
"Aduh benar kah, kalau begitu sini aku peluk." kata pangeran Nan Cheng, terus memancing raja Bao Ling. Gu Ana merentangkan tangannya, siap untuk di peluk pangeran Nan Cheng. Mata raja Bao Ling, melotot ke arah pangeran Nan Cheng, namun di abaikan oleh pangeran Nan Cheng dengan melangkah kan kaki, ke arah Gu Ana. Membuat raja Bao Ling mengepalkan tangannya menahan emosi. Ekspresi dari raja Bao Ling, membuat pangeran Nan Cheng tersenyum puas.
Saat pangeran Nan Cheng sudah sampai di hadapan, Gu Ana, dan bersiap memeluk Gu Ana. Raja Bao Ling segera menarik tangan Gu Ana dengan kuat, hingga membuat Gu Ana tersentak, dan memutar balikkan badannya dengan paksa, hingga memudahkan raja Bao Ling memeluk Gu Ana. Semua orang tersenyum senyum, geli melihat tingkah raja Bao Ling ketika cemburu.
...
"Aku tak akan pernah melarangmu melakukan apa pun, tapi jangan sampai kau memeluk siapapun di hadapanku, terkecuali kau memiliki hubungan darah." kata raja Bao Ling memerintah Gu Ana.
"Baikalah, tapi kalau di belakangmu boleh Kan?" tanya Gu Ana menampilkan mimik wajah polos.
"Silahkan, tapi kau harus siap melihat laki laki itu hilang di muka bumi ini." Ancam raja Bao Ling dengan berbisik di telinga Gu Ana, membuat Gu Ana menelan ludahnya dengan kasar. Raja Bao Ling segera melepaskan Gu Ana, kemudian kembali tersenyum ke arah tuan Gu. Membuat tuan Gu tersenyum senyum manahan tawa.
Hari ini hari, hari keberangkatan raja Bao Ling, keluarga Gu, dan pangeran Nan Cheng. Mereka menggunakan kereta yang cukup besar, hingga mampu menampung mereka. Tuan Gu tak mengizinkan Gu Ana dan raja Bao Ling, berada di kereta yang sama, karna khawatir akan terjadi seseuatu di luar dugaan, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk satu kereta. Saat ini raja Bao Ling, duduk di samping Gu Ana, membuat raja Bao Ling tersenyum samar, sementara di samping Gu Ana ada Gu min, dihadapan Gu Ana ada pangeran Nan Cheng, tuan Gu dan Gu Jun.
"Ayah kapan kau menambah anak?" tanya Gu Ana, melirik pangeran Nan Cheng, yang senang sekali ikut dengan mereka. Pangeran Nan Cheng mendengar kata kata Gu Ana, hanya melihat Gu Ana dengan tatapan kesal.
"Dia kenapa sih Jun'er? Suka sekali mencari masalah dengan ku." kata pangeran Nan Cheng membalas kata kata dari Gu Ana.
"Entah, mungkin memang begitu kalau orang yang akan menikah." kata Gu Jun memandang Gu Ana.
"Hais kalian ini, aku tahu kalian sangat cemburu dengan kebahagiaanku, yang selalu di kelilingi lelaki tampan." kata Gu Ana dengan sombongnya.
"Dikelilingi, aku rasa dia boneka vuji untuk santet, makanya terus di kelilingi." ejek Gu Jun, sambil tertawa kepada Gu Ana.
"Yak... aku ini sangat cantik, makanya bahkan banyak pangeran, raja, dari negri yang jauh, banyak yang menyukaiku." kata Gu Ana, sambil tersenyum sinis.
"Ah cantik sekali." kata pangeran Nan Cheng, membuat seluruh mata pertuju padanya, karna suatu hal langkah pangeran Nan Cheng, memuji Gu Ana. "Ya... cantik sekali, tapi cuman sekali, sisanya sangat jelek." kata pangeran Nan Cheng, sambil menyatukan tangan bersama Gu Jun, hingga menimbulkan seuara toss. Mererka berdua tertawa dengan sangat kencang, hingga membuat Gu Ana menggerbikkan bibirnya.
"Kalau mukaku sejelek itu, bagaimana muka kalian? Pasti sangat hancur, dasar wajah dandang somai." ejek Gu Ana, tak mau kalah.
"Dandang somai? itu lebih baik." kata Gu Jun.
"Iya daripada kardus lecek?" tanya pangeran Nan Cheng, kembali tertawa.
"Ah aku rasa kardus lecek ini lebih baik dari pada kalian, yang masih sendiri." ejek Gu Ana.
"Ah... sebentar lagi Gege akan menikah, kalian tak tahu siapa calonnya kan." kata Gu Ana, tersenyum senang.
"Hah siapa? Kenapa Ayah tidak tahu?" tanya tuan Gu, terkejut mendengar kata kata Gu Ana. Sementara Gu Min, wajahnya sudah memerah menahan malu.
"Ah... itu rahasia Ayah, jika tiba waktunya biar An'er tercinta, tercantik dan terimut kalian ini yang memperkenalkan, calon kakak ipar ku yang cantik." kata Gu Ana, sambil tersenyum manis.
"Cantik, manis, imut kayak dogi tetanggaku dong." kata Gu Jun tertawa keras, melihat wajah kesal Gu Ana.
"Wajahmu kenapa di tekuk An'er?" goda pangeran Nan Cheng.
"Batal nonton konser black pink, gara gara zaskia gotik numpang maen air, sama bang Jono." jawab Gu Ana asal hingga membuat yang lain tertawa, sementara tuan Gu dan raja Bao Ling hanya terdiam, tak mengerti ucapan Gu Ana.
"Sudah lah, jangan bersedih, kan Ada kakanda yang di sampingmu, setia menemanimu, yakan Ling Ling nya An'er." Goda pangeran Nan Cheng.
"Haduh kompor kompor, cang cimen dia tartel, kacang cuman ngamen." kata Gu Ana asal. "Ah tapi bagaiman para wanita yang kau tinggalkan, jika kau selalu ikut dengan ku Cheng?" tanya Gu Ana, mulai membuka rahasia pangeran Nan Cheng.
"Ah iya... mereka pasti bersedih, pangeran tampan mereka, selalu ikut dengan kita." kata Gu Jun meledek pangeran Nan Cheng.
"Aduh, mereka hanya menjadi mainan ku." kata pangeran Nan Cheng, sok keren.
"Ah benarkah, Liyan syinta. Wanitamu yang tercantik, kau bahkan rela ber..." belum sampai kata kata Gu Ana, pangeran Nan Cheng sudah membekap mulut Gu Ana, dengan cemilan yang tak pernah tinggal.
"Perbanyaklah makan b*bi dogi ku." kata pangeran Nan Cheng, menutup mulut Gu Ana dengan berbagai cemilan. Karna kesal Gu Ana segera menarik rambut pangeran Nan Cheng yang panjang.
"Rasakan, kau dasar aneh." kata Gu Ana dengan kesal. Pangeran Nan Cheng yang tak terima langsung membalasnya juga, hingga membuat beberapa helai rambut Gu Ana terlepas dari kepalanya, dengan segera mereka memisahkan mereka. Raja Bao Ling, segera mengangkat Gu Ana, ke pangkuannya, dan meletakkan Gu Ana, ke posisi sebelah kanannya, hingga Gu Ana berhadapan dengan tuan Gu, dan jauh dari pangeran Nan Cheng.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanyak banyaknya telah mendukung, meramaikan, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Maaf teman teman jaringanku error ini aku ke tempat temanku baru bisa upload.