It'S Me

It'S Me
Episode 64



“Kapan kau mulai menyadarinya?” tanya Gu Ana penasaran.


“Saat pertama kali kau marah kepadaku, kau bersikap sangat formal, tidak banyak berbicara denganku, tidak menggangguku, bahkan ketika kau berangkat ke perbatasan, hingga kau kembali dan tidak menyapaku.” Kata pangeran Zang Limo. “Kau tahu saat mengetahui kau sangat akrab dengan Gege Jade, dan miliki rahasia berdua saja membuatku sangat kesal.” Lanjut pangeran Zang Limo.


“Lalu kenapa kau menciumku saat di rumah seni?” tanya Gu Ana.


“Karna aku sangat marah kau sangat memperhatikan Gege Jade saat itu, aku cemburu.” Akui pangeran Zang Limo. “Dan kau sejak kapan kau menyukaiku?” tanya pangeran Zang Limo.


“Entah lah… aku rasa mungkin saat kita melakukan persiapan paduan suara untuk ratu.” Kata Gu Ana dengan sedikit ragu ragu.


Mendengar keraguan Gu Ana membuat pangeran Zang Limo sedikit melonggarkan pelukannya, lalu memandang Gu Ana.


“Kenapa kau ragu ragu?” tanya pangeran Zang Limo mengerutkan dahinya.


“Karna aku rasa aku tak sadar kapan tepatnya cinta itu datang, yang aku rasa saat itu aku selalu nyaman dan aman saat berada di dekatmu.” Kata Gu Ana sambil tersenyum menatap pangeran Zang Limo.


“Terimakasih.” Kata pangeran Zang Limo sambil mengecup kening Gu Ana dengan penuh kasih sayang.


“Tidak seharusnya aku yang berterimakasih, karna kau selalu ada untukku di saat aku seperti ini.” Kata Gu Ana dengan senyum tulusnya.


“Pangeran kau tak mau mengajakku jalan jalan untuk melihat matahari tenggelam lagi?” tanya Gu Ana kepada pangeran Zang Limo.


“Tidak, kau masih sakit.” Tegas pangeran Zang Limo.


Mendengar kata kata pangeran Zang Limo sontak membuat Gu Ana cemberut.


“Hei jangan cemberut, kita melakukan hal yang lain bagaimana?” tawar pangeran Zang Limo.


Mendengar penawaran pangeran Zang Limo, Gu Ana sontak terbangun dan membulatkan matanya. Ia tersenyum sambil memandang pangeran Zang Limo.


“Pangeran ayo main SOS, nah begini kita harus menyatukan huruf S, O dan S, siapa yang paling banyak mengumpulkan huruf SOS maka dialah pemenangnya.” Kata Gu Ana menjelaskan kepada pangeran Zang Limo.


Mendengar penjelasan dari Gu Ana membuat pangeran Zang Limo mengangguk angguk tanda mengerti.


Kemudian Gu Ana menggambar kolom kolom berbentuk persegi di sebuah kertas menggunakan kuas. Setelah mengga,bar semuanya Gu Ana tersenyum bertanda puas dengan hasilnya.


“Nah kita punya hukuman pangeran setiap kali kita kalah dalam satu permainan maka wajah kita harus di coret, nah yang paling banyak wajahnya dicoret akan mendapatkan hukuman. Hukuman bagi yang kalah adalah memasak untuk yang menang.” Kata Gu Ana kepada pangeran Zang Limo.


Pangeran Zang Limo mengangguk mengerti penjelasan dari Gu Ana, sekaligus menyutujui hukuman tersebut.


Mereka mulai bermin, bagi Gu Ana ini adalah hal yang mudah ini tentang permainan trik, namun sebagai pangeran, pangeran Zang Limo juga tak dapat di remehkan begitu saja karna pangeran Zang Limo merupakan orang istana yang terbiasa dengan trik.


Gu Ana saat ini memandang wajah pangeran dengan seksama, bahkan selama permainan Gu Ana tidak terlalu memperhatikan wajah pangeran Zang Limo yang telah dilukis olehnya. Wajah pangeran Zang Limo kini seperti sapi dengan bintik bintik alfokadot diwajahnya, dengan kelopak mata yang menghitam sebelah. Ditambah ekspresi pangeran Zang Limo yang saat ini seperti ditekuk.


“Hahahahahahaha…” tawa Gu Ana pecah seketika ketika melihat wajah tampan pangeran Zang Limo kini berubah menjadi pria sapi. “Ini namanya sapidehmen, lelaki sapi dengan karismatik tinggi.” Kata Gu Ana sambil tertawa  terbahak bahak memegangi perutnya.


Sementara para dayang menunduk berusaha sekuat tenaga untuk tidak menertawakan pangeran Zang Limo.


Sedangkan pangeran Zang Limo yang melihat Gu Ana tertawa terbahak bahak melongo dibuatnya. “Apakah wajahku seaneh itu?” batin pangeran Zang Limo.


Saat pangeran Zang Limo mengambil cermin dari para dayang, pangeran Zang Limo kaget bukan main, pangeran Zang Limo bahkan menjatuhkan cerminnya hingga pecah dan menyisahkan beberapa pecahan kecil yang berserakan di lantai.


Melihat wajah shok pangeran Zang Limo ketika bercermin membuat Gu Ana mengerskan tawanya, hingga air matanya keluar. Gu Ana sungguh tak dapat menghentikan tawanya saat ini ketika melihat pangeran Zang Limo.


Pangeran Zang Limo segera bergegas ke ruang mandi untuk mencuci wajahnya, hingga dirasa bersih.


Saat pangeran Zang Limo keluar wajahnya masih tersisa beberapa coretan hingga membuat Gu Ana kembali tertawa, dan mengambil kain basah lalu membersihkan wajah pangeran Zang Limo sambil sekali kali menahan tawa agar pangran Zang Limo tak marah.


“Hampir selesai.” Kata Gu Ana saat melihat wajah pangeran Zang Limo dengan seksama.


“Ingat besok Limo harus memasak untuk An’er yang cantik dan imut ini.” Kata Gu Ana dengan mengedipkan matanya sambil berpose imut.


“Baik baik, sekarang sudah larut malam, lebih baik segera tidur.” Kata pangeran Zang Limo menaiki tempat tidur Gu Ana.


“Ya… kau fikir di mana aku akan tidur?” tanya Gu Ana kepada pangeran Zang Limo.


“Kau tidur di sampingku, bahkan tempat ini masih luas untuk kita berdua, bahkan jika ditambah satu anak masih muat.” Goda pangeran Zang Limo.


“Ya… aku belum siap jika harus memiliki anak, umurku masih sangat muda, bahkan belum mencapai sebelas tahun.” Kata Gu Ana perotes dengan yang dikatakan oleh pangeran Zang Limo. “Bagaimana mungkin aku memiliki anak begitu muda, bisa bisa kau terkena Baby Blues, atau bahkan keritis di saat melahirkan.” Guman Gu Ana bergidik ngeri ketika membayangkannya, sambil membaringkan badannya membelakangi pangeran Zang Limo.


Sementara pangeran Zang Limo yang mendengarkan hal itu sontak tersenyum dibuatnya, bagaimana mungkin fikiran Gu Ana begitu jauh hingga kearah sana, walaupun sebenarnya pangeran Zang Limo tak mengerti apa itu Baby Blues namun yang pangeran Zang Limo yakini itu merupakan nama lain dari penyakit saat melahirkan.


“An’er tidurlah kau terlalu banyak berfikir.” Kata pangeran Zang Limo sambil memeluk Gu Ana dari belakang.


“Pangeran apa kau tak merasa panas? Aku saja bahkan tak bisa menggunakan selimut saat ini karna terlalu gerah.” Peroters Gu Ana sambil membalikkan posisinya menghadap pangeran Zang Limo.


“Kalau gerah kenapa tidak kau lepaskan saja sekalian pakaian mu.” Goda pangeran Zang Limo sambil menaik turunkan alisnya.


“Yak… sekali lagi kau berbicara sembarangan lebih baik kau kembali ke pafiliummu.” Ancam Gu Ana. Kembali membelakangi pangeran Zang Limo.


Melihat Gu Ana kembali membelakanginya pangran Zang Limo kembali memeluk Gu Ana dari belakang. Namun karna terlalu mangantuk akhirny Gu Ana membiarkannya begitu saja.