
“Eghh…” keluh Gu Ana saat bangun dari tidurnya, Gu Ana berkali-kali mengerjapkan matanya mencoba mengingat kejadian semalalam, tampa sengaja air matanya menetes.
“Jangan menangis lagi, kau sungguh tak cantik saat menangis.” tiba-tiba pangeran Zang Limo terbangun dan mengusap air mata Gu Ana sembari tersenyum.
Gu Ana yang tak menyadari kehadiran seseorang sejak tadi dibuat kaget.
“Aaaaaa…” teriak Gu Ana, sambil terduduk dari posisi tidurnya.
“Pangeran Ngapain di sini?” tanya Gu Ana panik. “Pangeran kalu ada yang melihat kita bagaimana?” tanya Gu Ana lagi.
“Kenapa kau begitu panik? Aku bahkan hanya menjagamu selama semalaman.” kata pangera Zang Limo memandang Gu Ana dengan seksama.
“Ya ampun… jangan-jangan aku ileran lagi, aduh gelar putri cantik tiada tara akan segera tercoreng ni. Mana dia ngeliat aku baru bangun tidur lagi, jangan-jangana aku belekan. Rambut ku macam singa ni past,” pikir Gu Ana sambil memegaang keningnya yang tak sakit.
“An’er apa kau baik-baik saja? Ada yang sakit?” tanya pangeran Zang Limo khawatir.
“Tidak aku baik-baik saja, pangeran kenapa kau menjagaku?” tanya Gu Ana.
“Karna aku mengkhawatirkanmu.” jujur pangeran Zang Limo.
“Jangan-jangan kau jatuh cinta dengan ku ya?” goda Gu Ana sambil menaik turunkan alisnya.
Pangeran yang mendengarkan pertanyaan Gu Ana langsung salah tingkah di butatnya.
“Ah… itu rambutmu seperti singa.” kata pangeran Zang Limo mengalihkan pembicaraan.
Mendengar hal itu Gu Ana langsung beranjak untuk mencari pelayan.
“Kau mau kemana?” tanya pangeran Zang Limo mencekal tangan kanan Gu Ana.
“Aku mau mencari pelayan, aku lapar dan ingin membersihkan diri.” jawab Gu Ana.
“Biar aku saja, istirahatlah.” kata pangeran Zang Limo bangkit dari tempat tidur, lalu keluar memanggil pelayan untuk mempersiapkan tempat mandi dan makanan untuk Gu Ana.
Tak lama kemudian pelayan datang untuk mempersiapkan alat mendi Gu Ana, setelah seluruh persiapan selesai Gu Ana kemuadian masuk ke kamar mandi.
30 menit sudah Gu Ana mandi kemudian bersiap-siap, pelayan dengan cekatan mempersiapkan sarapan untuk Gu Ana.
“Ah… segar, waktunya ngasi makan dedek cacingku tersayang.” kata Gu Ana sambil mengusap perutnya yang rata, sembari melangkah menuju meja makan.
“Pangeran kenapa disini?” tanya Gu Ana keheranan melihat keberadaan pangeran Zang Limo, sambil mengambil posisi duduk dihadapan pangeran Zang Limo.
“Makan bersama dengan mu.” ucap pangeran Zang Limo singkat, sambil mengisi mangkuk makan Gu Ana. “Ini makanlah.” kata pangeran Zang Limo menyodorkan mangkuk yang telah terisi kepada Gu Ana.
Melihat mangkuk yang disodorkan oleh pangeran Zang Limo penuh dengan makanan membuat Gu Ana bersemangat untuk makan, karna memang perutnya belum terisi sejak semalam.
“Terimakasih pangeran gantengku.” kata Gu Ana memuji pangeran Zang Limo secara sepontan.
Mendengar perkataan Gu Ana, pangeran Zang Limo sungguh merasa bahagia. Sungguh sebuah keberuntungan yang sangat baik, tadi malam bisa menghabiskan malam dengan gadis tersebut, meski hanya melihatnya tertidur. Kini mereka makan bersama, sungguh sesuatu yang sangat menyenangkan.
Setelah mereka sarapan, mereka bersiap-siap untuk jalan-jalan di dalam istana. Namun barus saja mereka akan keluar dari pafilium, mereka bertemu dangan Raja Zang Zuan, putra mahkota Zang Liue, Tuan Gu, Gu Min dan Gu Jun, serta pangeran Nan Cheng.
“Salam Yang Mulia.” kata Gu Ana dan pangeran Zang Limo bersamaan.
“Ah… pagi yang sungguh indah, aku rasa akan ada acara pertunangan sebentar lagi.” kata raja Zang Zuan, semantara yang lain tersenyum-senyum ke arah Gu Ana dan pangeran Zang Limo.
Mendengar perkataan raja Zang Zuan, Gu Ana melongo tak percaya apa yang ia dengar, sementara pangeran Zang Limo mendengar perkataan ayahandanya hanya tersenyum-senyum sendiri mendengarkannya.
“Ah pagi-pagi membuatku iri saja.” kata pangeran Nan Cheng menggoda Gu Ana dan Pangeran Zang Limo.
Gu Ana yang digoda oleh orang asing mengalihkan pandangannya kepada kedua saudaranya, sedangkan yang dipandang memberikan nama asli pangeran Nan Cheng ketika di abat 21.
“Kau… kenapa bisa?” tanya Gu Ana setengah terpekik kepada pangeran Nan Cheng.
“Ceritanya panjang, aduh… kau tambah menggemaskan, aku sungguh merindukanmu.” kata pangeran Nan Cheng merentangkan tangannya kearah Gu Ana, yang sontak berhasil membuat pangeran Zang Limo mendengus kesal.
“Et… no, no, no, kalau kau berani memelukku, aku pastikan kau akan aku tending dari sini.” ucap Gu Ana mengancam, sambil menggoyangkan telunjuknya.
“Aish… kau sungguh kejam, bagaiman mungkin setelah lama tak bertemu kau malam membuatku khawatir.” kata pangeran Nan Cheng.
“Aku tak memintamu khawatir, dan jangan mendekat kalau kau mendekat aku akan melakukannya.” ancam Gu Ana.
“Aish… apa hanya pangeran Zang Limo saja yang boleh memelukmu?” tanya pangeran Nan Cheng menggoda Gu Ana.
“Ah… apa kau benar-benar ingin memelukku?” tanya Gu Ana tampa membalas pertanyaan pangeran Nan Cheng, seolah menantang pangeran Nan Cheng.
Mendengar perkataan Gu Ana membuat pangeran Zang Limo kesal dan menarik Gu Ana kedalam palukannya. Sedangkan Gu Ana yang mendapat perlakuan tersebut tersentak kaget dibuatnya. Sementara yang lain tersenyum-senyum melihat sikap peotektif pangeran Zang Limo kepada Gu Ana.