
“Ah… sepertinya aku akan mendapatkan cucu, dan pernikahan kalian akan ku percepat. Sekarang lanjutkan aktifitas kalian, aku akan ke tempat ratuku untuk membahas pernikahan kalian.” Kata raja Zang Zuan sembari tersenyum lalu melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut.
“Aduh… pangeran aku sungguh malu.” Kata Gu Ana sembari menutupi wajahnya.
Melihat wajah Gu Ana yang sudah bersemu membuat pangeran Zang Limo tersenyum dan menarik Gu Ana kedalam pelukannya.
“Kau tak dengar kata Ayahanda tadi?” tanya pangeran Zang Limo kepada Gu Ana.
“Aku mendengar semua.” Kata Gu Ana singkat lalu membenamkan wajahnya di dada bidang pangeran Zang Limo.
“Bukankah Ayahanda bilang lanjutkan aktifitas kalia?” goda pangeran Zang Limo kepada Gu Ana.
“Iya… lalu apa?” Gu Aa bertanya kembali kepada pangeran Zang Limo.
“Ayo kita lanjutkan, aku belum puas menciummu. Seandainya tadi Ayahanda tidak mengganggu kita, mungkin aku masih merasakan bibirmu yang manis itu.” Kata pangeran Zang Limo sambil membelai bibir Gu Ana.
“Ya… aku harus ke rumah seni pangeran.” Ucap Gu Ana mencoba melepaskan pelukan pangeran Zang Limo.
“Dengar jangan panggil aku pangeran lagi.” Kata pangeran Zang Limo kepada Gu Ana yang terdengar sangat serius.
Mendengar ucapan pangeran Zang Limo membuat Gu Ana mengerutkan keningnya.
“Panggil aku Limo.” Kata pangeran Zang Limo sambil mengecup kening Gu Ana dengan lembut.
“Ah… baikalah Limo.” Kata Gu Ana pasrah.
“Ulangi.” Perintah pangeran Zang Limo manja.
“Limo, Limo, Limo, Limo, Limo, Limo. Kau puas?” kata Gu Ana dengan gemas.
“Yasudah ayo kita pergi.” Kata pangeran Zang Limo menggandeng
“Apa? Wait? Apa itu wait?” tanya pangean Zang Limo tidak mengerti maksud kata di awal kalimat.
“Aduh pangeran, jika kau menginginkanku kau harus menjadi pintar sesuai dengan ku, aku itu tak butuh kedudukan tapi aku butuh lelaki yang pintar.” Kata Gu Ana berterus terang.
“Baiklah, maka dari itu kau harus mengajariku.” Kata pangeran Zang Limo dengan nada manja yang sama sekali tidak cocok di telinga Gu Ana.
Setelah mengataka hal tersebut pangeran Zang Limo menarik Gu Ana ke dalam pelukannya.
“Iya.. aku akan mengajarimu, tapi tidak sekarang, aku masih punya pekerjaan, dan kau memiliki pekerjaan di sini.” Kata Gu berusaha melepaskan pelukan pangeran Zang Limo.
“Baiklah, tapi jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain.” Kata pangeran dengan wajah sedih melepaskan pelukannya.
“Aku pergi, berhenti menjadi bucin, kepalaku akan sakit jika melihatmu begitu.” Kata Gu Ana berlalu pergi meninggalkan kelakuan aneh pengeran Zang Limo.
“Ohh… God, I’ll be crazy.” Keluh Gu Ana.
Saat Gu Ana mengeluh, dan berjalan menuju keretanya seorang laki-laki memandanginya dengan penuh makna.
“Apakah itu tunangan pangeran Zang Limo?” tanya lelaki tersebut, sambil terus memandangi Gu Ana hingga keretanya menjauh.
“Kenapa kau terus memandanginya? Apa yang kau inginkan? Jangan coba-coba.” Kata temannya memperingati.
“Ayolah mereka hanya bertunangan, belum menikah. Aku bahkan masih memiliki peluang yang sangat besar.” Katanya dengan penuh keyakinan.
“Apa kau sadar? Kau sedang mencoba bersaing dengan pangeran negri ini.” Kata pemuda satunya lagi memperingatkan.
“Bahkan Jika dewa pun akan kulawan.” Katanya dengan penuh misterius.
Ya mereka adalah putra mahkota dari kerajaan Bei, Bei Xuang namanya. Sedangakan rekan bicaranya tadi adalah kaki tangannya, Xie Fang.