It'S Me

It'S Me
Episode 50...



“Wah… Limo banyak sekali? Kediamanmu pindah ke sini?” goda Gu Ana kepada pangeran Zang Limo, sambil melangkah ke samping pangeran Zang Limo.


“Ya… seorang gadis kecil membuatku harus pindah untuk sementara.” Kata pangeran Zang Limo, tanpa mengalihkan pandangannya dari gulunganyang saat ini berada di hadapannya.


“Baiklah, sebagai rasa terimakasih dan bersalah dari Gadis kecil, imut, dan cantik tiada tara ini, izinkanlah hambah yang mat cantik ini untuk membantumu pangeranku.” Kata Gu Ana sambil cengengesan di samping pangeran Zang Limo.


“Baiklah tapi jangan memaksakan dirimu.” Kata pangeran Zang Limo sambil tersenyum.


Mendengar kata-kata pangeran Zang Limo Gu Ana kemudian meninggalkan pangeran Zang Limo dan membawa kursi lainnya di samping pangeran Zang Limo.


“Kau memiliki pelayan, kenapa tidak memerintahkan mereka? Kau masih sakit An’er.” Kata pangeran Zang Limo khawatir dengan Gu Ana.


Sedangkan yang dikhawatirkan hanya tersenyum, lalu mangambil salah satu gulungan yang ada di atas meja, setelah itu melihat setiap gulungan lalu tersenyum.


“kenapa kau tersenyum? Apa ada yang lucu di dalam laporan tersebut?” tanya pangeran Zang Limo kepada Gu Ana.


“Yang menyampaikan laporan ini yang lucu, kenapa masalah semudah ini harus di laporkan?” kata Gu Ana sambil terkekeh.


Mendengar kata kata Gu Ana pangeran Zang Limo mengambil alih gulungan laporan tersebut dari Gu Ana.


“Ini masalah yang sangat sulit An’er, masalah ini tidak semudah yang kau lihat.” Kata pangeran Zang Limo kepada Gu Ana sambil tersenyum tulus.


“Aduh pangeran, kenapa tidak membangun saluran irigasi bersih di sini?” tanya Gu Ana yang heran kenapa masalah kecil di perbesar oleh mereka.


“Maksudnya?” tanya pangeran Zang Limo heran.


“Ini, di daerah tersebut terdapat banyak tanaman bambu bukan?” tanya Gu Ana yang diangguki pangeran Zang Limo. “Nah batang babu itu kita buat menjadi pipa, untuk mengalirkan air dari atas gunung sehingga rakyat mendapatkan saluran air bersih secara langsung. Maka masalah selesai.” Kata Gu Ana dengan santai.


“Kita pasti akan membutuhkan banyak pekerja dan banyak bambu.” Kata pangeran Zang Limo, dengan khawatir.


“Tidak juga pangeran jadi begini, bla, bla, bla…” kata Gu Ana panjang kali lebar kepada pangeran Zang Limo. Mendengar penjelasan Gu Ana akhirnya pangeran Zang Limo mengerti.


Saat mereka berbincang bincang tiba tiba pintu kamar Gu Ana terbuka, mata Gu Ana dan pangeran Zang Limo teralih arah pintu. Ternyata yang membuka pintu tersebut adalah tuan Gu, Gu Min, dan Gu Jun.


“An’er, bagaimana keadaanmu?” tanya tuan Gu sambil tersenyum kearah mereka.


“Ayah, aku baik baik saja, lagian bagaimana mungkin kalian tak mengunjungi putri cantik ini?” kata Gu Ana sambil memanyunkan bibirnya.


“Bagaiman mungkin kamu mengatakan hal itu? Tadi pagi kami kesini namun kalian masih tidur, ah posisi tidur kalian saat itu sedang berpelukan.” Kata Gu Min menggoda Gu Ana dan pangeran Zang Limo.


Sedangkan pangeran Zang Limo dan Gu Ana yang mendengar penuturan dari Gu Min kini sudah salah tingkah.


“Gege… kalau kalian datang tadi pagi kenapa tidak membangunkan kami?” tanya Gu Ana sedikit kesal dengan keluarganya, karna terus menertawai Gu Ana.


“Aduh Jiejie, kamu ini, aku kan ingin memiliki keponakan yang dapat aku ajak bermain. Ah Ayah juga pasti ingin seorang cucu kan?” goda Gu Jun, sambil tersenyum melihat duo sejoli ini salah tingkah.


“Hei Jun’er kau itu masih kecil, tidak seharusnya kau mengatakan hal yang seperti itu?” kata Gu Ana berusaha untuk tampak tenang.


Setelah mendengar hal tersebut Gu Ana bangkit dari tempat duduknya, dan meninggalkan mereka.


“Ayolah… An’er kami hanya bercanda.” Bujuk tuan Gu karna mengira Gu Ana marah terus terus di goda oleh mereka


“Ayolah kalian, apa candaan sebegitu recehnya dapat membuatku marah? Aku ingin memasak, kalian tunggulah disini, nanti kita akan makan di gazebo belakang.” Kata Gu Ana berlalu pergi.


Setelah keluar dari kamarnya Gu Ana menutup pintu kamarnya, alisnya sedikit berkerut melihat pintunya yang sudah berubah, entah apa yang telah Ia lewati sejak kemarin. Gu Ana menggaruk rambutnya yang tidak gatal sambil menatap pintu tersebut dengan ekspresi bingung.


Tak mau ambil pusing, Gu Ana memilih mengabaikan pintu tersebut, dan menyimpan pertanyaan yang akan ditanyakan kepada Ayahnya, Gegenya, atau Gu Jun.


Setelah 30 menit Gu Ana memasak dibantu oleh pelayan, Gu Ana segra meminta para pelayan untuk menyajikan makanan tersebut di gazebo belakang kediaman mereka.


Sesampainya di kamar Gu Ana, Gu Ana segera membuka pintu dan mendapati pangeran Zang Limo, tuan Gu, Gu Min, dan Gu Jun sedang berbincang bincang.


Gu Ana melirik mereka sebentar, lalu masuk ke dalam tempat kamar mandinya. Gu Ana  membersihkan dirinya. Setelah membersihkan dirinya Gu Ana ikut bergabung dengan mereka.


“Ayo makan, Aku sudah lapar. Semua telah di persiapkan di gazebo.” kata Gu Ana mengajak mereka semua.


Mereka kemudian berjalan sambil berbincang bincang, sedangkan Gu Ana dan Gu Jun ikut asyik bercanda di dalam perjalanan tersebut.


“Ya… An’er kenapa kau bertingkah layaknya anak kecil? Lihat sebentar lagi kau akan menikah.” Tegur tuan Gu kepada An’er yang terus bertingkah seperti anak kecil sejak tadi.


Mendengar kata kata tuan Gu, Gu Ana mengkerucutkan bibirnya, Gu Ana merasa Ia masih anak kecil, buktinya saja umur tubuh ini tiga bulan lagi baru akan menginjak 11 tahun.


“Ayah, An’er masih gadis kecil Ayah kok, iya kan Gege, An’er masih imut kan?” tanya Gu Ana menghadap kea rah Gu Min, sambil tersenyum manis.


Melihat Gu Ana berjalan mundur Gu Min menegur cara berjalan Gu Ana.


“An’er perhatikan jalanmu, lihat kedapan nanti kau terjatuh.” Kata Gu Min memberi peringatan kepada Gu Ana.


Setelah mendengar peringatan dari Gu Min, Gu Ana berbalik, namun naas ternyata saat Gu Ana akan membalikkan badannya ternyata didepan Gu Ana terdapat pohon yang lumayan besar, alhasil kepala Gu Ana terbentur cukup keras.


“Aaaaa.” Ringis Gu Ana sambil memegangi jidatnya yang terbentur.


Melihat Gu Ana terbentur sontak membuat pangeran Zang Limo, tuan Gu, dan Gu Min khawatir. Namun lain halnya dengan Gu Jun, Ia justru tertawa terbahak bahak melihat Gu Ana meringis kesakitan.


“Ya… kemapa kau tertawa? Apa kau senang melihatku menderita? Dasar adik tidak punya Akhlak, melihat kakaknya terkena musibah dia justru tertawa terbahak bahak.” Perotes Gu Ana kepada Gu Jun.


“Itu bukan musibah, jika musibah kau sudah hati hati namun masih juga terkena sial, tapi itu adalah akibat dari ulahmu sendiri.” Jawab Gu Jun yang masih berusaha menghenikan tawanya.


“Jun’er jika kau terus menertawakanku maka aku tak akan memberikanmu masakanku hari ini.” Ancam Gu Ana kepada Gu Jun.


Mendengar ancaman Gu Ana sontak membuat Gu Jun terdiam, dari pada Ia tak dapat merasakan masakan Gu Ana, lebih baik Ia diam seribu bahasa.


“baiklah mari kita lanjutkan, bukankah kau sudah kelaparan An’er.” Kata tuan Gu melerai pertengkaran anak anaknya.


Mendengar kata kata tuan Gu, Gu Ana segera bergegas menuju Gazebo, sementara pangeran Zang Limo yang sejak tadi diam, hanya mampu menggelengkan kepanya sambil tersenyum melihat tingkah Gu Ana.


“Kayaknya bucin itu memang ada.” Kata Gu Min dalam hati sambil melihat pangeran Zang Limo.


...


Silsilah keluarga Gu.



Tuan Gu (40 tahun).


Gu Min (17 tahun).


Gu Ana (10 tahun).


Gu Jun (5 tahun).