
Setelah itu Gu Ana segera menuju ke tumpukan hadiah dari para mentri muda dan beberapa penggemarnya. Saat Gu Ana ingin mendudukkan pantatnya di sisi ranjang, Gu Ana baru menyadari kehadiran pangeran Zang Limo.
Saat Gu Ana kembali berdiri pangeran Zang Limo menarik lengan Gu Ana hingga terduduk di pangkuannya.
“Pangeran apa yang anda lakukan?” tanya Gu Ana dengan datar, sambil memberontak.
“Ku mohon maafkan aku.” Kata pangeran Zang Limo menenggelamkan wajahnya di pundak Gu Ana.
“Apa yang harus saya maafkan? Di antara kita tidak ada yang harus di maaf kan, sebaiknya anda keluar pangeran.” Kata Gu Ana dengan nada yang ketus.
…
Pangeran Zang Limo masih dengan setia memeluk Gu Ana di pangkuannya, sementara kepala pangeran Zang Limo masih berada di pundak Gu Ana.
“Aku sadar aku salah, aku terbawa emosi, aku sangat cemburu.” Jujur pangeran Zang Limo, dengan nada sendu.
Mendengar hal tersebut Gu Ana hanya menutup matanya mencoba menaha emosi yang sudah meluap luap.
“Maaf Pangeran, sebaiknya anda keluar, saya ingin beristirahat.” Kata Gu Ana dengan nada datar yang Ia miliki.
Mendengar nada bicara Gu Ana membuat pangeran Zang Limo memeluknya semakin erat.
“Tidurlah aku akan menemanimu.” Kata pangeran Zang Limo sambil membaringkan tubuh Gu Ana dengan lembut ke tempat tidur sisi kanan.
Gu Ana hanya tersenyum kecut mendengarkan kata kata dari pangeran Zang Limo.
“Pangeran sebaiknya anda keluar, saya takut harga diri pangeran akan terluka ketika tidur dengan wanita murahan seperti hamba.” Kata Gu Ana mengingatkan kata kata yang malam kemarn telah pangeran Zang Limo lontarkan untuknya.
Pangeran mendengar hal tersebut, pangeran Zang Limo kembali mengingat kejadian dan kata kata kasar yang telah lolos dari bibirnya.
“An’er aku sungguh minta maaf, aku hanya terbawa emosi saja saat itu, aku sungguh menyesal.” Kata pangeran Zang Limo dengan nada penyesalan, sambil terus memeluk Gu Ana.
Gu Ana hanya menghembuskan nafas kasarnya, hingga membuatnya kembali berfikir jernih, agar tak terpancing emosi sesaat.
“Pangeran saya ingin tidur, bisakah pangeran jangan memeluk saya seperti ini, saya sungguh tidak merasa nyaman.” Kata Gu Ana mencoba menepis tangan dari angeran Zang Limo.
Mendengar hal itu pangeran Zang Limo melepaskan pelukannya sambil tersenyum kecut, sambi memandang punggung Gu Ana yang tidur memunggunginya.
Pangeran Zang Limo hanya memandangi Gu Ana, hingga cukup lama, dan tertidur. Kini pangeran Zang Limo berulah memberanikan diri untuk memeluk Gu Ana, pelukan kali ini juga dihiasi oleh rasa bersalah yang sangat besar, dan takut akan kehilangan. Pangeran Zang Limo terus menerus mengeup kepala Gu Ana, hingga akhirnya Ia tertidur dengan memeluk Gu Ana.
Kini mentari telah bersinar, cahayanya kini masuk melalui celah celah fentilasi kamar Gu Ana. Sinar mentari kini menerpa wajah pangeran Zang Limo yang membuatnya terbangun, dan mencoba mengerjabkan matanya. Pangeran Zang Limo merasakan tingan mungil memeluknya, kini senyuman terbit di bibir pangeran Zang Limo.
“An’er, setelah ini kau akan menjadi pengantinku yang cantik.” Kata pangeran Zang Limo sambil mengecup kening Gu Ana.
Setelah itu pangeran Zang Limo segera menuju meja rias Gu Ana, lalu menarik salah satu laci, dan mengambil kotak yang berisi kalung pemberian dari Charibert. Pangeran Zang Limo memandangi kalung tersebut, lalu mengingat bagaiman Ia menarik secara paksa, lalu membuang kalung tersebu. Kemudian pangeran Zang Limo melihat kalung tersebut, dan memeriksa kerusakannya.
Pangeran Zang Limo tersenyum lalu memasukkan kalung tersebut kembali tempatnya dan menyimpannya di dalam hanfunya. Kemudian pangeran Zang Limo berjalan kea rah tempat tidur Gu Ana, untuk membangunkannya.
Pengeran Zang Limo mendudukkan punggungnya di samping Gu Ana, lalu tersenyum dan mulai membangunkan gadis tersebut.
“An’er bangun lah.” Kata pangeran Zang Limo dengan lembut, kepada Gu Ana, sambil mengecup dan mengelus kepala Gu Ana.
Gu Ana yang mendapatkan perlakuan tersebut hanya menggeliat tanpa membuka matanya, kemudian kembali menarik selimut hingga ke lehernya.
Melihat tingkah Gu Ana saat di bangunkan membuat pangeran Zang Limo tersenyum, pangera Zang Limo kembali teringat bagaiman ucapannya yang keluar begitu saja, hingga menyakiti Gu Ana. Penyesalan kembali menghampirinya, hanya senyum kecut kini yang menghiasi dirinya.
“An’er bangunlah, ini sudah siang. Waktunya untuk bangun, jangan tidur lagi.” Kata pangeran Zang Limo yang terus berusaha membangunkan Gu Ana.
Namun bukanlah Gu Ana, yang jika dibangunkan langsung bangun seperti gadis lainnya, Gu Ana adalah gadis yang suka bangun siang, hingga akhirnya terkadang sarapan pun tak sempat Ia lakukan.
“An’er, bangun, ayo bangun dan segera sarapan.” Kata pangeran Zang Limo dengan lembut, namun suara sedikit lebih dikeraskan.
“Iya, lima menit lagi, aku bangun lima menit lagi ya.” Kata Gu Ana dengan mata yang masih ter Kata Gu Ana dengan mata yang masih terpejam.
“An’er ini sudah siang, kau tak mau pergi ke penghormatan pagi kepada Ayahananda ya?” tanya pangeran Zang Limo.
Mendengar kata ayahanda, Gu Ana terbangun secara tiba tiba, dengan mata yang masih sedikit terpeja, mencoba mengumpulkan seluruh kesadaran yang tersebar. Setelah beberapa menit Gu Ana mengumpulkan kesadaran sambil mengerjakan matanya, Gu Ana segera memandang pemilik sumber suara yang membangunkannya.
“Pangeran kenapa anda di sini?” tanya Gu Ana memandangi pangeran Zang Limo, dengan mengangkat alis sebelah kirinya.
Melihat wajah ketidak sukaan Gu Ana, pangeran Zang Limo sadar betul bahwa Gu Ana belum memaafkannya. Bahkan hingga kini panggilannya belum berubah juga, pangeran Zang Limo hanya meremas selimut yang Gu Ana pakai, untuk meredam emosi. Pangeran Zang Limo sungguh tidak senang dengan panggilan yang Gu Ana sematkan.
“Apa yang kau lihat? Aku sedang membangunkan calon permaisuriku.” Kata pangeran Zang Limo sambil tersenyum penuh kasih sayang kepada Gu Ana.
Mendengar kata kata permaisuriku dari pangeran Zang Limo, sontak membuat Gu Ana tersenyum getir.
“Pangeran hamba tidak salah dengar? Bagaiman mungkin wanita serendah hambah, dan se murahan hambah bisa bersanding dengan anda pangeran.” Kata Gu An mengingatkan kembali kata kata dari pangeran Zang Limo.
Pangeran Zang Limo hanya tertunduk mendengarkan kata kata Gu Ana, sungguh kata katanya memang menyakitkan. Emosinya saat dalam keadaan cemburu sungguh membuatnya kehilangan akal fikirannya.
“An’er sungguh, maafkan aku harus bagaiman agar kau memaafkanku?” tanya pangeran Zang Limo. Sementara tangannya terulur mencoba menggenggam tangan Gu Ana.
…
Jangan lupa like and comment, tolong tinggalkan jejak ya biar author tambah semangat, dan punya masukan agar bisa memperbaiki kesalahan yang author buat, sip… ok.