
Sementara di pinggir lapangan para dayang dan perajurit sudah mengerumuni lapangan tersebut untuk melihat pertarungan mereka yang benar banar sengit.
“Ah… mereka memang pasangan dewa dan dewi perang, kalian tahu aku melihat dengan kepala dan mataku sendiri bagaimana kerja sama mereka saat berperang di perbatasan.” Kata seorang perajurit yang memuji permainan pedang pangeran Zang Jade dan Gu Ana.
“Ah… iya dulu aku mengira bahwa mereka memiliki hubungan tertentu.” Timpal perajurit lainnya.
“Iya benar sekali, bahkan aku sudah mampu membayangkan sehebat apa anak mereka nantinya, jika orang tua mereka adalah dewa dan dewi perang.” Tompal perajurit lainnya.
“Ehem…” deheman pangeran Zang Limo membuyarkan topic pembicaraan mereka, saat mengtahui pangeran Zang Limo, tunangan sah dari Gu Ana saat ini tengah berdiri di antara mereka. “Apa kalian tidak punya pekerjaan selain menjodoh jodohkan tunanganku dan Gege ku?” tanya pangeran Zang Limo mengeluarkan aura mengintimidasi kepada beberapa perajurit yang tengah membicarakan tunangannya.
“Tidak, tidak yang mulia, hamba tidak berani.” Kata para perajurit itu dengan sangat ketakutan.
“Bagus kalau begitu.” Kata pangeran Zang Limo kepada para perajurit lainnya.
…
Setelah mereka selesai latihan pangeran Zang Jade segera menghampiri pangeran Zang Limo, yang sedang menunggu Gu Ana selesai berpakaian.
“Limo, bagaiman menurutmu latihan kami tadi?” tanya pangeran Zang Jade saat tengah berdiri di depan ruangan ganti Gu Ana.
Mendengar hal tersebut pangeran Zang Limo hanya tersenyum kecut, karna teringat kembali kata kata dari para pelayan dan perajurit yang menggosipkan, dan mencocokkan Gu Ana dengan pangeran Zang Jade.
“Sungguh serasi.” Kata pangeran Zang Limo tersenyum kecut.
Mendengar dan melihat ekspresi dari pangeran Zang Limo, sontak membuat pangeran Zang Jade tersenyum.
“Lalu kenapa kalian tidak meluangkan waktu untuk latihan bersama? Aku ingin mulai saat ini kau dan An’er akan menjadi pasangan lapagan, sementara aku dan Jial’er akan berlatih bersama juga.” Kata pangeran Zang Jade, sembari tersenyum ketika Gu Ana telah selesai menggenti hanfunya.
“Gege Jade.” Panggil Gu Ana kepada pageran Zang jade.
Mendengar panggilan Gu Ana, pangeran Zang Jade tersenyum sambil merangkul pangeran Zang Limo.
“Gege Jade sedang apa di sisni?” tanya Gu Ana kepada pangeran Zang Jade, yang sejak tadi tersenyum misterius.
“Ah tidak, hanya ingin berbincang bincang sebentar.” Jawab pangeran Zang Jade
Mereka kemudian pangeran Zang Jade, pangeran Zang Limo dan Gu Ana melangkah menuju gazebo taman belakang istana. Sambil bebincang bincang ringan, setelah pangan Zang Jade, pangeran Zang Limo dan Gu Ana sampai, mereka segera duduk dan mulai membicarakan hal yang serius.
“An’er, kau mau tidak berganti pasanga lapangan dengan tunangan mu?” tanya pangeran Zang Jade dengan hati hati, karna takut Gu Ana akan tersinggung.
“Maksud Gege?” tanya Gu Ana sedikit bingung dengan pergantian pasangan lapangan.
“Maksud ku, kita berganti pasangan, kau dengan tunangan mu, Limo. Dan aku bersama dengan tunanganku, Jial’er.” Kata pangeran Zang Limo, mencoba menjelaskan kepada Gu Ana.
Mendengar kata kata dari pangeran Zang Jade, sontak membuat Gu Ana menampakkan raut wajah sedih, karna pangeran Zang Jade tiba tiba melakukan hal tersebut.
“Apa aku berbuat sesuatu yang salah Gege? Kalau begitu aku minta maaf.” Kata Gu Ana dengan sedikit berkaca kaca.
“An’er kau tidak ada salah, hanya saja aku mulai berfikir, bahwa pada akhirnya kita akan berada di lapangan yang berbeda. Kau akan bersama Limo sedangkan aku akan bersama Jial’er.” Jelas pangeran Zang Jade sambil terus memandang wajah Gu Ana, yang saat ini pangeran Zang Jade genggam.
Melihat keakraban pangeran Zang Jade dan Gu Ana, membuat pangeran Zang Limo teringat kembali akan kata kata prajurit yang mengatakan mereka sangat cocok. Hal tersebut membuat pangeran Zang Limo kesal, namun memilih menahannya, dan megalihkan pandangannya ke arah lainnya.
Menyadari sikap pangeran Zang Limo, pangeran Zang Jadi sedikit tersenyum, kemudian menyikut pangeran Zang Limo. Sementara yang di sikut sontak memandang sang pelaku, pangeran Zang Jade. Pangeran Zang Jade memberikan kode untuk segera memeluk dan menenangkan Gu Ana.
Mengerti hal tersebut, pangeran Zang Limo segera memeluk Gu Ana, agar tenang dan tidak berfikiran macam macam.
“Ah… mungkin Gege benar, tapi aku benar benar tak punya salah kan Gege?” tanya Gu Ana memastikan kembali.
Mendengar hal tersebut sontak membuat pangeran Zang Jade tersenyum.
“Tidak, kau tidak punya salah sama sekali.” Kata pangeran Zang Jade, sambil mengelus kepala Gu Ana, yang saat ini berada dalam pelukan pangeran Zang Limo.
“Ya sudah kalau begitu, itu tak masalah, lagian aku juga akan selalu bersama Limo nantinya, jadi akan lebih baik jika begitu.” Kata Gu Ana sambil tersenyum. “Tapi lain kali kita bisa latihan tanding kan?” tanya Gu Ana kepada pangeran Zang Jade.
“Tentu saja Gege akan luangkan waktu untuk An’er ku ini.” Kata pangeran Zang Jade mencubit pipi Gu Ana dengan gemas.
“Baiklah Gege, jangan mencubit ku lagi.” Perotes Gu Ana menenggelamkan wajahnya di dada bidang pangeran Zang Limo.
Pangeran Zang Limo yang mendapatkan hal tersebut sungguh senang di buatnya, dan memper erat pelukannya.
Pangeran Zang Jade melihat hal tersebut, hanya tersenyum kecut, dan memilih meninggalkan mereka.
“Baiklah, lanjutkan bermesraan kalian, aku akan kembali dulu.” Kata pangeran Zang Limo sambil meninggalkan Gu Ana dan pangeran Zang Limo yang saat ini tengah bermesraan.
Pangeran Zang Limo tersenyum kemenanga melihat kepergian pangeran Zang Jade, pangeran Zang Limo kembali mengeratkan pelukannya sambil mengangkat Gu Ana ke dalam pangkuannya.
“Apa nyaman jika begini?” tanya pangeran Zang Limo sambi terus mengelus kepala Gu Ana dengan lembut.
“Hm… sangat nyaman, dan enak.” Kata Gu Ana semakin menenggelamkan kepalanya sembari mencari kenyamanan. “Tetap begini untuk beberapa menit saja, aku sangat lelah.” Kata Gu Ana sambil memejamkan matanya.
Mendapatkan perlakuan Gu Ana yang manja kepadanya, pangeran Zang Limo sungguh senang di buatnya, sembari terus mengelus dan memeluk Gu Ana, untuk memberikan kenyamanan terhadap gadis tersebut.
“Iya, beristirahat lah, aku akan tetap di sini.” Kata pangeran Zang Limo sambil terus mengelus kepala Gu Ana.
Mendapatkan elusa dari pangeran Zang Limo membuat Gu Ana semakin nyaman, dan hangat. Tak butuh waktu lama Gu Ana tertidur dalam pangkuan dan pelukan pangeran Zang Limo.
…
Jangan lupa like and comment, tolong tinggalkan jejak ya biar author tambah semangat, dan punya masukan agar bisa memperbaiki kesalahan yang author buat, sip… ok.
Mohon maaf author cuman bisa up sedikit karena author tengah sibuk saat ini, dikarenakan harus berkutat dan bergelut dengan para tugas yang dengan tidak tahu dirinya semakin bertambah, terimakasih semoga kalian mengerti.
Guys aku mau promo nih novel baru aku judulnya Google.com, gendrenya komedi dan romantis, terimakasih.