
Di tempat lain tuan Gu, Gu Min, Gu Ana, Gu Jun dan pangeran Nan Cheng tengah dalam perjalanan menuju kerajaan Nan dengan kereta.
"An'er, jangan bersedih ayah, Min'er, dan Jun'er disini bersamamu." kata tuan Gu menghibur.
...
Mendengar hiburan dari tuan Gu, Gu Ana tersenyum manis, sambil meraih tangan tuan Gu.
"Ayah, apa anak mu yang cantik sejagat raya ini terlihat begitu menyedihkan?" Tanya Gu Ana sambil berpura pura cemberut.
Melihat Gu Ana kembali ceria, tampa ada kesedihan yang terpancar di matanya, membuat pangeran Nan Cheng tersenyum. Pangeran Nan Cheng tahu betul siapa sahabatnya ini, Ariana jelas tidak bisa bersedih terlalu lama, karna Ariana tak pernah menaruh hati terlalu dalam untuk orang lain.
"Jadi berapa persen kemarin kau menitipkan hatimu?" Tanya Pangeran Nan Cheng menggoda Gu Ana, sambil merangkul pundaknya.
"Ah baru seper empat tepatnya 25%, kau tahu aku baru mulai belajar mencitainya, tapi dia sudah begitu." kata Gu Ana sedikit sewot. "Nih ya, seharusnya dia bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas nikmat dan karunianya, telah mempercayakan aku yang catik jelita ini kepada nya." kata Gu Ana dengan menyombongkan diri, sambil mengibaskan rambutnya, hingga mengenai pangeran Nan Cheng.
Pangeran Nan Cheng yang ketiban rambut panjang, dan tak nikmat. Kini marah dan kesal kepada Gu Ana, hingga ikut mengibaskan rambutnya dengan sengaja dan mengenai Gu Ana. Karna Gu Ana merasa tak bersalah akhirnya Gu Ana emosi, dan kembali mengibaskan rambutnya ke arah pangeran Nan Cheng. Pangeran Nan Cheng yang kembali mendapat serangan tengah malam berupa rambut panjang dari Gu Ana, kini semakin kesan dan menarik rambut panjang Gu Ana. Kini mereka saling menjambak rambut, hingga akhirnya mereka di pisahkan oleh Gu Min.
Setelah lelah bertengkar dengan pangeran Nan Cheng, akhirnya Gu Ana tertidur di pangkuan Gu Min.
Sementara di tempat lain, pangeran Zang Limo, terus memeluk lukisan Gu Ana hingga tertidur dalam kesedihan dan penyesalannya.
Saat pagi menyingsing, pangeran Zang Limo terbangun dengan wajah sembab, karna menangis hingga tertidur. Tiba tiba pintunya di ketuk oleh seseorang dengan pelan.
"Masuk..." perintah pangeran Zang Limo, dengan nada berat.
Setelah mendengar kata dari pangeran Zang Limo, akhirnya orang tersebut segera masuk, dan dia adalah raja Zang Zuan dan ratu Xu Jian. Mereka datang dengan maksud menghibur pangeran Zang Limo, meski ini adalah salah dari pangeran Zang Limo sepenuhnya, namun raja Zang Zuan dan ratu Xu Jian juga tahu betapa besar cinta pangeran Zang Limo terhadap Gu Ana.
Ratu Xu Jian melihat keadaan pangeran Zang Limo begitu menyedihkan, segera menghampiri pangeran Zang Limo dan memeluknya. Meski ratu Xu Jian menyalahkan pangeran Zang Limo, namun juga tak tega dengan keadaan pangeran Zang Limo.
"Ayahanda tau kesedihan mu, jika kau memang mencintainya, maka yakinkan dia kembali, dan buang masalalu mu." kata Raja Zang Zuan sambil melihat keadaan anak nya yang saat ini terlihat kacau.
"Ayahanda, bagaiman jika An'er tak memaafkan ku? Aku tak bisa hidup tampa nya, aku sangat bodoh, Ayahanda bagaiman ini." lirih pangeran Zang Limo yang saat ini berada dalam pelukan ratu Xu Jian.
"Sebaiknya kita segera ke kediamannya, aku juga tak melihat An'er pagi ini, aku khawatir jika An'er ikut dengan tuan Gu pergi berdagang." kata Raja Zang Zuan, sambil melihat pangeran Zang Limo.
Pangeran Zang Limo tersentak ketika mendengar kata kata dari raja Zang Zuan, dan segera beranjak membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, pangeran Zang Limo bergegas ke tempat kediaman keluarga Gu bersama raja Zang Zuan dan ratu Xu Jian. Sesampainya mereka di kediaman keluarga Gu, mereka segera masuk ke gerbang utama, tempatnya masih terlihat sama, namun hari ini penjaga dan pelayan terlihat sedikit.
"Salam Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu setra Yang Mulia Pangeran." sapa seorang ketua pelayan tersebut.
"Tuan sudah berangkat sejak semalam Yang Mulia." kata pelayan tersebut menundukkan kepalanya.
"An'er, An'er di mana?" Tanya pangeran Zang Limo panik, saat mendengar bahwa mereka telah berangkat sejak semalam.
"Nona Gu ikut bersama tuan." kata pelayan tersebut dengan sedikit gugup karna takut akan kemarahan pangeran Zang Limo.
Mendengar hal itu, pangeran Zang Limo segera berlari menuju pafilium Gu Ana, sementara Raja Zang Zuan dan ratu Xu Jian hanya menghela nafas, dan meninggalkan kediam keluarga Gu.
pangeran Zang Limo yang frustasi akhirnya memasuki kamar Gu Ana dan benar saja, tempat tidur itu masih rapi, dan bahkan sangat dingin. pangeran Zang Limo tertegun, dan terduduk. Pangeran Zang Limo melihat sekitar Kamar tersebut, sambil menangis dan terus memanggil nama Gu Ana.
Bayangan ingatan pangeran Zang Limo kembali terputar, mengingat semua kenangannya bersama Gu Ana di dalam kamar tersebut. membuat pangeran Zang Limo kembali terisak, dan menyesali semua perbuatannya.
Sementara di tempat lain nya, Gu Ana masih terlelap di pangkuan Gu Min, Gu Min hanya bisa pasrah sambil memeluk pundak Gu Ana, sementara Gu Jun tidur di pangkuan tuan Gu, dan pangeran Nan Cheng tertidur sambil bersandar di samping Gu Min.
"Yang Mulia Pangeran, Tuan Tuan dan Nona muda kita telah sampai di kerajaan Nan." kata pelayan memberitahukan kepada mereka.
"Kita segera ke penginapan saja." kata tuan Gu kepada para pelayan dan penjaga.
Sementara kusir mendengar hal itu, segera memacu kuda hingga ke penginapan yang cukup berkelas di tempat tersebut.
"Tuan kita telah sampai ke penginapan." kata pelayan itu lagi.
"Ah kita telah sampai, ayo anak anak segera bangun." kata tuan Gu membangunkan pangeran Nan Cheng, Gu Min, Gu Ana dan Gu Jun.
Setelah mereka terbangun, mereka semua segera keluar dari tandu, sementara tuan Gu tengah menggendong Gu Jun yang saat ini masih terlihat kelelahan. Sementara Gu Min masih sibuk membangunkan Gu Ana yang saat ini enggan membuka matanya.
"An'er kita telah sampai." kata Gu Min mencoba membangunkan Gu Ana sambil mencubit pipi Gu Ana.
"Ah... Gege aku masih ingin tidur, sebentar saja lagi." kata Gu Ana mencoba menegosiasi Gu Min.
Melihat situasi tersebut Gu Min percaya Gu Ana tak akan bisa bangun dengan baik, sehingga Gu Min memutuskan untuk menggendong Gu Ana, dan segera membawanya ke restoran, penginapan tersebut. Sementara Gu Ana yang mendapatkan perlakuan tersebut, kembali terlelap dalam gendongan Gu Min.
...
Maaf teman teman kalau banyak Typonya soalnya ini ngetiknya pakai Hp. Laptopnya belum baik, besok baru bisa di ambil.