
"Baiklah itu artinya anda juga menginginkan wanita itu bukan?" tanya Ririn akhirnya mengalah dengan laki-laki tersebut.
"Anda tahu? Mulut Anda tidak pas, jika menyebutnya seorang wanita, anda harus menyebutnya nyonya mengerti." kata lelaki tersebut membuat Ririn kesal.
...
"Baiklah terserah anda saya tidak peduli yang penting tujuan saya terpenuhi." kata Ririn jengah dengan sikap lelaki tersebut.
"Hm... bagus." kata lelaki tersebut sembari meminum minumannya.
"Jika anda kuat mengapa anda tidak merebut nya sendiri?" pancing Ririn kepada lelaki tersebut membuat alis lelaki tersebut naik sebelah, rasanya lelaki tersebut malas menanggapi kata-kata dari Ririn.
"Pantas saja Tuan Arkan tidak menginginkan anda, anda tidak dapat melihat situasi bahkan menganalisisnya dengan tepat." kata lelaki tersebut meletakkan gelasnya yang telah kosong. "Jika wanita yang setara dengan anda maka sudah saya rebut dari dulu, namun dia wanita yang sangat berbeda." kata lelaki tersebut menjelaskan kepada, Iya menggambarkan betapa istimewanya Ariana di matanya. Sehingga membuat Ririn semakin kesal mendengarnya.
"Memangnya siapa dia bahkan aku dapat dengan mudah menghabisinya." kata Ririn dengan sombongnya hingga membuat lelaki tersebut terkekeh mendengarnya.
"Anda ingin menghabisinya? sebaiknya lihat dulu siapa anda dibelakangnya begitu banyak orang hebat dan berpengaruh." kata lelaki tersebut sembari terkekeh mendengarkan pernyataan dari Ririn, seolah mencemooh kata-kata dari yang Ririn lontarkan. "Baiklah biar aku beritahu, keluarga Ariana tidak hanya menguasai perekonomian tetapi juga menguasai di bidang kemiliteran." kata lelaki tersebut menertawai kecongkakan Ririn.
"Apa maksud anda?" tanya Ririn semakin penasaran.
"Mari saya beritahu anda, jika anda berani macam-macam dengan Ririn saya pastikan anda akan kalah, karena seluruh kemiliteran akan mencari anda, belum lagi orang-orang yang ada di belakangnya." kata lelaki tersebut tersenyum miring melihat wajah Ririn yang menampilkan ekspresi terkejut.
"Mengapa? Ada apa dengan wajah anda Anda terkejut?" kekeh lelaki tersebut. "Ayo lah ini hanya sebagian kecil yang bisa ia lakukan." kata lelaki tersebut kembali. "Anda membutuhkan saya, untuk mendapatkan Arkan." lanjut lelaki tersebut, kembali merendahkan Ririn.
"Baiklah terserah anda saya hanya menginginkan Arkan, menjadi milik saya seutuhnya." kata Ririn dengan kesal, sembari menyebutkan keinginannya.
Ririn yang sejak tadi mendengarkan pujian lelaki tersebut untuk Ariana, mengepalkan tangannya. Untung saja Ririn mampu membuat wajahnya tetap terlihat tenang meskipun di bawah meja tangannya sudah terkepal kesal.
"Heh siapa sebenarnya anda?" tanya Ririn kembali mengulang pertanyaannya.
"Apakah anda tidak mengerti bahasa saya, anda perlu mengetahui siapa saya yang penting saya bisa membantu anda mendapatkan apa yang anda inginkan." kata lelaki tersebut kembali mengulang kata katanya membuat Ririn semakin kesal. Namun kembali lagi Ririn harus menelan pil kesabaran, agar tidak terpancing amarah dengan lelaki tersebut. Ririn membutuhkan orang tersebut untuk mendapatkan Arkan.
"Terserah anda, baiklah jika hanya itu yang ingin anda katakan saya permisi." kata Ririn meninggalkan pria tersebut. Lelaki tersebut tersenyum melihat langkah Ririn. Ririn keluar dari ruangan tersebut dan langsung menuju pintu keluar dari restoran tersebut. Ririn tak ingin berlama-lama berada di dalam satu ruangan dengan lelaki tersebut. Sampainya di parkiran restoran tersebut Ririn segera masuk kedalam mobilnya dan menancapkan gasnya meninggalkan restoran tersebut.
Ririn hari ini memilih untuk tidur di apartemennya, Ririn ingin mengistirahatkan kepalanya dari hal apapun. Ririn kemudian membaringkan tubuhnya dan ucapan pria tadi yang bertemu dengannya terngiang ngiang di kepalanya. Apa yang telah disebutkan lelaki itu tentang Ariana entah kenapa begitu lekat di kepalanya.
Siapa sebenarnya Ariana bagaimana mungkin aku tidak dapat menaklukkan nya. Ririn terus berpikir hingga pada akhirnya ia tertidur dengan sendirinya.
Pagi hari ini Ariana terbangun dari tidurnya, Karyana merasakan sebuah tubuh besar momen ini di bahunya sebelah kanan dan menarik badan lagi tersebut. Ariana tersenyum merasakan hal itu, mencoba membangunkan Arkan.
"Mas berat tau." keluh Ariana, sembari menuil nuil pipi Arkan, membuat tidur Arkan terganggu. Arkan tersenyum ketika matanya bertemu dengan Ariana, membuat Ariana membalas senyum tersebut.
"Pagi..." seru Ariana segera bangun dan bergegas menuju kamar mandi. Ariana mandi dan segera turun, ke arah dapur.
"Selamat pagi semua..." siapa Ariana kepada para asisten rumah tangga. Mereka semua yang ada di dalam dapur segera tersenyum mendengarkan sapaan tersebut.
"Selamat pagi juga non." jawab mereka secara serentak.
Ariana segera ikut bergabung dengan para koki, untuk memasak, dan menyiapkan sarapan. Ariana tampak cekatan dalam membantu mereka.
Setelah selesai, Ariana segera menata makanan tersebut di atas meja makan. Membuat Arkan yang turun dari lantai dua, tersenyum ke arah Ariana. Sedangkan Farid baru saja keluar dari kamarnya, dan segera menuju meja makan. Ariana segera menuangkan susu untuknya, suaminya dan juga untuk mertuanya.
"Selemat pagi Pah..." siapa Ariana ceria seperti biasanya, membuat Farid tersenyum mendengarnya.
"Pagi nak." sapa Farid kepada Ariana, sembari tersenyum.
Ariana segera mengambilkan piring untuk Arkan dan juga mertuanya, Ariana menyendokkan nasi goreng, kemudian ayam goreng ke dalam piring Farid dan juga Arfan.
Tak lupa Ariana memberikan mereka buah buahan sebelum makan, sebagai makanan pembuka. Arkan dapat melihat perubahan dari ayahnya, setelah Arkan menikah dengan Ariana, kini lebih lahab ketika makan.
"Wah sangat enak sayang." kata Arkan memuji masakan tersebut, Arkan mengira itu adalah masakan dari istrinya.
"Enak lah orang itu di buat para koki kok." kekeh Ariana, membuat Farid ikut terkekeh. "Ana cuman bantuin doang mas, nyiapin bumbu bumbunya sama nata di meja makan, terus koki yang masaka." jujur Ariana, membuat para asisten rumah tangga dan para koki yang mendengar nya menggeleng.
Padahal bisa saja Ariana mengaku ngaku kalau dia yang membuatnya, karna jujur saja mereka pun tak berani membuka suara. Namun Ariana memilih jujur kepada Arkan dan Farid.
"Kenapa ga ngaku ngaku aja sih sayang." tanya Arkan membuat Farid menggeleng, melihat perlakuan putra bungsunya.
"Ya nanti Ana di suruh buat lagi kan berabe." kata Ariana jujur, membuat Farid tertawa keras, karna tak mungkin juga mereka melakukan hal itu.
...
Hai author mau promosi nih novel baru autor duda genit, bagi yang penasaran dan suka genre romantis dan komedi yuk baca novel duda genit.
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanya banyaknya telah mendukung, dengan memberikan like, dan comment, maafkan atas kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.