
"Spectakular live concert di Osaka? Dan dalam waktu dekat ini? Mengapa begitu terburu-buru?"
Seorang pria paruh baya yang sedang duduk di kursi kerjanya merasa cukup bingung karena tiba-tiba saja putranya yang selalu acuh tak acuh dalam hal apapun, kini malah mendatanginya di tempat kerjanya untuk meminta diadakan sebuah konser untuknya dan temannya.
"Apakah tidak bisa, Pa?" tanya sang putra malah berbalik bertanya dan bukannya menjawab pertanyaan dari sang papa.
"Bukan tidak bisa. Malah sebenarnya permintaan konser untuk area Osaka sudah ada sebelumnya, hanya saja papa mengkhawatirkan kalian. Kalian masih harus sekolah dan belajar dan sebentar lagi akan ujian." sahut pria paruh baya itu yang tak lain adalah owner dari Xu Entertaiment-papa dari Xu Kai.
"Kami berjanji akan tetap rajin belajar, Pa! Dan kami akan lulus dengan nilai yang baik! Jadi ... tolong kali ini saja, Pa. Kami ingin melakukan konser di Osaka." ucap pemuda yang yang tak lain adalah Xu Kai berharap papanya akan mengabulkan permintaannya kali ini.
"Baiklah. Papa akan mengurusnya. Tapi semua itu paling cepat bisa dilangsungkan dalam 2 pekan lagi atau lebih. Jadi jangan harap semua bisa siap hanya dalam hitungan hari." sahut papa Xu Kai datar.
"Baik, Pa! Terima kasih banyak, Papa!" ucap Xu Kai begitu berbinar karena keinginan dari Xie Jun Ze akhirnya dipenuhi oleh papanya.
"Hhm ... bagaimana dengan sekolahmu hari ini?"
"Sekolahku ya? Hhm ... semua sama saja seperti biasanya. Tidak ada yang menarik, Pa." jawab Xu Kai seadanya.
"Apa mereka teman-temanmu tidak menyusahkan kalian? Apa perlu papa memberikan pengawal untukmu dan untuk temanmu?" tanya papa Xu Kai untuk yang kesekian kalinya, karena selama ini Xu Kai selalu saja menolaknya.
"Tidak perlu, Pa. Aku dan Jun Ze masih bisa mengatasinya kok. Oh ya, Pa. Aku mempunyai sebuah permintaan lagi." ucap Xu Kai terlihat ragu-ragu.
Karena dalam seumur hidupnya, Xu Kai tak pernah memohon dan merengek seseuatu kepada kedua orang tuanya. Dan hari ini adalah pertama kalinya Xu Kai melakukannya hanya untuk Xie Jun Ze.
"Hhm? Katakan saja kepada papa. Jika papa bisa memenuhinya, maka papa akan melakukannya untukmu." ucap priq paruh baya itu mulai mengambil cerutunya dan menghidupkan sepuntung rokoknya dengan menggunakan sebuah lighter.
"Disaat konser di Osaka digelar nanti, tolong undanglah tuan Yan pemilik sekaligus CEO dari Yan Group. Tolong berikan tempat khusus untuk mereka dan juga istri serta putranya. Usahakan mereka benar-benar datang untuk menghadiri konser kami. Bisakah ayah melakukan semua itu untukku?" ucap Xu Kai penuh harap.
"Tuan Yan pemilik sekaligus CEO dari Yan Group? Perusahaan yang bergerak dalam keuangan?" tanya papa Xu Kai dengan kening berkerut.
"Benar sekali, Pa. Apa papa bisa mengusahakan agar mereka datang?" ucap Xu Kai kembali mengulangi pertanyaannya.
"Papa akan mengusahakannya. Kebetulan papa juga mengenalnya."
"Papa mengenali tuan Yan?"
"Ya, kami pernah bertemu di sebuah seminar dulu. Tapi ngomong-ngomong, mengapa tiba-tiba saja kamu menginginkan tuan Yan dan keluarganya untuk menghadiri live concert milikmu, Xu Kai." tanya papa Xu Kai ingin tau.
"Beberapa hari yang lalu, manager tuan Yan mengatakan jika tuan Yan ingin bertemu dengan Jun Ze. Namun sayangnya Jun Ze masih cukup sibuk, hingga akhirnya mereka belum bisa bertemu." jelas Xu Kai.
"Baiklah. Aku akan mengurus sisanya! Kamu dan temanmu fokuslah saja untuk berlatih dengan belajar."
"Terina kasih, Pa!"
...🍁🍁🍁...
Undangan itu sesungguhnya membuat Yan Chen dan mamanya terkejut bukan main. Namun mereka tak memiliki alasan apapun untuk menolak undangan dari tuan Xu pemilik salah satu agensi raksasa dalam dunia hiburan di prefektur Kanagawa.
Agensinya sangat dikenal hampir semua orang. Dan selama ini agensi raksasanya sudah selalu berhasil melahirkan beberapa idol luar biasa yang selalu digandrungi muda-mudi, anak-anak maupun para orang tua.
Idol dan bintang yang pernah dilahirkannya tak pernah gagal. Mereka akan selalu bersinar dan melambung tinggi. Dan tentunya akan selalu dikagumi semua orang.
"Yan Chen, mengapa tiba-tiba saja mereka ingin mengundang kita?" tanya sang mama kepada Yan Chen.
"Aku juga tidak tau, Ma. Tapi kita sama sekali tidak bisa untuk menolaknya, Ma. Karena papa sudah mengatakan jika kita akan datang bersama di depan tuan Xu bukan?" sahut Yan Chen yang terlihat cukup pusing harus bagaimana.
"Tapi bagaimana jika dia adalah benar-benar Yuru, Sayang?" ucap sang mama mulai merasa resah dan gelisah saat membayangkan semua itu.
"Yuru sudah mati, Ma! Mama tenang saja ..." sahut Yan Chen berusaha untuk menenangkan sang mama.
"Apa kamu yakin, Yan Chen? Apa kamu sangat yakin jika dia sudah mati? Mengapa pemuda bernama Xie Jun Ze itu bisa begitu mirip dengan Yuru?" ucap sang mama masih saja merasa khawatir.
Karena bukan hanya wajah saja yang memiliki kemiripan 100%. Namun postur tubuh Yan Yuru dan Xie Jun Ze begitu mirip, dengan memiliki tinggi kira-kira 183 cm dengan berat badannya sekitar 60 kg hingga 63 kg. Benar-benar begitu mirip!!
Bahkan cara mereka tersenyum, cara berbicara atau berjalan saja mereka juga sangat mirip. Dan lagi, suara kedua pemuda itu juga sama persis!! Dan semua kemiripan ini tentu saja membuat Yan Chen dan mamanya merasa sangat resah dan gelisah.
Wanita paruh baya dengan dandanan dan penampilan yang masih begitu modis dan stylish iti berjalan bolak-balik dengan tangan kiri di bawah dadanya, sementara tangan kanannya dilipat ke atas dengan jemari menutupi mulutnya.
Raut wajahnya masih saja dipenuhi kekhawatiran dan ketakutan.
"Jika pemuda bernama Xie Jun Ze itu adalah benar Yan Yuru. Maka kita sedang dalam bahaya, Yan Chen. Dia bisa saja mengungkap semuanya dan menjebloskan kita ke penjara! Bagaimana ini, Yan Chen?! Mama takut sekali!" ucap wanita paruh baya itu yang rupanya tak mendengarkan ucapan dari putra kesayangannya.
GREPP ...
Yan Chen mulai meraih kedua bahu sang mama dan memberikan tatapan penuh dengan le
penekanan.
"Ma, dengarkan aku! Yan Yuru sudah mati!! Dan hutan Wild Kaazaane itu adalah kuburannya di saat itu!!" tandas Yan Chen menegaskan kembali. "Percayalah padaku, Ma!! Jangan khawatir!!"
Sebenarnya ucapan dari Yan Chen sama sekali tidak mengurangi kegelisahan wanita paruh baya itu sama sekali, karena dia masih merasa jika sosok Xie Jun Ze telah menyimpan sesuatu.
...🍁🍁🍁...