
Setelah sampai ke pafilium, Gu Ana langsung saja istirahat, dan melarang siapapun untuk mengganggunya.
Saat malam tiba terjadi keributan di depan kamar Gu Ana hingga mengganggu tidurnya. Gu Ana segera bangun dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Saat membuka kamarnya Gu Ana dikejutkan dengan kehadiran pangeran Zang Jade, pangeran Zang Handrong, pangeran Nan Cheng, Xu Jiali, Xu Jiang, Gu Min, Gu Jun dan pangeran Zang Limo yang membawa sebuah kue untuk merayakan ulangtahun Gu Ana yang ke sebelas tahun.
“Kalian? Kenapa malam malam ke sini? Masuk lah” tanya Gu Ana bingung dengan kehadiran mereka.
…
“Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, selamat ulang tahun Gu Ana, semoga panjang umur” Mereka bernyanyi serempak saat merayaan ulang tahun Gu Ana.
“Siapa? Aku? Aku hari ini?” tanya Gu Ana bingung. “Ini masih tanggal 13 bukan tanggal 14.” Kata Gu Ana dengan kening berkerut, namun tiba tiba Gu Ana teringat sesuatu. “Oh iya… bagaimana mungkin aku lupa… terimakasih semuanya.” Kata Gu Ana kepada mereka semua, dengan nada haru, sambil terduduk menutup wajahnya.
“An’er ada apa? Apa kau menangis?” tanya Gu Min sambil duduk mensejajarkan diri dengan Gu Ana.
“Huaaa… aku fikir kalian akan lupa, aku fikir kalian masih marah, aku minta maaf aku tahu aku keterlaluan mengerjai kalian, lain kali tidak akan begitu.” Kata Gu Ana sambil menangis.
“Hahahaha… ayolah kami hanya mengerjaimu.” Kata Gu Min sambil memeluk Gu Ana.
“Kalian sungguh jahat…” kata Gu Ana sambil menangis tersedu sedu.
“Ayolah, ayo potong kue mu, aku sudah lapar” kata Gu Jun menyudahi acara pelukan Gu Min dan Gu Ana.
“Ah… Jun’er ku sayang, ayo peluk aku.” Kata Gu Ana merentangkan tangannya, bersiap untuk di peluk Gu Jun.
“Tidak, tidak kalau kau tak mau biar aku saja yang memotongnya dan memakannya.” Kata Gu Jun mengambil alih kuenya.
“Baik, baik.” Kata Gu Ana mengambil alih kuenya lalu memotongnya.
Setelah acara ulang tahunnya selesai semua kembali ke pafilium yang telah di persiapkan. Sedangkan Gu Ana bersiap siap untuk tidur kembali. Dan membaringkan badannya di sisi kanan ranjang sedangkan pangeran Zang Limo hanya duduk dan melihat Gu Ana
“An’er…” panggil pangeran Zang Limo dengan sambil memandang Gu Ana.
“Hm… ada apa Limo? Kau tak ingin tidur?” tanya Gu Ana sambil menguap karna masih merasa mengantuk.
“Berabaringlah jika kau berbicara.” Kata Gu Ana, sambil menepuk nepuk bantal.
“An’er apa kau mencintaiku?” tanya pangeran Zang Limo menghiraukan perkataan Gu Ana.
“Maksud mu? Apa maksudmu mananyakannya?” tanya Gu Ana seketika terduduk, ketika mendengar pertanyaan pangeran Zang Limo.
“Kau tahu, terkadng aku meragukan sendiri rasa cintamu terhadapku.” Kata pengeran Zang Limo sambil memandang Gu Ana dengan sendu.
“Apa yang kau fikirkan? Kau tahu aku bukan anak yang suka di paksa, dan sejak awal aku tak perna menolak pertunangan ini.” Kata Gu Ana dengan kening berkerut.
Mendengar kata kata Gu Ana pangeran Zang Limo tertawa miris sambil mengalihkan pandangannya ke arah kalung yang Gu Ana kenakan.
Gu Ana tertawa kesal mendengarkan penuturan pangeran Zang Limo, kenapa pria ini begitu egois? Padahal dialah dan yang lainya yang tidak ingin mengajak Gu Ana berbicara, Gu Ana hanya ingin memiliki teman berbicara.
“Lalu bagaimana dengan mu? Bagaiman dengan kalian? Kalian mendiamkan ku selama sepuluh hari, selama satu minggu aku tak tahu harus berbincang dengan siapa, aku tak tahu harus berbicara dengan siapa, apa kau juga memikirkannya?” tanya Gu Ana tak kalah emosi.
“Tapi tak harus begitu, kau sangat dekat dengan mereka, setiap saat bersama mereka, atau jangan jangan kau menyukai salah satu di antara mereka? Atau kalian memiliki hubungan khusus selama ini?” tuduh pangeran Zang Limo.
Tuduhan pangeran Zang Limo semakin membuat Gu Ana kesal, yang sejak tadi mencoba menahan amarah atas seluruh perkataan pangeran Zang Limo.
“Ada apa sebenarnya dengan dirimu? Bagaimana mungkin seseorang memiliki hubungan selama tiga hari? Aku rasa tuduhanmu tidak masuk akan pangeran.” Kata Gu Ana tak terima tuduhan pangeran Zang Limo.
Pangeran Zang Limo semakin kesal dan menarik paksa kalung yang Gu Ana kenakan, hingga terputus.
“Kau katakan saja kau tergoda dengannya kan?” kata pangeran Zang Limo melempar kalung Gu Ana dari Charibert.
Melihat pemberian Chalibert di lempar kan Gu Ana segera beranjak dari tempat tidurnya, dan memungutnya lalu kemudian memasukkannya ke dalam sebuah kotak.
“Kau jangan seperti anak kecil, apa kau fikir aku semudah itu memberikan hati ku.” Kata Gu Ana dengan nada yang sedikit lebih tinggi.
Melihat Gu Ana memungut kembali kalung tersebut, amarah pangeran Zang Limo kini semakin memuncak, dan sudah dikuasai oleh kecemburuannya.
“Heh… kau jangan terlalu munafik, aku dapat melihat ketertarikanmu dengannya, atau jangan jangan kau sudah memerikan tubuhmu kepadanya, hingga dia memberimu kalung berharga seperti itu.” Tuduh pangeran Zang Limo, sambil memandang Gu Ana dengan pandangan merendahkan.
Gu Ana mendengar perkataan tersebut sungguh menyakiti hatinya, Gu Ana hanya tersenyum miris mendengarkan perkataan pangeran Zang Limo.
“Mungkin memang benar perkataanmu, kalau begitu dari pada harga diri pangeran terluka karna bertunangan wanita munafik dan murahan seperti ku lebih baik pangeran membatalkan pertunangan kita, dan silahkan keluar dari sini.” Kata Gu Ana sambil tersenyum pahit sabil memandang ke arah lain.
Pangeran Zang Limo yang mendengarkan perkataan tersebut langsung beranjak dari tempat tidur tersebut.
“Baik terserah mu.” Kata pangeran Zang Limo beranjak keluar dari kamar Gu Ana.
Sebulum pangeran Zang Limo pergi meninggalkan kamar Gu Ana, Gu Ana mengucapkan sesuatu.
“Kau harus ingat sesuatu hal, hari ini kau mengabaikan ku maka besok aku bukan lagi jangkauanmu.” Kata Gu Ana dengan air mata yang sudah tak dapat lagi di bending.
Gu Ana sengaja menahan air matanya sejak tadi agar terlihat lebih tegar saat di hadapan pangeran Zang Limo.
“Aku rasa semua sudah berakhir, aku harap aku akan kembali ke Daddy dan kakak lagi, kalian tahu aku sangat merindukan kalian.” Kata Gu Ana memandangi lukisan Daddy nya dan kakak nya. “Kalian tahu? Aku sangat merindukan kalian, akan kah aku akan kembali suatu saat nanti? Ini sudah dua tahun lebih di sini, sungguh waktu yang sangat cepat berjalan.” Kata Gu Ana dengan lirih.
…
Jangan lupa like and comment, tolong tinggalkan jejak ya biar author tambah semangat, dan punya masukan agar bisa memperbaiki kesalahan yang author buat, sip… ok.