
"Ya..." kesal Gu Ana mengoles tangannya yang sudah penuh warna, ke tangan raja Bao Ling, dengan kesal. Karna kesal raja Bao Ling juga melakukan hal sama, namun di wajah Gu Ana. Gu Ana yang tak terima akhirnya mencoret wajah raja Bao Ling, membalas perbuatan yang sebenarnya di mulai, oleh Gu Ana sendiri. Dan akhirnya perkelahian corat coret wajahpun berlangsung meriah, seluruh wajah, tubuh, bahkan rambut kini berwana warni.
Karna sama sama kelelahan, akhirnya mereka sama sama berhenti. Saat melihat wajah satu sama lain, membuat mereka terkikik geli, hingga menimbulkan tawa.
Para pelayan dan penjaga terkejut, Mendengarkan tawa dari Raja Bao Ling, yang begitu keras dan lepas. Bahkan mereka hanya mampu menganga dengan apa yang terjadi.
"Sudah, sudah aku sakit perut." keluh Gu Ana sambil memegangi perutnya yang sakit, akibat tertawa. "Kita seperti sedang ikut color run festival, wajah kita sudah tak berbentuk lagi." ucap Gu Ana menyekah air matanya, sambil berdiri dan menggantung lukisannya.
...
Saat malam hari, sesuai janji raja Bao Ling, Gu Ana di perbolehkan untuk pergi ke festival lampion, tetapi tetap mengekori raja Bao Ling. mereka saat ini mengenakan pakain biasa, seperti masyarakat pada umumnya agar tak mencolok.
Gu Ana tak dapat menyembunyikan kesenangannya, senyumnya terus mengembang. Jujur saja, bagi Gu Ana ini adalah pertaman kalinya mengikuti festival seperti ini, benar benar seperti drama klosal, apalagi saat ini pergi bersama raja. Maka jika di drama klosal itu menjadi moment yang sangat romantis, namun tidak untuk Gu Ana, yang sejak tadi selalu kerepotan mengikuti Raja Bao Ling, yang memiliki langkah lebih lebar. Bahan hanya untuk meminta tanghul saja, Gu Ana harus memohon mohon dan merengak seperti anak kecil.
"Hais... ini lah malasnya jika bersama dengan api abadi dari Kawah Ijen, ngesellin." gerutu Gu Ana kesal melihat raja Bao Ling, yang menyebalkan di matanya.
"Apa kau bilang?" tanya Raja Bao Ling, tiba tiba berhenti, sehingga membuat Gu Ana tertabrak di punggung bidangnya.
"Aihs bintang kejorok satu ini, ada apa sih Ling Ling?" Tanya Gu Ana kesal, sambil mengusap hidungnya yang tertabrak oleh punggung bidang raja Bao Ling. "Aish pesek aku ni lama lama." guman Gu Ana.
"Kau, bisa kah kau diam sebentar? kau sungguh cerewet, membuatku pusing." Kesal raja Bao Ling, karna sejak tadi Gu Ana tak pernah berhenti mengocehinya.
"Aduh Ling Ling, bersyukurlah karna aku yang cantik dan imut ini, masih mau berjalan dersamamu, kau tahu banyak lelaki yang mau ku ajak berjalan bersama ku." kata Gu Ana dengan percaya dirinya.
"Atas dasar apa kau mengatakan hal itu? Kau tahu aku bahkan tak pernah mau membayangkan, jika aku jatuh cinta pada, wanita aneh, dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi, ingat kau itu bukan tipe ku." kata raja Bao Ling.
Gu Ana yang mendengar perkataan dari raja Bao Ling, hanya mengerjap bingung.
"Memangnya siap yang mau dengan mu? Aku juga tak mengharap kau jatuh cinta dengan ku, dasar aneh." kata Gu Ana, mendahului raja Bao Ling, yang terdiam karna termakan dengan omongannya sendiri.
Raja Bao Ling hanya mendengus kesal, menyusul Gu Ana, yang kini melangkah terlebih dahulu. Raja Bao Ling sedikit kehilangan jejak Gu Ana sebentar, namun kembali menemukannya saat tengah nercanda dengan seorang pemuda, yang seumuran dengannya. Gu Ana tertawa sambil melompat lompat, saat tengah bersama pria tersebut, entah apa yang mereka bicarakan, sampai membuat mereka larut dalam pembicaraan.
Raja Bao Ling segera menghampiri Gu Ana, dan penuda tersebut, yang saat ini masih asyik berbincang, bahkan tak merasakan kehadirannya.
"Ehem..." deheman raja Bao Ling membuyarkan pembicaraan mereka.
"Ah salam yang Mulia Raja Bao Ling." kata pangeran Nan Cheng, memberi salam.
"Ah penyeran Nan Cheng, apa kabar?" tanya raja Bao Ling membalas sapaan dari pangeran Nan Cheng.
"Cheng kau kelnal Ling Ling?" tanya Gu Ana dengan tampa rasa hormat kepada mereka berdua.
"Apa Ling Ling? Kau tak salah? Mengapa begitu imut?" tanya pangeran Zang Limo heran dengan panggilan Gu Ana kepada raja Bao Ling.
"Dia memang sangat menggemaskan, sampai sampai, jika tidak sayang kepala maka aku akan mencubitnya, seperti ini." kata Gu Ana, sambil mencubit pipi raja Bao Ling dengan gemas.
"hahahaha, terserah kau, nikmati waktu kalian, aku ada urusan." kata pangeran Nan Cheng meninggalkan raja Bao Ling dan Gu Ana, di tengah keramaian. Karna takut akan amukan raja Bao Ling, yang terkenal kejam, dan dingin.
"Kenapa kau mencubit pipiku? Apa kau bosan hidup?" tanya raja Bao Ling, menatap tajam ke arah Gu Ana.
"Aduh Ling Ling ku, yang tadi itu hanya contoh." kata Gu Ana santai. "Misalnya aku mengatakan kepada orang lain, bahwa kau sangat menggemaskan, dan membuatku ingin mencubitnya seperti ini." kata Gu Ana sambil mencubit pipi raja Bao Ling. "Nah itu masih termasuk contoh, dan belum melakukannya dengan benar." kata Gu Ana penuh kemenangan.
Karna kesal raja Bao Ling menarik tangan Gu Ana, ke arah tempat yang sepi, tepat di atas sebuah bukit.
"Lalu bagaiman jika aku mengatakan bahwa aku mencium pelayanku seperti ini." kata raja Bao Ling, mencium bibir Gu Ana sekilas. sontak membuat Gu Ana terkejut, dan segera memundurkan langkahnya ke belakang. "Kau..." kata kata Gu Ana terhenti ketika melihat sebuah anak panah, mengarah ke arah raja Bao Ling. Dengan refleks Gu Ana menarik raja Bao Ling, ke arah nya.
"Kau, apa kau punya musuh?" tanya Gu Ana, memperhatikan sekitarnya. Tiba tiba sekitar sepuluh orang menghadang mereka berdua, dengan wajah yang tertutup, dan serba hitam
"Ayo, untuk sementara kita harus lari." Kata Raja Bao Ling, menarik tangan Gu Ana, sambil berlari. menghindari para pembunuh.
"Kenapa tidak melawan?" tanya Gu Ana.
"Mereka tak hanya segitu bodoh, di belakang mereka sangat banyak." kata raja Bao Ling masih menarik tangan Gu Ana, karna mereka terus di kejar oleh yang lain.
Anak panah terus menghujani mereka hingga, salah satu lengan Gu Ana terkena panah mereka. Langkah Gu Ana dan raja Bao Ling terhenti, ketika melihat jurang di hadapan mereka. Kini Gu Ana langsung saja teringat film Dono, Kasino dan Indro dengan judul maju kena mundur kena.
"Aduh ini mah maju kena mundur kena." guman Gu Ana, meratapi nasibnya, dan mengingat Dono, Kasino, dan Indro.
"Mau kemana kalian? Lebih baik menyerah." kata salah satu, anggota kelompok tersebut, yang mungkin saja sebagai ketuanya.
...
Maaf teman teman kalau banyak Typonya soalnya ini ngetiknya pakai Hp. Tapi alhamdulillah sekarang laptop aku sudah baikan, berkat doa dari teman teman, terimakasih dukungannya.
Hi teman teman mampir ke novel baru ku dong Can U Make Me falling love again?