It'S Me

It'S Me
Kedatangan Max



Aress dan teman-temannya yang berjumlah 5 orang sudah mengepung Xie Jun Ze dan Xu Kai. Sementara Xie Jun Ze dan Xu Kai masih berdiri saling membelakangi dengan pandangan tajam yang selalu mengekori pergerakan dari kelima siswa itu.


"Hiatthh ..." preman-preman sekolah itu mulai menyerang secara bersamaan.


Namun rupanya Xie Jun Ze dan Xu Kai bukanlah pemuda yang hanya memiliki tampang yang menjual saja, mereka berdua melakukan bela diri dengan baik dan mulai mengatasi kelima siswa itu.


Bahkan hanya dalam waktu tak sampai 3 menit saja, kelima preman sekolah itu sudah berhasil dijatuhkan oleh Xie Jun Ze dan Xu Kai, hingga tubuh mereka berserakan seperti sampah di atas lantai kantin. Bahkan Aress juga dikalahkan begitu saja oleh mereka berdua.


Anzu yang menyaksikan semua itu seketika dibuat melongo lebar dengan sepasang mata yang membulat sempurna. Gadis cantik itu cukup dibuat takjub setelah melihat kemampuan kedua sahabatnya dalam bela diri.


Namun tiba-tiba saja ada suara seorang pria yang cukup membuatnya terkejut bukan main, dan seketika membuat lamunannya buyar.


"Ada apa meminta orang sibuk sepertiku untuk datang ke sekolahan ini?" ucap pria itu.


Su-suara ini ... mengapa ada dia disini? Apakah aku sedang berhalusinasi? Tidak mungkin ada Max di sekolahanku bukan? Haha ... Anzu-Anzu! Saking mengidolakan Max, kamu selalu saja berhalusinasi.


Batin Anzu menepuk keningnya pelan dan kembali mengawasi kedua sahabatnya dari kejauhan.


"Bukankan mereka adalah XJZ? Rupanya mereka seorang preman sekolah ya. Wah ... wah ..." ucap pria itu lagi mulai mengikuti arah pandangan Anzu.


"Mereka tidak seperti itu!" bela Anzu dengan full power dan mulai beralih menatap sisi sampingnya.


Rupanya di sebelahnya sudah ada sosok Max, seorang idol yang begitu digilainya selama ini. Namun Max menggunakan beberapa aksesoris untuk penyamaran, seperti kacamata, topi, dan masker.


"Ka-kamu ... me-mengapa bisa ada di sekolahanku, M--Max?"


SYEUUP ...


Pemuda itu dengan cepat membungkam mulut Anzu agar semua orang tidak mendengar dan tidak menyadari kehadirannya.


"Jangan berisik! Atau nanti mereka akan menyerangku! Apa kamu paham?" bisik Max menatap lekat Anzu.


Anzu mengangguk pelan dengan sepasang mata yang masih membulat menatap Max. Xie Jun Ze yang melihat semua itu dari kejauhan, segera menghampiri mereka berdua. Karena dia merasa khawatir dan mengira seorang preman sekolah lainnya kini berusaha untuk menggoda Anzu.


GREPPP ...


Xie Jun Ze meraih tangan Max yang beberapa saat yang lalu dia gunakan untuk membungkam mulut Anzu. Seketika pandangan kedua pria itu saling bertemu dengan tajam.


"Kau preman dari kelas mana lagi?! Mengapa tidak memakai seragam sekolah? Dan mengapa suka sekali mengganggu dan menindas yang lemah?!!" tandas Xie Jun Ze dengan tatapan tajam dan aura dinginnya.


"Jun-Jun Ze ... di-dia tidak sedang menggangguku. Tapi ..."


"Anzu menelponku untuk datang ke sekolahannya. Rupanya aku malah melihat pemandangan ini. Aku sungguh tidak menyangka jika seorang idol besar adalah seorang preman sekolah!" Max menepis tangan Xie Jun Ze dan segera membenarkan lengan pakaiannya yang menurutnya sedikit kusut.


"Apa?!" tanya Xie Jun Ze merasa begitu syok dengan ucapan Max.


"Mereka bukan preman sekolah, Max. Tapi mereka sedang memberikan sebuah pelajaran untuk para preman sekolah yang selalu mengganggu orang-orang yang lemah." jelas Anzu tanpa sadar.


"Apa? Apa dia baru saja mengatakan dan memanggil pemuda itu dengan nama Max? Max seorang idol itu?" celutuk salah satu siswi mulai mengamati Max yang masih lengkap dengan penampilan penyamarannya.


"Benar juga! Lihatlah baik-baik!!! Sepertinya dia adalah benar-benar Max!!" celutuk siswi lainnya lagi.


"Aahhh benar!! Dia adalah Max!! Serbuuuu!!!"


"Aahhh ... gawat! Aku ketahuan!!" pekik Max mulai khawatir karena saat ini dia sedang bepergian seorang diri tanpa pengawalan dan penjagaan dari para pengawalnya.


"Ayo kalian ikut aku!!" Anzu segera menarik tangan Max dan Xie Jun Ze untuk segera berlari meninggalkan kantik SMU Keio.


Sementara Xie Jun Ze juga menarik tangan Xu Kai, hingga akhirnya Xu Kai juga terbawa bersama mereka.


.


.


.


.


.


.


"Bagaimana? Apa sudah aman? Huftt ..." Max bertanya dengan nafas tersenggal-senggal ketika mereka sudah bersembunyi di perpustakaan yang sedang sepi. "Gila!! Gila!! Seharusnya aku membawa pengawal tadi! Lagipula mengapa tiba-tiba saja kamu memintaku untuk datang ke sekolahanmu, Anzu?" imbuh Max masih dengan dada yang naik turun karena berlarian di sepanjang koridor beberapa saat yang lalu.


"Aahh maaf ... sepertinya aku salah menekan nomor. Seharusnya aku menghubungi kak Zack. Tapi aku malah salah menekan nomormu. Maafkan aku, Max ..." ucap Anzu terlihat begitu menyesal dan menautkan kedua tangannya menghadap ke atas dengan memasang raut wajah penuh penyesalan.


Max menutup wajahnya dengan salah satu jemarinya, seolah sedang menahan rasa malu karena dia langsung saja datang dan memenuhi panggilan dari Anzu.


"Maaf ... aku benar-benar ceroboh ..." ucap Anzu lagi berharap Max tidak akan marah dan kesal padanya.


"It's okay! Daijoubu!! " ucap Max memasang senyum berusaha untuk tetap bersikap cool. "Oh ya! By the way bukankah kalian pernah melakukan pemotretan di agensiku? Saat itu tante-tante itu yang mengajak kalian kan?" imbuh Max mulai beralih menatap Xie Jun Ze dan Xu Kai yang sedang menikmati minuman dinginnya yang tak sengaja dibawanya dari kantin tadi.


"Yeap. Kau punya ingatan yang keren!" sahut Xie Jun Ze dengan santai.


"Selamat ya! Kalian pendatang baru di dunia musik yang cukup menakjubkan! Dan ... tindakan kalian barusan juga cukup keren. Tapi aku sarankan kepada kalian agar lebih berhati-hati di dalam bertindak di setiap harinya. Karena selain banyak yang menyukai kalian, akan ada banyak orang yang membenci kalian dan akan berusaha untuk menjatuhkan kalian." ucap Max mulai menarik resleting jaketnya hingga sampai ke lehernya, bahkan menutupi mulutnya.


"Thanks ..." ucap Xie Jun Ze dengan tulus.


Berbeda dengan Xu Kai yang terlalu menanggapinya dan masih sibuk menghabiskan minuman kaleng dinginnya.


DRTT ...


Ponsel Max tiba-tiba bergetar. Setelah mengambilnya dari saku pakaiannya, dia segera menggeser tombol hijau dan menempelkan pada telinganya.


"Hallo, Kak." sapa Max .


"Kakak di depan SMU Keio! Cepat keluar! Sebentar lagi ada pemotretan!" ucap seorang pria dari seberang line.


"Ahhh ... rupanya kakak tau ya jika aku ada disini. Hehe ..." sahut Max nyengir lebar karena ketahuan oleh managernya.


"Kemanapun kamu pergi, kakak akan menemukanmu! Cepat keluar dan jangan mengulur waktu lagi!"


"Yoshh!! Aku akan segera kesana!!" sahut Max sambil mengakhiri panggilan itu. "Aku harus pergi! Sampai jumpa semua!!" imbuhnya lalu bergegas pergi dengan mengendap-endap agar tidak ketahuan lagi oleh para fansnya.