It'S Me

It'S Me
BAB IX KEMBALI



“Titi, Clarissa, kinerja kalian baik. Sejumlah pekerjaan ini dapat kalian kerjakan dengan cepat dan hasilnya cukup memuaskan”, ucap Ibu Risma.


Titi dan Clarissa saling melirik dan tersenyum, keduanya mengucapkan terima kasih atas apresiasi dan pujian dari ibu Risma.


“Ti, anak baru itu berbakat juga, bisa menyelesaikan pekerjaan kita berdua hanya dalam waktu satu malam dan hasilnya bagus”, ucap Clarissa.


“Aku senang, tanpa harus bekerja mendapat pujian. Pujian itu memang pantas untukku, bukan untuk dia”, ucap Titi merasa bangga.


Mereka berdua lalu kembali ke meja kerja masing-masing.


Sementara Ana yang melihat keduanya, tidak sabar untuk bertanya ke Sisi dan dengan segera


menarik lengan Sisi untuk menuju pantry.


“Si, itu yang mereka serahkan, hasil kerja kamu?” tanya Ana.


Sisi hanya diam dan mengangguk.


“Gak bisa, itu bukan kerja mereka”, ucap Ana kesal.


“Udah gak apa-apa, anggap aja aku karyawan baru dan lagi magang. Memang butuh banyak latihan kerja”, ucap Sisi tersenyum.


Sisi tak menampik jika ia cukup merasa sedih, itu adalah hasil kerjanya. Ia lebih memilih mengalah, dan tidak ingin menambah masalah.


“Kalau kamu begini terus, akan ada kejadian kedua, ketiga, dan seterusnya Si”, ucap Ana.


“Enggak, lain kali aku akan tolak mereka”, ucap Sisi.


“Janji ya, kamu jangan mau ditindas sama dua orang itu”, ucap Ana.


“Iya”, ucap Sisi.


Mereka berdua lalu kembali dan melaksanakan pekerjaan mereka masing-masing. Ana memilih


untuk fokus bekerja, untuk melupakan rasa kesalnya. Sedangkan Sisi memilih untuk melupakan tingkah mereka, yang menurutnya tidak ada manfaatnya sama sekali.


Hari ini, Sisi pulang tepat waktu dan tidak langsung pulang ke rumah. Ia ingin jalan-jalan melepas penat bekerja dengan pergi ke pusat perbelanjaan. Meski hanya sekedar, makan atau jajan milktea boba kesukaannya.


Sisi sudah membeli segelas milktea boba, dan duduk di salah satu sudut tempat duduk yang telah tersedia. Sisi minum sambil scroll media social miliknya, dan ada satu notifikasi pesan yang masuk.


Sisi, aku sudah kembali , bunyi pesan teks itu.


Sisi tersenyum, dan senang. Ia lalu membalas pesan itu.


Welcome, gimana kabarmu Iz?, balas Sisi.


Sisi menunggu balasan dari si pengirim pesan, tapi belum juga ada balasan.


‘Mungkin lagi sibuk’, pikir


Sisi.


Tak lama balasan pesan kembali masuk.


Kamu dimana?


Sisi tidak mengetik balasan apapun, hanya mengirimkan share location. Tak ada balasan lagi.


‘Iz, sejak SMA kamu gak berubah, kebiasaan gak jelasmu tetap ada’ pikir Sisi.


“Permisi, tempat duduk ini kosong Nona?” suara seorang laki-laki.


Saat sisi menengadah untuk melihat siapa yang sedang berbicara. Sisi seketika tersenyum


sumringah, dan langsung berdiri.


“Ehm..hmm” ucap Sisi.


Ishak hanya menunggu kalimat yang akan Sisi lontarkan.


“Maaf ya, tempat duduk ini milik sahabatku. Namanya Ishak, dan aku sedang menunggunya” ucap Sisi senang.


“Oh, kebetulan sekali. Namaku juga Ishak, apakah aku sahabat yang Anda maksud?” tanya Ishak tak kalah usil.


“Silahkan” ucap Sisi.


Ishak lalu duduk, dan memandangi Sisi yang dengan santainya masih meminum milktea boba nya.


“Kamu gak mau beliin aku minum, untuk menyambut kedatanganku kembali ke negeri ini?” tanya Ishak.


“Kamu mau minum apa? Masih seperti biasa hot chocolate?” tanya Sisi.


“Yup. Good girl”, ucap Ishak seraya mengacungkan jempol.


Mereka mengobrol panjang lebar, dan sesekali mengenang masa-masa SMA. Sebelum Ishak harus berangkat ke Canada dan menempuh Pendidikan di Toronto University. Ishak merupakan satu-satunya sahabat laki-laki yang Sisi miliki. Ishak sangat baik dan tulus kepada Sisi, meskipun status sosial mereka ibarat bumi dan langit.


Ishak merupakan anak dari keluarga terpandang, ibunya salah satu anggota dewan parlemen sedangkan ayahnya seorang pengusaha dan Ishak merupakan anak tunggal. Sejak SMA banyak sekali, teman-teman SMA perempuan yang berusaha mendekati Ishak. Namun, Ishak hanya menanggapinya dengan santai dan memilih untuk tetap ramah kepada siapapun.


“Si, kamu sekarang masih tinggal sendiri?” tanya Ishak.


“Masih. Kenapa?” tanya Sisi.


“Gak, kamu sekarang kerja di perusahaan mana?” tanya Ishak.


“Perusahaan Jiankang” jawab Sisi.


“Pelan-pelan Iz minumnya, kamu kaya anak kecil. Minum coklat panas aja tersedak”, ucap Sisi sambil tersenyum.


“Darren Sanata”, ucap Ishak.


“Kok kamu tau nama bosku?” tanya Sisi keheranan.


‘Apa Tuan Darren sampai sebegitu terkenalnya, sampai Ishak yang udah bertahun-tahun berada di Canada sampai kenal juga sama Tuan itu’, pikir Sisi.


“Si, Darren itu salah satu temanku di Canada. Dia itu Gila, si”, ucap Ishak.


“Hah? Gila? Maksudmu gak waras? Kamu bohong Iz”, ucap Sisi sambil geleng-geleng dan kembali meminum minumannya.


“Maksudku bukan gila dalam artian sebenarnya, Si. Ya ampun, udah berapa tahun kamu masih


sepolos ini. Selama ini kamu gak bergaul sama orang-orang?” celoteh Ishak.


“Lanjut.. lanjut… jelasin maksudnya gimana”, ucap Sisi penasaran.


“Darren, manusia satu itu. Aku gak ngerti otaknya terbuat dari apa, atau itu manusia makan apa. Gila, dia pinter banget”


“Dia itu hanya lebih tua satu tahun dari kita Si, dan aku kuliah di Toronto untuk ambil gelar strata 1 sedangkan dia sedang menyelesaikan S2 nya. Aku dan Darren udah kenal sejak SMP, dia itu masuk kelas akselerasi, SMA juga gitu. Dan dia kelar S1 di Toronto gak sampai empat tahun. Setelah itu langsung lanjut S2 sambil membangun perusahaannya sendiri, dia melanjutkan S2nya di Harvard


University.” Ucap Ishak panjang lebar.


“Hmm.. aku sudah mengerti maksud gila yang kamu katakan Iz”, jawab Sisi sambil menggangguk-angguk dan berpikir.


“Masih belum selesai Si, kamu tau kan perusahaan tempatmu sekarang bekerja bukan perusahaan kecil?” tanya Ishak.


Sisi hanya mengangguk.


“Itu lagi gila nya Darren, dia bisa bangun perusahaan sambil kuliah. Dan perusahaannya hanya dalam beberapa tahun aja sudah bisa sebesar sekarang. Kok bisa? Rasanya aku gak mau percaya, tapi ini kenyataan”, ucap Ishak sedikit frustasi dengan kecanggihan Darren.


“Ternyata Tuan Darren, orang yang luar biasa ya Iz. Selama ini aku Cuma tau, dia sekedar boss muda yang digandrungi para wanita”, ucap Sisi tanpa sadar menggigit ujung sedotannya.


Ishak menaikan satu alisnya.


“Kamu juga ngefans sama dia?” tanya Ishak rasa tidak percaya.


“Hah? Aku?” tanya Sisi sambil menunjuk dirinya.


“Enggak lah Iz”, jawab Sisi santai.


“Ternyata hatimu masih sekeras dulu ya Si, jangan bilang sampai sekarang kamu gak pernah jatuh cinta atau pacaran” ucap Ishak.


Sisi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan Ishak hanya berdecak-decak.


“Kenapa sih Iz? Emang kalau belum jatuh cinta gak normal?” tanya Sisi mulai sebal.


“Iya, kamu abnormal” jawab Ishak sambil terkekeh.


“Tau ah, terserah” Sisi menyudahi obrolan dan memilih membaca komik melalui aplikasi di


handphonenya.


Ishak yang melihat gerak-gerik Sisi yang mulai cuek, tak kehabisan akal. Ia lalu melakukan panggilan video ke Darren. Tak lama panggilan itu dijawab oleh Darren.


“What’s up Darren!” ucap Ishak.


“Do you have something to tell me? If you don’t….” ucap Darren terpotong.


“Tuan, aku baru saja kembali ke negeri ini dan belum makan. Boleh kan numpang makan di


mansionmu?” tanya Ishak.


“No”, jawab Darren pendek.


Ishak lalu membalik kamarenya dan memperlihatkan Sisi yang tengah melihat ke arah Ishak.


“Iz, kamu video call siapa?” tanya Sisi gusar.


“Tuan Darren, beri contoh yang baik ke anak buah dong. Masa gak mau menjamu tamu” ucap Ishak.


Darren terkejut melihat Sisi muncul di layar handphone Ishak dan menyapa Ishak dengan panggilan akrabnya.


‘Apa mereka dekat?’ pikir Darren.


“Darren, I’m hungry. Please”, ucap Ishak.


“Yes”, jawab Darren dan panggilan seketika ditutup.


“Si, ayo kita ke mansion Darren buat makan”, ucap Ishak bergegas berdiri.


“Hah? Kamu ke rumah Tuan Darren Cuma buat makan? Apa kamu udah gak punya uang?” tanya Sisi sebal.


“Kapan lagi bisa makan di rumah orang pintar Si. Biar kita ketularan pintar”, ucap Ishak sambil


tertawa.


“Kita?!” sanggah Sisi.


“Iya, iyaa, iyaa, only me. Okay? Are you satisfied now?” ucap Ishak.


Sisi hanya tersenyum dan berjalan mengikuti Ishak.