
Cinta tuan Vampir, mampir yuk.
Sepotong roti isi terletak di atas meja, di sebelah Anna Willson. Lapisan roti isi itu, berisi keju yang meleleh, beberapa daging, dan tomat segar. Benar benar menggoda tenggorokan Anna, untuk memakannya sampai habis. Sementara temannya memasukkan makanan penutup ke mulutnya. Sepotong pie apel yang sama sekali tidak tersentuh, kini tergeletak begitu saja di depan Anna, kini pie apel itu sudah dingin, dan mungkin saja tak seenak ketika masih sedikit hangat atau keluar dari oven.
Anna terlihat sangat mengantuk, dan ingin tidur, mungkin karena terlalu lelah, setelah perjalanan jauh yang menempuh sekitar sepuluh jam.
"Kau ingin tidur dan beristirahat di hotel malam ini?" tanya Brian sembari menyuap potongan terakhir puding coklat, yang ia pesan.
Mendengar pertanyaan dari Brian , Anna hanya mengangguk meng iya kan. Anna terlalu lelah untuk menjawabnya.
"Kenapa tidak ke pulau itu?" tanya nya lagi.
Brian menang cerewet, dan termasuk ke dalam makhluk ingin tahu. Ia akan menanyakan atau mengatakan apa yang terlintas di kepala dan pikirannya.
"Sudah malam, dan akan sampai di tempat itu terlalu larut. Belum lagi aku sangat lelah." kata Anna akhirnya menjawab pertanyaan Brian.
Anna tahu jika pertanyaan Brian tidak di jawab, maka anak dari pertanyaan tersebut menjadi tambah banyak. Seperti halnya soal mate matematika, soalnya satu, namun jawabannya bercabang dan berakar.
"Aku belum pernah ke pulau itu, apalagi villa itu, jadi lebih baik aku kesana pagi atau siang. Untuk memastikan sekelilingnya." kata Anna sembari tersenyum.
Mendengar hal itu, Brian mengangguk, berarti puas dengan jawaban Anna. Namun tiba tiba sesuatu terlintas di kepala nya.
"Tunggu, tunggu dulu... kau tidak takut malam atau kegelapan kan?" tanya Brian, mengangkat alis mata sebelah kiri.
Brian kembali mengangkat garpu penuh cake coklat, mulai di suap kan ke dalam mulutnya.
"Ayo lah..." keluh Anna, membuat Brian tersenyum.
"Aku tahu, aku tahu... kau tidak takut pada hal yang sedikit aneh, jadi jangan melototi ku begitu, aku hanya bercanda." kata Brian masih fokus ke makanannya.
"Aku tidak takut, dan tidak mengharapkan sesuatu hal yang aneh aneh atau apalah itu." ucap Anna memandang Brian dengan malas.
Brian terkekeh melihat dan mendengar kata kata dari mulut Anna. Anna menopang dagunya dan berusaha agar tak terjatuh dan tertidur di atas kue pai apel nya.
"Aku harus tidur sekarang."
"Ayo lah..., Pulau itu tak jauh dari sini, hanya berjarak satu jam dengan mobil dari sini." kata Brian sembari mengunyah potongan cake coklat terakhirnya.
Brian memang suka makan, makan apa saja. Yang penting coklat baginya, sungguh enak menurutnya. Hingga sedikitpun tak ingin Brian lewatkan, Brian mendengus sedikit kesal ketika cake coklatnya habis.
"Ah bisa kah aku mendapat kan cake coklat mu itu?" tanya Brian. Ketika melihat potongan Cake coklat Anna tak tersentuh.
Anna tak menjawab, ia hanya mengangguk neng iya kan keinginan Briana. Brian dengan binar bahagia yang ia miliki, segera mengambil piring cake coklat Anna.
"Kalau kau tidak keberatan naik motor, aku bisa mengantarmu." lanjutnya.
"Brian... aku baru saja mengunjungi dua benua dalam waktu lima hari ini, memeriksa beberapa kaca, instalasi, dan desain rumah yang sudah sedikit usang, belum lagi para klien klien ku sangat cerewet dan pemilih." jelas Anna, meminta Brian segera menutup mulutnya.
Anna terkadang harus bersabar dengan sikap cerewet dari Brian, membuatnya harus memiliki stok pendengaran tiada batas.
Mendengar keluhan Anna, Brian hanya menggeleng. Anna memang tipe pekerja keras, tak ingin bergantung kepada keluarganya.
"Dasar Pesawat berjalan." ejek Brian kepada Anna, dengan senyum lebar dengan sedikit menyipitkan matanya, yang hitam.
Anna hanya memandang Brian, kemudian tersenyum ke arah Brian, yang kini asyik dengan cake coklatnya.
Anna senang bertemu dengan Brian secara tidak sengaja, belum lagi Brian setuju untuk membantunya menemukan sumber kehidupannya. Brian memang pahlawan Anna, selalu datang di saat saat yang sangat tepat, seperti sekarang ini.
"Dua minggu lagi bulan purnama, aku tahu itu bukan waktu yang lama, bisa jadi kau tak punya waktu." kata Anna mengeluh.
Tiba tiba ingatan itu membuat Anna sedikit lesu, waktu semakin berjalan. Namun dirinya tidak menemukan apa yang ia cari. Kaum kegelapan selalu berhasil menemukannya terlebih dahulu.
"Jangan khawatir, aku sudah dapat penglihatan ku yang sempat hilang." kata Bian meyakinkan Anna.
Brian tak ingin Anna larut dalam kesedihan, Brian akan membantu Anna sebisa yang ia bisa.
Mendengar kata kata Brian nembuat Anna mengangkat kepala nya, memandang Brian dengan tatapan berbinar, setidaknya dia punya harapan.
"Benarkah?" tanya Anna dengan semangat.
Brian hanya mengangguk meng iya kan. Sembari memakan terus potongan cake coklat yang terakhir.
Anna memperhatikan keadaan sekitar, yang benar benar sangat ramai. Anna kemudian mencondongkan badannya ke arah Brian, lalu berbisik.
"Tapi... aku pikir harganya sangat mahal sekali." bisik Anna dengan suara kecil.
Brian mengorek ngorek sisa coklatnya, dengan garpu kemudian menjilati garpu nya dengan sangat puas.
"Tidak tidak semahal yang kau kira." kata Brian memandangi Anna, setelah puas menjilati garpu nya.
Mndengar kata kata Brian, membuat Anna benar benar bersemangat mendengarkannya.
"Aku tidak membayarnya dengan jiwa suci ku." kekeh Brian.
Anna mendelik mendengarkan penuturan sahabatnya itu. Ingin sekali memukul nya dengan garpu, yang saat ini tergeletak di atas piring pai apel, yang belum tersentuh sama sekali. Anna memang menginginkannya, tapi juga tak ingin Brian terluka karenanya.
"Kalu itu yang kau kira mahal." lanjut brian masih dengan kekehan nya.
Sontak membuat Anna benar benar memukul kepala Brian, dengan garpu miliknya.
Brian yang menerima pukulan tiba tiba Anna hanya meringis kesakitan, sembari memegangi kepalanya yang terkena pukulan garpu itu.
Anna memang berpikir begitu, membuka penglihatan sama sekali tidak mudah. Bahkan menurut kabar yang beredar, membuka penglihatan memang sangat begitu sakit, dan terjadi luka besar besaran, bukan luka luar, itu adalah luka terhadap jiwa.
Terkadang membuka penglihatan juga mampu mampu melukai diri sendiri, apalagi kalau itu sangat sulit.
Brian membuka t-shirt hitamnya hingga ke atas dada. Dalam pencahayaan lampu yang sedikit gelap, Anna dapat melihat garis penglihatan yang harus di bayar. Tiga garis vertikal terukir di kulitnya. Luka itu terlihat masih baru, Anna dapat merasakannya. Anna yakin luka itu akan sulit untuk di hilangkan, kecuali dengan sihir.