
"Kalau yang ini?" Arkan kembali ketika melihat foto dirinya, tengah berpose dengan salah satu personil BTS. Meski itu hasil editan temannya, sungguh sangat mirip dengan yang asli, membuat siapa pun yang melihat akan mengatakan bahwa itu adalah asli.
Ariana sedikit tercekal, bagaiman cara menjawab nya, tidak mungkin mengatakan itu hanya editan, hanya akan menurunkan harga dirinya, tapi jika mengatakan itu nyata maka Arkan akan marah besar padanya.
"Itu hanya kebetulan Mas, maklum penggemar BTS." kata Ariana asal, meski begitu terdengar meyakinkan.
...
"Ga Mas ga suka, kamu sedekat ini sama cowok, pakai cium cium pipi lagi." protes Arkan melihat foto editan Ariana, yang tengah mencium salah satu anggota BTS.
"Iya Mas hapus aja." kata Ariana tersenyum manis ke arah Arkan.
"Ga papa ni mas hapus." kata Arkan meyakinkan, meski sebenarnya Arkan bahagia, karna Ariana mau mengorbankan foto tersebut, untuk dirinya.
"Iya ga papa, aku nurut kok sama Mas." kata Ariana sok menurut, padahal foto itu memang bukanlah sesuatu yang berarti untuk Ariana.
"Ya udah sayang, Mas hapus ya." kata Arkan menekan tombol hapus, di ponsel Ariana. "Makasih ya sayang, Mas cuman ga suka kamu foto kaya gitu dengan orang lain." kata Arkan sembari memeluk erat pinggang Ariana, yang saat ini berada di pangkuannya.
Ariana merebahkan badannya di dada bidang Arkan, dan segera memejamkan matanya.
"Mas cerita tentang Mas dong." kata Ariana sembari memejamkan matanya.
Arkan pun mulai bercerita tentang banyak hal yang terjadi di hidupnya, mulai dari kecil, hingga dewasa, tentang sekolah hingga lingkungan keluarga. Semua cerita dari suara Arkan, membuat Arian seperti mendengar dongeng, hingga akhirnya tertidur di dalam pangkuan Arkan.
Arkan menghentikan ceritanya, ketika mendengarkan nafas teratur, dari gadis pujaannya tersebut, kemudian Arkan mengecup kepala Ariana. Arkan mengangkat tubuh Ariana, menuju kasur empuk milik Ariana, kemudian mencium puncak kepala Ariana.
"Selamat tidur ya, sayang kamu pasti lelah." kata Arkan kembali mengecup puncak kepala Ariana. Kemudian beranjak meninggalkan Ariana, yang tengah tertidur dengan pulasnya.
Arkan keluar dari kamar Ariana, dan segera bergegas keluar dari rumah keluarga Hanvei.
Senyum sumringah tak pernah lepas dari wajah tampan Arkan, sehingga menambah Kadar ketampanannya. Arkan saat ini berada di dalam kantornya, sedang berkutat dengan dokumen dokumen yang harus di urusnya. Arkan terus berkutat dengan semangat, karna Arkan malam ini ada janji dengan keluarga nya.
Sementara di tempat lain Ariana terbangun, karna bunyi ponsel yang berdering. Ariana mengernyit melihat keberadaannya yang sudah sendirian, sementara Arkan sudah tidak menemaninya. Ariana mengalihkan pandangannya ke ponselnya, kemudian mengangkat nya.
"Kok ga masuk An?" tanya Bima. "Ni kami lagi ngumpul, kirain Max tau ruaoanya juga ga tau ya." kata Bima di ujung telfon sana.
"Kalian ke rumah aja, nanti gue certain." kata Ariana memutudkan telfonnya, kemudian beranjak ke kamar mandi untuk mandi.
Setelah tiga puluh menit, Ariana telah menyelesaikan ritual mandinya. Ariana segera duduk di depan meja rias, untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Ariana meraih ponselnya, dan mencari nomor ponsel Arkan.
"Halo Assalamualaikum sayang." sapa Arkan dengan lembut, di ujung telfon sana
"Halo Mas, udah berangkat? Maaf ya tadi ketiduran." kata Ariana cengengesan, sambil terus mengeringkan rambutnya.
"Sayang lagi ngapain kok berisik?" tanya Arkan penasaran.
"Lagi ngeringin rambut Mas, baru selesai mandi soalnya." kata Ariana cengengesan.
Arkan tersenyum mendengar kata kata Ariana, yang terkesan malu malu.
"Ya maklum kamu Kan habis tugas sayang, ya wajar dong kalau kecapean." kata Arkan mengerti akan keadaan Ariana, yang masih kelelahan menjalankan tugasnya. Apalagi Arkan pagi ini, membaca koran tentang keberhasilan angkatan militer, dan gabungan kepolisisan dalam menyelamatkan para sandra, di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Para petugas berhasil mengamankan semua sandra meskipun ada sedikit yang terluka, namun tidak parah. Sedangkan meski terjadi tembak menembak antar petugas Dan komplotan penyandra mereka masih bisa mengamankan, keadaan tersebut. Arkan tersenyum bangga dengan kerja gadis nya, keberhasilan gadisnya sangat gemilang, berhasil menyelamatkan nyawa, para sandra benar benar patut di ajungi jempol. Arkan melihat foto salah seorang petugas, yang Ia yakini adalah Ariana, saat menyamar menjadi pasien, namun tetap mengenakan masker kesehatan.
Kembali lagi ke tempat Arian, Arian turun ke meja makan, dan mendapati koran tentang dirinya, yang baru saja menyelamatkan sandra hanya tersenyum, kemudian meminta para asisten rumah tangga untuk menyiapkan makanan untuk nya. Setelah makan, terdengar suara emas Maxim membahana di ruang keluarga. Ariana segera beranjak, dan melangkahkan kaki menuju ruang keluarga, sambil membawa koran yang baru saja di bacanya.
"Kalin sudah datang?" tanya Ariana memandang Maxim, yang sudah melangkahkan kaki ke arah dapur, untuk mengambil cemilan. Sementara Bima dan Aldi hanya duduk melihat sekeliling.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanya banyaknya telah mendukung, e, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.
Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa uploadP