Gu Ana pangeran Zang Limo pun menyuapkannya.


“Aaa… buak mulutmu.” Kata pangeran Zang Limo.


Mendengar hal tersebut Gu Ana segera membuka mulutnya untuk segera mengisi perutnya yang sudah berdemo sejak tadi.


“Sudah, aku sudah kenyang.” Kata Gu Ana setelah beberapa suap masuk ke mulutnya.


“An’er kau baru makan beberapa suap saja, jangan begitu kau belum makan apa apa selama beberapa hari ini, ayo makan beberapa suap lagi.” Bujuk pangeran Zang Limo.


“Limo aku sudah kenyang, aku tak mau lagi.” Kata Gu Ana dengan nada manja.


Mendengar hal tersebut sontak membuat pangeran kembali menyuapkan bubur kemuut Gu Ana.


“Ayo dua suap saja, setelah itu aku tak akan memaksakan mu lagi.” Kata pangeran Zang Limo kepada Gu Ana.


Mendengar bujukan tersebut, Gu Ana segeran membuka mulutnya untuk kembali memakan bubur tersebut, hingga suapan kedua. Pangeran Zang Limo kemudian memberikan air minum kepada Gu Ana.