It'S Me

It'S Me
Episode 267



"Kenapa?" tanya Maxim dan Jasson ketika melihat semua pandangan ke arah mereka.


Semua orang terkejut ketika yang masuk bukanlah dokter, melainkan Jasson dan Maxim. Mereka juga baru sampai karena ada rapat penting di perusahaan mereka.


"Permisi..." kata seorang laki laki, berpakaian dokter, dengan dua orang suster, tengah mencoba masuk ke dalam ruangan Ardiana.


"Silahkan lewat suster cantik." kata Maxim, tersenyum manis membuat kedua suster tersebut tersipu malu.


Mendengar hal itu, dokter tersebut hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Sementara Jasson langsung saja memukul kepala Maxim, membuat Maxim mengaduh kesakitan.


Membuat Maxim dan Jasson memberikan jalan untuk dokter tersebut dan kedua suster. Sementara dokter tersebut lengsung saja memeriksa, Ariana dengan telaten. Dokter itu mengerjakan tugasnya dengan baik.


Tak berselang lama, hanya membutuhkan lima menit. Dokter selesai memeriksa Ariana. Dokter tersebut tersenyum dan mengalihkan pandangannya ke arah Arkan, yang sejak tadi menggenggam tangan Ariana.


"Pasien sudah tidak apa apa, pasien hanya masih lemah akibat obat bius." kata dokter tersebut.


Mendengar hal itu, membuat yang lain menghela nafas lega.


"Baiklah kalau begitu kamu permisi dulu, kalau ada apa apa silahkan hubungi kami." kata dokter itu berlalu pergi, meninggalkan yang lain.


"Anak kita mana mas?" tanya Ariana dengan nada lemah.


"Masih di inkubator sayang, nanti malam baru bisa di bawa kesini." kata Arkan, sembari mengelus lembut rambut Ariana.


"Sudah sayang jangan mikir yang macam macam, yang penting kamu istirahat dulu." kata Arkan menggenggam tangan Ariana.


"Iya An... terimakasih sudah bertahan." kata Rayen mencium pipi Ariana.


Tampa Rayen sadari air matanya kembali terjatuh, dan mengenai wajah Ariana. Ariana mengulurkan tangannya, sembari mengusap air mata Rayen.


"Kakak jangan nangis, udah tua malu kali." kata Ariana tersenyum lembut.


Ariana menyadari bahwa kakaknya ini benar benar menyayangi nya. Rayen tak pernah menangis begini, kini tiba tiba menangis, hanya karena ia masuk ke meja operasi.


"Makasih An." kata Rayen memeluk Ariana, membuat orang orang yang ada di dalam ruangan tersebut terharu.


Jangan tanya Aida, Ayu dan Vian sudah meneteskan air matanya. Bagaiman tidak mereka terlihat begitu akrab, padahal tak semua saudara akan seperti itu.


Tiba tiba ponsel Rayen berbunyi, membuatnya segera mengangkat badannya untuk melihat si penelepon.


"Eham..." katanya menstabilkan suaranya.


"Ya halo?" katanya dengan suara yang tegas, dan berwibawa. Sangat berbeda dari beberapa menit yang lalu.


"Oh baik Letkol." kata Rayen segera mematikan ponselnya.


"An kakak cabut dulu ya, ada tugas." katanya sembari mengecup puncak kepala Ariana.


"Iya kak hati hati." kata Ariana, sembari mengecup punggung tangan Rayen.


"Daddy Rayen berangkat dulu." kata Rayen segera menyalami Daddy-nya. "Pah, kami berangkat dulu." kata Rayen kepada Farid sembari menyalami tangan Farid.


"Ar gue cabut, tolong jaga adik gue." kata Rayen meninggalkan ruangan.


"Yaudah kalau gitu kami permisi dulu ya." kata yang lain ikut meninggalkan Ariana bersama dengan Arkan.


"Eh kita cabut juga yuk." kata Armint menarik Maxim dan Jasson keluar ruangan.


Maxim dan Jasson yang tertarik keluar segera memberontak.


"Apa apaan sih, baru juga datang." protes Maxim.


"Lo berdua mau gangguin Ana sama Arkan?" tanya Armin, membuat Maxim mengangguk mengerti.


"Ayo guys besok pagi aja kita ke sini." kata Jasson berlaku pergi.