
“Tolong kaki ku keram.” Teriak Gu Ana kepada yang di atas gazebo.
“Ah… An’er kami tidak akan tertipu lagi.” Kata pengeran Zang Handrong.
“Aku mohon kakiku benar benar keram.” Kata Gu Ana panic, namun panggilan Gu Ana hanya ditanggapi tawa oleh merek.
Karna terlalu lama, akhirnya Gu Ana kehabisan nafas dan tenggelam ke dasar air, sebagian masih panik, namun pangeran Nan Cheng terua mengatakan bahwa itu hanya trik. Sudah beberapa menit berlalu namun Gu Ana tak kunjung muncul juga hingga membuat mereka semua panik. diubatnya, sehingga mereka langsung turun dan munyelam untuk mencari Gu Ana. Naas yang mereka cari tidak kunjung mereka temukan. Kekhawatiran kini melanda mereka, pangeran Zang Limo kini terus saja tak henti hentinya mencari kebaradaan Gu Ana.
Sedah satu jam mereka mencari keberadaan Gu Ana, namun mereka tidak kunjung menemukannya. Tiba tiba sebuah suara mengejutkan merek.
“Apakah kalian sudah puas berenangnya teman teman?” tanya Gu Ana sambil tersenyum manis sambil meminum teh, yang saat ini berada di atas gazebo dengan pakaian yang sudah bersih.
…
Melihat keadaan Gu Ana membuat mereka semua tercengang tak percaya, mereka masih memproses di otaknya masing masing.
“Aduh kalian semua dasar jahat ya, bahkan kalian berenang bersama tapi tidak mengajakku, kalian sungguh tega…” kata Gu Ana seolah olah menyeka air matanya yang tidak ada turun sama sekali.
Mendengar kata kata Gu Ana sungguh membuat pangeran Nan Cheng kesal.
“Dasar Licik.” Sarkas pangeran Nan Cheng.
Mendengar kata kata pangeran Nan Cheng sontak membuat Gu Ana tersenyum penuh kemenangan.
Flashback on.
Sungguh sakit rasanya saat Gu Ana mendarat di air, “Aduh…” kata Gu Ana saat punggungnya terkena air, bukan karna luka namun terlalu kencang nya lemparan Gu Min, hingga ketika badan Gu Ana bertemu dengan air akan menimbulkan sedikit perih.
Yang lain tertawa terbahak bahak, sambil melihat Gu Ana tercelup sempurna kedalam air, dari ujung kaki hingga ujung rambut.
“Dasar saudara laki laki tidak berakhlak, tunangan hati batu, sahabat tidak ber adab. Berani benraninya dia dengan putri cantik tiada tara ini…” oleh Gu Ana saat melihat yang lain tertawa di atas gazebo. “Lihat saja, apa yang akan dilakukan Capten senior Elit satu ini.” Kata Gu Ana tersenyum misterius, dan memikirkan cara agar bisa membalik keadaan.
Tiba tiba ide gila terlintas di kepalanya, Gu Ana tersenyum penuh arti ketika memandang para laki laki yang masih menertawainya di atas gazebo.
“Kita lihat siapa yang akan tertawa hingga akhir.” Guman Gu Ana sambil tersenyum misterius. “Tolong kaki ku keram.” Teriak Gu Ana pura pura kesakitan, kepada orang orang yang ada di gazebo.
“Ah… An’er kami tidak akan tertipu lagi.” Kata pengeran Zang Handrong.
Mendengar hal tersenyum Gu Ana sedikit tersenyum kecut menelan pil kecewa, namun rencananya tak boleh Gagal, mereka semua harus menyebur ke danau dengan suka rela sesuai dengan rencan Gu Ana.
“Aku mohon kakiku benar benar keram.” Kata Gu Ana pura pura panik, namun panggilan Gu Ana hanya ditanggapi tawa oleh mereka.
Kemudian Gu Ana berpura pura kehabisan nafas dan tenggelam ke dasar kolam, agar tak terlihat di permukaan air. Saat sudah mencapai dasar kolam Gu Ana berenang ke arah bawah gazebo untuk mengambil nafas agar mereka tak mengetahuinya. Jelas terdengar beberapa orang sedikit panik, ketika Gu Ana tak kunjung timbul.
“Hust tunggu beberapa saat lagu aku rasa An’er menipu kita.” Kata pangeran Nan Cheng mencoba tak terjatuh dalam jebakan Gu Ana.
Mendengar hal tersebut sontak membuat Gu Ana tersenyum kecut pangeran Nan Cheng relalu hafal dengan sikapnya. Namun Gu Ana terus berenang menuju daratan, melalui di bawah jembatan. Saat telah mencapai daratan, Gu Ana menaiki daratan dengan mengendap endap sambil berlari menuju kediamannya.
“Bay guys… aku duluan ya.” Kata Gu Ana dengan suara pelan yang hanya bisa di dengar olehnya.
Sesampainya di kemudian, Gu Ana memerintahkan dayang untuk mempersiapan air, untuk membersihkan diri. Setelah air siap Gu Ana membersihkan diri dan mengganti hanfunya yang telah basah tadi dengan hanfu yang bersih.
“Hm… Guys apa kalian udah pada nyebur yak? Kayaknya kalau sesuai perhitunganku udah kayaknya.” Guman Gu Ana.
“pelayan siapkan aku the hijau dan cemilan bawa mereka ke gazebo belakang.” Kata Gu Ana kepada para pelayan.
Para pelayankemudian melaksanakan tugasnya yang diberikan kepada mereka, sedangkan Gu Ana masih sibuk menata rambutnya sambil tersenyum senyum membayangkan wajah kesal mereka.
Setelah menata rambutnya rambutnya Gu Ana keluar dari pafiliumnya menuju gazebo yang ada di taman belakan. Saat mencapai gazebo Gu Ana melihat wajah wajah panik dan rasa bersalah di wajah para lelaki yang kini telah berada di dalam air mencari keberadaan Gu Ana.
“Apakah kalian sudah puas berenangnya teman teman?” tanya Gu Ana sambil tersenyum manis sambil meminum teh, ditemani cemilan yang dibawa oleh para dayang.
Flashbanck off.
“Ah… teh hijau hangat benar benar sangat enak, di tambah kue bulan ini.” Kata Gu Ana sambil menikmati teh hijaunya dan kue bulannya, seolah tidak terjadi apapun. Kemudian pangangannya beralih kepada para lelaki yang masih terbengong di dalam air sambil menetap Gu Ana, dengan penuh kesal.
“Apa kalian masih belum puas berenangnya?” tanya Gu Ana kepada mereka semua. Sambil tersenyum memiringkan kepalanya dan mengangkat alis. Sungguh menyebakan bagi mereka semua yang melihatnya.
“Siapkan aku makan siang, aku sungguh lapar ketika melihat para lelaki ini berenang, ah, apa mereka tidak takut belang? Mereka berenang di siang bolong seperti ini, ah… jangan jangan karna terlalu panas jadi otak mereka dedikit dehidrasi dan menyebabkan halusinasi ya? Ah… segera siapkan air untuk mereka.” Kata Gu Ana kepada pelayan tampa mengalihkan pandangannya dari para lelaki yang saat ini masih berada di kolam air.
Setelah mengatakan hal tersebut Gu Ana segera beranjak dari tampatnya dan kembali berjalan menuju pafiliumnya.
“An’er… awas kau, tunggu pembalasanku.” Teriak pageran Nan Cheng tak terima dengan perlakuan dan kelicikan Gu Ana.
“Sudah ku bilang aku lah yang akan tertawa pada akhirnya, apa kau lupa aku bahkan selalu menang melawan musuh ku?” kata Gu Ana sambil tersenyum penuh makna kepada pangeran Nan Cheng, yang tentu saja menambah kekesalan dari pangeran Nan Cheng.
“Sudah lah ayo naik.” Kata pangeran Zang Jade sambil berenang ketepi kolam, dan di ikuti yang lainnya, yang juga berenang menuju ke tepian.
…
Jangan lupa like and comment, tolong tinggalkan jejak ya biar author tambah semangat, dan punya masukan agar bisa memperbaiki kesalahan yang author buat, sip… ok.