
Sesampainya Ariana di kediaman nya, Ariana segera memasuki rumahnya, dengan wajah yang sangat lelah. Alangkah terkejutnya Ariana, ketika Ariana menemui Arkan di ruang tamu tengah terlelap. Ariana segera menghela nafas, ada rasa bersalah, karna tidak memberi tahu kepada Arkan, tentang kepergiannya hari ini, Pasti lelaki tersebut khawatir kepadanya.
"Mas bangun." kata Ariana membungkukkan badan, sejajar dengan wajah Arkan. Sambil menepuk pelan wajah Arkan.
...
Arkan merasa ada gangguan di wajahnya, segera membuka matanya. Arkan mengerjapkan matanya, ketika melihat wajah Ariana tengah berada di depan wajahnya.
"Sayang udah balik? Mas khawatir, kamu ga papa kan? Kamu udah makan?" tanya Arkan bertubi tubi, sambil melihat dan memeriksa seluruh tubuh Ariana, sambil memutar mutarnya.
"Mas lapar, buatin mie dong." kata Ariana dengan gaya manjanya.
"Iya mas buatin, tapi kamu mandi dulu biar segar." kata Arkan sambil tersenyum ke arah Ariana.
Ariana segera berdiri, dan menuju lantai dua, dan membuka pintu kamarnya, kemudian madi. Setelah lima belas menit, Ariana langsung saja turun, dan menuju meja makan.
"Ni sayang makan." kata Arkan menyerahkan mie rebus buatannya.
"Mas ga makan?" tanya Ariana, sembari memandang ke arah Arkan.
"Ga sayang, mas kenyang, kamu makan aja dulu, kamu belum makan kan?" kata Arkan mengelus wajah Ariana dengan lembut. "Makan sayang, nanti kamu sakit." kata Arkan lagi.
Dengan patuh Ariana segera memakan makanannya dengan lahap, karna jujur saja Ariana tadi hanya makan siang sedikit, saat akan melakukan misinya. Setelah Arian makan, Arkan segera membawa piring Kotor tersebut ke naklas piring kotor, kemudian membawa mengantar Ariana ke kamarnya.
"Sayang mas ke kamar mas dulu ya." kata Arkan mengecup puncak kepala Ariana, sebelum akhirnya menutup pintu kamar Ariana.
Keesokan paginya, Arkan bangun pagi pagi sekali, dan segera membersihkan diri. Arkan keluar dari kamar tamu, dan berniat untuk menuju meja makan. Ini bukan pertama kalinya Arkan menginap di kediaman Hanvei, dulu sebelum bertemu Ariana, Arkan juga sering menginap di sini. Namun Arkan tak mengetahui siapa adik bungsu dari Rayen. Karna Ariana sangat jarang kembali ke Indonesia, jika kembali biasanya Ariana di sibukkan dengan bertemu dengan teman temannya.
"Ka semalam Ana jam berapa pulang?" tanya Rayen ketika melihat Arkan telah rapi.
"Jam sebelas lewat mungkin." kata Arkan, karna Arkan lupa melihat waktu semalam.
"Hm... pasti belum bangun, ga usah ngampus aja dia hari ini." kata Erick yang baru saja datang. "Ayo makan nanti bahas masalah Ana." lanjut Erick, mendudukkan pantatnya di kursi makan.
Setelah mereka semua makan, Erick dan Rayen berangkat terlebih dahulu. Utnuk pergi ke kantor, sementara Arkan sedikit lambat hari ini, karna ada sesuatu hal yang harus di selesaikannya terlebih dahulu, dengan Ariana.
"Sayang ayo bangun." kata Arkan duduk di samping tempat tidur Arian.
Ariana yang masih dalam metode kelelahan, atau bahkan sangat kelelahan, karna baru delapan jam yang lalu selesai menjalankan tugasnya. Tak mendengarkan sama sekali panggilan Arkan. Arkan hanya menggeleng, Arkan cukup mengerti keadaan Ariana, yang pasti kelelahan habis menjalankan tugasnya.
"Sayang bangun, semalam kamu hanya makan mie loh sayang." seru Arkan sekali lagi, dan mencoba membangunkan Ariana dengan menepuk pelan pipi Ariana.
Ariana tak bergeming, dan hanya sedikit dengkuran halus yang terdengar.
"Sayang, bangun dulu sayang." seru Arkan dengan suara yang lebih tinggi, kini Arkan mendekatkan wajahnya, dan sedikit menggigit hidung Ariana, agar terbangun.
"Hm... Daddy lima menit lagi." kata Ariana dalam bahasa inggris.
"Tidak sayang, sekarang kamu harus sarapan sayang." kata Arkan menggelitiki perut Ariana. Membuat Ariana sedikit mengerjapkan matanya.
"Mas ngantuk, badan Ana capek banget." keluh Ariana sembari bersiap untuk tertidur kembali.
"Ga sayang, bangun ya jangan tidur lagi, habis makan tidur lagi ga papa." kata Arkan membujuk Ariana.
Dengan segala cara bujukan akhirnya Arian, bangun dan segera menuju kamar mandi. Arkan segera berdiri, dan membuka beberapa gorden yang menghalau cahaya masuk, di kamar Ariana.
"Sayang mas tunggu di balkon." kata Arkan kepada Arian yang saat ini berada di Kamar Mandi.
"Iya Mas." teriak Ariana sembari mencuci wajahnya.
Arkan memandang pemandangan, yang tersaji di balkon Kamar Ariana. Perumahan yang benar benar elit, bahkan setiap rumah di lengkapi dengan taman yang cukup besar, serta tembok yang menjulang tinggi.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanya banyaknya telah mendukung, e, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.
Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload