
“Ayo… ayo, jangan berfikiran yang aneh-aneh ini masih pagi.” Kata Gu Ana menekan emosi pangeran Zang Limo. “Pagi-pagi kau sungguh menjadi bucin.” Kata Gu Ana sambil gelang-gelang.
“Tidak…” kata pangeran Zang Limo tergantung karna mendengar perut Gu Ana yang berbunyi.
“hehehe… tadi sarapanku kurang.” Kata Gu Ana tertawa kepada pangeran Zang Limo.
“Ayo ke tempat ku.” Tawar pangeran Zang Limo.
Setelah itu mereka melangkah menuju kediaman pangeran Zang Limo. Sesampainya dikediaman pangeran Zang Limo langsung memerintahkan pelayan untuk mempersiapkan makanan untuk mereka berdua. Setelah mereka sarapan pangeran Zang Limo dan Gu Ana berbincang-bincang di dalam kediaman pangeran Zang Limo.
“Lalu bagaimana menurutmu?” tanya pangeran Zang Limo kepada Gu Ana.
Gu Ana yang ditanya justru bengong karna tidak mengerti maksud dari pangeran Zang Limo.
“Apa maksudmu?” tanya Gu Ana dengan wajah polos saat ditanya pangeran Zang Limo.
Melihat wajah polos yang ditunjukkan Gu Ana membuat pangeran menjulurkan tangan kanannya dan mencubit pipi kiri Gu Ana dengan lembut.
“Maksudku apa kau tidak menyukai bertunangan dengan ku.” Jelas pangeran Zang Limo kepada Gu Ana.
“Tidak, aku menyukainya.” Kata Gu Ana. “Ah pangera kau akhir-akhir ini lebih sering tersenyum kepada ku, tapi di saat tertentu terkadang kau terlihat kesal, sebenarnya ada apa denganmu? Apa jangan-jangan kau menyukaiku?” goda Gu Ana kepada pangeran Zang Limo.
“Ah… itu… i…iya.” Jawab pangeran Zang Limo terbata-bata karna gugup.
“Iya? Iya apa?” tanya Gu Ana dengan tersenyum manis dan dengan wajah bingung.
Sebenarnya Gu Ana sudah mengetahui jawabannya namun Gu Ana suka melihat ekspresi pangeran Zang Limo yang salah tingkah dengan ucapan-ucapan Gu Ana, karna itu Gu Ana suka menggoda pangeran Zang Limo.
Mendengar pertanyaan Gu Ana dan melihat ekspresi Gu Ana sungguh membuat pangeran Zang Limo gemas. Menurutnya ekspresi yang ditunjukkan Gu Ana sangat menarik dan imut. Sontak saja membuat jantung pangeran Zang Limo berdetak kencang, pangeran Zang Limo langsung memalingkan wajahnya ke arah kanan untuk menutupi kegugupannya.
Melihat pangeran Zang Limo salah tingkah denga pertanyaannya sontak membuat Gu Ana semakin senang untuk menggoda pangeran Zang Limo. Gu Ana memindahkan posisinya ke arah pandangan pangeran Zang Limo, tepatnya di sebelah kanan pangeran Zang Limo.
“Apa artinya jawabanmu tidak?” tanya Gu Ana dengan wajah yang dibuat sedih.
“Tidak, maksudku aku menyukaimu.” Kata pangeran Zang Limo tertunduk malu saat menjawab pertanyaan Gu Ana.
Melihat kspresi pangeran Zang Limo yang malu, membuat Gu Ana semakin senang karna berhasil menggoda pangeran Zang Limo.
“Sungguh? Bisa kau membuktikannya?” tanya Gu Ana, sambil berdiri memindahkan posisinya dari samping kanan pangeran Zang Limo.
Melihat Gu Ana akan berdiri pangeran Zang Limo sontak menarik tangan Gu Ana. Sementara Gu Ana yang tangannya ditarik pangeran Zang Limo tersentak kaget, untuk sepersekian detik Gu Ana seolah kehilangan kesadarannya, sehingga menyebabkannya kehilangan keseimbangan.
“Aaaa…” Gu Ana saat sadar ternyata dirinya sudah terjatuh dan berada di pangkuan pangeran Zang Limo. “Pangera, saya mau berdiri.” Kata Gu Ana kepada pangeran Zang Limo.
“Ah… bukan itu maksudku, aku hanya sedang bercanda tadi.” Kata Gu Ana sedikit canggung.
“Aku menyukainya.” Kata pangeran Zang Limo sambil memperhatikan wajah Gu Ana dengan seksama.
“Pangeran kau sungguh seperti orang yang berbeda.” Kata Gu Ana mencoba untuk bangkit.
Pangeran Zang Limo yang mendengarkan perkataan dari Gu Ana hanya tersenyum, sedangkan tangan kanan nya sudah menyentuh wajah Gu Ana. Pangeran Zang Limo menelusuri wajah gadis tersebut dengan tangannya mulai dari menyentuh dahi, alis, mata hidung kemudian turun ke bibir Gu Ana.
Perlahan pangeran Zang Limo mendekatkan wajahnya kepada Gu Ana, kemudian menempelkan dahinya di dahi Gu Ana. Kemudian mengangkat kepalanya lagi lalu mencium kening Gu Ana.
“Kau tidak kuperbolehkan memikirkan laki-laki lain selain aku.” Katanya setelah mencium kening Gu Ana.
“Kau tidak boleh melihat laki-laki lain selain aku.” Kata pangeran Zang Limo mengecup kedua mata Gu Ana.
“Kau hanya boleh menghirup aromaku.” Sambil mencium hidung Gu Ana
“Dan ini yang terpenting, kau hanya boleh mecium, dan memujiku.” Kata pangeran Zang Limo mencium bibir Gu Ana.
“Apa kau mengerti?” tanya pangeran Zang Limo kepada Gu Ana
Entah apa yang membuat Gu Ana refleks menganggukkan kepalanya, tanda menyetujui ucapan pangeran Zang Limo.
Melihat Gu Ana menganggukkan kepalanya membuat pangeran Zang Limo tersenyum puas.
“Aku hanya ingin dicium olehmu.” Kata pangeran Zang Limo kemudian.
Setelah mengatakan hal tersebut pangeran Zang Limo menempelkan bibirnya di bibir Gu Ana, sambil menutup matanya. Pangeran Zang Limo lalu ******* habis setiap inci bibir Gu Ana. Entah kenapa menurutnya hal tersebut merupakan candu yang takkan pernah memuaskan dirinya.
Saat mereka hanyut dalam ciuman tersebut, tiba-tiba raja Zang Zuan masuk tanpa permisi ke dalam kediaman pangeran Zang Limo. Namun mereka berdua tak menyadarinya, sehinggan raja Zang Zuan yang melihat aksi mereka secara langsung, memilih untuk berdiri diam menyaksikan mereka sambil tersenyum-senyum.
Setelah beberapa menit mereka berciuman, akhirnya mereka melepaskan pangutan tersebut dan mengambil nafas dengan rakus.
“Kau tahu An’er, bibirmu sangat manis dan lembut, aku sangat menyukainya.” Kata pangeran Zang Limo, kembali mengambil ancang-ancang untuk kembali ******* bibir Gu Ana.
“Hem… sepertinya aku sudah cukup melihatnya…” kata Raja Zang Zuan kepada pangeran Zang Limo dan Gu Ana.
Saat mendengar suara tersebut sontak saja membuat mereka terkejut dan melihat sumber suara tersebut. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat raja Zang Zuan sedang berdiri dan memperhatikan mereka, ditambah lagi dengan posisi mereka saat ini, dimana Gu Ana yang masih berada di pangkuan pangeran Zang Limo. Wajah mereka memerah karna malu, sedangkan Gu Ana sontak berdiri dari pangkuan pangeran Zang Limo dan merapikan diri, semntara pangeran Zang Limo berdiri dan merapikan pakaiannya.
“Ah… sepertinya aku akan mendapatkan cucu, dan pernikahan kalian akan ku percepat. Sekarang lanjutkan aktifitas kalian, aku akan ke tempat ratuku untuk membahas pernikahan kalian.” Kata raja Zang Zuan sembari tersenyum lalu melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut.