
Sudah tiga bulan berlalu, kini El Barack tengah menunggu kehadiran buah hatinya. El Barack sedikit gelisah ketika melihat istrinya terus bergerak kesana kemari. El Barack terus mengikuti istrinya, membawakannya air dengan sigap. Di bantu oleh Ellie dan kedua orang tuanya, kini pakaian Jessica telah tersedia sejak tiga hari yang lalu. El Barack bahkan tiga hari ini selalu menunggui dan mengekori istrinya, kemanapun dan dimana pun.
Tiba tiba sebuah rintihan Kelu dari bibir Jessica, perutnya tiba tiba seperti keram namun juga seperti ada sesuatu yang ingin keluar. Buliran bening juga telah turun di kakinya, El Barack panik sendiri. El Barack segera mengangkat tubuh istrinya, berteriak meminta pertolongan.
"Tolong tolong..." teriakan El Barack membuat seisi rumah keluar menemui El Barack, sementara nyonya Chris melihat sang menantu segera berlari mendekat, nyonya Chris segera menenangkan anaknya.
"Tenang, ayo ke rumah sakit, istri mu hendak melahirkan," ujar nyonya Chris membuat El Barack tersadar dari kepanikannya. El Barack segera berlari ke arah garasi. Sementara Ellie telah terlebih dahulu turun dan membawa pakaian kakak iparnya masuk ke dalam mobil.
El Barack terus mengusap tetesan keringat dingin di kening istrinya, El Barack takut terjadi sesuatu kepada istrinya. "Jes... Jes bangun, jangan begini kau pasti kuat, jangan tutup mata mu," ujar El Barack terus mencoba menjaga kesadaran istrinya.
"Sa...ki...t," Jessica terus mengeluh sakit, bahkan kini bibirnya ia gigit.
"Jes, buka kaki mu," ujar nyonya Chris, menenangkan Jessica. Nyonya Chris tahu pasti ini sangat sakit, terlebih jika baru kehamilan pertama.
"Ma...lu... ma," Jessica berujar pelan membuat nyonya Chris menggeleng. Di saat begini menantunya masih saja memikirkan malu nya, tapi jika di ingat ingat ketika hamil El Barack dirinya juga begitu.
"Tidak apa apa sayang, ini emergency, jadi tidak apa apa," ujar nyonya Chris. "Demi kelancaran melahirkan anak kamu sayang," Jessica membuka kakinya ketik mendengar nasehat ibu mertuanya. Jessica menangis menggigit bibirnya, merasakan perutnya yang seolah ada yang mendorong keluar, seperti ingin buang air besar, namun di tempat pembuangan air kecil.
Sesampainya mereka di rumah sakit, El Barack segera memanggil suster untuk meminta banker, beberapa perawat datang membawa banker mendorongnya menuju ICU, mereka akan segera membawa mereka ke kamar pasien khusu ibu hamil. Dokter menyatakan ibu ini masih berada di pembuluh tiga jadi butuh waktu kurang lebih kurang lebih delapan jam lagi untuk anaknya keluar.
El Barack yang melihat istrinya kesakitan, menjadi tak tega sendiri, rintihan di wajah istrinya membuat El Barack ketakutan sendiri. Terlebih ketika ibunya mengatakan bahwa melahirkan adalah pertarungan hidup dan mati seorang wanita, demi sebuah nyawa yang lain. Semakin membuat El Barack frustasi. El Barack mengusap sudut matanya yang hampir saja meneteskan air mata, Ia harus kuat, agar istrinya tidak bertambah cemas.
"Sayang anything gonna be alright ok," El Barack terus berucap di samping istrinya, Jessica hanya mengangguk mengerti maksud dari El Barack.
"Sayang minum ini dulu," ujar nyonya Chris membawa sebuah ramuan berwarna hitam atau yang sering di sebut kopi.
"Mi itu kopi untuk apa ni?" El Barack terkejut melihat minuman yang di bawa ibunya untuk istrinya.
"Ini kopi tanpa gula, alias kopi pahit. Mami dulu minum ini sebelum lahiran kamu, soalnya kamu sudah lahirnya," ujar nyonya Chris membuat El Barack menggeleng. Belum sempat El Barack mengehentikan aksi ibunya, minuman itu telah tandas di minum oleh Jessica.
Berselang lima menit, tiba tiba perut Jessica bereaksi, ada dorongan kuat dari dalam perutnya. "Aaaa..." Jessica kesakitan bukan main. Dirinya terus memegangi perutnya. Ellie memanggil dokter untuk kakak iparnya. Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksanya.
El Barack ikut di samping istrinya yang hendak melahirkan. Karena jarak antara ruangan yang di minta El Barack dengan ruangan bersalin membuat mereka berlari terburu buru. Sehingga tanpa sadar El Barack melewati Linda yang juga terburu buru menuju kamar rawat inap Putra. Baru saja Linda mendapat telepon dari Anisa bahwa keadaan Putra tiba tiba kembali drop.
Akhir akhir ini kesehatan Putra memang sedikit menurut, sehingga Atala memutuskan untuk libur sejenak, takut terjadi sesuatu kepada anaknya. Atala dan Anisa menunggui dari luar ruangan Putra, tampak jelas kecemasan di wajah mereka. Linda pun tak kalah cemas, ia takut terjadi sesuatu kepada anak tersebut.
Memang perjuangan Putra sangat baik, sembilan bulan ia berjuang melewati penyakit tersebut. Melawan vonis dokter, dan melewati tanpa kasih sayang seorang ibu.
Dokter keluar dengan wajah lesu, Pasien telah hebat melawan penyakitnya hingga saat ini, namun kini pasien tak lagi dapat bertahan. Mohon maaf kami telah berjuang sebisa mungkin, tapi pasien tak dapat kami selamatkan," sungguh dokter itu pun berat menyampaikan hal tersebut, Atala yang mendengar hal tersebut segera masuk dan melihat putranya telah terbaring lemah, seluruh alat alatnya kini di cabut dari tubuhnya.
"Cepat pasangan kembali, anak ku harus selamat, anak ku harus selamat," teriak Atala panik melihat keadaan anaknya, ini yang Atala takutkan selama ini, ia tidak punya semangat hidup kanbali. "Cepat aku katakan cepat pasang kembali, anak ku pasti selamat, kalian jangan bermain main."
Linda memeluk Atala dari belakang, sementara Anisa memeluk tubuh tak bernyawa Putra. "Kak sabar kak, kami masih ada kak, kakak jangan begini."
"Tidak Linda katakan pada mereka anak ku baik baik saja, cepat katakan pada mereka," Atala mengguncang tubuh Linda, membuat Linda kesakitan. "Cepat mereka cuman bercanda bukan?"
"Kak sabar kak," Linda kembali menenangkan Atala, Atala baru saja membanting infus yang terpasang membuat semua orang terkejut. Atala mendorong Linda hingga kepala gadis tersebut terbentur tembok. Anisa terkejut melihat sahabatnya terjatuh. Beberapa perawat segera membantu Anisa, kepalanya terluka, meski tidak parah.
Atala tak perduli, laki laki itu mengguncang dan memeluk anaknya, terus meminta Putra untuk bangun dari tidur panjangnya dan untuk selamanya. "Bangun sayang papa mohon bangun, kamu jangan bercanda, papa tak suka sayang. Ayo bangun," raung Atala terus mengguncang, memeluk dan mencium Putra berharap anak tersebut bangun. Dokter datang dan menyuntikkan obat penenang kepada Atala.
"Sayang bangun, papa mohon bangun, sayang maaf papa tidak bisa menyelamatkan mu..."
"Sayang bangun..."
"Sayang bangun..."
Lambat laun suara Atala semakin kecil dan semakin hilang, hingga hilang dan hening.
Suara tangisan terdengar di ruangan bersalin, seorang bayi telah lahir, dan El Barack tampak kelelahan dan berantakan, keluar dari ruangan bersalin. "Jagoan, jagoan kita keluar."