
Setelah beberapa menit akhirnya pa*ngu*tan mereka lepas, Ariana maupun Arkan meraup nafas, sebanyak banyaknya. Arkan menyenderkan kepalanya di kepala Ariana, sembari menghirup nafas. Arkan membalikkan tubuh Ariana, memandang wajah Ariana. Kemudian mengecup kepala Ariana, sembari me*nci*um kembali bibir Ariana. Arkan kembali me*lu*mat bibir Ariana, dengan menutup matanya. Setelah beberapa menit kemudian, Arkan melepaskan pa*ngu*tan*nya kemudian, menyatukan keningnya dengan kening Ariana.
"Mas mau itu sayang." bisik Arkan di telinga Ariana, membuat Ariana melototkan matanya, tak percaya.
...
"Sayang Mas pengen, sayang." kata Arkan sekali lagi sembari mengecup leher Ariana, kemudian menggigit kecil daun telinga Ariana.
"Ih Mas... Geli." keluh Ariana, karena merasa geli di bagian daun telinga ya.
"Sayang Mas mau sayang." kata Arkan kembali sembari terus menciumi seluruh wajah Ariana. Hingga akhirnya berakhir di leher Ariana, sehingga membuat Arian menggeliat geli.
"Ih... Mas mesum, geli tau." kata Ariana, merasa geli. Ariana sungguh merasakan perubahan Arkan, setelah mereka menikah. Arkan yang terkenal angkuh, sombong, arogan, dingin, serius, dan sedikit bicara di luar. Malah ketika mereka berhadapan, dengan Ariana, Arkan berdeda, bahkan perbedaan itu sangat besar, berkisar seratus delapan puluh derajat. Arkan di mata Ariana, justru kebalikannya, Arkan yang suka bermanja dengan Ariana, sangat cerewet ketika bersama Ariana, jahil saat bersama Ariana, bahkan berotak mesum, ketika hanya berdua. Bahkan ketika berdua, Arkan sering bersikap romantis, yang tak pernah di tunjukkannya kepada orang lain.
"Mas mau sayang." kata Arkan, segera membawa Ariana kembali kedalam pelukannya, kemudian mengangkat Ariana menuju tempat tidur, Arkan mulai melakukan aksinya kembali, melakukan penyatuan cinta sempurna mereka, melengkapi satu sama lain.
Setengah jam sudah mereka melakukan penyatuan cinta mereka, membuatnya sama sama kelelahan, hingga akhirnya Ariana kembali tertidur dalam pelukan Arkan. Arkan sengecup puncak kepala Ariana, sembari terus mengusap wajah mulus Ariana.
"Mas sayang, dan cinta dengan kamu, Mas mohon jangan tinggalin Mas ya sayang." kata Arkan sembari mengecup puncak kepala Ariana, dan segera tertidur menyusul Ariana.
Ariana terbangun, dan merasakan ketidak hadiran Arkan. Ariana kemudian mendengar suara gemercik air, yang berasal dari shower. Arikan keluar dengan rambut basah, dengan menggunakan handuk kecil, yang melilit di pinggangnya, yang menampilkan otot perut, yang sangat menawan.
Arkan tersenyum melihat ekspresi Ariana, yang tampak malu malu, bahkan memerah ketika melihat Arkan, yang tidak mengenakan baju. Arkan bahkan baru menyadari, betapapun Ariana suka bersikap apa adanya, bahkan cendrung ceplas ceplos, percaya diri, dan suka menggoda orang lain, hingga membuat mereka salah tingkah. Namun Ariana bahkan bisa salah tingkah, ketika bersama dengan Arkan. Tak jarang wajah Ariana akan memerah, ketika di goda habis habisan oleh Arkan. Tingkah luarnya yang terlihat manja, malah sebaliknya, Ariana bahkan mampu memanjakan Arkan.
"Sayang ayo bangun, kamu belum makan kan?" tanya Arkan, yang hanya di angguki oleh Ariana. "Sambil nunggu pesanan makan, kamu mandi dulu ya." kata Arkan, sembari berjalan menuju lemari, untuk mengambil pakaian nya. Ariana segera berlari menuju kamar mandi, membuat Arkan sedikit terkekeh. Menurut Arkan, Ariana tak perlu malu kepadanya.
"Mas minta baju, Ana ga bawa baju." teriak Ariana, dari dalam Kamar Mandi. Membuat Arkan tersenyum jahil kepada istrinya, ya, menjahili Ariana merupakan sebuah senenangan baru untuknya, setelah mereka menikah.
Ariana segera keluar dari kamar mandi, dan melangkah menuju lemari. Sementara Arkan terus memperhatikan gerak gerik Ariana, Arkan senelan ludah ketika melihat istrinya, mulai membuak handuk, dan mengenakan pakaian dalam.
"Ehem..." Arkan berdehem, membuat Ariana terkejut, sekaligus panik di buatnya. Arian segera mengambil baju, dan membalikkan segera membalikkan badannya. Namun naas sebelum berhasil membalikkan badan, jidat Ariana justru membentur pintu lemari, hingga Ariana meringis di buatnya.
Dengan panik dan sedikit kikikan geli, Arkan berlari ke arah Ariana, yang sudah terduduk di lantai. Arkan segera mengangkat Ariana menuju sofa kamar mereka, Ariana masih setia memegangi kepalanya, sembari meringis. Arkan meniup niup jidat Ariana. Dengan rasa bersalah Arkan memakaikan baju untuk Ariana, serta membantu Ariana mengenakan celanya.
Tak lama kemudian pesanan Arkan datang, membuat Arkan berdiri, menghampiri pintu kamar mereka. Arkan segera membayar pesanan mereka, dan segera menutup pintu kembali, sembari mengucapkan terimakasih, kepada pelayan tersebut. Arkan berjalan ke arah Ariana, dan meletakkan makanan mereka di atas meja.
"Sayang maafin Mas ya..." kata Arkan, yang sejak tadi melihat wajah cemberut Ariana. Arkan tau kalau kali ini Ariana sedang kesal dengannya. Arkan segera membawa Arian ke dalam pelukannya, dan mengecup pipi Ariana. Karna tak mendapatkan respon dari Ariana, Arkan segera melepaskan pelukannya. "Sayang Mas minta maaf, jangan diamin Mas dong..." pinta Arkan mengecup tepat terpenturnya Ariana.
"Sayang, Sayang boleh deh marahin Mas, cubit Mas, pukul Mas..." tawar Arkan dengan nada manja, sembari menangkup wajah Ariana, agar Ariana menghadap ke arah nya. "Sayang tapi jangan cuekin Mas ya, jangan diamin Mas." pinta Arkan dengan nada manja, yang menurut Ariana, sama sekali tak cocok dengan Arkan. Sontak membuat Ariana, hampir saja mengeluarkan tawa membahananya, jika saja tidak ingat, sedang kesal dengan Arkan.
"Sayang ni pukul Mas..." kata Arkan, memegang tangan Ariana, sembari memukul mukulkannya ke badan Arkan. "Mas ga papa kok, sayang..." kata Arkan kembali, dengan menampilkan wajah sok sedih ala Arkan.
"Iya iya... lain kali jangan gitu." kata Ariana akhirnya, karna tak tega melihat tingkah, dan ekspresi Arkan, yang menurut Ariana sangat lucu.
Arkan memang mengetahui bahwa Ariana, bukanlah orang yang jika ngambek, bisa bertahan lama. Sehingga memudahkan Arkan dalam meminta maaf, ketika baru saja selesai menjahili Ariana. Sifat ini memang sudah di ketahui Arkan, sebelum mereka menikah. Karna melihat betapa seringnya Ariana, Maxim dan Jasson bertengkar. Namun pada akhirnya semua baik baik saja, tampa adanya pertengkaran, yang membuat mereka memendam kekesalan, apalagi dendam. Sikap ini lah yang membuat Arkan tambah menyayangi Ariana.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanya banyaknya telah mendukung, e, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.