
“Kami juga bermimpi hampir sama seperti itu.” Kata yang lainnya serempak.
Mendengar hal tersebut sontak membuat Gu Ana memicingkan alis kirinya, kemudian Gu Ana memasang wajah serus melihat mereka satu persatu.
“Kalian tahu tidak dirumah hantu itu cuman ada sembila pemain, namun semalam anehnya saat aku hitung ada sepulu hantu, dan kalian tahukan hantu yang terakhir yang kita temui dirumah hantu itu? Aku merasakan hawa yang berbeda, aku tahu kemungkinan kalian memimpikan dia…” kata Gu Ana, sontak membuat mereka semua menegang, karna memang benar hantu terakhir adalah hantu terseram yang mereka lihat semalam. Sejenak Gu Ana menarik nafasnya dalam dalam dan kembali membuka suara. “Sebenarnya, aku ingin mengatakan hal ini sejak semalam saat berada di rumah makan, aku merasa susuatu mengikuti kita, dan aku melihatnya sama seperti hantu terakhir yang ada di rumah hantu itu, awalnya aku mengira salah lihta, tapi lama kelamaan menjadi jelas sekarang…” kata Gu Ana menggantungkan kata katanya, sejenak melihat wajah wajah yang semakin menegang karna ketakutan. “Sepertinya dia mengikuti kita sejak semalam, dan aku bisa merasakannya bahwa dia sangat menyukai aura salah satu di antara kita…” kata Gu Ana kemudian menghirup nafas dengan sangat berat, dan memandangi mereka satu persatu.
…
Mendengar hal tersebut sontak membuat mereka semakin menegang dan kini tak mampu lagi bergerak barang sedikit.
Sebelum Gu Ana berbicara, Gu Ana menarik nafasnya dalam dalam lalu menghembuskannya. “Aku curiga dia menyukai salah satu di antara kita, dan…” Gu Ana menggantungkan kata katanya sembari melirik wajah mereka satu persatu, “Sepertinya dia menyukaimu Gege Handrong.” Kata Gu Ana mengejutkan semua orang.
Sementara mereka yang mendengarkan kata kata Gu Ana sontak saja menjauhi pangeran Zang Handrong, sementara pangeran Zang Handrong sendiri sudah terdiam mematung, dengan wajah pucat pasi.
Melihat ekspresi mereka terlebih pangeran Zang Handrong yang sudah pucat pasi membuat Gu Ana tak bisa menahan tawanya lagi hingga.
“hahahaha… kalian sangat lucu lihat wajah kalian terlebih lagi Gege Handrong.” Kata Gu Ana sambil tertawa terbahak bahak melihat ekspresi mereka semua.
Mendengar Gu Ana tertawa sontak membuat mereka menganga tidak percaya, ternyata mereka telah ditipu oleh seorang gadis cilik.
Karana Gu Ana masih asyik tertawa pangeran Nan Cheng dan Gu Min tersenyum satu sama lain, menyadari hal tersebut Gu Ana sontak berlari meninggalkan mereka.
“Apa tadi dia hanya bercanda? Dia bercandakan?” tanya pangeran Zang Handrong masih dalam keadaa shok.
Mendengar hal tersebut membuat pangeran Zang Jade dan pangeran Zang Limo menepuk jidat mereka, karna ternyata pangeran Zang Handrong mash terbawa suasana.
Lain halnya pangeran Nan Cheng, Gu Min dan Gu Jun yang kini sudah mengejar Gu Ana untuk balas dendam.
“An’er awas kau, kau telah mengerjaiku, akan ku balas kau…” tariak pangeran Zang Handrong ketika tersadar dari keterkejutannya.
Setelah mengatakan hal tersebut, pangeran Zang Handrong langsung saja berlari, menyusul pangeran Nan Cheng, Gu Min dan Gu Jun yang sudah terlebih dahulu mengejar Gu Ana.
“Kau tak ingin ikut mengejarnya Gege?” tanya pangeran Zang Limo kepada pangeran Zang Jade.
Mendengarkan pertanyaan pangeran Zang Limo, membuat pangeran Zang Jade melengkungkan bibirnya hingga membentuk seringai kecil.
“Tidak usah, aku rasa mereka akan menghukumnya di sini, biarkan mereka yang mengejarnya, dan kita duduk tenang menunggu hasilnya, tanpa menyentuh.” Kata pangeran Zang Jade sambil menyeringai.
Melihat seriangaian pangeran Zang Jade membuat pangeran Zang Limo bingung, yang di katakan pangeran Zang Jade memang benar namun ini seperti bukan pangeran Zang Jade.
“Siapa yang mengajarimu taktik selicik ini?” tanya pangeran Zang Limo tersenyum kepada pangeran Zang Jade.
“Maksudmu?” tanya pangeran Zang Limo belum mengerti maksud pangeran Zang Jade.
“Yang mengajariku taktik ini adalah An’er.” Kata pangeran Zang Jade dengan santainya.
Mendengar jawaban pangeran Zang Jade sontak membuat pangeran Zang Limo terkejut, ternyata takik ini merupakan taktik dari Gu Ana, kemudian diam diam pangeran Zang Limo memasang senyum tipis di bibirnya.
Sementara Gu Ana saat ini berlari kesana kesini karna di kejar empat orang laki laki, yang tersiri dari tiga orang laki laki dewasa dan satu orang anak laki laki.
Tanpa Gu Ana sadari, saat Gu Ana tengah bersembunyi di salah satu pohon, Gu Min telah menangkap Gu Ana dan membawanya kedalam gendongan, sementara yang lain terlihat sangat bersemangat, seolah melihat buruan yang sangat mereka incar kini telah berada di tangan mereka.
“Mari kita bawa dia ke gazebo.” Kata Gu Jun dengan seringai.
“Gege aku mohon lepaskan, aku tak akan mengulanginya lagi.” Bujuk Gu Ana dengan manja kepada Gu Min, agar Gu Min mau melepaskannya.
“Berhenti bersikap manja, seperti seekor kucing.” Sarkas Gu Jun kepada Gu Ana.
Mendengar kata kata Gu Jun yang suka sekali membandingkannya dengan kucing membuat Gu Ana medengus kesal dibuatnya.
“Ya berhenti membandingkan aku dengan kucin.” Teriak Gu Ana, yang sontak membuat Gu Min membekap mulut Gu Ana.
“Ah… ini lebih baik telinga ku tak akan sakit lagi.” Kata Gu Min dengan santai.
Saat melihat Gu Ana seperti cacing kepanasan saat minta di lepaskan membuat mereka semua tertawa akan sikap Gu Ana.
Sementara Gu Ana hanya bisa berpasrah diri tanpa bisa melakukan apa pun, karena sebagaimanpun Gu Ana perotes mereka tak akan mendengarkannya, dan sekuat apapun Gu Ana memberontak Gu Min tak akan melepaskannya,.
Benar saja, baru saja pangerna Zang Jade mengatkan hal tersebut tak lama kemudian, pangeran Zang Limo mendengar keributan dari arah barat Gazebo, dan melihat Gu Ana dari kejauhan sedang meronta ronta dalam gendongan Gu Min, sedangkan di belakang Gu Min di ikuti Gu Jun, pangeran Zang Handrong dan pangeran Nan Cheng. Mereka terlihat berjalan ke arah gazebo yang mereka tempati saat ini.
“Ah… benarkan tebakanku, kita tak perlu ikut, mereka yang akan membawanya kepada kita.” Kata pangeran Zang Jade tersenyum melihat Gu Min, Gu Jun, pangeran Zang Handrong, dan pangeran Nan Cheng tengah menggendong Gu Ana yang saat ini terus terus mencoba memberontak dan melepaskan diri dari gendongan Gu Min.
“Ah… Iya, aku rasa aku harus banyak belajar taktik dengan An’er.” Kata pangeran Zang Limo kepada pangeran Zang Jade.
Mendengar hal tersebut sontak membuat pangeran Zang Jade tersenyum denga sikap adiknya, yang menurutnya semakin hari semakin dewasa setelah mengenal Gu Ana, namun juga terdapat sisi kekanak kanakannya saat bersama Gu Ana.
“Jangan cuman belajar taktik, aku rasa An’er harus berganti teman saat di medan pertempuran, jika dulu aku dan An’er merupakan pasangan serasi saat di medan perang, aku rasa kini kau yang harus menjadi pasangannya, mulai lah berlatih dengan An’er, aku pun kemungkinan akan mulai berlatih dengan Jia’er” kata pangeran Zang Jade menasehati pangeran Zang Limo.
Medengar nasihat dari pangeran Zang Jade, membuat pangeran Zang Limo mengangguk mengerti. Karna memang saat ini pangeran Zang Limo lah yang merupakan tunangan dari Gu Ana, jadi sudah sepantasnya mereka melakukan latihan bersama.