It'S Me

It'S Me
Sebuah Cerita



Memdemgar pertanyaan dari Xu Kai, Yan Yuru menghela nafas selama beberapa saat lalu mengeluarkannya perlahan. Dia mengambil sebuah buku kecil dimana dia selalu menuliskan dan menuangkan segala ispirasinya di dalamnya di masa lalu.


Raut wajahnya terlihat murung saat menatap buku kecil itu, namun kemudian dia mulai tersenyum tipis kembali.


"Papa selalu melarangku untuk menjadi penyanyi sejak dulu. Pada awalnya aku tidak terima dan sangat marah, karena papa tak bisa memberikan alasan yang tepat untukku. Aku masih sering membangkang saat itu, Xu Kai. Karena menganggap papa tidak memiliki sebuah alasan yang masuk akal." ucap Yan Yuru mulai bercerita sedikit tentang masa lalunya.


"Dan disaat itulah aku masih sering pergi ke studio bersama dengan teman-temanku bermain musik. Bahkan aku pernah secara diam-diam mengikuti sebuah perlombaan band bersama teman-temanku. Namun tiba-tiba saja aku mendapatkan kabar jika papa mengalami sebuah kecelakaan dan membuatnya koma selama beberapa waktu." Yan Yuru kembali bercerita.


"Disaat itulah mama menceritakan semuanya padaku. Di masa muda, papa adalah seorang penyanyi yang sangat berbakat dan mengisi beberapa konser penting. Namanya semakin dikenal dan melambung sejak sebuah agensi besar merekrut papa dan mengajaknya untuk bergabung." imbuh Yan Yuru masih bercerita dan mematap nanar buku kecil miliknya.


Sementara Xu Kai masih mendengarkannya dengan seksama.


"Nama papa semakin melambung sejak saat itu. Namun, papa mengalami sebuah kecelakaan yang mengakibatkan pita suaranya mengalami sedikit kerusakan. Semenjak itulah papa sudah tidak bisa menyanyi dengan sempurna, nada tinggi tak bisa dilakukannya seperti biasanya. Papa memutuskan untuk pengsiun dari dunia itu, dan memutuskan untuk mengubur kembali mimpi-mimpinya sebagai seorang penyanyi." Yan Yuru masih bercerita dan sesekali menghela nafas.


"Dan karena itulah papa selalu melarangku untuk menjadi penyanyi. Jika mengingat beberapa hal yang berhubungan dengan musik, akan selalu membuat papa mengingat saat-saat keterpurukannya di masa lalu. Dan tentu saja itu membuatnya sangat terpukul. Semenjak aku mengetahui alasan papa yang sebenarnya dari mama,aku memutuskan untuk berhenti menyanyi. Aku tidak ingin membuat papa kembali bersedih, bagiku saat itu ... papa bisa kembali terbangun dari komanya saja sudah lebih dari cukup. Aku bisa melepaskan impianku, tapi aku tidak bisa melepaskan dan kehilangan papa."


Imbuh Yan Yuru lagi, tanpa sadar sepasang manik-manik indahnya kini sudah menjadi berkaca-kaca seperti kristal. Namun sebuah senyuman tipis mulai menghiasi wajahnya.


"Dan kini aku malah membuka kembali luka lama papa. Aku ... aku sempat khawatir sebelumnya. Namun aku senang akhirnya papa bisa merubah pandangannya dan mengijinkan aku kembali menyanyi." imbuh Yan Yuru sedikit merasa lega.


"Aku ikut senang dengan semua ini, Jun Ze. Selamat ya ..." ucap Xu Kai menepuk bahu Yan Yuru dan terswnyum lebar.


"Terima kasih, Xu Kai."


"Apakah ini adalah kalian? Kamu cukup imut ya di masa kecil." tanya Xu Kai kembali menatap figura kecil yang masih berada dalam timangannya.


"Ya, Xu Kai." jawab Yan Yuru tertawa kecil karena mendengar pujian dari Xu Kai.


"Lalu? Dimana mama kandungmu, Jun Ze?"


"Mama sudah meninggal 5 tahu yang lalu karena sebuah kecelakaan."


"Oh ... ma-maaf. Aku tidak bermaksud untuk membuatmu kembali bersedih." ucap Xu Kai merasa bersalah.


"Masa lalu adalah sebuah kenangan. Dan kenangan dari mama bukanlah untuk dilupakan, Xu Kai. Jangan khawatir, aku tidak apa-apa kok." jawab Yan Yuru mulai berpindah dan duduk di tepian pembaringan lalu membaringkan tubuhnya di atasnya


"Hhm. Kamu benar, Jun Ze ..."


"Xu Kai, aku mengantuk. Ayo kita tidur ..." ucap Yan Yuru lirih dan mulai memejamkan sepasang matanya. Tak membutuhkan waktu yang lama, dia sudah tertidur begitu saja.


Xu Kai juga mulai menyusul sahabatnya dan berbaring di sebelahnya.


Keesokan harinya Yan Yuru terlihat sedang berbincang bersama ayahnya di sebuah ruangan di rumah besar keluarga Yan. Mereka juga menikmati teh ocha hangat yang telah disiapkan oleh salah satu asisten rumah tangganya.


"Jadi selama ini kamu mengalami amnesia, Yuru putraku?" tanya pria paruh baya itu yang sengaja untuk meliburkan dirinya selama beberapa hari ini hanya untuk menghabiskan waktunya bersama putranya yang baru saja kembali.


Sementara Xu Kai saat ini sedang mencoba-coba memainkan beberapa lagu ciptaan sahabatnya dengan sebuah gitar milik Yan Yuru yang selama ini masih selalu disimpan di gudang dengan baik.


"Benar sekali, Papa. Sejak saat aku terjatuh di tebing di dekat hutan Wild Kaazane, aku terluka parah hingga mengalami amnesia. Nenek Yu menemukanku dan merawatku dengan baik saat itu." jawab Yan Yuru meneguk teh ocha hangatnya.


"Bisakah kamu mengantarkan papa untuk menemui nenek Yu? Biar bagaimanapun papa harus berterima kasih padanya karena sudah menyelamatkan kamu dan merawatmu. Papa berhutang budi padanya."


"Hhhm. Suatu saat aku akan mengajak papa untuk menjenguknya. Dia adalah nenek yang sangat baik dan selalu sabar. Bahkan dia menganggapku seperti anaknya sendiri " ucap Yan Yuru yang tiba-tiba saja mulai teringat dengan sosok itu dan mulai merindukannya.


"Papa akan manantikan waktu itu tiba, Yuru ..."


"Pa ..."


"Ya? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan, Yuru? Gitar baru? Piano baru? Studio pribadi? Katakan saja kepada papa. Papa akan memberikan semua yang kamu inginkan." ucap tuan Yan menawarkan dengan tulus.


"Tidak, Papa. Aku tidak sedang ingin meminta sesuatu." sahut Yan Yuru lirih.


"Lalu? Ada apa, Yuru? Katakan saja kepada papa semua yang mengganjal di hatimu ..." sahut pria paruh baya itu lagi dengan ramah.


"Apa papa yakin mengijinkan aku untuk bermain musik dan bernyanyi lagi? Jika papa masih saja keberatan, maka aku tidak keberaran kok jika harus mengundurkan diri. Aku bisa mengundurkan diri jika papa mau ..." ucap Yan Yuru menatap sang papa serius.


Mendengar ucapan dari putranya, seketika membuat dirinya tercengang selama beberapa saat karena bingung. Namun setelah beberapa saat mencerna semua kata-kata dari Yan Yuru, akhirnya tuan besar Yan mulai menjawabnya.


PLUKK ...


Tuan besar Yan menepuk bahu lebar Yan Yuru dan tersenyum tipis.


"Kamu tidak perlu mengundurkan diri diri, Yuru putraku. Karena mulai sekarang papa akan selalu mendukung apapun yang akan menjadi pilihanmu! Selagi itu positif, maka papa akan mendukungnya." jawab tuan besar Yan tanpa ada keraguan sedikitpun.


"Apa ... papa baik-baik saja? Papa ... tidak sedang bercanda bukan? Papa serius dan mendukungku untuk menjadi seorang penyanyi?" tanya Yan Yuru yang sebenarnya masih saja mengkhawatirkan sang ayah.


"Ya! Tentu saja papa serius. Mulai sekarang kamu harus melakukan semuanya dengan baik ya! Tetap semangat dan selalu lalukan yang terbaik" ucap tuan besar Yan mamberikan semangat dan dukungannya untuk Yan Yuru.


"Hhm! Aku akan melakukan semuanya dengan baik, Papa! Aku tidak akan mengecewakan papa! Dan ... terima kasih karena sudah mengijinkan aku, Papa ..." ucap Yan Yuru penuh haru.


Kedua pria berbeda generasi itu saling bertatapan dan melakukan kontak mata selama beberapa saat. Pandangan itu terjadi dengan begitu hangat dan meneduhkan hati. Dan akhirnya mereka saling berpelukan dengan hangat.