It'S Me

It'S Me
Episode 63



Pangeran Zang Limo mendaratkan bibirnya ke bibir Gu Ana, sehingga membuat Gu Ana terkejut, kini wajahnya memerah karna ciuman kali ini disaksikan langsung oleh keluarga kerajaan. Gu Ana mencoba melepaskan ******* pangern Zang Limo yang saat ini masih menikmati permainannya sendiri.


Pangeran Zang Limo semakin memperdalam lumatannya, meskipun merasa adanya penolakan Gu Ana, namun pangeran Zang Limo tetap memperdalam lumatannya, ditambah rasa rindunya terhadap gadis ini.


“Ehem…” kata raja Zang Zuan menyadarkan pangeran Zang Limo kehadirannya.


Mendengar deheman raja Zang Zuan membuat pangeran Zang Limo menghentikan aktifitasnya. Sementara wajah Gu Ana sudah semerah tomat menahan malu. Pangeran Zang Limo memutar badannya kearah belakang dan mendapati dirinya menjadi tontonan kedua orangtuanya dan para saudaranya.


“Ka… kalian sejak kapan?” tanya pangeran Zang Limo salah tingkah atas kehadiran anggota keluarganya yang tak iya ketahui.


“Sejak kau bermanja di perut An’er.” Kata pangeran Zang Jade dengan santai.


“Dulu, aku tak mungkin menyukai Nona muda dari keluarga Gu tingkahnya sangat aneh membuatku gelish saat berada di sekitanya, Ia sangat cerewet sehingga membuatku pusing. Sekarang, biarkan aku bermanja di perutmu, aku merindukanmu, aku sangat mencintaimu, aku sangat suka menciummu kau seperti madu untukku.” Kata pangeran Zang Handrong mengejek pangeran Zang Limo.


Sementara Gu Ana sejak tadi wajahnya menahan malu dengan wajah yang sudah memerah hingga ke telinga. Sedangkan pangeran Zang Limo menggerutuki kebodohannya.


“Sudahlah ayo keluar, aku tak tega melihat wajah mereka.” Kata pangeran Zang Handrong menggoda pangeran Zang Limo dan Gu Ana.


“Ya… sebaiknya pernikahan mereka di percepat dalam bulan ini.” Kata raja Zang Zuan terenyum kearah pangeran Zang Limo.


“Sudah ku bilang jangan macam macam Limo.” Kata pangeran Zang Jade.


“An’er apa perutmu baik baik saja?” tanya ratu Xu Yian sambil menggoda pangeran Zang Limo.


Seteleh puas menggoda Gu Ana dan pangeran Zang Limo mereka keluar sambil tersenyum senyum.


“Ah ingat ini masih sore.” Kata pangeran Zang Handrong menggoda Gu Ana dan pangeran Zang Limo.


Setelah dipastikan tinggal mereka berdua saja di dalam, pangeran Zang Limo kini masih mematung, sedangkan Gu Ana sejak tadi telah menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Setelah beberapa saat akhirnya pangeran Zang Limo membuka suara.


“Kenapa kau tak memberitahuku?” tanya pangeran Zang Limo.


Mendengar hal tersebut sontak membuat wajah Gu Ana semakin memerah, karna teringat kejadian acara langsung yang mereka tampilkan.


Melihat hal tersebut pangeran Zang Limo menurunkan tangan Gu Ana yang menutupi wajahnya.


“Sudah lah aku rasa juga bagus, pernikahan kita akan dipercepat.” Kata pangeran Zang Limo. “Istirahat lah kau masih belum pulih.” Kata pangeran Zang Limo sambil membaringkan Gu Ana ke tempat tidut.


“Tapi pangeran aku masih tak ingin tidur.” Kata Gu Ana kembali terbangun.


“Lalu kau mau apa?” tanya pangean Zang Limo.


“Aku lapar.” Kata Gu Ana cengengesan tak jelas.


Mendengar kata kata Gu Ana pangeran tersenyum menawan, baginya segala tingkah laku gadis yang sedang berada di hadapannya ini sangat menggemaskan.


Setelah beberapa suap Gu Ana merasa sudah cukup kenyang, dan menyelesaikan makannya dengan air putih.


“Terimakasih.” Kata Gu Ana kemudian bersiap untuk berbaring kembali. “Em… pangeran.” Kata Gu Ana ragu ragu.


Sementara mendengar Gu Ana memanggilnya pangeran Zang Limo ikut berbaring di samping Gu Ana sambil memandanginya.


“Kau seharusnya memanggiku apa?” tanya pangeran Zang Limo mengerutkan keningnya.


“Limo.” Kata Gu Ana menjawab pertanyaan yang ingin didengar pangeran Zang Limo.


“Gadis baik.” Kata pangeran Zang Limo mengecup kening Gu Ana. “Tadi kau ingin mengatakan apa?” tanya pangeran Zang Limo.


“Hm… apa kau dulu benar benar membenci ku?” tanya Gu Ana dengan hati hati kepada pangeran Zang Limo.


“Dulu aku tidak membencimu, tapi aku hanya tidak suka kau yang bertinkah seenaknya saja…” kata pangeran Zang Limo sambil membawa Gu Ana kedalam pelukannya. “Kau itu beringkah sesukamu, dan membuatku kesal karna aku selalu mengingat tingkahmu kepadaku, bahakan aku dapat menemukanmu di keramaian. Hal itu sungguh membuatku kesal kepada diriku sendiri, mengapa aku dangan mudahnya menemukamu…” lanjut pangeran Zang Limo.


 Flashback on.


Saat berkunjung ke kediaman Gu pangeran Zang Limo sebenarnya sedikit keberatan karna menurutnya anak dari tuan Gu itu sedikit aneh, terlebih untuk Nona muda mereka, yang terlihat mudah saja menggombali lelaki mana pun untuk mendapatkan sesuatu.


Sesampainya di kediaman Gu, pangeran Zang Limo sedikit bersykur karna tak melihat Gu Ana, namun harapan hanya sebuah harapan


“Ayahhhh... maaf aku terlambat.” teriak Gu Ana dari kejauhan dengan menggendong sebuah gitar yang baru saja ia ambil dari penempa sambil berlari, dan mengengkat hanfunya hingga betisnya sedikit terekspose. Pangeran Zang Limo sedikit tak percaya dengan apa yang dilihatnya, namun entah kenapa hari itu wajah dari Gu Ana memberinya kesan yang berbeda.


“Hah… Ayah kenapa taman belakang jauh sekali rasanya? Ahh… tunggu sebentar, aku masih mengumpulkan nafasku.” Katanya terengah engah kehabisan nafas tangan kanan memegang perutnya, sedangkan sebelah kiri mengibas singibas tanda kepanasan. Setelah beberapa menit Gu Ana berdiri dengan tegap dan menghadap rombongan kerajaan, sambil membungkuk ia memberi salam. “Selamat datang yang mulia, para pangeran, jendral dan kedua nona muda Xu.” ucap Gu Ana dengan sedikit masih sesak untuk bernafas.


Malihat keringat Gu Ana yang mengucur bebas di wajahnya membuatnya yakin bahwa gadis ini sedang tak menggunakan hiasan wajah sedikitpun.


Setelah mereka berbincang bincang dan masuk keruang rahasia keluarga Gu, terjadilah perubahan emosi terhadap Gu Ana sehingga menyebabkannya menangis dan tertidur di pelukan Gu Min. Setelah Gu Min mengantarkan Gu Ana keruang yang lain tuan Gu menceritakan kisah Gu Ana, sontak membuat pangeran Zang Limo tertegun, bagaiman mungkin seorang gadis kecil dapat seceria itu ketika dirinya baru saja mengalami trauma sebesar itu. Bahkan keesokannya Ia melihat Gu Ana dengan wajah ceria seperti tanap beban saat berada di pasar.


“Apa sebenarnya yang wanita ini fikirkan.” Pikir pangeran Zang Limo.


Flashback off.


“Bahkan di setiap kejahilan yang kau lakukan kepadaku meskipun sedikit mengesalkan namun aku selalu merasa terhibur.” Kata pangeran Zang Limo sambil mempererat dekaannya kepada Gu Ana.


“Kapan kau mulai menyadarinya?” tanya Gu Ana penasaran.


“Saat pertama kali kau marah kepadaku, kau bersikap sangat formal, tidak banyak berbicara denganku, tidak menggangguku, bahkan ketika kau berangkat ke perbatasan, hingga kau kembali dan tidak menyapaku.” Kata pangeran Zang Limo. “Kau tahu saat mengetahui kau sangat akrab dengan Gege Jade, dan miliki rahasia berdua saja membuatku sangat kesal.” Lanjut pangeran Zang Limo.


“Lalu kenapa kau menciumku saat di rumah seni?” tanya Gu Ana.


“Karna aku sangat marah kau sangat memperhatikan Gege Jade saat itu, aku cemburu.” Akui pangeran Zang Limo.