
"Mas..." keluh Ariana, saat merasakan bibir lembut Arkan, mengenai pundak mulusnya, yang ke sekian kalianya. "Mas... Kita udah di tungguin loh Mas." kata Ariana, dengan sedikit desahan, karna kali ini Arkan, sedikit menggigit pundaknya, meninggalkan bekas. Arkan kini semakin terbawa suasana, hingga tangannya bergeliria ke mana mana. "Mas... udah ya." kata Ariana menghentikan aktifitas dari Arkan, membuat Arkan berdecak kesal.
"Pokoknya nanti malam dua kali kipat ya sayang." kata Arkan akhirnya, sembari mengecup leher Ariana sebentar, dan membantu mengenakan hanfu. Arkan memang terkadang tak mampu mengontrol dirinya sendiri, ketika bersama dengan Ariana, hingga sering kali membuat Ariana, kewalahan di buat oleh Arkan.
...
Setelah selesai membantu Ariana mengenakan hanfu, Arkan segeraelihat dengan lekat wajah Ariana, tiba tiba sekilas mimpi yang selalu hadir, di dalam tidur Arkan, kembali membayang. Arkan segera mencium pipi Ariana, untuk menghapus bayang tersebut.
Ariana segera menghadap kembali ke arah cermin, yang tersedia di dalam ruang ganti tersebut. Ariana segera menata rambut panjangnya, dengan berbagai aksesoris yang telah di sediakan. Arkan juga mengenakan penutup kepala yang sesuai dengan Ariana.
Mereka akhirnya keluar dengan mengenakan, hanfu berwarna senada, dengan warna biru laut, dan hiasan kepala, yang membuat mereka menawan, bagaikan seorang bangsawan. Bahkan penjaga yang mengantarkan mereka ke ruang ganti, berdecak kagum, dan juga heran di buatnya. Bagaiman tidak, mereka sangat mirip dengan lukisan, yang tergantung di salah satu dinding. Penjaga itu segera menyandarkan dirinya, dari keterkejutannya. Karna yang lain telah siap untuk berkeliling.
Saat mereka berkeliling, penjaga itu membawa mereka ke suatu ruangan, dimana terdapat banyak lukisan lukisan bangsawan, yang telah usang, termakan usia.
Tampa sengaja Gilang melihat lukisan, yang tengah tersenyum, dan berada di dalam lukisan yang sama. Tampak jelas di dalam lukisan tersebut, tampak seperti sepasang kekasih, ataupun sepasang suami istri. Yang tengah berpose, dengan sangat cantik. Gilang segera mencuil Vian, yang tengah memandang lukisan lainnya.
"Vian... coba lihat deh." kata Gilang sembari menujuk lukisan tersebut. Sontak saja Vian segera melihat, yang di maksudkan oleh Gilang, dan membuat Ayu ikut menoleh. Ayu terkejut melihat lukisan tersebut, segera menyusul Andre, suaminya. Untuk melihat lukisan tersebut.
Ayu menghampiri Ande yang tengah melihat lihat, bersama yang lainnya. Andre terkejut ketika di tarik Ayu untuk melihat, apa yang baru saja ia lihat.
Setelah sampai, mereka terkejut, melihat lukisan tersebut. Di dalam lukisan tersebut, tampak jelas Pangeran Bao Ling dan Gu Ana, tengah tersenyum. Bukan itu yang membuat mereka terkejut, lebih tepatnya mereka persis seperti Arkan dan Ariana. Jelas itu bukan sebuah lukisan biasa, lukisan tersebut, telah ada semenjak ratusan bahkan ribuan tahun, terbukti dengan warna dan kertas yang sudah usang, untung saja terawat, sehingga lukisan tersebut dapat terlihat, meskipun sedikit buram. Panjaga tersebut datang dan menjelaskan lukisan tersebut.
"Lukisan ini di buat pada kerajaan dinasti Zang, di mana ini adalah lukisan, yang di buat tepat sebelum keberangkatan, Keluarga Gu dari kerajaan Bao ke kerajaan Zang. Untuk mengadakan lamaran, sekaligus pernikahan untuk, Gege dari wanita ini. Dalam lukisan ini terdapat Nona muda Gu, yang bernama Gu Ana, dan suaminya pangeran Bao Ling." kata pemandu tersebut, dengan menggunakan bahasa Mandarin. Sementara Armin menjelaskan kepada yang lain, ke dalam bahasa Indonesia.
Semua orang memandang ke arah Ariana dan Arkan, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lukisan pangeran Bao Ling dan Gu Ana, secara bergantian. Arkan yang melihat lukisan tersebut, menggenggam erat tangan Ariana. Arkan merasa tidak asing dengan hal itu, entah kenapa mimpi Arkan kembali melintas di kepalanya. Arkan yang mengerti bahasa Mandarin, sejak tadi di buat bingung dengan bisik bisik para penjaga lainnya. Yang mengatakan mereka adalah rengkarnasi, dari pangeran Bao Ling dan Gu Ana. Sepasang suami istri yang abadi, dari waktu ke waktu.
Arkan memandang wajah Ariana, yang berada di sampingnya. Mata Ariana tengah memandang lukisan dirinya, atau jiwanya yang tengah berpetualang, ketika bersama dengan pangeran Bao Ling. Ariana masih ingat jelas bagaimana, lukisan itu di ambil, berapa lama mereka harus mematung untuk di lukis. Namun itu sangat menyenangkan, karna mereka benar benar, menikmati waktu itu.
Ariana terkejut ketika merasakan, genggaman tangan Arkan, yang menguat di sela sela jarinya. Membuat Ariana mengalihkan pandangannya, ke arah Arkan, yang saat ini tengah memandanginya juga.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanya banyaknya telah mendukung, dengan memberikan like, dan comment, maafkan atas kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.