It'S Me

It'S Me
Episode 155



"Ais... jangan cubit lagi sakit Suaeb." kesal Ariana, sambil mengambil ponselnya, untuk bercermin.


Saat tengah bercermin, tiba tiba telfon genggam Ariana berbunyi, membuat Ariana kelabakan.


...


"Kenapa lo." tanya Maxim bingung melihat Ariana kelabakan.


"Max diam lo." kata Ariana akan mengangkat telfon.


"Halo. Assalamualaikum Om." Sapa Ariana, sambil meletakkan jari telunjukknya di bibir Ariana.


"Kapan kamu pulang?" tanya Arkan di ujung telfon sana.


"Nanti siang jam suabelasan an Om." kata Ariana.


"Kamu pulang sama saya." kata Arkan memerintah.


"Wah Om ga bisa, soalnya Ana hari ini ada latihan dengan pelatih, Ana juga dapat jadwal melatih." kata Ariana dengan kening mengkerut.


"Saya tidak mau tahu kamu balik dengan saya." kata Arkan dengan suara meninggi.


"Ga bisa Om, Ana juga Ada pelatihan. Kalau masalah kerjaan Kantor Ana bisa nurut, tapi kalau untuk satu ini ga bisa." kesal Ariana di balik telfon.


"Jangan banyak alasan, kalau kamu bilang begitu saya akan adukan kamu ke Om Erick." kata Arkan dengan emosi.


"Om cukup ya Om." Kata Ariana mematikan telfonnya, dan beranjak meninggalkan yang lain.


"Eh... baksonya belum di makan." kata Bimo, melihat ke arah Ariana yang sudah keluar dari kantin.


"Udah biar gue aja yang makan." kata Maxim mengambil alih makanan.


Sementara di tempat lain Ariana datang ke tempat Arkan. Ariana segera mengetuk pintu Arkan.


Tok.


Tok.


Tok.


"Masuk." kata Arkan, Arkan sedikit terkejut melihat Ariana, masuk dengan wajah kesal. Ariana segera masuk dan menutup ruangan Arkan. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya Arkan mengangkat alisnya.


"Om ayo lah... Ana mau latihan." kata Ariana memelaskan wajahnya.


"Di sana banyak laki laki Ana." kata Arkan sambil menghembuskan nafas kasar nya.


"Ya iya lah om, kalau banyak ceweknya di salon om." kata Ariana dengan mempertahankan wajah memelasnya.


"Ga... kamu itu di kampus saja centil, apa lagi di sana." kata Arkan sambil membereskan bekas nya.


"Om mana ada Ana centil." bantah Ariana sambil cemberut.


"Ana kalau kamu tidak kecentilan tadi itu apa?" tanya Arkan menaikkan satu alisnya.


"Yang mana Om?" tanya Ariana bingung, karna Ariana.


"Tadi di kelas dan di kantin." kata Arkan kesal dengan wajah Ariana yang seakan polos tak berdosa.


"Oh si Bima, wajar lah Om ngobrol ngobrol soalnya kan teman pertama di kampus." kata Ariana santai menyenderkan badannya di kursi. "Nah kalau di kantin tadi, temannya Bima di situ ada Maxim juga kok." lanjut Ariana memandang Arkan santai.


"Om cemburu ya." kata Ariana sontak membuat Arkan memicingkan alisnya.


"Om jangan bohong, Om lupa ya, kalau Ana mempelajari mimik setiap orang, dan psikologi orang." kata Ariana tertawa, melihat tingkah Arkan yang lucu saat salah tingkah.


"Pokoknya jangan dekat dekat, alasannya terserah saya." kesal Arkan melihat Ariana tertawa.


"Tau ah Om, pokoknya Ana mau pergi, nanti kalau mau ga bolehin Ana naik taksi." kata Ariana bergidik santai.


"Kamu..."


Krook.


Bunyi perut Ariana menghentikan kelanjutan omongan dari Arkan, Arkan segera menghela nafas kasar nya.


"Kamu belum makan?" tanya Arkan pada Ariana.


"Belum... tadi pas pesanan datang Om nelfon, bikin Ana kesal, jadi langsung ke sini." kata Ariana cemberut, sambil memegangi perut ratanya. "Dedek lapar ya, sabarya papanya ngeselin." kata Ariana mengusap perutnya, seolah sedang berbicara kepada seseorang yang berada di dalam perutnya.


"Kamu lagi ngapain? Ngusap kaya orang lagi ngandung gitu." tanya Arkan bingung dengan tingkah Ariana.


"Iya Om ala lagi ngandung..." kata Ariana santai memegang perutnya seolah sangat menyedihkan, membuat Arkan terkejut tak percaya. "Di perut Ariana sebenarnya ada dedek." kata Ariana dengan wajah sedihnya.


"Apa." teriak Arkan tak percaya.


"Iya Om... Dedek cacing." kata Ariana seolah sangat sedih.


"Apa siapa Ayah nya?" tanya Arkan terkejut dan narah. "Eh cacing?" kata Arkan baru tersadar maksud dari Ariana.


"Hehehe... laper Om." kata Ariana sambil cengengesan.


"Ya ampun Ana, kok ga bilang sih?" tanya Arkan jengah dengan tingkah Ariana.


"Kan perutnya udah bilang, lagian tadi juga udah bilang." kata Ariana cengengesan.


"Yaudah Ayo makan, kamu mau makan apa?" tanya Arkan membuka ponselnya.


"Nasi padang Om." kata Ariana sambil tertawa.


"Ya sudah kita makan di dalam aja, nanyi pesanan kita datang." kata Arkan sambil menyimpan telfon genggam nya di saku jas Arkan.


"Tapi kan Om, Ana boleh pergi kan? Kalau Om ga percaya sama Ana, Om boleh ikut deh." tawar Ariana dengan santai kepada Arkan.


"Terserah kamu." kata Arkan mengalah. "Lagian untuk apa kamu ke sana? Kamu akan ada misi lagi?" tanya Arkan penasaran.


"Ga gitu juga Om, tapi kita tetap harus berlatih, atau melatih anak baru." kata Ariana dengan santainya. "Lagian ni kalau sesuai dengan perkiraan Ana, sebentar lagi Ana akan ke Korea." kata Ariana santai.


"Untuk Apa?" tanya Arkan. "Memang harus kamu?" tanya Arkan.


"Harus Om, ini sama seperti panggilan hati." kata Ariana dengan wajah serius.


"Jadi harus kamu?" tanya Arkan.


"Ya Om... bentar lagi ada konser BTS, dan habis itu konser Kim Bum." kata Ariana membayangkan wajah BTS anggota personilnya dan Kim Bum dengan wajah imut dihiasi lesum pipi yang menggemaskan.


...


Hi salam dari It's me, terimakasih sebanyak banyaknya telah mendukung, meramaikan, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.


Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.


Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload.1