It'S Me

It'S Me
cast



Tangan Justin mengepal, sekali lagi ia menajamkan indranya, untuk memastikan keadaan sekitar. Benar saja hanya bau laki laki itu. Justin kembali menajamkan matanya, untuk melihat apakah ada cctv di sekitar pekuburan. Setelah memastikan, bahwa tidak ada cctv. Justin segera berdiri, dan melangkahkan kakinya, dengan cepat ke arah pria berbau apek itu.


Dalam hitungan detik Justin sudah berada di belakang pria itu. Justin segera menggenggam pria itu, dan menariknya di ke dalam hutan, sekitar pekuburan itu.


Pria itu tak dapat melihat secara langsung bagaiman pergerakan Justin, karena kecepatan Justin yang begitu cepat.


"Kalian orang orang breng*sek menginginkan rahasia ku kan." kata Justin mengintimidasi, sembari membanting tubuh pria itu.


Pria itu bergetar hebat, tak menyangka ternyata Justin bukan seorang manusi.


"Ka... kau b... bu... bukan manusia." kata pria tersebut.


"Berikan kameranya." pinta Justin.


Ia kembali menekan bahu pria itu, dengan perawan yang sedikit gempal, Justin tahu betul bahwa anak ini masih muda, hanya terlalu banyak makan, hingga perutnya membesar.


"Ti... tidak mau, kau tahu aku orang pers, kalau kau melakukan sesuatu padaku maka aku bisa membuka rahasiamu, belum lagi menuntut mu." ancam pria itu dengan nada gemetar.


"Oh ya." kata Justin tersenyum miring.


Justin menikmati betul ketakutan dari pria itu, rasanya detak jantung yang tidak beraturan dari pria itu, benar benar membuat rangsangan yang sangat amat besar untuk dirinya.


Detak jantung pria itu, mengalirkan darah ke seluruh tubuh dengan cepat, Justin bahkan dapat merasakan setiap aliran darah yang masuk, di balik arteri setiap pembulu dara laki laki itu. Justin tersenyum senang, semakin membuat pria itu ketakutan.


"Kebetulan sekali aku saat ini tengah kelaparan, dan sebentar lagi akan berpuasa, selama berbulan bulan." kata Justin, sedikit mengeluarkan taringnya, yang semakin lama semakin panjang.


Melihat taring Justin yang semakin panjang, Laki laki itu semakin ketakutan. Justin menggenggam pundak laki laki itu, dan mulai menarik pria itu, untuk bersiap siap melahap seluruh darah yang ia punya.


"Aaa..." teriak laki laki itu, ketika taring panjang Justin masuk dan menusuk lehernya, tepat di pembulu darah laki laki itu.


Pria itu berlahan kehilangan kesadarannya, kemudian berlahan tak sadarkan diri. Lama lama wajah pria itu memucat, kemudian membiru. Bertanda bahwa pria itu kini tidak memiliki darah, di sekujur tubuhnya. Justin mengusap bekas darah uang menempel di sudut bibirnya.


"Darahnya benar benar tidak enak, sedikit amis, seperti bau badannya." guman Justin, Justin memandang tubuh pria tak bernyawa itu.


Seperti biasanya, Jaustin akan menghilangkan bukti, dengan melafalkan manta, agar tubuh pria itu hilang dalam hitungan detik.


Justin kemudian kembali dalam hitungan detik ke tanah perkuburan. Justin kembali menajamkan bahwa tidak ada yang melihatnya.


Justin kembali menaiki mobilnya, dan memilih untuk pergi di penitipan mobil. Justin kemudian memilih menaiki taksi dan pergi ke bibir pantai. Kini benar benar sangat malam, Justin dapat melihat bintang yang bertaburan di angkasa dengan jelas. Justin menemui penjaga pantai, yang telah di perintahkan oleh teman Justin untuk memberikan Justin sebuah spit boat.


"Aku akan menjalani karantina, seperti mengasingkan diri dari penyakit menular. setidaknya ini yang terbaik, agar aku dapat meredamnya." guman Justin sembari menaiki spit boat untuk mencapai pulau tersebut.


Justin mengendarai spit boat nya menjauh dari bibir pantai. Justin memang bisa berpindah dengan sangat cepat, dari bibir pantai itu ke pulau yang ia tuju, apalagi itu tak terlalu jauh. Namun itu pasti akan memakan banyak tenaga Justin. Belum lagi Justin harus berpuasa.


"Aku tidak yakin apakah ini tepat, mungkin aku akan ketinggalan beberapa tour, dan beberapa rapat perusahaan." gumamnya sembari ketika menepikan spit boat nya.


Kini Justin sudah sampai di pulau tersebut, Sepertinya ia benar benar sendiri, dan berpuasa dalam waktu lama. Setidaknya itu lah cara mengendalikan monster dirinya.


Namun Justin sedikit tertegun, ketika melihat spit boat lain di pinggir bibir pantai tersebut.


"Mungkin itu milik nya, yang sengaja di tinggal." gumam Justin.


Justin kemudian melangkahkan kakinya ke sebuah villa yang cukup besar, yang berada tidak jauh dari bibir pantai. Justin memeriksa sejenak ipad dan ponselnya, hanya menunjukkan tanda silang di bagian sinyalnya.


"Ah ternyata benar benar tidak ada jaringan." kata Justin sembari kembali menyimpan benda benda elektronik nya, di tas saku yang ia bawa.


Justin segera masuk ke dalam gerbang villa tersebut, tampak tenang, dan sedikit terdapat beberapa rumput liar yang menjalar dan merayap, di patung pancuran air, seperti patung malaikat kecil yang menuangkan air.


Justin melangkah kan kakinya memasuki villa tersebut, dan melihat ke dalam. Memang benar benar sempurna, dan layak untuk di huni. Mungkin dari sekian ratus tahun yang Justin miliki, ini adalah liburan terbaiknya.


Justin hanya berharap liburannya kali ini tak akan rusak. Justin segera menaiki tangga, menuju lantai dua dan segera mencari kamar yang akan ia tempati.


Baru saja ia menapaki anak tangga terakhir, sebelum benar benar naik ke lantai dua. Justin dapat mendengar dengan jelas suara wanita, yang sedikit bersenandung.


Justin menajamkan indranya, kemudian mencari asal suara tersebut. Justin sedikit tersenyum miring, ternyata dia tidak sendirian, ada seorang wanita, dengan dres putih longgar di kamar paling ujung. Setidaknya empat meter dari tempatnya berdiri.


"Apa ini, dia memintaku untuk berpuasa, tapi mengirimiku seorang wanita yang siap untuk di mangsa." kata Justin segera mendekati kamar wanita itu.


Justin berjalan perlahan, sengaja tidak mendengarkan langkah kakinya, agar wanita itu terkejut, tetika ia berada di depan pintu.


Tok.


Tok.


Tok.


Suara ketukan Justin membuat wanita itu menoleh, dan menghentikan kegiatan mengupas kulit apelnya, ia heran bagaimana mungkin ada orang di sini. Setahunya ia hanya sendirian, dan tidak ada orang lain, selama seharian ia mengelilingi tempat ini, namun tidak ada.


Hantu? Ayolah wanita itu cukup logis untuk mempercayai adanya hantu. Kecuali ada orang yang masuk ke villa itu. Tapi setahu nya pulau tersebut merupakan pulau pribadi, sementara sang tuan tanah sedang tidak di tempat. Ah, mungkin penyusup. Itu yang di pikirkan wanita itu.


Wanita itu cukup tenang ia memiliki senjata, yang dapat melumpuhkan siapapun. Membuatnya bisa setenang itu.


"Siapa?" tanya wanita itu dengan tenang sembari melanjutkan mengupas apelnya, yang tadi terhenti oleh ketukan itu.


Justin sedikit mengerutkan keningnya, ketika tidak merasakan ketakutan dari wanita itu. Bahkan saat Justin mempertajam indranya, untuk merasakan denyut nadi wanita itu, membuatnya sedikit bingung, mengapa tidak ada perubahan sama sekali.


Padahal ia dapat merasakan denyut nadi tadi, saat wanita itu terkejut. Namun kembali normal.


"Apa aku melemah?" guman Justin, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Flashback on.


Sepotong roti isi terletak di atas meja, di sebelah Anna Willson. Lapisan roti isi itu, berisi keju yang meleleh, beberapa daging, dan tomat segar. Benar benar menggoda tenggorokan Anna, untuk memakannya sampai habis. Sementara temannya memasukkan makanan penutup ke mulutnya. Sepotong pie apel yang sama sekali tidak tersentuh, kini tergeletak begitu saja di depan Anna, kini pie apel itu sudah dingin, dan mungkin saja tak seenak ketika masih sedikit hangat atau keluar dari oven.


Anna terlihat sangat mengantuk, dan ingin tidur, mungkin karena terlalu lelah, setelah perjalanan jauh yang menempuh sekitar sepuluh jam.


Mendengar pertanyaan dari Brian , Anna hanya mengangguk meng iya kan. Anna terlalu lelah untuk menjawabnya.


"Kenapa tidak ke pulau itu?" tanya nya lagi.


Brian menang cerewet, dan termasuk ke dalam makhluk ingin tahu. Ia akan menanyakan atau mengatakan apa yang terlintas di kepala dan pikirannya.


"Sudah malam, dan akan sampai di tempat itu terlalu larut. Belum lagi aku sangat lelah." kata Anna akhirnya menjawab pertanyaan Brian.


Anna tahu jika pertanyaan Brian tidak di jawab, maka anak dari pertanyaan tersebut menjadi tambah banyak. Seperti halnya soal mate matematika, soalnya satu, namun jawabannya bercabang dan berakar.


"Aku belum pernah ke pulau itu, apalagi villa itu, jadi lebih baik aku kesana pagi atau siang. Untuk memastikan sekelilingnya." kata Anna sembari tersenyum.


Mendengar hal itu, Brian mengangguk, berarti puas dengan jawaban Anna. Namun tiba tiba sesuatu terlintas di kepala nya.


"Tunggu, tunggu dulu... kau tidak takut malam atau kegelapan kan?" tanya Brian, mengangkat alis mata sebelah kiri.


Brian kembali mengangkat garpu penuh cake coklat, mulai di suap kan ke dalam mulutnya.


"Ayo lah..." keluh Anna, membuat Brian tersenyum.


"Aku tahu, aku tahu... kau tidak takut pada hal yang sedikit aneh, jadi jangan melototi ku begitu, aku hanya bercanda." kata Brian masih fokus ke makanannya.


"Aku tidak takut, dan tidak mengharapkan sesuatu hal yang aneh aneh atau apalah itu." ucap Anna memandang Brian dengan malas.


Brian terkekeh melihat dan mendengar kata kata dari mulut Anna. Anna menopang dagunya dan berusaha agar tak terjatuh dan tertidur di atas kue pai apel nya.


"Aku harus tidur sekarang."


"Ayo lah..., Pulau itu tak jauh dari sini, hanya berjarak satu jam dengan mobil dari sini." kata Brian sembari mengunyah potongan cake coklat terakhirnya.


Brian memang suka makan, makan apa saja. Yang penting coklat baginya, sungguh enak menurutnya. Hingga sedikitpun tak ingin Brian lewatkan, Brian mendengus sedikit kesal ketika cake coklatnya habis.


"Ah bisa kah aku mendapat kan cake coklat mu itu?" tanya Brian. Ketika melihat potongan Cake coklat Anna tak tersentuh.


Anna tak menjawab, ia hanya mengangguk neng iya kan keinginan Briana. Brian dengan binar bahagia yang ia miliki, segera mengambil piring cake coklat Anna.


"Kalau kau tidak keberatan naik motor, aku bisa mengantarmu." lanjutnya.


"Brian... aku baru saja mengunjungi dua benua dalam waktu lima hari ini, memeriksa beberapa kaca, instalasi, dan desain rumah yang sudah sedikit usang, belum lagi para klien klien ku sangat cerewet dan pemilih." jelas Anna, meminta Brian segera menutup mulutnya.


Anna terkadang harus bersabar dengan sikap cerewet dari Brian, membuatnya harus memiliki stok pendengaran tiada batas.


"Tidakkah bisa aku mendapatkan pelayanan kamar? Atau sebuah bau aroma mint, untuk kamar ku malam ini? Lagan aku tak suka naik sepeda motor." kata nya lagi, dengan memejamkan air matanya.


Mendengar keluhan Anna, Brian hanya menggeleng. Anna memang tipe pekerja keras, tak ingin bergantung kepada keluarganya.


"Dasar Pesawat berjalan." ejek Brian kepada Anna, dengan senyum lebar dengan sedikit menyipitkan matanya, yang hitam.


Anna hanya memandang Brian, kemudian tersenyum ke arah Brian, yang kini asyik dengan cake coklatnya.


Anna senang bertemu dengan Brian secara tidak sengaja, belum lagi Brian setuju untuk membantunya menemukan sumber kehidupannya. Brian memang pahlawan Anna, selalu datang di saat saat yang sangat tepat, seperti sekarang ini.


"Dua minggu lagi bulan purnama, aku tahu itu bukan waktu yang lama, bisa jadi kau tak punya waktu." kata Anna mengeluh.


Tiba tiba ingatan itu membuat Anna sedikit lesu, waktu semakin berjalan. Namun dirinya tidak menemukan apa yang ia cari. Kaum kegelapan selalu berhasil menemukannya terlebih dahulu.


"Jangan khawatir, aku sudah dapat penglihatan ku yang sempat hilang." kata Bian meyakinkan Anna.


Brian tak ingin Anna larut dalam kesedihan, Brian akan membantu Anna sebisa yang ia bisa.


Mendengar kata kata Brian nembuat Anna mengangkat kepala nya, memandang Brian dengan tatapan berbinar, setidaknya dia punya harapan.


"Benarkah?" tanya Anna dengan semangat.


Brian hanya mengangguk meng iya kan. Sembari memakan terus potongan cake coklat yang terakhir.


Anna memperhatikan keadaan sekitar, yang benar benar sangat ramai. Anna kemudian mencondongkan badannya ke arah Brian, lalu berbisik.


"Tapi... aku pikir harganya sangat mahal sekali." bisik Anna dengan suara kecil.


Brian mengorek ngorek sisa coklatnya, dengan garpu kemudian menjilati garpu nya dengan sangat puas.


"Tidak tidak semahal yang kau kira." kata Brian memandangi Anna, setelah puas menjilati garpu nya.


Mendengar kata kata Brian, membuat Anna benar benar bersemangat mendengarkannya.


"Aku tidak membayarnya dengan jiwa suci ku." kekeh Brian.


Anna mendelik mendengarkan penuturan sahabatnya itu. Ingin sekali memukul nya dengan garpu, yang saat ini tergeletak di atas piring pai apel, yang belum tersentuh sama sekali. Anna memang menginginkannya, tapi juga tak ingin Brian terluka karenanya.


"Kalu itu yang kau kira mahal." lanjut brian masih dengan kekehan nya.


Sontak membuat Anna benar benar memukul kepala Brian, dengan garpu miliknya.


Brian yang menerima pukulan tiba tiba Anna hanya meringis kesakitan, sembari memegangi kepalanya yang terkena pukulan garpu itu.


Anna memang berpikir begitu, membuka penglihatan sama sekali tidak mudah. Bahkan menurut kabar yang beredar, membuka penglihatan memang sangat begitu sakit, dan terjadi luka besar besaran, bukan luka luar, itu adalah luka terhadap jiwa.


Terkadang membuka penglihatan juga mampu mampu melukai diri sendiri, apalagi kalau itu sangat sulit.


Brian membuka t-shirt hitamnya hingga ke atas dada. Dalam pencahayaan lampu yang sedikit gelap, Anna dapat melihat garis penglihatan yang harus di bayar. Tiga garis vertikal terukir di kulitnya. Luka itu terlihat masih baru, Anna dapat merasakannya. Anna yakin luka itu akan sulit untuk di hilangkan, kecuali dengan sihir.