
Hi... aku Kang Ana (nama penaku), di sini aku akan menceritakan, tentang awal mula aku menjadi lebih peka terhadap hal hal yang bersifat gaib, bahkan dalam waktu waktu tertentu aku akan dapat melihat dengan jelas, bahkan mendengarkan mereka.
Baikalah kita mulai saja...
Dulu itu saat umurku tujuh tahun, atau lebih tepatnya kelas satu SD. Nenekku meninggal dunia. Aku dan nenekku sangat dekat, sehingga aku lebih sering tidur dengan nenekku. Saat nenekku meninggal aku menjadi sangat sedih, hingga pada saat nenekku akan di makamkan, aku menangis. Karna katanya aku terlalu kecil, jadi aku dilarang ikut menguburkan nenekku.
Saat itu aku sangat terpukul, mungkin itu adalah kali pertamanya aku merasa kehilangan seseorang. Aku menangis hingga membuatku tertidur.
Saat sore hari aku terbangun, dan semua orang telah pulang dari menguburkan nenekku.
Hari itu tak terjadi apa apa. Hingga pada malam hari, saat aku tidur aku bermimpi, nenek mengajakku pergi, namun aku tolak, karena aku tahu nenek sudah meninggal. Aku melihat sangat banyak orang yang ada di rumahku, aku bingung kenapa mereka hanya tersenyum dan tertawa. Padahal mereka tahu nenek sudah meninggal, dan sudah di kuburkan.
"Ayo ikut nenek, sayang nenek kan?" kata nenekku waktu itu. Namun aku memilih berlari, dan bersembunyi, namun nenekku selalu dapat menemukanku. Dan selalu mengatakan hal yang sama.
Nenek tak mengajak mereka, nenek hanya mengajakku, dan mengejar ku.
"Aku tak mau, nenek sudah meninggal." itu terus yang ku katakan.
"Ayo ikut nenek, ga papa kok, nenek kan sayang Iki." kata mereka sembari tersenyum.
Namun aku tetap menolaknya, dan seperti tadi nenekku selalu memaksaku. Aku terus di kejar hingga aku terbangun, dari tidurku.
Aku menceritakannya kepada keluarga ku, dan jawaban mereka sama.
"Itu cuman mimpi, bunga tidur." katanya sembari tersenyum padaku, aku pun berpikir begitu.
Lalu ke esokan malamnya aku tidur, aku bermimpi hal yang sama lagi, dan tempat yang sama. Anehnya aku dapat mengingat mimpiku yang sebelumnya, dan dia juga dapat mengingatnya.
"Ayo kemarin nolak kan?" kata Nenekku. "Sekarang ikut nenek ya, nenek kangen." kata nenekku. Aku hanya menggeleng, dan meninggalkan nenekku.
Aku tak ingin bersembunyi di tempat yang sama, karna aku tahu, nenek akan menemukanku. Jadi aku bersembunyi di tempat yang berbeda, namun hal yang sama terus terjadi. Nenekku kembali dapat menemukan ku.
Saat itu aku sangat ketakutan, sehingga membuatku selalu hampir menangis. Dan aku selalu terbangun saat pagi hari, dengan keringat yang bercucuran.
Aku awalnya mengira hal itu sama, hal nya yang di ucapkan oleh keluargaku. Mungkin hanya bunga tidur saja.
Namun malam selanjutnya terjadi lagi, aku selalu bermimpi hal yang sama. Hingga akhirnya hari ke tujuh nenekku meninggal. Aku melihat nenekku memaksa hingga menarik ku, untuk ikut dengan nya. Aku melihat nenekku memaksaku untuk masuk ke kamar, yang biasanya di tempati nya, membuatku menangis sejadi jadinya.
Aku langsung terbangun saat itu juga, dan aku berada di ruang tamu, rumah nenek ku. Itu adalah terakhir kalinya aku bermimpi, pada bulan itu.
Aku kembali bercerita kepada keluargaku, aku lupa saat itu bertanya dengan siapa, tapi jawabannya membuat ku sedikit tidak puas.
"Mungkin karena kamu selalu memikirkan nenek, hingga terbawa di dalam mimpi, jadinya kamu takut, dan selalu menjadi mimpi serammu." kata nya, membuatku harus mengangguk mengerti. "Makanya jadi orang jangan jadi penakut." kata orang itu.
Namun semenjak mimpi itu, aku sangat takut masuk ke dalam kamar nenekku. Aku selalu merasakan ada hawa yang tidak enak, yang membuatku selalu merinding, jika memasuki kamar tersebut.
Kembali lagi di mimpi ku, ternyata mimpiku tak berhenti hanya sampai di situ. Mimpiku kembali hadir, namun lebih jarang. Misal nya dulu aku bermimpi tiap malam, kini mulai bermimpi tiap satu minggu sekali, aku lupa hari hari apa saja. Setelah satu minggu sekali, itu mimpiku berubah menjadi satu bulan sekali. Hingga saat aku akan pindah dari tempat nenekku, ke luar kota, akhirnya mimpi itu berakhir.
Dan setiap aku bertanya dengan orang orang jawabannya hanya berkembang sedikit, mulai dari...
"Mungkin itu hanya mimpi, atau bunga tidur." kata mereka.
"Ah, atau kau terlalu penakut." kata yang lainnya.
"Ah mungkin juga kau rindu dengan nenek." sahut yang lainnya. Ya mungkin aku memang rindu, sampai sampai selama empat tahun, memimpikannya, selalu mengajakku ikut dengannya.
Namun entah kenapa menurutku itu tetap menakutkan, dan terakhir kali aku memimpikan nenek. Akhirnya aku memutuskan untuk ikut, namun anehnya saat aku mau ikut nenek melarang ku.
Katanya sudah ada yang mau ikut, setelah itu tiba tiba nenek ku menghilang, dengan beberapa rombongan.
Dia bersama paman ku, tak lama kemudian pamanku yang bersama pergi dengan nenekku meninggal dunia, setahun setelah mimpi itu. Namun semenjak aku memimpikannya pergi dengan nenek ku, pamanku mulai sakit sakitan.
Itu adalah kali terakhir aku, memimpikan nenekku, setelah itu tidak pernah lagi hingga sekarang. Namun setiap kali aku berkunjung ke rumah nenekku, aku selalu takut untuk masuk ke dalam kamarnya.
Dan semenjak kejadian itu, aku lebih mudah melihat hal hal yang mungkin tak kaset mata, mendengar suara mereka. Bahkan terbangun saat malam hari, yang biasanya mulai dari jam satu malam hingga jam tiga, aku terkadang malam, dan melihat keadaan sekitar seperti tengah hari.
Namun anehnya seolah aku sudah terbiasa melihat mereka, atau yang lainnya. Aku dapat merasakan jika mereka ada di sekitarku, aku dapat merasakan jika mereka sedang melihatku.
Contohnya saja, setelah aku pindah kota, saat itu aku kelas lima SD. Malam itu adalah malam Jum'at, dan di dalam rumah hanya tinggal aku dan adikku, karna malam itu mati lampu, jadi yang lain memutuskan untuk berkumpul di depan rumah, sementara aku dan adikku di dalam rumah.
Aku melihat seorang wanita, dengan rambut hitam panjang, baju putih panjang seperti jubah, menembus tembok, di rumah ku. Aku hanya diam, merasa seolah itu wajar saja. Tak lama kemudian saat aku sadar bahwa itu adalah hal aneh, maka aku keluar dari rumah.
Awalnya aku mengira aku hanya di kerjain kakak ku, namun saat aku melihat semua anggota keluarga berada di luar rumah, baru aku kembali dan menarik tangan adikku, untuk keluar dari rumah.
Kembali lagi ke cerita mimpi nenekku itu, aku kemudian bercerita, dengan paman dari pihak ibu ku yang mengerti tentang hal hal gaib. Dia bilang untung saja aku tak ikut, karna jika aku ikut, mungkin aku tak akan selamat, karna ternyata sejak awal aku memang di incar sesuatu.
Saat saya SMA, saya tinggal di rumah bibi saya, karena saya beda daerah dengan ibu saya. Jadi saya memutuskan untuk tinggal di tempat bibi saya.
Jadi ceritanya bermula, ketika saya menolong teman yang sedang kerasukan di sekolah. Awalnya saya tidak mau, tapi karena di tempat itu cuman saya yang kebetulan memungkinkan, jadi terpaksa saya yang menolongnya.
Setelah itu, saya di minta salah satu guru sekolah, untuk meminta bawang di salah satu pemilik kantin sekolah, yang jual nasi, atau makanan cepat saji. Kemudian saya bergegaslah ke kantin, saat saya sampai di kantin, saya minta bawang kepada ibu kantinnya.
"Ibu saya boleh minta bawang merahnya?" kata ku kepada ibu kantin.
"Untuk apa?" tanya ibu kantinnya.
"Untuk teman saya yang kerasukan Bu." jujur ku kepada ibu kantin, karena itu memang untuk orang yang kerasukan.
"Ini, Tapi sebaiknya kamu nggak usah deket-deket sama orang yang kerasukan tadi." kata ibu kantinnya menasehatiku.
Aku sebenarnya bingung maksud ibu kantin itu. Cuman aku iyain aja, biar cepat selesai.
"Iya buk saya cuman diminta untuk ngambil bawang kok." kataku kepada ibu kantinnya. "Makasih ya Bu." kataku sembari berlalu meninggalkan ibu kantin tersebut.
Hari itu cukup melelahkan, karena temanku yang kerasukan terus memberontak. Tapi anehnya, terkadang temanku yang kerasukan itu memandangku.
Setelah kejadian itu kami belajar seperti biasanya, hingga sore hari. Sorenya kami kembali ke rumah masing masing. Saya menaiki sepeda saat itu, karena jarak antara sekolah dan rumah bibi saya tidak terlalu jauh.
Awalnya tak terjadi apa apa, namun saat menjelang malam, saya merasa ada yang aneh. Entah kenapa perasaanku tidak tenang.
Saya yang biasanya tidur di kamar sendirian, kini memilih tidur di samping bibi saya, di ruang keluarga.
Malam itu saya merasa gelisah, hingga tak dapat tidur. Akhirnya saya mulai tertidur pada, jam kurang lebih jam setengah dua belas. Saya masih ingat bibi saya yang meminta, Aya untuk segera tertidur karena besok harus ke sekolah, hingga akhirnya saya memaksakan untuk tidur.
Namun saat tidur saya justru bermimpi sedang di sekolah, tak lama kemudian saya masuk ke dalam kantin. Tiba tiba saya bertemu dengan seorang wanita asing, yang tiba tiba mencekik saya, hingga membuat nafas saya tercekal. Saya merasa sesak, hingga akhirnya kesadaran saya sedikit pulih. Di situlah saya merasa setengah sadar, namun tak dapat bergerak.
Hal tersebut biasa di sebut tindihan, namun menurut ilmiah sleep paralysis. Saya terus merasa tercekik, hingga akhirnya saya berusaha sadar, tak lama kemudian saya tersadar.
Saya terkejut, ketika melihat seluruh penghuni rumah, memandang saya dengan pandangan panik. Wajah mereka terlihat panik dan terkejut.
"Ada apa?" tanya saya kepada mereka.
Ke Esokan hari nya, saya terbangun. Namun anehnya rasa sesak masih menghampiri saya. Seperti seolah olah kemarin saya benar benar tercekik, Bakan sakit itu bertahan hingga tiga hari.
Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertanya.
"Kak sebenarnya kemarin malam aku kenapa?" tanya ku, membuatnya terdiam senejak, kemudian menarik nafas berat.
"Kemarin malam kau seperti orang yang yang kerasukan, suara yang keluar dari mulutmu buka seperti suara mu." kata kakak ku. "Karena itu kami berkumpul di untuk memastikan kau baik baik saja." lanjutnya.
"Kenapa tidak membangunkan ku?" tanyaku penasaran.
"Karena jika kau tiba tiba di bangunkan, maka dia akan benar benar masuk ke dalam tubuh mu." katanya membuatku benar benar terkejut.
Setelah kejadian itu setiap malam, sehabis magrib, selalu ada yang mengetuk pintu belakang. Awalnya saya kira itu tetangga saya suka belajar mengaji di rumah bibi saya. Jadi saya membuka pintu tersebut, tapi tidak ada orang. Saya celingak celinguk di dekat pintu, tapi tidak ada orang.
Awalnya itu hanya berupa ketukan, lama lama berubah jadi panggilan. Hingga membuat saya jengkel, dan mengira itu adalah hal iseng dari tetangga saya. Jadi setiap ada yang mengetuk, saya pura pura tak mendengar.
Namun ke esokan harinya, ketukan itu berubah menjadi panggilan.
"Ki..." panggil nya, dengan menyebutkan namaku.
Karena suaranya mirip dengan tetanggaku, yang belajar mengaji, jadi saya bergegas untuk membukakan pintu. Namun hasilnya nihil. Keesokan harinya terjadi lagi hingga seminggu.
Lama lama ketukan itu berubah menjadi salam, membuatku mengira itu adalah benar benar orang. Tipi saya tak mau di permainkan lagi, karena aku masih mengira itu adalah tetangga ku.
Namun alangkah terkejutnya diriku ketika mendengar suaranya tanpa melihat orangnya di sela sela saya mengintip. Saya pun memilih untuk kembali ke ruang keluarga, ternyata bibi saya masih disitu, sedang memanjatkan doa doa.
Setelah bibi saya menyelesaikan ritual sholat nya, saya memberanikan diri untuk bertanya.
"Bi tadi ada orang salam ga?" tanya ku memberanikan diri.
"Hah? Tidak tidak ada sama sekali." kata bibiku santai.
"Coba bibi ingat ingat." kataku mencoba meyakinkan.
"Emang ga ada, oh ya kenapa sekarang tiap magrib kok rajin banget buka pintu?" tanya nya heran dengan kelakuanku.
"Oh tidak." jawabku dengan sedikit gugup.
Tak lama kemudian ketukan kembali terdengar, kali ini saya mendengar nama bibi ku yang di panggil, membuat bibi segera berdiri. Ternyata itu adalah ibu ibu yang ingin mengaji, jadi aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Ibu kemarin datang jam berapaan semua? Ada yang ngetuk terus balik lagi ga?" tanya ku penasaran.
"Ga ah... orang datang selesai magrib, sebelum sholat isya. Katanya membuatku terkejut.
Yang saya pikirkan adalah, siapa selama ini yang saya buka kan pintu? Siapa yang memanggil nama saya? Siapa yang mengucapkan salam tadi. Tak mungkin anak anak, karena suaranya benar benar persis seperti ibu ibu ini. Saya diam dan memilih untuk masuk kamar, merenungkan semua.
Setelah saya fikir fikir, seharusnya sejak awal memang aneh, kenapa saya yang letaknya jauh, bisa mendengar ketukan itu dengan jelas. Jika di memang ibu ibu, tidak seharusnya dia memanggil nama ku.Namun pastinya memanggil nama bibi ku, sayang statusnya sebagai gurunya.
Hi... saya Kang Ana (nama penaku), kemarin saya sudah menceritakan tentang panggilan di kala magrib, nah sekarang saya mau cerita tentang pengalaman KKN saya.
Di tahun 2019 saya melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN). Pada saat itu bulan Juni, dan berakhir pada bulan Juli. Karena itu berlaku satu bulan.
Pada awal kepergian ibu saya memang wanti wanti, tentang banyak hal. Yaitu menghormati adat istiadat setempat, tidak bersikap sembarangan, dan lain lain. Saat itu saya hanya mengiyakan saja.
Tak lama kemudian hari keberangkatan kami, di dalam group kami terdiri dari dua puluh orang, dua belas perempuan dan delapan laki laki.
Kami mengenakan bus pariwisata, kemudian untuk masuk ke perkampungan, tidak terlalu jauh dari jalan raya. Kita bisa berjalan kaki, ataupun menaiki motor. Desa yang kami tempati ini cukup cantik, dan kaya akan sumber daya alam. Tempat ini biasanya adalah tempat di mana, biasanya menjadi tambang emas.
Karena barang yang banya, kami masuk ke desa itu menggunakan mobil bak terbuka di belakang, dan melakukan dua kali angsuran.
Setelah sampai, kami di arahkan di rumah salah satu warga. Semetara tempat cowok itu berada di sebrang jalan berkisar hanya berbeda sekitar 5 meter. Mereka menempati rumah warga juga, namun mereka tinggal di ruang tamu warga tersebut. Sementara tempat kami memasak adalah di tempat cowok.
Sementara di tempat kami. Kami tinggal di rumah warga lain, dengan rumah yang besar, dan hanya di tinggali lima orang. Pemilik rumah tersebut, segera mengarahkan kami ke salah satu gudang miliknya, yang akan kami jadikan sebagai tempat tidur.
Gudang tersebut berada di balik kamar pembantu, yang telah kosong selama lima tahun terakhir. Karena mereka sudah tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Sementara kamar pembantu, berada di dapur, dan berdampingan dengan kamar mandi.
Jadi keadaan tempat itu ketika kami datang, masih sangat berantakan, dan lembab. Karena bersebelahan dengan kamar mandi, dan tidak pernah di tempati selama hampir lima tahun.
Kami datang langsung melakukan bersih bersih, di bantu oleh pemilik rumah. Ruangan kami itu, tertutup dan tidak ada ventilasinya. jadi hanya lampu redup yang menjadi penerangan kami, dan jika itu mati lampu, maka ruangan kami akan gelap gulita, tak ada pencahayaan sama sekali.
Awalnya semua baik baik saja, namun saya sedikit kurang nyaman. Tetapi berusaha membuat diri saya senyaman mungkin. Di tambah lagi karena dari fakultas yang berbeda beda, akhirnya kami kurang akrab.
Hari pertama di mulai, jadi kami mulai berkumpul. Kebetulan saat itu saya mulai akrab dengan ketua posko, ketua posko kami itu, adalah laki laki. Kami sedang bercanda gurau, sembari membicarakan banyak hal.
Namun tiba tiba pembicaraan kami, berpindah ke arah horor, membuat ketua posko kami mengatakan bahwa dia adalah anak indigo. Karena kurang yakin, akhirnya saya mengaiya iyakan nya saja.
Mungkin karena dia melihat keraguan di mata saya, makanya dia tiba mengatakan hal yang aneh, dan mengejutkan.
"Kamu harus hati hati ki, kamu mudah melihat dan mendengarkan mereka." katanya sembari memegang kepala saya.
Saya terbengong mendengarkan kata kata dari dia, membuat saya mencoba mencerna semua kata katanya.
"Selama ini kamu sering di ganggu ya?" tanya nya lagi, membuat kami yang ada di situ terkejut menerima penuturan nya kepada ku.
Saya bingung mau menjawab apa, takutnya saya mengatakan ya. Membuat teman temanku mulai bertanya banyak hal, dan jika aku bilang tidak saya akan berbohong. Jadi saya memilih untuk diam.
Setelah kejadian itu semua baik baik saja, namun suara suara, saat tengah malam, seperti ada orang yang berjalan menggunakan sendal kayu, sehingga suaranya begitu nyaring, terkadang membuatku tak bisa tidur. Suara itu berasal dari luar kamar yang kami tempati, terkadang juga ada keributan, membuatku sedikit terganggu.
Terkadang aku melihat temanku berada di dua tempat, satu yang berada di kamar dalam, dan yang satunya lagi berada di meja makan. Aku terdiam dan memilih untuk diam diam saja. Karen aku tahu, mungkin dia hanya ingin menyapa saja.
Setelah kejadian itu, tak terjadi apa apa. Sampai akhirnya, pemilik rumah tersebut, masuk rumah sakit, karena kandungannya yang lemah, dan umur cukup tua untuk melahirkan, serta penyakit bawaan. Membuatnya harus ke kota. Jadi tinggallah putri pertamanya, yang menemani kami.
Saat malam sehabis magrib, kami melakukan kegiatan pengajian di mesjid, sekaligus pembentukan remaja mesjid untuk masyarakat.
Saat itu saya tidak di perbolehkan pergi dengan anak pemilik rumah, karena meminta untuk di temani. Jadi saya menyetujui hal itu, dengan meminta izin kepada ketua posko kami.
Saat selesai meminta izin, kepada ketua posko saya. Saya segera keluar dari rumah, yang di tempati laki laki. Saat berada di jalan seberang, saya tampa sengaja melihat seorang wanita dengan tinggi hingga sebalkon rumah. Sementara balkon itu setinggi kurang lebih tiga meter. Saya terdiam melihat wanita itu.
Wanita itu mengenakan baju berwarna merah, dan seluruh badan hingga wajahnya berwarna merah, sementara lidahnya di julurkan hingga mencapai perutnya. Matanya melotot memandang saya, dengan sanga menyeramkan.
Namun anehnya, saya hanya merasa biasa saja, tidak takut sama sekali, seolah itu adalah hal biasa. Meskipun saat itu kami bertemu pandang. Tak lama kemudian teman saya datang dan langsung menegur saya.
"Eh Ki ngapain?" tanya nya, membuat saya terkejut.
"Eh engga kok." kata ku memandang ke arahnya, berpura pura tenang.
"Iya lah aku pergi dulu ya." kata temanku meninggalkanku.
Setelah temanku pergi, saya hanya di luar, memikirkan semua. Sementara anak pemilik rumah tersebut, ikut bergabung dengan ku.