
Matahari kini menampakkan sinarnya kembali, sinar tersebut kini telah memenuhi celah celah kamar Gu Ana, dan menerpa wajah Gu Ana, hingga membuat Gu Ana mengerjap berkali kali. Ya kini Gu Ana telah kembali ke kediamannya. Tempat yang telah membuatnya nyaman, tempat mencurahkan banyak isi hatinya, tempat untuk menujukkan ekspresinya.
“Non bangun, ini sudah siang.” Kata pelayan Gu Ana sambil menggoyangkan badan Gu Ana.
Mendengar kata kata pelayan, bukan malah membangukan Gu Ana, namun baginya itu musik yang mengalun merdu, hingga membuatnya kembali menuju alam mimpi.
“Non, ayo bangun Tuan menunggu anda untuk sarapan.” Kata pelayan itu kembali mencoba membangunkan Gu Ana
Saat pelayan tersebut kebali mengatakannya Gu Ana malah menarik selimutnya kembali ke atas hingga menutupi kepalanya.
“Apa belum bangun juga?” tanya Gu Jun kepada pelayan tersebut.
Sedangkan yang ditanya hanya bisa menunduk, menyesali ketidak berhasilannya membangunkan nonanya, Gu Ana. Sementara yang sedang mereka bicarakan kembali ke alam mimpinya.
Gu Jun menggelang meliht Gu Ana, gadis itu sungguh susah untuk dibangunkan, meski menggunakan sepuluh pelayan pun, Gu Jun yakin Gu Ana tidak akan mampu untuk dibangunkan.
Gu Jun menghirup nafas panjang, lalu mengeluarkan kembali dengan kasar.
“Sepertinya tidak ada pilihan lain.” Kata Gu Jun saat melihat Gu Ana semakin nyenyak di alam tidurnya. “Ambilkan aku air.” Perintah Gu Jun kepada pelayan tersebut.
Sementara pelayan tersebut hanya mengangguk saat mendengarkan perintah Gu Jun. Setelah menerima air yang berada di dalam wadah kecil, Gu Jun kemudian menyingkap selimut Gu Ana, kemudian menyiram air tepat diwajahnya.
Saat tengah berada di alam mimpi Gu Ana sedang berada di hamparan bunga yang bermekaran, sambil berlari lari kecil Gu Ana menikmati pemandangannya, tiba tiba kakinya tampa sengaja tercebur kedalam air dan membuatnya sontak terbangun, dan mendapati dirinya tengah disiram dengan Gu Jun, sehingga menghilangkan kantuk Gu Ana.
“Apa apa an sih? Main siram siram aja, emang muka ku ladang apa? Main siram siram aja, kenapa ga sekalian ngebajak aja.” Kata Gu Ana kesal karna disiram, dan membuatnya tebangun dari tidurnya.
Mendengar perotes Gu Ana membuat Gu Jun berkacak pinggang, Gu Jun kesal dengan Gu Ana yang sangat susah dibangunkan.
“Eh, makanya jadi orang itu kalau tidur jangan kayak kebo lagi hibernasi di kutup utara, susah banget di bangunin, kasian tu pelayan mu, cepat bangun, bersihkan dirimu, sarapan, lalu pergi ke Akademi Rakyat, hari ini kita harus mengesahkan Akademi Rakyat.” Kata Gu Jun sambil meninggalkan Gu Ana.
Mendengra kata kata Gu Jun, sontak membuat Gu Ana segera bangun dan segera membersihkan dirirnya, dengan air yang telah di persiapkan oleh para pelayannya. Kemudian menggunakan hanfu, dibantu oleh para pelayan. Lalu melangkah menuju cermin, mengeringkan rambutnya yang panjang dan lurus, lalu mentanya dengan sederhana namun terkesan cantik, hari ini Gu Ana ingin terlihat cantik, karna ini adalah hari pertamanya kembali ke public setelah kejadian kemarin, belum lagi hari ini adalah hari pengerahan Akademi Rakyat, yang dibuat olehnya, Gu Min dan Gu Jun.
Setelah selesai merias diri di depan cermin Gu Ana segera keruang makan untuk makan bersama, suasana yang sangat dirindukan beberapa hari ini. Setelah makan dengan hikmad sekarang mereka bersama sama menuju Akademi Rakyat, dengan menggunakan tandu.
Saat mereka naik tandu Gu Jun memperhatikan Gu Ana dari atas hingga bawah, menurutnya Gu Ana sedikit menggunakan riasan, dan tampil berbeda dari biasanya.
“Wah… sepertinya ada yang tampil berbeda hari ini.” Kata Gu Jun menyinggung Gu Ana.
Gu Ana mendengarkan kata kata Gu Jun, langsung saja mengangkat alis sebelah kirinya, karna merasa sedikit tersenggung.
Mendengar kesombongan Gu Ana yang memang tak tertandingi, Gu Jun tersenyum sambil memandang miris.
“Aduh Jiejie seharusnya kau jangan sombong, kau seharusnya memperhatikan dirimu, tuanganmu si dewa bucin itu akan sedikit kesal, ketika melihatmu hari ini.” Kata Gu Jun sambil tersenyum miris melihat Gu Ana.
Tuan Gu dan Gu Min yang mendengar pembicaraan mereka segera mengalihkan pandangannya menuju Gu Ana yang berada tepat di sebelahnya.
“Penampilanmu lebih baik begini, ini adalah hari pertamanu pasca kejadian itu.” Kata Gu Min sambil mengelus kepala Gu Ana dengan penuh kasih sayang.
Milihat hal itu sontak membuat Gu Jun mendengus kesal dibuatnya. Sementara Gu Min melihat Gu Jun kesal tersenyum lembut kea rah Gu Jun.
“Apa adik keci kita Jun’er juga ingin di elus kepalanya?” kata Gu Min menggoda Gu Jun.
Sedangkan Gu Ana yang peka akan kode dari Gu Min, dengan segera mengelus kepala Gu Jun kemudian di susul elusan dari Gu Min. Karna melihat anak anaknya begitu akrab, dan ini adalah momen langkah, membuat Tuan Gu ikut mengelus kepala Gu Jun. Yang sontak saja membuat Gu Min dan Gu Ana tertawa keras.
Gu Jun yang melihat Gu Min dan Gu Ana tertawa keras sontak membuat Gu Jun mendengus kesal.
“Aku rasa Gege dan Jiejie tidak mengelus kepalaku namun mengacak acak rambutkau.” Kesalnya dengan mengerbikkan bibirnya.
Apa yang dilakukannya membuatnya terlihat gemas sehingga membuat Gu Ana mencubit pipi Gu Jun dengan Ganas sehingga meninggalkan bekas merah di pipi, yang semakin membuatnya bertambah imut. Kemudian Gu Min juga ukit membuat jejak di pipi Gu Jun. Sementara Gu Jun sibuk melindungi wajahnya dari Gu Min dan Gu Ana.
“Dasar kalian Gege dan Jiejie yang tidak ada akhlak nya, masa aku yang tampan ini di buat kacau oleh kalian, dasar tidak berhati.” Kesal Gu Jun kepada Gu Min dan Gu Ana.
“Apa? Kami tidak memiliki hati? Memang saat ini kami tak memiliki hati ayam, jika ada maka sudah habis kami makan.” Kata Gu Ana sambil tertawa melihat kekesalan Gu Jun. sungguh seperti sebuah hiburan untuknya ketika melihat Gu Jun kesal.
“Heh otak makanan, setiap kali ada sesuatu pasti kau sangkut pautkan kepada makanan, sungguh lama lama perutmu akan seperti gentong berjalan.” Sarkas Gu Jun kepada Gu Ana.
Medengar kata kata Gu Jun membuat Gu Min tertawa keras dibuatnya, sungguh mereka benar benar mendalami peran mereka sebagai anak kecil.
“Eh… si jumbo lagi tertawa, aduh kediaman Ses Wanto lagi gempa kayaknya.” Kata Gu Ana melihat Gu Mi tertawa. Sunggu Gu Ana tak terima jika mereka berdua terkena sedangkan Gu Min tidak sama sekali.
“Iya Chin Ses Wanto lagi menyendiri karna menjombo, dan jodoh tak kunjung datang.” Kata Gu Jun sambil melihat kea rah Gu Min, yang kini ekspresi wajahnya berubah menjadi kesal.
“Aduh Ses Wanto aku akan mendoakannya supaya cepat cepat mendapatkan jodoh, agar tak kesepian lagi.” Kata Gu Ana seolah priharin.
Tuan Gu mendengar anak anaknya mendoakan jodoh kepada orang yang tak Ia kenal, membuatnya angkat bicara.
“Kenapa kalian mendoakan orang lain, lebih baik kalian mendoakan Gege kalian.” Kata tuan Gu, sontak membuat Gu Ana dan Gu Jun tertawa keras.