
Setelah Gu Jun selesai, Gu Jun memberikan cermin kepada Gu Ana, wajah Gu Ana kini tidak ada kata shok lagi, Ia tertawa terbahak bahak melihat hancurnya riasan yang Ia pakai.
Bagaiman tidak pipinya berwarna orange terang, bibirnya berwarna merah darah, jangan tanyakan kontur yang sudah berantakan kemana mana.
“Ya ampun ini lebih parah dari sebelumnya loh.” Kata Gu Ana menertawai wajahnya sendiri.
“Ya ampun sis, ga ngerti deh ini selera anak muda sekarang, Korea mix Europ gitu, pich pich manja ulala.” Kata Gu Jun sok mengerti tentang semua fasion.
“Ga chin eike tuh seneng banget, sampai…” kata Gu Ana menggantungkan omongannya, seolah terharu dengan kerja keras Gu Jun. “Aku tuh seneng banget cin sampai ga bisa ngomong apa apa, wajahku cantik banget kayak incess yang jatuh dari kayangan.” Kata Gu Ana lagi. “Ini tuh lebih cantik dari mimi peri tau ga? Ini mimi perih.” Lanjut Gu Ana menyeka air matanya seolah terharu.
“Engga chin, ini tugas aku sebai mimi fation.” Kata Gu Jun tak mau kalah. Lalu mereka berpelukan layaknya teletubis.
Pangeran Zang Limo yang memperhatikan aktifitas mereka semakin heran dengan apa yang Gu Ana dan dan Gu Jun lakukan.
“Sebenarnya sedang apa mereka?” tanya pangeran Zang Limo.
“Lihat saja nanti.” Kata Gu Min tersenyum misterius.
Tiba tiba Gu Ana dan Gu Jun menghampiri mereka, Gu Jun dengan bergaya keren, sedangkan Gu Ana berjalan dengan dituntun para pelayan, menggunakan tudung kuning cerah. Sedangkan para pelayan tersenyum senyum menahan tawa.
“Selamat sore hadirin sekalian, disini saya Gu Jun dengan bangga akan memperkenalkan model saya yang amat cantik jelita tiada tara apalagi budiman, akan memperagakan beberapa gaya Khas busna terbaik, dan riasan wajah terbaik, yang mampu menarik semua perhatian, baik kaun adam maupun kaum hawa.” Kata Gu Jun dengan panjang kali lebar.
Sedangkan pangeran Zang Limo yang mendengar penuturan Gu Jun mengerutkan keningnya. Ia berfikir jika mampu menarik perhatian kaum adam maka saingannya akan bertambah banyak lagi, meskipun saat ini setatus mereka adalah bertunangan.
“Baikalh para hadirin sekalian, saksikanlah model saya, Ropea.” kata Gu Jun.
Mendengar kata kata Gu Jun sontak membuat Gu Ana melepas tudung kuning cerah yang melekat di kepalanya, dengan tersenyum super percaya diri yang Ia punya.
Sementara pangeran Zang Limo melongo saat melihat wajah Gu Ana yang sudah tak tau mau bagamana lagi berkomentar, wajahnya seperti habis terserang angin putting beliung. Sementara tuan Gu dan Gu Min sudah tertawa terpingkal pingkal.
Gu Ana dengan percaya dirinya meleok kesana semari layaknya model internasional, yang telah memenangi top model competition.
“Sudah kubilang jangan terkejut.” Kata Gu Min kepada pangeran Zang Limo yang masih dengan mode terkejutnya.
Setelah sadar dari keterkeutannya pangeran Zang Limo ikut tertawa keras bersama dengan tuan Gu, dan Gu Min.
Saat tengah meleak leok dengan percaya diri level dewa, Gu Ana tanpa sadar melewati papan jembatan yang membuatnya tercebur kedalam kolam.
Buaknnya menolong pangeran Zang Limo, tuan Gu, Gu Min, dan Gu Jun justru semakin menambah tawanya. Yang sontak membuat Gu Ana tersenyum kecut.
Sementara para dayang dan penjaga segera menolong nona mereka, Gu Ana.
“Bukannya nolong malah ketawa.” Ketu Gu Ana saat naik ke jembatan, sambil mengusap wajahnya yang basah.
Bukannya memperbaiki riasa Gu Ana justru semakin hancur, bahkan sebagian riasan menempel di jari jarinya, sontak membuat ke empat lelaki itu tertawa semakin keras, hingga air mata mereka turun, dan perut mereka sakit.
“Ketawa terus sampai puas.” Kata Gu Ana menggeram kesal karna terus di tertawakan.
Mendengar hal itu sontak membuat pangeran Zang Limo sedikit memperkecil tawany, dan tanpa sengaja matanya memandangi tubuh Gu Ana yang basah kuyup akibat terjatuh kedalam kolam.
Pangeran Zang Limo merasa risih dengan pemandangan itu, sontak berdiri dan melepas hanfu bagian luarnya untuk menutupi tubuh Gu Ana yang sudah menggigil. Sementara ketiga peria itu masih setia tertawa terbahak bahak sambil memegangi perutnya.
“Ayo kembali ke kamarku.” Ajak Gu Ana mengabaikan pangeran Zang Limo.
Melihat kepergian Gu Ana, membuat pangeran Zang Limo merasa bersalah kepada Gu Ana karna tak dapat menahan tawanya sejak tadi akibat ulah Gu Jun.
Sementara pangeran Zang Limo terus mengekorinya sejak tadi, meskipun diperlakukan acuh tak acuh dengan Gu Ana.
“Aaaa… pangeran dia tidak mau hilang.” Kata Gu Ana merengek kepada pangeran Zang Limo.
“Tunggu sebentar.” Kata pengeran Zang Limo sambil berlalu keluar memanggil pelayan untuk diambilkan air bersih, dan kain bersih.
Tak butuh waktu lama pelayan datang membawakan air bersih, dan kain bersih untuk pangeran Zang Limo.
“Sini biar aku bersihkan.” Kata pangeran Zang Limo, sambil membersihkan wajah Gu Ana dengan kain basah, pangeran Zang Limo mengusap wajah Gu Ana dengan lembut.
Sementara wajah Gu Ana masih cemberut sejak tadi, karna sudah berkali kali membersihkan namun riasan tebal bak topeng abstrak tersebut tak mau hilang.
“Kau nampak sangat bahagia tadi saat melihat wajahku begitu, bahkan kalian hanya tertawa saat aku jatuh kedalam kolam.” Kata Gu Ana dengan wajah yang masih cemberut.
Mendengar penuturan Gu Ana, pangeran Zang Limo tahu kesalahannya, untuk sejenak Ia menghentikan aktifitasnya dan memandang wajah Gu Ana yang sudah cemberut sejak tadi.
“An’er…” kata kata pangeran Zang Limo terhenti ketika Gu Ana kembali berbicara.
“Bahkan para penjaga dan para dayang ku lebih mendahulukan untuk menolongku, jika tidak ada mereka munkin aku akan mati tenggelam, karna kalian hanya asyik tertawa melihatku jatuh.” Kata Gu Ana dengan dramatis, yang mana matanya sudah berkaca kaca menahan tangisnya.
Melihat hal tersebut membuat pangeran Zang Limo semakin merasa bersalah, pangeran Zang Limo memeluk Gu Ana dengan erat, sementara Gu Ana terus memberontak meminta untuk dilepaskan.
“Baiklah aku melepaskanmu, tapi biarkan aku yang membersihkan wajahmu.” Kata pangeran Zang Limo, melepaskan pelukannya.
Sudah tiga puluah menit pangeran membersihkan wajah Gu Ana dengan sabar dan lembut, hingga akhirnya bersih juga seperti semual. Namun tak nampak perubahan raut wajah Gu Ana.
“Baiklah jika kau tak suka aku di sini, aku akan keluar dan tidur di kamar lain.” Kata pangeran Zang Limo, beranjak dari tempat duduknya.
“Jangan disini saja, bagaiman jika aku kembali mimpi buruk nanti malam?” kata Gu Ana mencekal tangan pangeran Zang Limo.
Mendengar kata kata Gu Ana sontak membuat pangeran Zang Limo tersenyum bahagia. Dengan cekatan pangeran Zang Limo mengangkat Gu Ana kedalam pangkuannya, dan memeluk Gu Ana dengan sangat erat.
Sementara Gu Ana terus memberontak dari dalam pelukan pangeran Zang Limo, namun pangeran Zang Limo tak mau melepaskan pelukannya, justru mempererat pelukannya.
“Jangan marah lagi ya, aku tahu aku salah, aku tak akan mengulanginya lagi.” Kata pangeran Zang Limo di sela sela pelukannya.
Dalam situasi ini pangeran Zang Limo justru seperti suami yang sedang membujuk istrinya yang sedang marah kepada suaminya.
…
Struktur keluarga kerajaan.
1. Raja Zang Zuan (45 tahun).
2. Ratu Xu Yian (37 tahun).
3. Putra Mahkota Zang Liue (20 tahun).
4. Pangeran Zang Jade (19 tahun)
5. Pangeran Zang Handrong(18 tahun)
6. Pangeran Zang Limo (17 tahun)