It'S Me

It'S Me
Duda Genit promosi



"Dunit," kesal Angel, sembari memandang wajah Daniel.


Daniel tersenyum melihat wajah kesal bercampur keterkejutan yang belum juga hilang. Hal ini membuat wajah calon istrinya itu semakin cantik.


"Sayang sampai di sana kita pergi lihat gaun dulu, jadi ga usah bawa gaun," kata Daniel sembari memegang tangan Angel yang tengah memegang gaun berwarna biru laut.


"Ah ga usah, tinggal senada-in aja sama jas kamu," kata Angel sembari memandang ke arah Daniel.


"No, no, no sayang... kamu itu calon istri Daniel Mark Rosyid, jadi semua yang ada harus ekslusif," kata Daniel membalas tatapan Angel.


"Aduh kenapa ribet banget sih, ketimbang ke pesta pernikahan doang," keluh Angel, membuat Daniel terkekeh.


Daniel memandang wajah Angel dengan seksama, kemudian mengecup bibir Angel. "Sayang dengerin saja kata calon suami kamu ini ya, biar belajar jadi calon istri yang baik."


Angel hanya menggeleng pasrah melihat ke arah Daniel, Angel tahu berdebat pun ia akan kalah. Karena Daniel tipikal orang yang malas untuk di debat.


"Iya iya..." kesal Angel membuat Daniel terkekeh.


Daniel segera menggendong Angel dan turun ke bawah, untuk segera makan malam bersama. Angel segera melingkarkan kakinya di pinggang Daniel, sementara tangannya lingkar di leher Daniel.


Angel meletakkan kepalanya di pundak Daniel, membuat Daniel tersenyum, dan mengelus punggung Angel.


"Dasar manja," kekeh Daniel, kepada Angel.


Daniel memang suka sekali memanjakan Angel, karena menurutnya hal yang paling menyenangkan adalah, ketik Angel menurut dan mania kepadanya.


Daniel segera menurunkan Angel di kursi makan, kemudian mendudukkan dirinya di samping Angel. Daniel tersenyum ketika melihat Angel dengan cekatan mengambilkannya nasi, dan opor ayam, untuknya.


Setelah itu mereka Angel segera menyodorkan makanan tersebut untuk Daniel, Daniel menerimanya, kemudian memeluk pinggang Angel.


"Sayang coba saja kamu sudah menjadi istri saya," kata Daniel mendongak ke arah Angel, karena Angel saat ini tengah berdiri. "Sayang pokonya setelah ini, kita harus segera menikah."


"Kenapa buru buru sih..." tanya Angel kembali mengambil nasi untuknya, dan juga lauk pauk. Angel tak menghiraukan tangan Daniel yang terus, melingkar di pinggang rampingnya.


"Karena saya sudah lama berpuasa sayang," kata Daniel terus terang kepada Angel, sembari tangannya mulai memegang bokong Angel.


"Dunit!" kesal Angel ketika tangan Daniel memegang bokongnya.


"Sayang mengerti lah, saya sudah lama menahannya, jangan membuat saya menunggu lagi," kata Daniel, kini mulai mengecup perut Angel, dari balik kaus berwarna putih tersebut.


"Dunit!" tegur Angel, membuat Daniel melepaskan pelukannya dari Angel.


"Sayang kalau kamu memang ada rasa dengan saya, tolong menikah lah dengan saya," pinta Daniel kali ini dengan wajah memelas.


"Dunit kita makan dulu, baru membicarakan ini," pinta Angel segera menyantap makanan nya.


Daniel tersenyum kecut, ikut menyantap makanannya. Ia juga merupakan manusia normal, memiliki kebutuhan biologis. Namun ia juga tahu, bahwa ia harus menghargai Angel, menjaganya. Karena itu ia terus menahannya.


Meskipun Daniel juga merupakan seorang casanova sebelum bertemu Angel, tapi setelah mengenal Angel, Daniel sudah tidak melakukannya lagi. Daniel takut jika Angel akan meninggalkannya. Karena inilah Daniel ingin sekali menjadikan Angel sebagai istrinya.


Setelah selesai makan mereka segera memasuki kamar Angel, tak ada percakapan di antara mereka. Mereka sama sama larut dalam pikirannya masing masing.


Daniel yang takut jika Angel tak benar benar mencintainya, sementara Angel yang masih ragu akan pernikahan atau pendidikannya.


"Sayang kamu benar benar cinta ga dengan saya?" tanya Daniel dengan wajah yang tertunduk.


Angel bingung harus menjawab apa, Angel pikir Daniel sudah mengerti akan perasaannya. Meskipun tampa harus mengatakannya. Angel memandang wajah Daniel dengan seksama, kemudian menarik nafas dengan panjang. Ya sepertinya ini lah saatnya ia harus berterus terang, dan mengatakannya dengan jujur kepada Daniel.


"Aku..." kata kata Angel terhenti, membuat Daniel menahan nafas, ketika akan mendengar penuturan Angel, tentang perasaannya.


"Jika aku ga suka suka sama kamu, ga mungkin aku terima ajakan kamu saat mengajakku kencan. Ga mungkin aku menerima kamu, saat meminta satu kamar denganku. Ga mungkin aku menerima ajakan kamu untuk bertemu dengan ibu. Ga mungkin aku menerima ci..." kata kata Angel berhenti saat akan mengatakan kalimat terakhirnya. Angel hanya bersemu merah, sembari menunduk.


Daniel yang mendengar penuturan Angel, segera tersenyum, dan memeluk Angel. "Apa ini artinya kamu menerima saya?"


"Menurut kamu," Angel tersenyum samar ketika mengatakannya.


"Kamu dari dulu memang calon istri saya," kekeh Daniel membuat Angel ikut terkekeh. "Jadi kamu menerima lamaran saya kan?" tanya Daniel, mengembalikan pokok permasalahannya.


"Ya coba saja hubungi Daddy," kata Angel melonggarkan pelukan mereka.


"Daddy bilang terserah kamu," kata Daniel, membuat Angel bingung.


"Kamu pernah ngomong sama Daddy?" tanya Angel.


"Iya kemarin, sebelum mereka berangkat, saya meminta kamu menjadi istri saya," jujur Daniel, membuat Angel menganga tak percaya.


Angel benar benar tak percaya, jika Daniel akan melakukan hal itu. Karena setahunya, Daniel tak pernah bertemu dengan Daddy-nya.


"Apa kamu bahagia sayang?" tanya Daniel kepada Angel. "Hm... baiklah, biar seperti pasangan pada umumnya, kita pacaran saja dulu, tapi bulan depan kita harus menikah." kata Daniel membuat Angel menggeleng.


Daniel melihat Angel kembali sedikit kecewa, bagaiman mungkin Angel tiba menggeleng. Terjadi keraguan antara hati kecilnya, dan logika otaknya.


"Apa kamu masih meragukan saya?" tanya Daniel sendu membuat Angel tersenyum.


Angel kemudian mendekatkan wajahnya ke arah wajah Daniel. Angel mendaratkan bibirnya di bibir Daniel. Daniel terkejut bukan main, kali ini Angel berinisiatif untuk melakukannya. Daniel dapat merasakan benda kenyal tersebut me*lu*mat bibirnya, dengan sangat lembut. Daniel sedikit tersenyum, kemudian membalas lu*ma*tan Angel.


Angel tampa sadar menaikkan dirinya di atas pangkuan Daniel, ketika lidah mereka saling berbelit, di dalam sana. Sementara Daniel semakin memeluk Angel, dan mulai mulai mengusap punggung Angel, kemudian mencari apa yang bisa di pegang.


Dengan pelan Daniel mulai membaringkan tubuh Angel ke tempat tidur, tampa melepaskan lu*ma*tan mereka. Daniel mulai melepaskan pa*ngu*tan mereka, kemudian memandang wajah Angel, yang masih meraup udara. Daniel kembali mendaratkan bibirnya di bibir Angel, Daniel kembali menghisap bibir atas dan bawah Angel. Sembari membuka kancing baju bagian atas angel.


Tak lama kemudian Daniel mulai menurunkan bibirnya di bagian dada Angel, sembari terus membuka kemeja tidur Angel. Daniel menyesap dengan rakus, hingga membuat Angel melenguh antara nikmat dan geli di sekujur tubuh nya. Ini adalah sesuatu yang baru bagi Angel, namun membuat darahnya berdesis, dan menikmati sentuhan tersebut.


Daniel bahkan meninggalkan beberapa bekas kepemilikan di area dada Angel. Seakan kehilangan akal Daniel mulai membuka semua kancing kemeja tidur Angel.


Bunyi ponsel Angel mengejutkan Angel, Angel tersadar dengan kegiatan mereka saat ini. Angel segera mencoba mendorong Daniel, namun Daniel terus menikmati tubuh Angel.


'


"Dunit..." Angel memanggil Daniel, dan sedikit mencubit perut Daniel, membuat Daniel terkejut, dan tersadar dengan apa yang telah ia lakukan.


"Maafkan saya sayang. Ayo tidur saja," kata Daniel segera memeluk Angel, dan menyelimuti tubuh Angel, yang sudah setengah te*la*njang.


"Dunit ada telfon," kata Angel mencoba melepaskan pelukan Daniel.


"Biarkan sayang, sebelum saya tak dapat menahan diri lagi," kata Daniel segera memeluk erat Angel, agar tak bergerak lagi.