
“Selamat datang Yang Mulia, semoga panjang umur sehat selalu.” Kata mereka serempak ketika memberi penghormatan kepada keluarga kerajaan.
Mendengar salam dari para rakyatnya, membuat raja Zang Zuan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, pakaian mewah berwarna merah bersulam benang emas bertanda sebuah pakaian kebesaran seorang raja, di tambah wibawa dan karismanya, serta wajah tampannya kini membuat semua orang menunduk hormat kepada raja mereka, tidak terkecuali keluarga Gu.
Saat keluarga kerajaan berjalan melewati seluruh hadirin termasuk keluarga Gu, pangeran Zang Limo memandangi Gu Ana sekilas, sambil tersenyum lembut. Lalu barisan keluarga kerajaan di ikuti oleh keluarga Gu.
Bisik bisik terjadi dimana mana, belum lagi saat pangeran Zang Limo yang terkenal dingin, dan acuh tiba tiba tersenyum lembut kepada nona muda keluarga Gu , Gu Ana. Membuat semua tatapan iri para wanita pemuja pangeran Zang Limo menyerangnya. Menyadari hal tersebut membuat Gu Ana tersenyum kemenangan di hadapan para gadis gadis tersebut.
Setelah mereka semua duduk di posisi masing masing dengan kedudukan raja Zang Zuan yang berada di kursi paling mewah di dampingi istrinya ratu Xu Yian, putra mahkota Zang Liue dan putri mahkota Zang Jade serta pangeran Zang Handrong berada di sebelah kanan raja, pangeran Zang Jade, pangeran Zang Limo dan pangeran Nan Cheng berda di sebelah kiri. Sementara keluarga Gu berada di bawah singa sana, tepatnya di depan panggung, karna kedudukan mereka yang hanya rakyat biasa, namun juga sebagai tuan rumah. Membuatnya berada sedikit lebih dekat dengan panggung, hingga sejajar dengan beberapa pejabat istana.
…
Terdengar kasim kerajaan mengumumkan dimulainya acara tersebut dengan mendengarkan pidato dari raja Zang Zuan.
“Selamat datang para tamu, dan terimakasih kepada keluarga Gu yang telah membantu kerajaan ini, dengan membangun Akademi untuk rakyat kecil, sungguk ini merupakan sala satu sebuah terobosan untuk memajukan sebuah kerajaan. Baikalah acara akan segera di mulai dan disahkan dengan sepatah dua apatah dari salah satu perwakilan anggota keluarga Gu.” Kata raja Zang Zuan tersenyum tulus, sambil memandang anggota keluarga Gu.
Setelah mendengar permintaan dari raja Zang Zuan, maka untuk mewakilkan anggota keluarga Gu adalah Gu Min, dengan penuh kewibawaan Gu Min maju dan menjelaskan tujuan adanya Akademi Rakyat.
“Baiklah, sebelumnya terimakasih sebanyak banyaknya atas kesempatan saya kepada raja Zang Zuan untuk berbicara di sini, dan terimakasih untuk para hadirin yang terhormat karna telah memeberikan waktu dan kesempatan, untuk menyaksikan pembukaan Akademi Rakyat ini. Baikalah, pertama rama saya akan menjelaskan tujuan dari akademi rakyat ini untuk rakyat kecil, dan dipastikan ini geratis, tanpa dipungut biaya, adapun kualitasnya disini kami jamin hampir sama walaupun tidak terlalu sama dengan akademi para bangsawan, namun disini kami akan menekankan di bagian bahasa, karna menurut informasi yang kami kumpulkan, sebentar lagi akan ada utusan dari negri yang jauh yang ingin bekerja sama denga kerajaan ini, dikarenakan melihat kerajaan ini memiliki sumber daya alam yang bagus. Karna itu kami berkomitmen untuk membangun sumber daya manusianya. Dan ini juga sesuai dengan apa yang kami pelajari ketika kami mengikuti ayahanda dalam melakukan perjalanan perdagangan, kami memang tak pandai dalam politik, sastra, dan militer. Namun perjalan mengikuti ayahanda kami membuat kami belajar bagiamana negri negri dan kerajaan kerajaan diluar sana memiliki kemampuan yang bagus, makmur dan sejahtera, setra tidak gampang terprofokasi untuk melakukan pemberontakan. Ternyata itu adalah karena pendidikan yang layak untuk rakyatnya baik untuk kaum bangsawan maupun rakyat kecil. Sehingga masyarakat dapat memenuhi kebutuhannya sendiri, berfikir jernih dan kreatif dalam membangun sebuah ide usaha, namun itu semua tak cukup, kami melihat di beberapa negri yang jauh, ternyata pendidikan yang yang besar harus pula disertai dengan adanya cinta akan tanah air, cinta akan sesama, welas asih, dan tidak membedakan yang kaya dan yang miskin. Jadi itulah tujuan kami membangun Akademi Rakyat sekian dari saya terimakasi.” Kata Gu Min mengakhiri pidatonya. Semua orang bertepuk tangan mendengarkan pidato Gu Min, terutama rakyat biasa yang bisa dibilang terbelakang dalam hal pendidikan dan ekonomi.
Sementara raja Zang Zuan, para pangeran, para mentri dan pejabat, serta mentri muda salut mendengarkan kata kata yang dilontarkan Gu Min, Gu Min seperti seorang yang telah terbiasa dalam bebicara di depan publik, bahkan Gu Min lebih terlihat tenang, dan menujukkan wibawanya, sehingga dalam menyampaikan sesuatu pun dapat mempengaruhi banyak orang, dan meyakinkan banyak orang, sehingga membuat orang orang akan mengikutinya.
“Aduh memang susah kalau direktur ini sudah berbicara, para ibu ibu kompleks, gadis gadis, dan remaja wanita bahkan bapak bapak dan abang abang terlihat terkesima melihat penampilannya.” Goda Gu Ana kepada Gu Min, yang dibalas hanya dengan usapan lembut tepat dikepala Gu Ana.
“Ya iya lah kalau kau yang maju aku khawatir, jangan jangan kau akan mengeluarkan bahasa Franc mu, kau kan tumbuh dan besar di sana.” Kata Gu Jun menggoda Gu Ana.
“Ah… bukan itu yang aku khawatirkan, aku kan anak jaksel jaksel gituh, aku takut akan mengeluarkan bahasa which is, atau literally aku. Ah yang lebih aku khawatirkan adalah aku takut keceplosan dan mengajak mereka bergosip ria saat di atas, kan tidak enak pula ketika aku maju aku memintamu ujuk menyambungkan gosipku, dan meminta para gadis gadis, dan ibu ibu untuk menyampaikan gossip dan memulai pergosipan dengan sangan Hot…” kata Gu Ana sambil cengegesan, dan membayangkan dirinya benar benar melakuka hal itu.
“Ya ibu yang mengenakan hanfu kuning, di pojokan sana bu, ibu ngapain rame rame, tadi saya liat ibu sedang mengobrol ya, pasti gossip kan? Ayo bu bagi bagi gosipnya dengan saya, biar kita bergosip ria bersama.” Kata Gu Jun dengan memperagakan gerakan saat di panggung.
“Maaf saya tadi hanya menggosipi suami saya yang ketahuan selingkuh dengan tetangganya tetangga saya, yang janda kembang desa tujuh turupa.” Kata Gu Ana dengan memposisikan diri sebagai ibu ibu yang Gu Jun maksud.
“Lah memangnya jarak anara rumah ibu dengan selingkuhan suami ibu berapa rumah?” tanya Gu Jun.
“Hanya beda satu rumah papah gedek.” Kata Gu Ana seolah olah curhat.
“Nah dari situ berarti kita simpulkan bahwa dia adalah tetangga kamu.” Kata Gu Jun lagi.
“Engga, saya nga nganggap dia tetangga saya.” Kata Gu Ana seolah olah sangat sakit hati.