It'S Me

It'S Me
Episode 106



Sementara di tempat lain, pangeran Zang Limo, yang sejak sore menunggu kepulangan Gu Ana, di kediaman keluarga Gu, tepatnya kamar Gu Ana. Kini terdiam, dan memandangi kamar Gu Ana yang luas. Semenjak kepergian Gu Ana, pangeran Zang Limo bahkan tak mau bertemu kembali dengan kengan kekasih masa kecilnya. Pangeran Zang Limo kini cendrung pendiam, dan sedikit parah.


Bagi pangeran Zang Limo, Gu Ana adalah segalanya, namun entah kenapa, pangeran Zang Limo bisa tergoda kembali oleh cinta masa kecilnya, hingga mengabaikan Gu Ana. Kini setiap memasuki kamar Gu Ana, seluruh ingatannya kembali kepada saat saat bersama Gu Ana, rasanya kerinduannya semakin menjadi jadi. Bahkan kini pangeran Zang Limo seperti orang gila, yang terus menerus hidup dalam bayangan kebersamaan bersama Gu Ana, dan penyesalannya terhadap Gu Ana.


Pangeran Zang Limo, kini mengingat dirinya sebagai kekasih, yang sangat buruk. Menduakan kekasih nya, hanya untuk masa lalu. Setiap mengingat semua itu, membuat air mata pangeran Zang Limo selalu menetes, mengingat segala kebodohannya.


...


Setelah puas memberi Gu Jun hukuman, Gu Ana segera bergabung dengan para pelayan, yang saat ini berada di depan api unggun. Sementara tuan Gu ikut bergabung dengan Gu Min dan Bao Ling. Gu Ana segera memetik senar Gitarnya dan mulai bersenandung ria, di iringi tepuk tanga para pelayan dan penjaga, yang berperan sebagai penonton Gu Ana.


Bilur makin terhampar.


Dalam rangkuman asa.


Kalimat hilang makna.


Logika tak berdaya.


Di tepian nestapa.


Hasrat terbungkam sunyi.


Entah aku pengecut.


Atau kau tidak peka.


Kumendambakanmu.


Mendambakanku.


Bila kau butuh telinga 'tuk mendengar.


Bahu 'tuk bersandar, raga 'tuk berlindung.


Bertepuk dengan sebelah tangan.


Hu-uu-uu-uu.


Kau membuatku yakin.


Malaikat tak s'lalu bersayap.


Biar saja menanti.


Tanpa batas, tanpa balas.


Tetap menjelma cahaya di angkasa.


Yang sulit tertampik dan sukar tergapai.


Bila kau butuh telinga 'tuk mendengar.


Bahu 'tuk bersandar, raga 'tuk berlindung.


Meski hanya sebatas teman.


Hu-uu-hu-uu-uu-uu.


Yakin kau temukan aku di garis terdepan.


Bertepuk dengan sebelah tangan


Hu-uu-uu-uu-uu.


Lagu garis terdepan by cover Feby Putri, lagi yang Gu Ana nyanyika, sontak membuat Bao Ling terdiam mendengar suara merdu Gu Ana, Bao Ling juga terlihat bingung dengan, alat musik yang di gunakan Gu Ana untuk bernyanyi, ini adalah yang pertama kalinya Bao Ling melihat alat musik tersebut. bentuknya seperti setar, namun bentuknya lebih menarik.


Namun yang lebih menarik adalah, ketika melihat kebersamaan Gu Ana, dan para pelayan serta penjaga, mereka yang terlihat sangat dekat. Jarang sekali Bao Ling melihat hal yang semenarik itu, biasanya seorang nona muda tak ingin berdekatan dengan pelayan, apalagi akrab dengan mereka, karna takut kalau kedekatan mereka, akan menyebabkan harga diri para nona muda.


Setelah Gu Ana menyelesaikan lagunya, semua pelayan dan penjaga bertepuk tangan dengan meriah. Saat Gu Ana melihat ke arah tuan Gu, Gu Min, Gu Jun, dan Bao Ling, Gu Ana segera memanggil mereka.


"Gege ayo bergabung sini, kami akan bercerita cerita seram, kau akan ketinggalan keseruan ini." kata Gu Ana melambai, memanggil mereka yang tengah duduk santai. Disambut dengan gelengan mereka yang serentak, seolah mengatakan tidak kami tidak tertarik.


"Huh... kalian benar benar tidak menyenangkan." ejek Gu Ana. "Apa sudah matang?" Tanya Gu Ana saat melihat pelayan menyajikan makanan. Gu Ana segera mendekati meja yang berada di dekat tuan Gu dan yang lain lainnya.


"Silahkan di makan tuan Ling." kata tuan Gu mempersilahkan tamunya, Bao Ling.


"Silahkan makan." Kata Gu Ana dengan mata yang berbinar, sambil memakan daging panggang, dan ayam bakar yang menggugah selera. Bao Ling yang melihat Gu Ana makan dengan lahap hanya menggelengkan kepalanya.


"An'er hati hati." Kata tuan Gu memperingati Gu Ana agar makan dengan pelan pelan.


"Yak, dasar perut karet." ejek Gu Jun yang melihat selera makan Gu Ana yang begitu besar, saat melihat makanan. Namun Gu Ana tak menghiraukan ejekan dari Gu Jun, Gu Ana tetap lahap memakan yang tersaji.


Setelah selesai makan, mereka duduk sambil bercengkrama.


"Ayah aku dengar akan ada festival lampion besok, ayo kita pergi ya." Kata Gu Ana, dengan menampilkan wajah imut, dan memelas agar tuan Gu menyetujui permintaannya.


Mendengar hal itu, Gu Jun juga ikut memelas kepada tuan Gu agar di perbolehkan untuk pergi. Kini Gu Ana dan Gu Jun terlihat sangat kompak, dengan wajah imut mereka, yang memohon seperti anak kucing.


Melihat ekspresi dari Gu Ana dan Gu Jun, membuat tuan Gu sedikit gemas, sehingga tak tega menolak permintaan dari Gu Ana dan Gu Jun.


"Baiklah, tapi kalian di sana jangan jauh jauh, nanti kalian tersesat." kata tuan Gu sambil mencubit pelan pipi Gu Ana dan Gu Jun. Gu Ana dan Gu Jun segera menghamburkan pelukannya ke arah tuan Gu. Sedangkan tuan Gu, hanya tersenyum senang mendapatkan pelukan dari Gu Ana dan Gu Jun.


...


Maaf teman teman kalau banyak Typonya soalnya ini ngetiknya pakai Hp.