
“Maaf pangeran Tuan Gu meminta kami mengantarkan makanan untuk anda.” Kata pelayan tersebut.
Pangeran Zang Limo baru mengingat bahwa dirinya belum makan malam. Dan tiba-tiba rasa lapar menyerangnya.
“Ah tepet waktu.” Guman oangeran Zang Limo. “Masuklah dan letakkan saja di mejaku.” Kata pangeran Zang Limo kepada pelayan tersebut.
Pelayan tersebut kemudian masuk mengantarkan makanan tersebut, sedangkan pangeran Zang Limo sendiri sedang menutup jendela kamar Gu Ana, beberapa pelayan masuk dan membawakan penerangan untuk menerangi makan pangeran Zang Limo, serta aktifitas lainya.
Setelah melaksanakan tugasnya para pelayan memilih untuk perdiri sambil menunggu pangeran Zang Limo selesai, kalau-kalau ada yang pangeran Zang Limo butuhkan.
“Siapkan aku air, aku ingin membersihkan diri.” Titah pangeran Zang Limo kepada para pelayan.
Dengan sigap para pelayan segera menyiapkan seluruh kebutuhan dari pangeran Zang Limo. Mulai dari air hangat, wangi-wangian, hingga hanfu untuk pangeran Zang Limo mereka siapkan.
Setelah pangeran Zang Limo menyelesaikan makannya, bertepatan pula dengan selesainya persiapa untuk mandi pangeran Zang Limo.
“Aku akan membersihkan diriku, kalian bersihkan juga badan An’er.” Kata pangeran Zang Limo melangakah menuju kamar madi untuk membersihkan dirinya.
Sementara pangeran sedang membersihkan dirinya, para pelayan sibuk membersihkan tubuh Nonanya, Gu Ana. Mereka menyapu lengan, badan, kaki dan wajah Gu Ana dengan kain lap basah. Setelah itu mengganti hanfu Gu Ana.
Setelah 30 menit pangeran keluar dengan hanfu yang telah disiapkan para pelayan untuknya, dengan wajah yang segar pula. Sontak membuat par pelayan terpesona dengan wajah pangeran Zang Limo, meski yang Ia tampakkan kini adalah wajah datarnya.
Buru-buru para pelayan menundukkan wajahnya, yang telah bersemu merah akibat pesona dari pangeran Zang Limo. Buru-buru mereka memutuskan untuk keluar ruangan tersebut.
Setelah para pelayan meninggalkan ruangan tersebut, pangeran Zang Limo melangkahkan kaki menuju tempat tidur Gu Ana, Lagi-lagi pangeran mencium kening Gu Ana, sebelum berbaring di sampingnya. Pangeran berbaring menghadap Gu Ana lalu memeluknya. Kemudian ikut tertidur sambil memeluk Gu Ana.
Saat menjelang tengah malam tiba-tiba Gu Ana memperlihatkan raut wajah gelisah, dan mulai berkeringat.
Ariana melihat dirinya sedang bermain-main di dalam sebuah ruangan dimana Daddy dan Kakaknya menemaninya, namun tiba-tiba ruangan menjadi gelap gulita. Sehingga Ariana tidak dapat melihat apapun, Ariana terus memanggil Daddy dan kakaknya, namun hasilnya nihil. Tidak ada jawaban dri orang yang sejak tadi dipanggilnya. Ariana terus berusaha berjalan dalam kegelapan, namun tiba-tiba setitik cahaya tampak sangat jauh, Ariana berlari mengejar cahaya tersebut. Saat mencapai cahaya tersebut, Ariana mencoba memasuki cahaya tersebut, namun tiba-tiba bayangan dari maslalu Gu Ana muncul kembali di dalam benaknya, perlahan-lahan Ariana tertarik kedalam tubuh Gu Ana. Saat itu dimana Gu Ana hampir dilecehkan oleh Raja Bei Qing.
Gu Ana dapat melihat satu persatu bajunya dirobek, hingga pelayan pribadinya datang menolongnya, namun naas pelayan tersebut justru mati dihadapannya. Gu Ana kemudian berlari meninggalkan ruangan tersebut, tiba-tiba Gu Ana bertemu dengan putra mahkota Bei Xuang. Putra mahkota Bei Xuang yang melihat pakaian Gu Ana yang berantakan membuatnya bernafsu kepada Gu Ana. Gu Ana yang saat itu sangat lemah, ditarik putra mahkota Bei Xuang kedalam kamarnya. Gu Ana kembali akan dilecehkan oleh putra mahkota Bei Xuang.
“Tolong… Tolong, tolong. Hiks, tolong, hiks, hiks.” Guman Gu Ana dalam tidurnya. Yang awalnya terdengar sangat kecil, lama-lama menjadi sedikit kuat. Dengan suara tangis yang sangat lirih menyat hati.
Mendengarkan tangisan dari Gu Ana, pangeran Zang Limo terbangun dari tidurnya, dan melihat Gu Ana menangis, dalam keadaan tertidur.
“An’er, tenang lah aku disini, aku akan menjagamu, kau tak perlu takut.” Kata pangeran Zang Limo berbisik di telinga Gu Ana.
Entah kenapa bisikan dari pangera Zang Limo membuat Gu Ana sedikit tenang, meski masih menangis. Pangeran Zang Limo terus membisikkan kata-kata yang sama ditelinga Gu Ana.
Sementara dialam mimpi Gu Ana, saat akan dilecehkan dengan putra mahkota Bei Xuang, kakak sulung Gu Min menendang pintu putra mahkota Bei Xuang untuk menyelamatkan Gu Ana, yang telah menangis sejadi-jadinya.
Gu Min segera menghampiri Gu Ana dan memakaikannya selembar mantel yang cukup tebal. Lalu membisikkan “An’er, tenanglah aku disini, aku akan menjagamu, kau tak perlu takut.”
Bisikan-bisikan itu terus menenangkan Gu Ana, hingga membuatnya tenang, kemudian pangeran Zang Limo kembali merebahkan badannya disamping Gu Ana, ketika Gu Ana kembali tertidur.
“Bunda…” teriak Gu Ana histeris, terbangun dari tidurnya.
Mendengar terikan Gu Ana, pangeran Zang Limo seketika terbangun, dan melihat Gu Ana menangis sambil memeluk lututunya. Pangeran Zang Limo segera memeluknya dari belakang, dan nenangkannya. Saat melihat Gu Ana menangis hatinya bagaikan tertusuk dengan seribu pedang.
Gu Ana terdiam ketika merasakan tangan kokoh nan hangat memeluknya dari belakang, pangeran Zang Limo menyadari hal itu kini memulai pembicaran.
“Jangan takut ini aku, aku akan selalu menjagamu, jangan takut lagi ya.” Kata pangeran Zang Limo menenangkan Gu Ana yang saat ini tengah bergetar ketakutan.
Setelah mangatakan hal tersebut pangeran Zang Limo mengangkat Gu Ana dan mendudukkannya di dalam pangkuannya, pangeran dapat denganjelas merasakan seluruh badan Gu Ana bergetar ketakutan.
“An’er jangan membuatku kahwatir lagi ya, aku sungguh sangat takut kehilanganmu.” Kata pangeran Zang Limo sambil memeluk Gu Ana yang saat ini berada dalam pangkuannya, sambil mengusap kepala Gu Ana dengan penuh kasih sayang, dan mencium puncak kepala Gu Ana.
Gu Ana yang saat ini berada dalam pangkuan pangeran Zang Limo kini hanya menenggelakan wajahnya di dada bidang pangeran Zang Limo, seraya mencari kehangatan dan ketenangan disela-sela tangisannya. Usapan lembut di punggungnya membuat Gu Ana perlahan-lahan menjadi tenang.
Saat merasakan Gu Ana yang berlahan-lahan menjadi tenang, pangeran Zang Limo sedikit tersenyum.
“Mari kita tidur lagi. Ini masih tengah malam.” Kata pangeran Zang Limo kepada Gu Ana, Gu Ana hanya mengangguk.
Melihat anggukan Gu Ana, pangeran Zang Limo menurunkan Gu Ana dari pangkuannya dan membaringkannya secara berlahan, kemudian ikut berbaring di samping Gu Ana. Pangeran Zang Limo menarik Gu Ana kedalam pelukannya, sedangkan Gu Ana membalas pelukannya mencari rasa aman di dalam hatinya. Hingga akhirnya mulai erlelap dalam pelukan pangeran Zang Limo, dengan suara nafas teratur dari Gu Ana.
Mendengar nafas teratur dari Gu Ana, pangeran Zang Limo melepaskan pelukannya, dan memandang wajah Gu Ana dengan sangat dalam, hatinya terasa sakit saat melihat Gu Ana, wajahya yang sembab membuat pangeran Zang Limo kembali merasakan perih, gadis yang Ia cintai seolah menyimpan banyak kenangan pahit dibalik wajah cerianya. Setelah puas memandangi wajah Gu Ana, pangeran Zang Limo kembali memeluk Gu Ana dan akhirnya ikut terlelap dengan memeluk Gu Ana.