It'S Me

It'S Me
Episode 37...



“Aish… apa hanya pangeran Zang Limo saja yang boleh memelukmu?” tanya pangeran Nan Cheng menggoda Gu Ana.


“Ah… apa kau benar-benar ingin memelukku?” tanya Gu Ana tampa membalas pertanyaan pangeran Nan Cheng, seolah menantang pangeran Nan Cheng.


Mendengar perkataan Gu Ana membuat pangeran Zang Limo kesal dan menarik Gu Ana kedalam palukannya. Sedangkan Gu Ana yang mendapat perlakuan tersebut tersentak kaget dibuatnya. Sementara yang lain tersenyum-senyum melihat sikap peotektif pangeran Zang Limo kepada Gu Ana.


“Aduh pagi-pagi mataku, sebaiknya kita meninggalkan mereka, mari paman kaisar.” Kata pangeran Nan Cheng berlalu meninggalkan mereka, sedangkan yang lain mengikuti mereka karna tak mau mengganggu mereka.


Sedangkan Gu Ana hanya mematung dalam dekapan pangeran Zang Limo dalam mode terkejut.


“Jhason William, awas kau.” Kata Gu Ana yang dongkol atas kelakuan sahabatnya di abad 21.


“Aaaaa… pangeran tahukah anda? Berapa banyak penggemarku yang akan kecewa jika melihat hal ini?” tanya Gu Ana mencoba melepaskan pelukan pangeran Zang Limo.


Namun yang ditanya hanya menatap tajam ke arah Gu Ana.


“Baiklah kalau pangeran tidak tahu, maka akan saya beri keringanan dengan memberikan jawaban melalui pilihan ganda, bagaimana?” tawar Gu Ana sambil tersenyum canggung.


Namuan pangeran Zang Limo kembali bungkam dengan pertanyaan dari Gu Ana, namun sorot matanya kini tidak setajam tadi.


“Baiklah tidak usah di jawab, anggap pentanyaan bonus, tidak dijawab pun tidak apa-apa.” Kata Gu Ana lagi.


Pangeran Zang Limo tetap berada dalam mode diamnya mesih setia menatap Gu Ana, yang semakin salah tingkah.


“Kalau bukan karna sayang kepala gua tendang lo Sujarnem.” Kata Gu Ana dalam hati.


“Pangeran bukankah tadi kita akan keliling istana?” bujuk Gu Ana kembali mencoba melepaskan pelukan pangeran Zang Limo. “Pangeran, di sekitar kita banyak dayang dan penjaga, malu pangeran” bujuk Gu Ana kembali.


Mendengar hal tersebut pangeran Zang Limo akhirnya sadar dan melepaskan pelukannya dari Gu Ana, tapi sebelum pangeran Zang Limo melepaskannya pangeran Zang Limo berbisik di telinga Gu Ana.


“Jangan sekali-kali mengatakan hal tadi terhadap laki-laki lain, mengerti?” kata pangeran Zang Limo dengan nada tak terbantahkan.


Gu Ana hanya menganggukkan kepanya sambil menelan ludahnya ketika mendengarkan perkataan pangeran Zang Limo, yang lebih terdengar titah langsung dari raja yang tak terbantahkan.


“Ni pangeran bucin atau overprotektif ya?” guman Gu Ana.


“Aduh susahnya menjadi orang cantik gini ni. Kalau ada pangeran yang suka langsung gini-nih. Kan jadi enak rasanya.” Kata Gu Ana dalam hati sambil tersenyum-senyum.


Setelah beberpa menit mereka berjalan, mereka telah sampai ke taman belakang, dan tanpa sengaja bertemu dengan tabib Long yang dulu telah menolong dan mengobati keluarga Gu, yang juga merupakan tabib kepercayaan keluarga Gu.


“Gege Long…” seru Gu Ana sembari melambaikan tangannya dengan sangat antusias. Sambil melepaskan gandengan tangan pangereran Zang Limo.


“Ah… nona Gu, Anda di sisni? Bagaimana keadaan anda?” tanya tabib Long sembari menghampiri Gu Ana.


“Aku sangat baik, ini semua berkat kehebatan Gege.” kata Gu Ana dengan semangat sembari mengacungkan kedua jempolnya kepada tabib Long.


“Ah rupanya ada pangeran ke-empat juga, Yang Mulia bagaiman keadaan anda.” Sapa tabib Long kepada pangeran Zang Limo.


“Hm…” hanya itu jawaban dari pangeran Zang Limo, mendengar hal tersebut sontak membuat tabib Long bertanya-tanya apa Ia telah berbuat sesuatu yang salah terhadap pangeran Zang Limo.


“Ah… abaikan dia, dia kurang bergaul, lihat lah wajahnya seperti gunung Es. Gege yang tampan sedang apa disini?” tanya Gu Ana kepada tabib Long mengabaikan pangeran Zang Limo.


Mendengar perkataan Gu Ana sungguh membuatnya kesal, ditambah lagi Gu Ana dengan mudahnya memuji tabib Long, yang memang tampan dan terlihat awet muda.


“Ah… saya disini hanya untuk memeriksa tanaman obat nona Gu.” Kata tabib Long menjelaskan kedatangannya ke Istana.


“Aduh Gege, jangan panggil aku nona Gu, terkesan tidak akrab. Panggil aku An’er seperti yang lainnya, ok?” pinta Gu Ana.


“Baik lah An’er.” Kata tabib Long sedikit canggung.


Namun saat telah mengatakan hal itu, tabib Long merasakan sebuah pandangan yang menusuk, kemudian tabib Long menoleh kepada pangeran Zang Limo, Ia melihat pangeran Zang Limo telah memandanginya dengan tatapan tajam.


“Ah… pangeran dan nona, eh An’er, saya permisi.” Ucap tabib Long berlalu pergi.


“Aiss… dia benar-benar tidak asik lagi sekarang.” Gumam Gu Ana yang terdengar oleh pangeran Zang Limo.


“Ayo pangeran, kita duduk di gazebo sambil bermain tebak-tebakan.” Ajak Gu Ana sambil menarik tangan pangeran Zang Limo.