
Saat Gu Ana tengah membaca setiap catatan laporan keuangan tersebut, Gu Ana tiba tiba dikejutkan dengan pangeran Zang Limo yang tiba tiba berbaring di paha Gu Ana, Gu Ana mengalihkan pandangannya ke arah pangeran Zang Limo yang tengah menutup matanya, Gu Ana yang milihat tingkah pangeran Zang Limo, hanya tersenyum sambil mengusap kepala pangeran Zang Limo. Setelah mengusap kepala pangeran Zang Limo, Gu Ana segera mengembalikan fokusnya ke arah laporan laporan yang telah tertata rapi di atas meja, meminta untuk di periksa.
…
Tak lama kemudian terdengar sebuah ketukan dari luar, kemudian Gu Ana mempersilahkan yang mengetuk tersebut untuk masuk. Saat melihat siapa yang mengetuk pintu tersebut Gu Ana sedikit kebingungan, entah angin apa yang membuat nona Ruang Qin datang untuk nemuinya.
Sementara Ruang Qin yang masuk keruangan tersebut, terkejut dengan situasi yang saat ini terjadi, buru buru Ruang Qin ingin meninggalkan ruangan tersebut, bukan karna cemburu namun karna canggung dan merasa tidak enak. Jujur saja saat ini Ruang Qin sudah merelakan pangeran Zang Limo bersama Gu Ana, sedangkan dirinya kini menaruh hati kepada pria lain, yang mampu membuatnya mersas gugup saat bertemu dengan lelaki tersebut.
Sebelum Ruang Qin meninggalkan ruangan tersebut, Gu Ana segera menghentikannya. Sebenarnya Gu Ana ingin membangunkan pangeran Zang Limo, namun tidak tega, tapi di sisi lain juga penasaran atas maksud kehadiran Ruang Qin.
“Jiejie mau kemana? Duduk saja dulu, Limo sedang tidur juga.” Kata Gu Ana mencoba mencegah Ruang Qin untuk keluar dari ruangannya.
Mendengarkan hal tersebut, Ruang Qin segera duduk di bangku single yang telah Gu Ana buat. Ruang Qin sedikit canggung bagaiman Ia memulai kata katanya, sejenak Ruang Qin memperhatikan isi ruangan Gu Ana, sungguh sangat indah dan unik.
Setelah beberapa saat mereka berdiam diri, pelayan datang membawakan makanan dan the hijau pesanan Gu Ana. Untung saja pangeran Zang Limo saat ini tengah tertidur, jadi Gu Ana tak kekurangan gelas dan cemilan.
“Sebenarnya kenapa Jiejie kesini?” tanya Gu Ana membuka keheningan di antara mereka.
Sementara yang ditanya hanya menunduk malu malu, dan wajahnya yang memerah kini terlihat dengan jelas. Melihat hal tersebut Gu Ana sudah menebak ini masalah hati dan perasaan.
“Apa kau tengah jatuh cinta dengan seseorang?” tanya Gu Ana, sontak membuat Ruang Qin bertambah malu dibuatnya, Ruang Qin hanya menunduk malu tanpa berkata apa apa, kemudian menganggukan kepalanya dengan pelan. “Biar kutebak lagi, apa itu dengan Gege Min?” tanya Gu Ana sambil tersenyum senyum melihat Ruang Qin yang kini tengah salah tingakh. Sepertinya tebakan Gu Ana sangat benar, hingga membuat Ruang Qin begitu salah tingkah dibuatnya.
Tiba tiba pintu terbuka kembali tanpa di ketuk, Gu Ana mengerutkan keningnya ke arah pintu, hanya tiga orang saja yang berani masuk keruangannya tanpa mengetuk, kalau bukan tuan Gu, Gu Min dan juga Gu Ju. Jika memang Gu Min itu adalah hal baik yang kebetulan terjadi, hati Gu Ana kini semakin penasara, karna pintu yang terbuka cukup lama, namun tak serang pun yang masuk.
“Ana, aku fikir kau harus berbicara kepada pegawaimu agar sedikit lebih sopan terhadapku.” Protes Gu Min saat masuk dengan menggunakan bahasa inggris, mencoba menumpahkan kekesalannya.
Melihat Gu Min masuk membuat Gu Ana tersenyum penuh arti.
“Gege kenapa kau marah marah sih, lihat kau mengejutkan Jiejie Qin, dan kau hampir membangunkan Limo.” Kata Gu Ana dengan santai.
“Ah, Nona Qin maaf membuatmu terkejut, hanya saja pegawai An’er membuatku sedikit kesa.” Kata Gu Min dengan nada lembut.
Mendengar nada lebut dari Gu Min membuat Gu Ana sedikit terkejut dan mengangkat alisnya, sembari keheranan melihat sikap lembut Gu Min terhadap seorang gadis, ditambah selama ini Gu Min selalu bersikap dingin dengan gadis manapun, termasuk Xu Jiali dan Xu Jiang, namun berbeda dengan sikapnya terhadap Ruang Qin. Gu Ana semakin tersenyum, sepertinya Gu Ana mengerti situasi sekarang ini, sebuah cinta sudah mulai tebentuk antara Gu Min dan Ruang Qin.
Namun setelah Gu Ana fikir fikir, Gu Ana juga tidak pernah meliha Gu Min berbicara dengan wanita kain kecuali untuk hal penting, terkecuali untuk Gu Ana. Namun pada saat malam ulang tahun Ratu Xu Yian, Gu Ana bahkan pernah melihat Gu Min berbicara berdua dengan Ruang Qin. Kini senyum terbit di bibir Gu Ana, sambil memberikan ide agar Gu Min dan Ruang Qin bisa berjalan jalan berdua.
“Ah… kebetulan sekali, sebenarnya Jiejie Qin memintaku untuk menemaninya pergi berbelanja, di mall mu, namun hari ini aku sudah membuat janji, nah jadi kau saja yang menemaninya ok.” Kata Gu Ana sambil tersenyum penuh makna, sedangkan Ruang Qin melongo tak percaya, ada rasa senang bercampur gugup di dalam hatinya.
“Hm… terserah saja.” Kata Gu Min, mengiya kan kata kata dari Gu Ana, sementara Ruang Qin membulatkan matanya tak percaya, bagaiman mungkin Ia bisa berjalan bersama dengan pujaan hatinya, sementar biasanya mereka hanya berbicara sedikit saat bertemu, itu pun karna kebetulan saja.
“Baiklah segera keluar, dan nikmati waktu kalian.” Usir Gu Ana kepada Gu Min dan Ruang Qin, sambil melambaikan tangannya, dan melanjutkan untuk membaca laporan yang tertunda tadi.
Setelah Gu Min dan Ruang Qin keluar, Gu Ana kembali fokus untuk membaca buku dan gulungan hasil laporn tersebut. Setelah selesai menyelesaikan laporan tersebut, Gu Ana segera meminum teh yang di sugukan untuknya dan pangeran Zang Limo. Beruntung tadi Ruang Qin terlalu gugup untuk minum, sehingga Ruang Qin keluar tapa meminum teh hijau dan cemilan yang Gu Ana suguhkan. Sehingga Gu Ana tak perlu repot repot memanggil para pelayan untuk menggantikan makanannya.
Gu Ana menyesap minumannya dan memakan makanannya, kemudian beralih memandang pangeran Zang Limo yang tengah terlelap dalam pangkuannya, tangan Gu Ana refleks bergerak menyentuh dan mengusap wajah tampan pangeran Zang Limo, seulas senyum lolos dari bibir Gu Ana. Karna tak tega membangunkan pangeran Zang Limo akhirnya Gu Ana ikut tertidur juga sambil memangku kepala pangeran Zang Limo.
Pangeran Zang Limo terbangun dari tidurnya, dan mendapati Gu Ana tengah tertidur sambil memangku kepalanya. Pangeran Zang Limo terus memandang Gu Ana, tanpa merubah posisinya, pangeran Zang Limo merasa tempatnya saat ini adalah yang paling nyaman. Pangeran Zang Limo kemudian menenggelamkan kepalanya di perut Gu Ana, sambil terus mengelus perut Gu Ana. Pangeran Zang Limo terkikik geli ketika membayangkan perut rata Gu Ana tiba tiba menjadi besar, karna mengandung anak mereka.
Setelah membayangkan hal itu, rasanya ingin pangeran Zang Limo segera mempercepat pernikahannya dengan Gu Ana, sambil terus menenggelamkan dan mengusap perut Gu Ana. Sementara Gu Ana yang merasakan gannguan tersebut, segera terbangun dari tidurnya, dan melihat tingkah pangeran Zang Limo yang menenggelamkan kepalaya di perut Gu Ana, dan mengelus perut Gu Ana.
…
Jangan lupa like and comment, tolong tinggalkan jejak ya biar author tambah semangat, dan punya masukan agar bisa memperbaiki kesalahan yang author buat, sip… ok.
Mohon maaf author cuman bisa up sedikit karena author tengah sibuk saat ini, dikarenakan harus berkutat dan bergelut dengan para tugas yang dengan tidak tahu dirinya semakin bertambah, terimakasih semoga kalian mengerti.