
“Kita kembali kekediamanku.” Titah Gu Ana tiba-tiba, dengan nada suara yang terkesan dingin tanpa memperlihatkan ekspresi apapun.
Sedangkan kusir yang mendengar titah dari Gu Ana langsung menggerakkan kudanya ke kediaman keluarga Gu, Ia tahu bahwa nonanya sedang dalam keadaan hati yang tidak baik.
Sesampainya di kediaman Gu Ana segera turun dari keretanya, dan melangkahkan kaki menuju pafilium Sakura, tanpa mengucapkan satu patah katapun. Seluruh pelayan dan penjaga merasa ada sesuatu yang salah dengan nona muda mereka.
Gu Ana yang terus berjalan tanpa memperdulikan orang-orang disekitarnya, dengan raut wajah datar yang tak pernah ditunjukkan kepada orang lain, kini tak menyadari kehadiran ayahnya. Tuan Gu merasa cemas dengan keadaan putrinya, langsung menghampiri Gu Ana.
“An’er ada apa? Apa kau sakit? Aku kira hari ini kau akan kerumah seni?” tanya Tuan Gu dengan raut wajah khawatir.
“Tidak Ayah, aku tak apa-apa, mungkin hanya butuh istirahat.” Kata Gu Ana menjelaskan keadaannya kepada tuan Gu.
“Apa perlu aku panggilkan tabib?” tanya tuan Gu, sambil memegang dahi Gu Ana.
“Tidak Ayah, aku hanya perlu istirahat.” Kata Gu Ana tersenyum pahit kepada tuan Gu.
“Baiklah beristirahatlah, jika kau butuh apa-apa, maka panggil pelayan. Ayah akan menjengukmu nanti ketika aku pulang kerja.” Kata tuan Gu.
Mendengar kata-kata tuan Gu, akhirnya Gu Ana melangkah kan kakinya meninggalkan Ayahnya, tuan Gu yang melihat tingkah putrinya jelas merasa ada yang salah. Namun memilih untuk diam, karna Ia menganggap putrinya membutuhkan waktu untuk sendiri.
Sesampainya dipafilium sakura, Gu Ana memerintahkan pelayan untuk mempersiapkan alat lukisnya. Setelah Gu Ana menerima alat lukisnya dari para pelayan akhirnya Iamulai melukis mengungkapkan segala macam yang ada di dalam fikirannya, Ia terus mencoret dengan berbagai warna. Tanpa terasa air matanya mengalir begitu saja dari pelupuk matanya, Ia terus melukis meski air matanya terus saja turun tanpa bisa terkontrol. Gu Ana sungguh takut bertemu para pelayannya, Ia takut emosinya tak terkontrol dan melukai orang-orang disekitar.
“Daddy… I miss you.” Kata Gu Ana disela-sela tangisannya. “Daddy, kakak Ariana kangen dipanggil Obi dengan kalian.” Kata Gu Ana disela tangisannya, kini Ia benar-benar merindukan keluarganya, merindukan kembali menjadi Ariana, tanpa harus menjadi Gu Ana lagi.
Gu Ana yang kini lelah menangis akhirnya tertidur dikursi, dengan alat lukis yang masih Ia pegang, dan kertas lukis yang masih terpampang di hadapannya.
Arah tandu tuan Gu bukannya menuju ke tokonya namun tandunya mengarah ke tempat anak sulungnya berada. Sesampainya tuan Gu di depan Mall, Ia segera melangkah menuju ruangan Gu Min.
Ketika Gu Min akan melangkah keluar sebentar untuk mengecek keadaan Mallnya tanpa sengaja Ia meliht ayahnya terburu-buru melangkah ke arahnya.
“Ayah, ada apa pagi-pagi sekali ke sini?” tanya Gu Min keheranan melihat ayahnya yang tampak begitu khawatir.
“Ayo masuk, kita berbicara di dalam.” Kata tuan Gu sambil memandang Gu Min yang terlihat bingung.
Kemudian mereka melangkah menuju ruangan Gu Min, namun wajah tuan Gu yang terlihat sangat khawatir membuat Gu Min sedikit khawatir.
“Kita sudah di dalam, sekarang ada apa Ayah? Apa yang membuatmu sekhawatir ini?” tanya Gu Min.
“An’er, aku khawatir dengan An’er…” kata tuan Gu dengan wajah yang masih sama, namun kali ini ditambah dengan raut wajah yang serius.
“An’er? Ada apa dengan An’er ayah?” tanya Gu Min yang kini wajahnya menegang karna khawatir.
“Aku tak tahu, tapi saat dia kembali dari istana, raut wajahnya membuatku sangat khawatir.” Kata Tuan Gu.
Mendengar penuturan Ayahnya Gu Min terdiam sebentar, pikirannya sudah kemana-mana, Ia khawatir jika ada yang menyakiti adiknya, atau jangan-jangan pangeran mengecewakannya, tapi Ia juga tidak menemukan alasan pangeran mengecewakannya.
“Apa yang akan kau lakukan? Jangan gegabah.” Kata tuan Gu memperingati Gu Min.
“Tidak ayah, percayalah aku hanya akan mencari tahu penyebabnya.” Kata Gu Min berlalu pergi meninggalkan Ayahnya.
Gu Min kini menaiki keretanya, pikirannya sudah bercampur aduk, meski Gu Ana alias Ariana bukanlah adik kandungnya, namun Ia juga sudah menyayangi Gu Ana seperti adiknya, bahkan jika mereka kembali ke dunia mereka suatu saat nanti Ia ingin sekali tetap berhubungan layaknya kakak dan adik.
Pikiran Gu Min terus berputar banyak pertanyaan mengenai keadaan adiknya sepulang dari istana, karna Gu Min tahu betul adiknya Gu Ana tak akan mungkin menagis jika bukan karena sesuatu yang besar terjadi padanya.
Sesampainya di istana Gu Min segera turun dan melangkahkan kaki menuju pangeran Zang Limo, karna saat ini hanya pangeran Zang Limo lah yang kemungkinan tahu penyebabnya, walaupun kecil kemungkinan pangeran Zang Limo yang membuat Gu Ana bersedih, namun apa salahnya bertanya.
Gu Min melihat pangeran Zang Limo sedang berjalan bersama pangeran Zang Jade, melihat hal itu Gu Min langsung menghampiri mereka.
“Salam pangeran. Boleh saya bertanya?” tanya Gu Min mencoba untuk terlihat formal, meski mereka cukup dekat namun mereka saat ini berada di muka umum maka mereka harus bersikap dengan selayaknya.
“Ya… apa yang ingin kau tanyakan?” tanya pangeran Zang Limo dengan sedikit khawatir, karna raut wajah calon kakak iparnya atau Gu Min saat ini sangat terlihat cemas dan khawatir.
“Ayahku bertemu An’er tadi pagi di kediaman, saat ayahku melihat An’er, Ia terlihat seperti sangat sedih, kami sungguh khawatir. Karna selama ini Ia tak pernah begitu. Apa pangeran tau penyebabnya?” tanya Gu Min masih dengan raut wajah yang khawatir.
“Ada apa dengan An’er?” tanya pangeran Zang Limo yang kini juga diikuti dengan rasa khawatir, pangeran Zang Limo sungguh khawatir jika terjadi sesuatu terhadap Gu Ana maka, Ia akan merasa gagal sebagai seorang kekasih.
“Tenang lah Limo.” Kata pangeran Zang Jade menenangkan adiknya pangeran Zang Limo, yang saat ini terlihat sangat khawatir.
Saat melihat ekspresi wajah pangeran Zang Limo, kini Gu Min yakin kasedihan Gu Ana tak ada sangkut pautnya dengan tunangan adiknya.
“Ayo kita kekediaman mu.” Ajak pangeran Zang Limo bergegas meningaalkan merka.
“Kalian tenang lah, An’er pasti akan baik-baik saja.” Kata pangeran Zang Jade meredakan rasa khawatir pangeran Zang Limo dan Gu Min.
Mendengar perkataan dari pangeran Zang Jade, mereka berdua hanya mengangguk serentak. Namun tak menjawab apapun yang dikatakan pangeran Zang Jade.
Saat mereka bergegas manuju tandu mereka, tanpa sengaja Gu Min melihat putra mahkota Bei Xuang sedang berbincang-bincang dengan orang kepercayaannya. Seketika kaki Gu Min berhenti melangkah, dan melihat tajam ke arah putra mahkota Bei Xuang.
“Apa yang bajingan itu lakukan disini?” tanya Gu Min dengan sorot mata benci kearah putra mahkota Bei Xuang.
Entah kenapa Gu Min selalu membenci siapapun dari keluarga kerajaan Bei, bahkan saat melihat mereka ingin rasanya Gu Min menguliti mereka. Entah mungkin ini benci yang diwarisi oleh pemilik tubuh ini sebelumnya, sama halnya yang terjadi dengan Gu Ana. Saat memikirkan hal itu semua, tiba-tiba ingatannya melayang kepada kesedihan Gu Ana.
“Jangan-jangan, dasar bajingan.” Kata Gu Min dalam hati.
Mendengar pertanyaan Gu Min, mereka sedikit bingung, namun mereka mengikuti pandangan mata Gu Min yang sejak tadi menatap tajam kearah putra mahkota Bei Xuang. Kini pemikiran mereka sama, mengenai penyebab kesedihan Gu Ana.
“Ayo jika kita ingin melihat Gu Ana.” Kata pangeran Zang Jade menyadarkan mereka.
Mendengar kata-kata pangeran Zang Jade menyadarkan mereka untuk menuju kekediaman keluarga Gu. Mereka segera berbegas menuju kereta mereka, karna bagi mereka Gu Ana untuk saat ini lebih penting.