It'S Me

It'S Me
Episode 88



“Terimakasih sudah memaafkan ku, mungkin memang benar kata Gege Jade, bahwa kau lebih bisa berfikir dewasa daripada aku.” Kata pengeran Zang Limo mengakui sikap kekanak kanaknnya kepada Gu Ana.


Mendengar kata kata dari pangeran Zang Limo\, Gu Ana tersenyum dan mendekatkan bibirnya dangan bibir pangeran Zang Limo\, kemudian Me***atnya sambil memejamkan matanya. Pangeran Zang Limo terkejut\, baru pertama kali Gu Ana berisisniatif melakukannya terlebih dahulu. Namun keterkejutan pangeran Zang Limo segera dapat Ia kendalikan\, kemudaian membalas lu***matan dari Gu Ana.


Selama beberapa menit\, mereka saling hanyut di dalam Pa***tan tersebut\, lidah mereka saling bertarung. Hingga akhirnya merka kehabisn oksigen dan saling melepaskan pa***tan di antara mereka.


Pangeran Zang Limo menundukkan wajahnya hingga keningnya dan kening Gu Ana menyatu.


“Terimakasih, aku mencintaimu An’er.” Kata pangeran Zang Limo kembali mencoba mendekatkan wajahnya kembali, dan kembali mencoba menempelkan bibirnya dengan bibir Gu Ana.


Melihat ancang ancang pangeran Zang Limo, Gu Ana segera menutup mulut dari pangeran Zang Limo.


“Ingat kita harus melakukan penghormatan kepada raja.” Kata Gu Ana mengingatkan pangeran Zang Limo.



Mendengar hal tersebut membuat pangeran Zang Limo mengerutkan kening tak suka, apa lagi Gu Ana tersenyum manis sambil memandang pangeran Zang Limo, lalu berdiri dan merapikan pakaiannya.


“Baiklah, setelah itu kita akan berjalan jalan ya.” Kata pangeran Zang Limo sambil berdiri di samping Gu Ana.


“Aduh, sayang sekali kemarin aku sudah membuat janji.” Kata Gu Ana kepada pangeran Zang Limo sambil berjalan ke arah lemari yang ada di sudut ruangan tersebut, dan mengambil hanfu laki laki berwarna kuning terang bercampur merah muda.


“Untuk apa hanfu tersebut?” tanya pangeran Zang Limo, sambil terus memperhatikan hanfu tersebut.


“Aku akan ada latihan dengan Gege Jade hari ini.” Kata Gu Ana sambil membawa hanfu tersebut untuk keluar.


Mendengar Gu Ana akan berlatih bersama pangeran Zang Jade, pangeran Zang Limo teringat akan kata kata pangeran Zang Jade, dua belas hari yang lalu tentang latihan bersama Gu Ana.


“Kau akan berlatih bersama Gege? Boleh aku ikut?” tanya pangeran Zang Limo kepada Gu Ana, sambil menyesuaikan langkahnya dengan langkah Gu Ana, yang asedikit tergesa gesa.


“Lihat saja nanti.” Kata Gu Ana sambil menaiki kereta disusul oleh pangeran Zang Limo yang langsung saja duduk di hadapannya.


“Kapan kalian akan latihan?” tanya angeran Zang Limo, sambil terus memandangi Gu Ana.


“Setelah penghormatan, kebetulan kami sama sama tidak ada pekerjaan.” Kata Gu Ana sambil menyingkap jendela tandunya, sebari memandangi aktifitas masyarakat pagi ini.


“Kakek Tong… bagaiman keadaan kaki mu?” teriak Gu Ana sambil melambaikan tangan dan mengeluarkan kepalanya, kepada seseorang peria tua, yang tengah berdiri dengan tongkat di seberang jalan.


Orang orang yang mendengar teriakan tersebut sudah terbiasa dan familiar dengan teriakan tersebut. Mereka hanya tersenyum senyum melihat kekonyolan gadis tersebut. Sedangkan pria tua yang di teriyaki oleh Gu Ana hanya tersenyum sambil melambai.


“Bibi Ang, aku titip tanghul untukku ya nanti, seperti biasa.” Teriak Gu Ana kepada salah satu penjual tanghul langganan Gu Ana.


Sementara Bibi Ang hanya mengangguk sambil melambaikan tangan, tanda mengerti dan menyetujui maksud gadis tersebut.


Pangeran Zang Limo dapat melihat beberapa laki laki memandang Gu Ana dengan penuh minat, sambil tersenyum kepada Gu Ana, sedangkan Gu Ana membalas setiap senyuman yang di lontarkan kepadanya. Pangeran Zang Limo menarik Gu Ana untuk kembali duduk tenang dihadapannya.


“Ah… tadi itu sangat mengasyikkan, kalau kau mencobanya sekali saja, pasti akan sangat menyenangkan.” Kata Gu Ana, sambil tertawa kepada pangeran Zang Limo. Kemudian pandangannya kembali teralihkan ke luar jendela sambil memandang jalanan.


“Paman tolong berhenti sebentar.” Kata Gu Ana tiba tiba.


“An’er kenapa tiba tiba kau meminta untuk berhenti?” tanya pangeran Zang Limo yang merasa heran kepada sikap Gu Ana yang tiba tiba meminta kereta berhenti.


Bukannya menjawab pertanyaan pangeran Zang Limo, Gu Ana justru menyapa seseprang di luar kereta mereka.


“Gege Long…” penggil Gu Ana, sambil melambaikan tangan kea rah tabib Long.


“Ah… An’er, ada apa?” tanya tabib Long sambil menghampiri Gu Ana yang saat ini masih berada di dalam kereta.


Karna kereta Gu Ana sedikit tinggi, maka tabib Long harus mendongakkan kepalanya, agar dapat memandang Gu Ana.


“Apa Gege Long akan ke istana hari ini?” tanya Gu Ana kepada tabib Long.


“Iya, sebentar lagi kereta ku akan selesai.” Kata tabib Long menunjuk beberapa dayang yang sedang sibuk memperisapkan kereta tabib Long.


“Gege Long… kau tahu kemarin aku berulang tahun, masa kau tak memberiku hadiah, kau tahu hanya Gege Long saja yang belum memberikanku hadiah.” Kata Gu Ana dengan nada manja dan sedikit merengak kepada tabib Long.


Mendengar rengekan dari Gu Ana sontak membuat tabib Long tersenyum, tabib Long memang merupakan tabib yang ramah mudah tersenyum dan tampan, banyak di gemari oleh pasiennya.


“Baiklah kalau begitu apa yang An’er ku ini inginkan?” tanya tabib Long sambil memandang Gu Ana.


Gu Ana tampak berfikir keras saat memikirkan apa yang Ia inginkan.


“Ah… terserah Gege Long, itu adalah kejutan dari Gege Long untuk ku, karna apapun yang Gege Long berikan pasti An’er akan menyukainya.” Kata Gu Ana dengan senyuman manis andalannya, yang sering Gu Ana pamerkan kepada orang orang. “Ah Gege Long aku harus berangkat sekarang, sampai jumpa di istana.” Kata Gu Ana melambaikan tangannya kepada tabib Long.


Saat Gu Ana akan kembali memandang ke arah luar jendela pangeran Zang Limo segera menarik Gu Ana dan menutup tirainya.


“Ah… pangeran kenapa kau melakukannya?” tanya Gu Ana keheranan.


Bukannya menjawb pangerang Zang Limo justru menarik dagu Gu Ana dan me***at bibir Gu Ana dengan kasar\, lalu melepaskannya.


“Jangan pernah tersenyum, dan berbicara dengan nada seperti tadi kepada orang lain.” Kata pangeran Zang Limo sambil memandang Gu Ana, yang wajahnya masih memerah dan bingung.


“Jika kau menginginkan sesuatu kau bisa meminta padaku, kau boleh meminta apa pun, segalanya akan aku berikan.” Tegas pangeran Zang Limo sambil memandang Gu Ana.


Gu Ana yang mendapatkan perlakuan tersebut sangat bingung harus berbuat apa, Gu Ana sungguh tidak tahu perbuatan apa yang Ia perbuat kali ini, sehingga membuat pangeran Zang Limo begitu kesal, Gu Ana hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil terus memandangi pangeran Zang Limo.



Jangan lupa like and comment, tolong tinggalkan jejak ya biar author tambah semangat, dan punya masukan agar bisa memperbaiki kesalahan yang author buat, sip… ok.