It'S Me

It'S Me
cast



"Tenang dia ga apa apa kok," kata Aska santai membuat Angel tambah kesal dibuatnya.


"Gila lo tahu enggak, udah ah gue mau balik ayo antar gue balik," pinta Angel kepada Aska.


...


"Ih main balik balik aja, baru juga sebentar," protes Aska kepada sepupunya dengan malas.


"Kan lu cuman nganterin gue, nanti lu bisa balik lagi deh ke sini kan selesai," kata Angel kesal dengan Aska.


"No no no... mami bisa curiga sama gue pokoknya lo temenin gue sampai selesai," kata Aska tidak menyetujui ide Angel, membuat Angel memutar bola matanya dengan malas.


"Gue males di sini berisik tau," kata Angel protes dengan Aska.


"Ya kalau lo mau yang tidak berisik, tenang dan nyaman buat lo, ya ke perpustakaan lah," kata Aska jengah melihat sikap sepupunya yang tidak terlalu suka dengan hal yang berisik.


"Tau ah... cepat gue tidak suka lama-lama di sini," kata Angel malas.


Aska memanggil bartender untuk memberikan mereka minuman yang tidak beralkohol, agar mereka bebas minum dan tidak ketahuan ke bar. Tak lama kemudian seorang pelayan mengantarkan minuman mereka. Setelah memastikan minuman tersebut, Aska segera berdiri dan pergi ke tengah tengah untuk ikut berjoget, membuat Angel menggeleng melihat tingkah Aska.


Tiba tiba ponsel Angel berbunyi, membuat Angel panik setengah mati karena yang menelponnya adalah daddy nya. Angel segera mencari Aska namun ternyata Aska tidak dapat Angel temukan,


Karena terlalu panik, tanpa sengaja Angel menabrak seseorang.


"Maaf, maaf Om saya tidak sengaja," kata Angel meminta maaf kepada orang tersebut dengan sedikit berteriak.


Lelaki tersebut hanya diam, dan melihat Angel dengan kesal, karena Angel memanggilnya dengan panggilan om.


^^^Perasaan gue ga tua tua amat. Kata lelaki tersebut di dalam hatinya.^^^


"Maaf Om saya benar benar minta maaf Om," kata Angel dengan sopan, sesopan mungkin yang dia bisa.


Namun laki-laki itu terus saja memandang Angel dengan tatapan tajam, membuat Angel risih dibuatnya.


"Om saya kan sudah minta maaf Om, jangan gitu dong seram," keluh Angel kepada lelaki tersebut.


"Maaf tuan ada apa?" tanya seorang lelaki muda mendekati orang tersebut.


Membuat Angel mengalihkan pandangannya ke arah lelaki tersebut.


"Kak Roni tampan ga tu," kata Angel kelepasan menyebut Roni tampan, membuat Angel malu sendiri dibuatnya.


"Eh kamu ke sini ngapain?" tanya Roni bingung karena pertama kali melihat Angel ke bar, dan setahu Roni, Angel tidak pernah ke bar.


"Ini kak nemenin si Aska, cuman Aska nya tiba-tiba ngilang," jujur Angel kepada Roni.


"Angel kenal tuan Daniel?" tanya Roni karena melihat Angel saat ini tengah bersama Daniel.


"Engga tadi enggak sengaja ketabrak sama Om, terus minta maaf eh dianya tidak mau maafin," adu Angel kepada Roni karena kesal dengan tatapan dari Daniel, membuat Daniel menggelengkan kepalanya.


Pandangan Daniel beralih kepada Roni seolah bertanya tentang Angel, karena sudah mengerti satu sama lain Roni segera memperkenalkan Angel kepada Daniel.


"Oh ini Angel teman satu sekolah saya kemarin di Belanda," kata Roni memperkenalkan Angel kepada Daniel. Sedangkan Daniel hanya mengangguk mengerti dengan ucapan Roni.


"Daniel," kata Daniel memperkenalkan namanya kepada Angel, seraya mengulurkan tangannya.


"Angel," jawab Angel menyambut uluran tangan Daniel.


Mereka saling berjabat tangan, kemudian melepaskannya. Aska yang melihat sepupunya Angel tengah berbincang dengan Daniel, segera mendekati Angel.


"Maaf tuan Daniel, apa adik saya mengganggu anda?" tanya Aska kepada Daniel, karena khawatir Angel membuat masalah.


Mendengar hal itu, membuat Angel memutar bola matanya malas.


"Aska lo dari mana sih? Gue cariin, lo tau ga daddy tadi nelfon, ga mungkin gue angkat di sini," kata Angel kepada Aska, membuat Aska kelabakan, karena takut ketahuan mengajak sepupunya untuk ke bar.


"Ha sumpah lo? Ayo pulang gawat kalau ketahuan, gue ga bisa bayar lo," kata Aska panik langsung menarik tangan Angel.


Daniel hanya melihat kepergian mereka dengan pandangan tak terbaca.


"Mengapa bos?" tanya Roni penasaran mengikuti pandangan dari Daniel.


"Bos tertarik dengan Angel?" tebak Roni.


"Enggak saya enggak nyangka aja dipanggil Om sama itu cewe" kata Daniel mengalihkan pandangannya ke Roni.


"Lah terus mau dipanggil apa?" tanya Roni kepada Daniel.


"Ya apa kek saya kan gini gini masih keren,' kata Daniel tidak menyukai panggilan dari Angel.


"Keren, sih keren tetapi duda, hahahahaha..." tawa Roni terhenti ketika melihat pandangan Daniel yang tajam ke arahnya, mata pisau yang siap menancap ke arah Roni.


"Eh iya, duren duda keren," Kata Roni dengan suara mengecil.


"Hm... kamu kenal baik dengan wanita itu?" tanya Daniel mengalihkan topik.


"Siapa? Angel?" tanya Roni bingung, yang hanya di angguki oleh Daniel.


"Angel Lalika Pradana, putri bungsu tuang Aldo Pradana, yang tadi itu sepupunya Aska Pradana," kata Roni menjelaskan.


"Dia berkuliah di Universitas Brahma," lanjut Roni, membuat Daniel tersenyum puas.


"Jangan bilang Bos suka dengan dia," tebak Roni membuat Daniel mengalihkan pandangannya ke arah Roni.


"Engga Bos minimal nyonya tidak pernah lagi memaksa Bos untuk mencari istri, atau sibuk menjodohkan Bos," kata Roni berusaha meralat omongannya.


Daniel tampak sedikit berpikir mengenai kata-kata dari Roni, sebenarnya tadi Daniel sedikit terkejut ketika Angel tidak mengenalinya. Padahal Daniel sendiri sering bolak-balik di layar kaca Nasional Indonesia.


Daniel juga merasakan ada sesuatu yang menarik di diri Angel, sehingga membuatnya penasaran. Daniel tersenyum ketika mengingat wajah Angel membuat Roni semakin yakin bahwa bosnya ini tertarik dengan Angel.


Roni menganggap itu adalah hal biasa, karena sejak dahulu Angel memanglah primadona, dan salah satu anak yang populer di sekolahnya dahulu di Belanda. Darah perpaduan antara Indonesia dan Belanda tercampur begitu sempurna sehingga menghasilkan sosok Angel. Yang cantik dan memesona, hidung mancungnya dan bibir seksinya membuat mata laki-laki tidak dapat beralih darinya, belum lagi tubuhnya yang seksi bak model, menambah penampilannya yang menawan.


Roni berdecak kagum kecantikan dari Angel mampu membuat bosnya si duda keren ini atau duren, menjadi tertarik kepada Angel tidak seperti biasanya. Di mana Daniel yang seakan akan tidak mau tahu tentang wanita manapun semenjak bercerai dengan istrinya.


Roni menganggap itu adalah hal biasa, karena sejak dahulu Angel memanglah primadona, dan salah satu anak yang populer di sekolahnya dahulu di Belanda. Darah perpaduan antara Indonesia dan Belanda tercampur begitu sempurna sehingga menghasilkan sosok Angel. Yang cantik dan memesona, hidung mancungnya dan bibir seksinya membuat mata laki-laki tidak dapat beralih darinya, belum lagi tubuhnya yang seksi bak model, menambah penampilannya yang menawan.


Roni berdecak kagum kecantikan dari Angel mampu membuat bosnya si duda keren ini atau duren, menjadi tertarik kepada Angel tidak seperti biasanya. Di mana Daniel yang seakan akan tidak mau tahu tentang wanita manapun semenjak bercerai dengan istrinya.


...


"Mungkin saya hanya tertarik dengannya," kata Daniel sembari meninggalkan Roni menuju ke dalam room khusus untuk dirinya.


"Bagus lah bos setidaknya anda tidak harus bersaing dengan laki-laki muda, yang sedang mengincar Angel," kata Roni sembari mengikuti bosnya menuju room khusus mereka.


Seketika langkah kaki dari Daniel terhenti ketika mendengar kata-kata dari Roni.


"Maksud mu apa saya tidak lebih baik dari mereka?" tanya Daniel tidak terima.


"Ah maaf kan saya tuan," kata Roni meminta maaf kepada bosnya.


"Hm... bagaimana dengan laporan berita minggu ini?" tanya Daniel mengalihkan pertanyaan kepada Roni, karena sebenarnya Daniel tidak suka membahas yang tidak penting.


"Seperti biasa Bos semua baik-baik saja," kata Roni mulai menjelaskan segala situasi yang terjadi saat ini di dalam bar.


Ya bar ini adalah milik dari Daniel, bar yang cukup ternama yang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu. Bar ini biasanya sering di datangi oleh anak-anak kalangan muda dengan status tertentu. Mulai dari para pejabat maupun para pengusaha muda. Di tambah bar ini memiliki ruangan khusus yang membuat para pengusaha muda, biasanya juga menjadikan tempat ini menjadi tempat untuk meeting mereka.


sementara Angel dan Aska kini baru sampai di rumah, Angel segera menelpon daddy nya.


"Halo dad tumben mengapa nelpon?" tanya Angel kepada daddy nya yang ada di ujung telepon sana.


"Ga, kangen aja, tumben tadi gak ngangkat telepon?" tanya Aldi dari ujung telepon sana.


"Tadi masih di jalan dad enggak kedengeran," jawab Angel beralasan, Angel tidak mungkin mengatakan kepada daddy nya kalau mereka tadi sedang ada di bar saat daddy nya menelepon.


"Iya daddy... kakak mana dad?" tanya Angel kepada daddy nya, karena akhir-akhir ini Angel jarang menghubungi Brian kakaknya.


"Lagi sibuk dia akhir-akhir ini, istrinya juga lagi hamil muda kan, jadi dia sibuk di kantor dan sibuk memenuhi ngidam istrinya," jawab Aldo sembari terkekeh mengingat tingkah menantunya ketika sedang ngidam.


Angel ikut terkekeh ketika mendengar penuturan dari Aldo. Angel membayangkan betapa kesalnya wajah Brian, karena ketika dahulu Angel suka meminta Brian melakukan banyak hal, Brian sangat mengeluh dan kesal dengan hal tersebut. Namun sekarang mau tidak mau Brian harus menerimanya dengan senang hati.


"Sudah dulu ya dad Angel mau tidur," kata Angle sembari menutup teleponnya, Angel segera membersihkan dirinya dan merebahkan dirinya di tempat tidur.


Keesokan paginya Angel bangun tepat setelah mendengar jam weker nya berbunyi. Angel segera beranjak dan segera mandi. Setelah selesai mandi Angel segera turun dan ikut bergabung dengan yang lainnya di meja makan, tepat di samping Aska.


"Bagaimana pesta ulang tahun teman kamu tadi malam sayang?" tanya Tania kepada Angel, saat setelah Angel mendudukan pantatnya di kursi meja makan.


Angel mengangkat alisnya dan memandang Aska dengan pandangan jengah. Angel akhirnya mengerti alasan apa yang diberikan kepada mama dan papanya.


"Bagus mah meriah," kata Angel sekenanya karena bingung harus menjawab apa.


"Iya mah tetapi kami harus pulang duluan, karena Angel minta pulang, gak asyik banget kan," tutur Aska membuat Angel memutar bola matanya malas.


"Ya kan sudah malam mah jadi harus pulang," balas Angel tidak mau kalah.


"Pesta aja malam kalau tidak mau malam ya datangnya siang biar tidak ada orang," kata Aska kesal dengan Angel.


Padahal tadi malam Aska masih ingin berpesta di bar. Namun karena daddy nya Angel menelepon, maka mereka harus pulang lebih dahulu. karena Aska juga takut jika mereka ketahuan berada di bar. Maka uang jajan Aska akan dikurangi, dan Aska pun akan dimarahi habis-habisan karena mengajari Angel untuk ke bar.


"Jadi tadi malam kalian pulang jam berapa?" tanya Tania kepada Aska dan Angel.


"Jam sepuluh ma," jawab Angel dengan santai.


"Lagian itu sudah lewat jam tidur Angel ma," lanjutan dia memandang Aska.


Aska hanya memutar bola matanya jengah dengan sikap sepupunya ini yang masih seperti anak sekolah. Padahal umur Angel sudah mencapai dua puluh satu tahun, dan bisa dikatakan matang ataupun dewasa.


Maskipun Angel sering dikatakan memiliki pemikiran yang dewasa, namun beberapa hal kegiatan orang dewasa Angel tidak sukai, salah satunya adalah pergi ke bar. Angel mengatakan bahwa bahasa itu tidak baik, dan Angel juga lebih menyukai pergi ke mall ataupun ke taman hiburan. Menurut Angel itu lebih menyenangkan, daripada harus berurusan dengan lelaki genit dan cewek seksi yang ada di bar.


"Jadwal tidur kamu masih kecil apa?" tanya Aska mengejek Angel.


"Ini nih kalau tidak bisa menghargai jadwal sendiri, kak Aska pasti tidak punya jadwalkan," ejek Angel kepada Aska, Angel memang harus memanggil Aska jika berada dilingkungan keluarga, meskipun sebenarnya Angel malas.


"Sudah lah makan saja," kata Aska menyuapi Angel, dengan sosis yang dia pegang.


"Ih apaan sih kak enggak lucu tau enggak," kesal Angel mengunyah sosis tersebut, dan kembali menyuapkan sisa sosis yang ada.


"Marah tetapi dimakan sampai habis malah," ejek Aska sembari tertawa.


Sementara yang lain ikut terkekeh melihat tingkah kedua sepupu ini. Yang tidak pernah akur namun sebenarnya saling menyayangi dan menjaga. Aska memang menganggap Angel seperti adiknya sendiri, karena itu Aska selalu mengawasi Angle jika dekat dengan lelaki.


"Ih apaan sih kak enggak lucu tau enggak." pesan Angel mengunyah sosis tersebut, dan kembali menyuapkan sisa sosis yang ada.


"Marah tapi dimakan sampai habis malah." ejek Aska sembari tertawa.


Sementara yang lain ikut terkekeh melihat tingkah kedua sepupu ini. Yang tidak pernah akur namun sebenarnya saling menyayangi dan menjaga. Aska memang menganggap Angel seperti adiknya sendiri, karena itu Aska selalu mengawasi Angle jika dekat dengan lelaki.


...


Angel segera bergegas menuju kampusnya, dengan mobil kesayangan nya. Angel tidak serempak dengan Aska, karna Aska tidak memiliki jadwal pagi ini. Angel segera membelah lautan macet pagi Jakarta, untung saja Angel masuk dua jam lagi, jadi macet pun tak masalah.


Angel menggerakkan mobil nya sedikit demi sedikit, karna kemacetan tersebut. Angel membuka kaca mobilnya karna merasa pengap. Saat Angel membuka kaca mobilnya, sejumlah mata menatap ke arah nya, termasuk dua pasang mata yang tengah ikut terjebak, dengan macetnya pagi Jakarta.


"Angel..." guman Daniel, ketika melihat kaca mobil Angel terbuka.


"Hah di mana bos?" tanya Roni yang tiba tiba mendengar bosnya menyebut nama Angel.


Namun tak di jawab oleh Daniel, Daniel justru asyik memandangi wajah cemberut Angel, yang terjebak macet pagi nya Jakarta.


Karna tak ada jawaban, Roni segera mengikuti arah pandangan dari Daniel, dan nampak lah wajah cantik Angel yang tengah mengerucutkan bibir seksinya. Roni kemudian memandangi wajah bosnya kemudian tersenyum.


"Hm... ada yang mau melepas masa dudanya nih," goda Roni, membuat senyum di bibir Daniel sedikit mengembang. Membuat Roni benar benar yakin kalau bosnya benar benar tengah dimabuk cinta.


"Mau nomor nya ga bos?" tawar Roni membuat Daniel memandang ke arahnya.


"Kirim sekarang," kata Daniel kepada Roni, membuat Roni menggelengkan kepalanya.


Roni segera mengirimkan nomor Angel kepada Daniel, melalui aplikasi pesan whatsapp.


Daniel segera membuka ponselnya untuk menyimpan nomor Angel, sembari tersenyum. Daniel membuka foto profil Angel yang tertera di nomor whatsapp tersebut.


"Kamu urus seminar kita di Universitas Brahma, katakan kalau saya setuju menjadi pemateri mereka," kata Daniel sembari tersenyum melihat foto Angel, dan segera menyimpannya di dalam galeri ponsel.


"Siap bos," kata Roni memberi hormat kepada Daniel.


Mendengar kata kata dari Roni membuat Daniel tersenyum, sedetik kemudian senyum Daniel menghilang karena kemacetan sudah mulai berjalan lancar. Angel sudah melajukan mobilnya ke depan, membuat jalan yang mereka lalui terpisah.


Setelah mengantar bosnya sampai di kantor, Roni segera diantar oleh supir ke universitas Brahma. Sesampainya di universitas Brahma, Roni segera menuju ruang dekan mereka, fakultas ekonomi.


Setelah sampai di luar ruangan dekan tersebut, Roni segera memberitahu sekretaris dekan tersebut akan kehadirannya. Dengan sopan sekretaris dekan tersebut segera memasuki ruangan dekan.


"Maaf pak, ada pak Roni dari kantor MR Group pak." kata asisten tersebut, sontak membuat dekan tersebut terkejut, dan meminta asistennya untuk mempersilahkan Roni masuk.


Saat sedang memasuki ruang dekan tersebut, tampak Angel dan dua orang mahasiswa, tengah berbincang dengan seorang lelaki yang sepertinya, sudah berumur lima puluh tahun.


"Selamat pagi pak Nawawi." kata Roni menjabat tangan pak Nawawi, dengan sopan.


"Selamat pagi pak Roni, silahkan duduk." sapa pak Nawawi dengan senyuman ramah.


"Hai Angel." sapa Roni membuat semua yang ada di ruangan tersebut terkejut, namun dengan santainya Roni duduk di sebelah Angel.


"Hai kak Ron." kata Angel sedikit canggung, karna menjadi pusat perhatian.


"Pak Roni kenal Angel?" tanya pak Nawawi, bingung, karna panggilan mereka seperti sangat akrab.


"Iya pak kami satu sekolah saat berada di Belanda." kata Roni menjelaskan tentang hubungan mereka. Membuat se isi ruangan ber oh ria.


"Oh ya pak, langsung saja, saya di sini ingin membicarakan tentang narasamber untuk acara seminar pada tanggal dua puluh empat bulan ini." kata Roni to the poin, karna jujur saja Roni tak suka berbasa basi dengan orang yang tidak akrab dengannya.


"Oh ya... kebetulan sekali Angel ini sekertaris dalam acara tersebut." kata pak Nawawi, membuat Roni mengalihkan pandangannya ke arah Angel. Ketika memandang Angel, tiba tiba otak licik Roni berjalan.


"Ah benarkah? Kalau begitu akan lebih mudah lagi, karna Angel juga kenal dekat dengan bos saya." kata Roni, sukses membuat Angel membulatkan matanya tak percaya.


Angel bahkan tak tahu kalau Roni bekerja di MR Group, bagaiman dia kenal dengan CEO dari MR Group.


"Kak Angel ga kenal." kata Angel berbisik di telinga Roni, yang hanya di dengar oleh Roni.


"Kamu lupa ya yang di bar." kata Roni mengingatkan kejadian di bar, saat mereka bertemu. Membuat Angel menganga tak percaya, bagaimana mungkin kali ini ia akan ber urusan dengan seorang CEO arogan.


Angel ingat betul malam itu saat berada di bar, dari sekian banyak kata kata yang keluar dari bibir Angel, orang itu hanya mengucapkan satu kata yaitu Daniel. Membuat Angel benar-benar berpikir, bahwa berurusan dengan orang tersebut akan sangat sulit.


"Baiklah begini saja karena bos saya kurang suka mengobrol dengan orang yang tidak dia kenal, maka dari itu Angel biar ikut dengan saya ke kantor bos saya," kata Roni memberikan solusi kepada yang lainnya, membuat Angel benar benar menggerutuki hal tersebut.


Angel memandang wajah yang lainnya, yang nampak setuju setuju saja dengan ide dari Roni. Membuat Angel benar benar menyesali kedatangan ke bar malam itu.


"Kalau begitu sangat bagus, ini akan benar benar bagus, iya kan Angel," kata pak Nawawi selaku dekan, tersenyum ke arah Angel. Membuat Angel tak mampu menolak permintaan dari dekan nya itu.


"Iya... saya datang ke sana pak," kata Angel tersenyum canggu kepada yang lainnya.


"Ya sudah kita pergi sekarang, takutnya pak Daniel ada rapat," kata Roni segera berdiri, dari tempat duduknya. Membuat yang lain juga ikut berdiri.


"Ayo Angel," kata Roni merangkul pundak Angel, membuat yang lain curiga akan kedekatan mereka.


"Ya kak," kata Angel tersenyum terpaksa dengan Roni.


Membuat Roni tersenyum kemenangan, entah hadiah apa yang akan di persembahkan oleh bosnya, karna berhasil membawa gadis pujaan bosnya ke hadapan bosnya.