It'S Me

It'S Me
Permintaan Bertemu



Di dalam sebuah van putih mewah, seorang pumuda tampan mulai melepaskan topi, masker, kacamata, serta jaketnya ketika sudah duduk di belakang. Dia mulai menyandarkan tubuhnya pada sandaran mobil mewah, yang sebenarnya sudah seperti rumah kedua untuk dirinya.


Karena di dalam van ini sudah berisi dengan beberapa fasilitas yang begitu lengkap dan mewah layaknya sebuah rumah minimalis saja. Hembusan nafas kasarnya mulai dihembuskannya di udara.


Dia memejamkan sepasang mata indahnya, dan sesekali mengusap kasar wajah tampan dan mulis itu yang tak pernah luput dari perawatan yang super wow dan famtastis.


Pemuda tampan itu kembali mengingat atas kecerobohannya beberapa saat yang lalu. Dan tentu saja hal itu membuatnya malu dan merasa sangat bodoh. Apalagi jika hal tersebut diketahui oleh manager atau Liam. Pasti dia akan diejeknya habis-habis.


"Ccckk ... bodohnya aku! Mengapa aku memenuhi panggilan dari Anzu begitu saja?!" gumamnya kembali mengusap wajahnya. "Hal ini terjadi karena dia adalah adik dari Liam! Huft ... tante-tante itu membuatku kehilangan akal sehatku! Menyebalkan!!" imbuhnya mulai berniat untuk menghubungi Liam.


"Ada apa, Bocah?!" sapa seorang wanita setelah panggilan itu diangkat dari seberang line.


"Hei, Tante!! Jangan lupa untuk membawakan pesananku di lokasi pemotretan!!" ucap Max dengan nada yang menurut Liam terdengar begitu menyebalkan.


"Beli saja sendiri, Bocah!! Kamu pikir aku ini pembantumu apa?!" sahut Liam kesal.


"Kurang lebih seperti itu ..." sahut Max dengan tawa kecil.


"Kau!!! Bocah yang sungguh menyebalkan!! Awas saja nanti di lokasi pemoyretan!! Huuhh!!" ucap Liam merasa sangat kesal dan mengakhiri panggilan itu begitu saja.


Sementara Max malah tertawa renyah setelah mendengar Liam sedang merasa kesal seperti itu.


"Ahaha ... melihat dia sedang kesal seperti itu rasanya sungguh membuatku senang!! Ahaha ... pasti. Wajah kesalnya saat ini sungguh lucu dan manis sekali" ucap Max masih saja terkekeh sambil membayangkan wajah kesal Liam.


Karena membuat Liam kesal adalah hal yang sungguh membuatnya merasa senang dan bahagia.


...🍁🍁🍁...


Sementara itu di kelas model dan fashion SMU Keio, terlihat seorang siswi sedang melamun dan menarikan jemarinya dengan menjepit sebuah pena dan berakhir meninggalkan coretan-coretan di atasnya.


Raganya memang berada di tempat itu, tapi fikirannya melayang entah kemana.


Kenapa Max bisa langsung datang ke sekolah saat aku memintanya datang ya? Ini sungguh aneh sekali!! Tapi jujur saja aku merasa sangat senang! Ughh ... sungguh sulit untuk dipercaya! Ataukah jangan-jangan dia juga menyukaiku ya? Ughhh ... konyol sekali!! Itu jelas sangat tidak mungkin!! Tapi ... dia sangat tampan dan sempurna. Matanya begitu indah. Bahkan kulitnya juga begitu sehat, putih dan mulus melebihi kulit seorang wanita saja. Indah sekali ciptaanmu, Ya Tuhan ...


Batin Anzu malah terbayang-bayang akan sosok Max yang begitu diidolakannya.


Hingga berulang kali saat guru Matematika memanggilnya, Anzu tak menghiraukannya sama sekali, karena dia sama sekali tidak mendengarkannya. Hingga akhirnya Xie Jun Ze yang duduk di sebelahnya mulai melemparinya dengan bola-bola kertas untuk menyadarkannya dari lamunannya


Bola kertas itu mengenai wajah Anzu, dan membuat angan Anzu buyar seketika.


Xie Jun Ze tidak menjawabnya. Dia malah memberikan isyarat dengan matanya. Anzu tidak memahaminya dan malah mengkerutkan keningnya bingung.


"Ada apa, Jun Ze? Aku tidak tau ..." ucap Anzu lirih.


Belum sempat Xie Jun Ze memberikan isyarat lagi, tiba-tiba saja seseorang sudah mulai menggebrak meja Anzu hingga membuat gadis itu terhentak karena terkejut.


BRAKK ...


"Anzu!! Kamu tidur atau melamun?! Sejak dari tadi saya sudah memanggil kamu, tapi kamu malah tidur dan senyum-senyum terus! Apa kamu sedang bermimpi?!" ucap pria paruh baya dengan kumis super tebal itu.


"Eehh? Ma-maafkan saya, Pak guru. Sa-saya hanya ..."


"Sekarang cepat keluar dari kelas saya dan segera cuci muka sana!!" tandas sang guru itu dengan begitu tegas dan menggelegar seisi ruangan ini.


"Ba-baik, Pak ..." tak ada pilihan lain, dengan patuh Anzu segera bangkit dari tempat duduknya dan segera bergegas untuk ke kamar mandi.


...🍁🍁🍁...


Kegiatan belajar mengajar hari ini berlangsung dengan begitu cepat. Satu persatu siswa dan siswi mulai meninggalkan kelas jurusan model dan fashion.


Namun tiba-tiba saja seorang pria dewasa yang berusia kira-kira 38 tahun dengan setelan jas hight class-nya mulai memasuki kelas itu. Dia sempat mengedarkan pandangannya si seluruh kelas ini yang hanya menyisakan beberapa siswa siswi saja di dalamnya.


Setelah beberapa saat, pandangannya mulai terfokuskan pada satu pemuda. Dengan langkah lebar dan tegas pria paruh baya itu melenggang mendekati pemuda itu.


Sementara pemuda yang tak lain adalah Xie Jun Ze yang seakan menjadi target dari pria paruh baya itu, seketika merasa terkejut bukan main. Seolah masih tidak mempercayai semua yang sedang terjadi di hadapannya saat ini.


Bagaimana bisa? Cepat sekali mereka bergerak sampai sejauh ini? Hhm ... papa sungguh keren! Tapi ... maafkan aku, Papa. Saat ini belum waktunya untuk aku mengakui semuanya. Dan belum waktunya aku kembali. Aku harus melakukan sesuatu dan mengungkap kebusukan Yan Chen dan ibu tiriku, Papa. Aku ingin memberikan tamparan nyata dan balasan untuk mereka! Tunggulah sebentar lagi, Papa ...


Batin Xie Jun Ze menatap pria paruh baya yang semakin berjalan mendekatinya dengan sepasang mata yang memicing.


"Selamat sore, Tuan Xie Jun Ze. Saya adalah asisten dari tuan Yan, pemilik dari Yan Group yang berpusat di Osaka. Maksud dari kedatangan saya saat ini adalah untuk membuat sebuah janji bertemu dengan tuan Xie Jun Ze, karena guan Yan sangat ingin bertemu dengan tuan Xie Jun Ze." ucap pria paruh baya itu dengan sangat ramah.


"Tuan Yan? Yan Group? Siapa mereka, Jun Ze? Apa kamu mengenal mereka? Atau ... mereka juga sedang mengincarmu?" kali ini Xu Kai juga sudah mendatangi mereka dengan menggendong ranselnya hanya pada bahu kanannya saja.


"Hhm? Tidak, Xu Kai. Aku juga tidak tau." jawab Xie Jun Ze dengan memasang wajah polosnya. "Tapi aku merasa tidak yakin jika aku bisa membuat janji bertemu dengan bos anda, Tuan. Karena akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Selain sekolah, aku juga harus les, berlatih musik, vocal, dan juga tarian. Aku juga selalu pulang malam. Jadi maafkan aku, Tuan. Aku belum bisa menemui bos anda." imbuh Xie Jun Ze mulai melirik jam tangannya.


"Bahkan saat ini aku dan temanku juga harus segera pergi ke studio rekaman, Tuan. Tolong sampaikan permintaan maafku untuk tuan Yan. Dan kami juga harus pergi sekarang. Permisi, Tuan." ucap Xie Jun Ze dengan ramah dan membungkukkan badannya, lalu segera menarik Xu Kai untuk meninggalkan pria paruh baya itu.