
“Ah… pangeran kenapa kau melakukannya?” tanya Gu Ana keheranan.
Bukannya menjawb pangerang Zang Limo justru menarik dagu Gu Ana dan me***at bibir Gu Ana dengan kasar\, lalu melepaskannya.
“Jangan pernah tersenyum, dan berbicara dengan nada seperti tadi kepada orang lain.” Kata pangeran Zang Limo sambil memandang Gu Ana, yang wajahnya masih memerah dan bingung.
“Jika kau menginginkan sesuatu kau bisa meminta padaku, kau boleh meminta apa pun, segalanya akan aku berikan.” Tegas pangeran Zang Limo sambil memandang Gu Ana.
Gu Ana yang mendapatkan perlakuan tersebut sangat bingung harus berbuat apa, Gu Ana sungguh tidak tahu perbuatan apa yang Ia perbuat kali ini, sehingga membuat pangeran Zang Limo begitu kesal, Gu Ana hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil terus memandangi pangeran Zang Limo.
...
“Ya Tuhan… ini anak kenapa lagi sih? Apa yang telah hamba perbuat? Kenapa hamba mendapatkan pasangan yang sebegini anehnya? Apa karna dulu aku suka menghina para bucin bucin di sekitar ku?” kata Gu Ana dalam hati, sambil mengutuk nasibnya yang mendapatkan pangeran yang terlalu overprotektif terhadapnya, ditambah sikap bucinnya yang aneh bin ajaib, yang sering kambuh setiap saat, dan tidak dapat di tebak, apalagi di kendalikan.
“Limo… kau ingin mendengarkan lagu ku untuk mu?” kata Gu Ana sambil tersenyum kepada pangeran Zang Limo, sembari berusaha menurunkan keanehan dari pangeran Zang Limo.
Mendengar kata kata Gu Ana, pangeran Zang Limo sungguh sangat bahagia. Seandainya saja saat ini sendirian maka ingin sekali rasanya pangeran Zang Limo melompat lompat karana kegirnangan. Namun saat ini pangeran Zang Limo hanya mampu tersenyum menawan di depan Gu Ana, gadis yang selalu membuatnya merasa takut akan kehilangan.
“Tapi tidak sekarang, sebentar lagi kita akan sampai di istana, nah kau akan mendengarkannya ketika kau ulang tahun, lagu ini ku persembahkan khusus untukmu.” Kata Gu Ana sambil cengengesan di depan pangeran Zang Limo. “Untuk saat ini aku hanya kan menyanyikan lagu yang lain saja.” Kata Gu Ana kembali.
“Kenapa tidak sekarang? Jika menunggu ulang tahun ku maka akan membutuhkan waktu satu bulan lagi.” Keluh pangeran Zang Limo.
“Tapi bukankah kau akan kuberikan lagu yang lain, yang tak kalah indah untuk mu.” Bujuk Gu Ana kepada pangeran Zang Limo, sambil menunjukkan gitar yang selalu Gu Ana bawa kemanapun.
“Baiklah aku akan menunggu kemanapun itu.” Kata Gu Ana kepada pangeran Zang Limo sambil tersenyum manis.
“Maaf Yang Mulia Pangeran Zang dan Nona muda Gu, kita telah sampai di Istana.” Kata pelayan sambil membuka tandu.
Pangeran turun terlebih dahulu, kemudian membantu Gu Ana turun dari keretanya.
“Limo sebenarnya aku bisa melakukannya sendiri.” Kata Gu Ana sambil tersenyum canggung, karna menjadi bahan tontonan orang orang.
“Tak baik bagi seorang pria tak menyambut dan mengistimewakan kekasihnya.” Kata pangeran Zang Limo sambil tersenyum menawan kepada Gu Ana.
“Aduh… full batrai, full batrai. Ngeliat yang bening bening gini mah pagi pagi, terus di perlakuakn gini mah, siapa juga bakalan senang.” Kata Gu Ana dalam hati.
Saat pangeran Zang Handrong dan pangeran Nan Cheng melihat hal tersebut, sontak membuat mereka tersenym bahagia.
“Wah… sepertinya mereka sudah berbaikan.” Kata pangeran Zang Handrong.
“Bukan kah semenjak meminta An’er menjadi kekasihnya, Limo telah kehilangan banyak harga diri.” kata pangeran Zang Handrong tak mau kalah.
“Maksudnya bagaiman?” tanya pangera Nan Cheng.
“Pertama, Limo harus menelan omongannya kembali, ketika mengatakan Ia tidak akan pernah jatuh cinta dengan An’er.” Kata pangeran Zang Limo mulai menggosipi pangeran Zang Limo.
“Dia benar benar termakan kata katanya sendiri.” Tawa pangeran Nan Cheng membahana ketika mendengarkan hal tersebut.
“Kedua, setelah bertunangan Limo juga pernah ketahuan Ayahanda tengan mencium Gu Ana di dalam pafiliumnya, tepatnya di dalam pangkuannya.” Kata pangeran Zang Handrong kembali.
“Apa paman kaisar melihat hal tersebut?” tanya pangeran Nan Cheng masi tidak percaya.
“Hm… untuk apa aku berbohong, kau bisa tanyakan kepada Ayahanda.” Jawab pangeran Zang Handrong meyakinkan.
“Ketiga, saat An’er sakit Limo kami pergoki sedang bermanja maja di perut An’er, limo memeluk An’er seperti sedang memeluk bantal guling, lalu menegnggelamkan wajanhnya ke dalam perut An’er, setelah itu kami semua melihat dengan langsung, bahwa pangeran Zang Limo mencium bibir Gu Ana, aku lihat dia sangat menikmatinya.” Kata pangeran Zang Handrong.
“Siapa saja yang ada di sana?” tanya pangeran Nan Cheng penasara,
“Ayahanda, Ibunda, Gege Liue, Gege Jade, dan tentu saja diriku.” Kata pangeran Zang Handrong.
Mendengar hal tersebut\, sontak membuat pangeran Nan Cheng tertawa keras dibuatnya. Sungguh sangat memalukan. Pangeran Nan Cheng memang berasa di dunia modern dengan waku yang lama\, dan juga terbiasa melihat orang lain ber****an\, bahkan pernah melakukannya. Namun kali ini berbeda\, mereka telah di peroki berkali kali di depan Raja dan Ratu di negri ini. Ini sama saja ber****an di dalam lift yang ada persidennya.
Setelah mereka melakukan penghormatan pangeran Zang Jade, pangeran Zang Limo, dan Gu Ana segera berjalan bersamaan. Kini Gu Ana telah bersiap siap menuju ruangan tertutup untuk mengganti hanfunya dengan hanfu yang telah Gu Ana bawa.
Setelah Gu Ana menggantinya, Gu Ana keluar dari ruangan tersebut, dengan mengenakan hanfu berwarna kuning terang bercampur dengan perpaduan merah jambu membuat orang orang melongo tak percaya.
"An'er kau akan mengenaka baju tersebut?" tanya pangeran Zang Jade.
“Tidak masalah kan?” kata Gu Ana dengan santainya, berjalan melewati pangeran Zang Jade dan pangeran Zang Limo yang masih melongo tak percaya.
“Nah Gege Jade ayo kita mulai.” Ajak Gu Ana kepada pangeran Zang Jade, dengan mempersiapkan ancang ancang.
…
Jangan lupa like and comment, tolong tinggalkan jejak ya biar author tambah semangat, dan punya masukan agar bisa memperbaiki kesalahan yang author buat, sip… ok.