It'S Me

It'S Me
santet



Seorang wanita muda kini bersama dengan temannya, menaiki sebuah bus menuju ke suatu perkampungan kecil, sangat kecil hingga jarang sekali orang yang tinggal di sana. Wanita itu tampak mengikuti sebuah arahan dari sebuah kertas. Tempat yang tak pernah ia datangi sebelumnya, sebenarnya tempat itu sedikit menyeramkan, namun ia tetap datang demi mendapatkan tujuan yang ia inginkan.


Mereka berdua mendatangi sebuah rumah, yang terlihat begitu usang. Pintu mereka bahkan terlihat mengelupas, dan sedikit tidak diurus. Dengan ragu-ragu mereka mengetuk pintu rumah tersebut, menunggu jawaban dari sang pemilik rumah.


"Siapa?" tanya seorang yang ibu yang terlihat rentang, dari celah pintu mereka.


"Sa... saya Anzu da... dan Lidya," jawab Anzu sedikit gugup, sementara Lidya sudah berlindung di belakang Anzu karena ketakutan.


"Ada keperluan apa?" tanya kembali wanita itu, tanpa membuka pintunya.


"U... untuk menemui Baba," jawab Anzu sedikit gugup.


Wanita itu tak menjawab lagi, Kemudian terdengar suara pintu berdecit tandanya wanita itu telah membuka pintu untuk mereka. "Masuklah," katanya mempersilahkan Anzu dan Lidya untuk masuk. "Tunggu lah."


Setelah mengatakan hal itu, wanita paruh baya tersebut masuk, berjalan dengan tubuh rentanya ke ruang bawah tanah.


Lidya dan Anzu melihat ke sekitaran, mereka bergidik ngeri ketika melihat sebuah potret, yang dimana seorang laki-laki tengah melayang, sembari dikelilingi oleh beberapa apa orang laki-laki yang berpakaian hitam.


"Kau yakin?" kembali lagi Lidya menanyakan kepada Anzu.


"Ya apapun, aku sangat mencintainya," kata Anzu dengan nada yang sedikit bergetar, karena sebenarnya ada ketakutan di dalam dirinya. Namun tekadnya yang kuat dan besar, mengalahkan seluruh ketakutannya.


Tak lama kemudian ibu itu kembali datang, dengan membawa dua kerudung putih untuk Anzu dan juga Lidya.


"Pakailah," kata nenek itu sembari memberikan dua kerudung tersebut. "Ikut lah."


Lidya merasa ada yang aneh dengan nenek tersebut, karena nenek tersebut sungguh pelit dalam mengeluarkan kata-kata. Namun Anzu sungguh tak perduli, Anzu hanya ingin keinginannya segera tercapai.


Mereka kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan, dimana ruangan tersebut sangat menyeramkan karena di mana-mana terdapat tengkorak dari binatang, mata ayam yang digantung, bahkan ada juga beberapa usus, entah itu usus dari manusia atau binatang.


Lidya menegang melihat keadaan tersebut, namun Ia tetap mengikuti sahabatnya. sementara anzu sepertinya tidak peduli dengan semua itu, karena tujuannya ke sini adalah untuk membuat laki laki yang dicintainya jatuh cinta kepadanya.


Seorang laki laki dengan baju serba hitam, beberapa bagian wajah yang sepertinya terkenal sebuah sayatan, dan mata dengan sebelah kiri yang tertutup, dapat Lidya tebak mata sebelah kirinya tak dapat melihat lagi. Ya itu adalah Baba dukun yang mereka cari hingga ke daerah terpencil ini.


"Apa keperluan mu datang kemari?" tanya Baba memandang wajah kedua orang itu dengan seksama.


"Aku mencintai seseorang, dan ingin ia menjadi milikku," kata Anzu membuat orang tersebut tersenyum.


"Dia adalah sepupuku, Ans. Tapi sepupuku itu tidak menyukaiku. Maka dari itu aku datang ke sini untuk meminta tolong," kata Anzu kepada Baba.


"Baik lah Mari kita tanyakan apakah dia memang baik untukmu atau tidak," kata Baba sembari tersenyum kearah Anzu.


Anzu yang bingung maksud dari Baba, segera bertanya kembali apa yang dimaksudkan Baba.


"Maksudnya?" bingung Anzu.


Namun baba hanya tersenyum, kemudian melafalkan beberapa mantra, hingga membuat beberapa benda disekitar mereka terjatuh, dan angin kencang bertiup sangat kencang, seperti seolah sedang terjadi badai. Lidya yang melihat itu semua menjadi semakin ketakutan, sementara Anzu mencoba untuk tetap kuat karena ia harus mencapai keinginannya. Baba terus melafalkan mantra untuk memanggil Jin untuk bertanya.


Seketika angin terhenti, membuat Baba segera tersenyum, karena yang dipanggil telah datang. "Apa ia bisa dinikahkan dengan sepupunya?" Baba bertanya, membuat Anzu sedikit bingung.


"Dia tidak mencintaimu, dan tidak akan pernah. Jangan mendekatinya, jangan mendekatinya jika kau ingin selamat," kata Jin tersebut merasuki tubuh Lidya teman Anzu.


Anzu terkejut bukan main ketika mendengar kata-kata yang keluar dari temannya, namun bukan Anzu yakin itu bukan suara temannya. Bahkan bukan hanya suara, Namun Ia juga dapat melihat wajah serta matanya yang berubah. Wajah Lidya yang tiba-tiba berubah menjadi putih dan pucat, serta terlihat guratan urat yang menonjol di wajah temannya. Di tambah lagi dengan bola matanya yang menghitam.


Setelah mengatakan hal tersebut, Lidya tiba-tiba kembali sadar, dan sedikit terlihat ketakutan. Wajahnya tidak menyeramkan lagi dan matanya kini telah menjadi normal. Namun wajahnya pucat, dan terlihat begitu lelah, dan lemah.


Ibu yang sejak tadi menyaksikan mereka, segera memberikan air yang telah dimantrai untuk Lidya, agar tidak ada yang mengikuti Lidya saat Lidya kembali ke rumahnya.


Lidya hanya menerima air tersebut, sembari mengangguk tanda terima kasih. Kemudian segera meminum air pemberian ibu paruh baya tadi hingga tandas.


"Jangan pernah mendekati Ans lagi, jika kau ingin selamat. Dia tak baik untukmu, dan membawa malapetaka untukmu," kata Baba memperingati Anzu.


Anzu yang mendengar hal itu, sontak tidak terima dibuatnya. Namun ia tak berani membantah, karena yang di hadapannya saat ini bukanlah orang biasa.


"Mengapa begitu? Aku sangat mencintainya," Anzu bersikukuh untuk memiliki Ans


Baba menggeleng melihat betapa keras kepalanya Anzu, namun ia juga harus memberitahukan kebenarannya kepada wanita tersebut, agar ia tak berharap kepada laki-laki yang dicintainya. Karena jelas laki-laki itu yang akan memberinya malapetaka, bahkan laki-laki itu yang akan membawa kematian untuknya.


"Tidak dengarkan aku, dia malapetaka untukmu, dan kalau bisa kau jauhi dirinya, karena dia adalah penyebab kematian mu," kembali lagi Baba memperingatinya dengan tegas.


Anzu terdiam mendengarkan penjelasan Baba, ia dapat mendengarkan nada keseriusan dari Baba. Anzu kini tak menjawab lagi, dan memilih untuk pergi dari tempat tersebut. Meskipun yang didapatnya tidak ada. Sebenarnya ingin sekalian gue tinggal lebih lama di situ, untuk membujuk Baba agar membuat Ans jatuh cinta kepadanya. Namun itu juga tak tega kepada temannya, yang sudah sangat lemah, akibat dari dirasuki jin tadi. Mereka akhirnya kembali ke kota dengan menaiki bus malam, dan melaju ke stasiun untuk kembali ke rumah mereka masing-masing. Namun karena masih merasa bersalah kemudian mengantarkan kan tadi dia ke rumahnya terlebih dahulu.


Ayo saksikan kisah selanjutnya di novel santet dan juga beberapa cerita lainnya di novel saya. Jangan lupa like, Comment Dan jadikan favorit ya terimakasih atas kunjungan.