
"Daddy emang dasar ya mereka, gayanya Aja ga mau di jodohkan, eh ternyata gitu di belakang." kata Rayen jengah dengan sikap Ariana dan Arkan, yang awalnya menentang dengan sangat perjodohan di antara mereka, namun kini mereka malah ketahuan be*rc*iu*man di bioskop mini.
"Hah... entah malu malu kucing saat itu, atau mereka baru ngerasa cinta? Baru juga ditinggal dua hari, eh ternyata gini." kata Erick menghela nafas. "Kalau gini takut mereka bablas, mending kita balik ke Indonesia." lanjut Erick.
"Yah nikahin mereka juga tidak apa apa, jadi kita tenang kalau ninggalin Ana di Indonesia." kata Rayen di angguki Erick.
...
"Yaudah besok kita balik ke Indonesia." kata Erick mengakhiri pembicaraan mereka. "Kamu kabari adik kamu dulu." lanjut Erick.
Sementara itu, di rumah besar Candana Ariana sedang duduk bersantai, sambil menunggu teman temannya datang. Tiba tiba telfon genggam nya berbunyi, Ariana segera melihat penelfon tersebut.
"Halo hai..." kata Ariana dengan semangat.
"Halo hai... salam yang bener, Assalamualaikum." kata Rayen dari ujung telfon sana.
"Iya iya, walaikum sayang eh walaikum salam." kata Ariana menggoda Rayen.
Arkan hanya berkerut mendengar gaya Ariana menelfon, pasalnya saat ini Arkan tengah menonton di samping Ariana. Arkan Ingin menarik telfon tersebut, dan melihat penelfon. Namun Ariana langsung menepis tangan Arkan.
"Apa sih Om." kata Ariana sambil tersenyum melihat ekspresi Arkan yang sedikit kesal.
"Siapa Arkan ya?" tanya Rayen di ujung telfon sana.
"Iya ntah kenapa Om ganteng satu ni, jahilnya kambu." kata Ariana kembali fokus kepada telfonnya.
"Ya sudah, kita kerjai aja. lo nelfonnya seolah olah dengan gebetan." kata Rayen tersenyum penuh arti, sementara Erick hanya menggeleng dengan kelakuan anak sulungnya dan bungsunya.
"Ih apa apaan sih, aku kan ga punya gebetan, jangan suka menebak deh." kata Ariana sambil tersenyum melihat wajah kesal Arkan.
"Ih mulai duluannya? Padahal belum kasih aba aba." kata Rayen terdengar sedikit terkekeh.
"Emang lomba lari apa pakai aba aba? Lomba lari mengejar hati aja gimana? Hati hati loh nanti keduluan orang gimana?" kata Ariana dengan nada manja, yang sontak membuat Arkan semakin menggeram.
"Ikat pakai tali pocong." kata Rayen tertawa keras.
"Ih bisa aja deh, jangan di manis manisin deh omongannya, nanti adek kena diabetes." kata Ariana semakin menikmati wajah Arkan yang memandanginya dengan kasal.
"Diabetes, jadi kata kata ku lebih manis ketimbang gula ya." kata Rayen semakin tertawa membayangkan wajah kesal Arkan.
"Bukan lebih manis sih kak, tapi lebih berbahaya, bisa buat dedek melayang." kata Ariana memandangi wajah Arkan yang semakin kesal.
"Dedek, dedek emang dedek lesti?" kata Rayen sambil tertawa.
"Bukan tapi abang Bilar aja." kata Ariana. " eh tapi abang Toktok lebih manis." kata Ariana membayangkan salah satu Artis toktok. "Oh abang manise, bagai mana le." kata Ariana sembari bersenandung.
"Merah ga mukanya." tanya Rayen membayangkan wajah kesal Arkan.
"Jangan bilang gitu, udah merah muka dedek." kata Ariana yang sedikit meringis, karna tangannya sedikit di remas oleh Arkan.
Seorang laki laki yang sedang menahan cemburu, karna melihat gadis nya sedang bertelfonana dengan wajah yang begitu bahagia, dan dari laganya Gadis tersebut sedang di rayu dengan pria yang di ujung telfon sana.
"Hahahaha pasti lucu ya." kata Rayen semakin menikmati dan membayangkan wajah kesal karna cemburu.
"Aku ga lagi ngelucu loh abang manise." kata Ariana tersenyum, meski tangan semakin di remas Arkan.
Arkan segera melihat kanan dan kiri, ketika Arkan hanya melihat para asisten rumah tangga, dan penjaganya, Arkan segera memerintahkan mereka pergi.
"Hahahaha, besok gue balik." kata Rayen memberitahu kan informasi yang sesungguhnya.
"Ih kok cepet abang manise kangen ya sama dedek, samp... hmm." kata kata Ariana terhenti ketika Arkan mecium bibirnya sekilas, karna mengungkap kan kecemburuan. "Samapai berpisah lama pun ga sanggup ya... hmm." kembali lagi Arkan mencium bibir Ariana sekilas.
Arkan yang kesal memang memikirkan banyak hal, Arkan sungguh tidak suka mendengar Ariana berkata dengan seperti itu, Apalagi sepertinya yang di telfor Ariana adalah seorang laki laki.
"Parah makin kesal kayaknya anak orang ya bun." kata Rayen semakin tertawa keras.
"Bunda bunda, kalau sini bunda ayahnya si..." belum sempat Arian menyelesaikan kata katanya, Arkan sudah menarik telfon Arian, untuk melihat siapa yang menelfon Ariana.
"Siapa ya." kata Rayen terkekeh.
Arkan yang merasa tidak asing dengan suara tersebut, segera memeriksa siapa si penelfon. Alangkah terkejutnya Arkan ketika melihat nama Rayen tertera di layar ponsel. Membuat Ariana segera tertawa keras, melihat wajah terkejut Arkan.
...
Sorry guys kemarin aku sibuk, sepanjang hari. Pas balik rasanya badan remuk semua, jadi langsung tidur. mohon pengertiannya ya.
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanya banyaknya telah mendukung, e, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.
Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload.