
Sudah hampir seminggu Gu Ana belum juga membuka matanya dari tidur panjangnya, sedangkan tabib Long dengan setia setiap pagi melakukan akupuntur terhadap Gu Ana.
Sementara pangeran Zang Limo setelah menyelesaikan semua tugasnya pangeran Zang Limo selalu menemani Gu Ana, Ia merasa harus berada bersama kekasihnya saat bangun nanti. Biasanya pangeran akan menemani Gu Ana ketika sore hingga pagi sedangkan tuan Gu dan yang lainnya hanya boleh dari pagi sampai sore.
“Cih… kenapa kita harus ikut aturan si raja bucin sih?” tanya Gu Jun yang geram akan kelakuan pangeran Zang Limo.
“Sudah lah, raja bucin akan sangat emosi jika di bantah, dia ingin bersama si putri tidurnya.” Kata pangeran Nan Cheng sambil tertawa keras.
Mendengar tawa membahana pangeran Nan Cheng membuat pangeran Zang Handrong mendekati merek.
“Kenapa kalian tertawa? Kalian sedang menertawakan apa?” tanya pangeran Zang Handrong penasaran dengan apa yang mereka tertawakan.
“Kami sedang menertawakan Limo.” Kata Gu Min enteng.
Mendengar pernyataan Gu Mim membuat pangeran Zang handrong semakin penasaran.
“Kenapa?” tanyanya dengan penasaran yang tinggi.
“Kau tahu, Ayahnya, Min dan Jun’er, serta aku sebagai sahabat An’er, jika malam tidak diperbolehkan untuk menjenguk An’er, dan kami harus mengikuti peraturannya, bukankah lucu? Siapa yang keluarganya, siapa kekasihnya.” Kata pangeran Nan Cheng masih tertawa dengan keras.
Sementara pangeran Zang Handrong mendengar hal tersebut tertawa keras dibuatnya, kelakuan adiknya, pangeran Zang Limo memang aneh. Ia kembali teringat dengan kelakuan pangeran Zang Limo ketika memiliki sesuatu maka hanya dia saja yang boleh menyentuhnya.
Tepat tengahari pangeran Zang Limo mengunjungi Gu Ana karna saat itu pekerjaan pangeran Zang Limo selesai lebih cepat, sedangkan tuan Gu masih memiliki pekerjaan di tempat perdagangannya.
Tuan Gu memang bersyukur pangeran Zang Limo mengambil alih untuk menjaga Gu Ana, karna dengan begitu pekerjaannya tak terganggu. Dan Ia bisa fokus untuk mengurus bisnis bisnis tersebut. Sementara saudar Gu Ana, pangeran Nan Cheng, dan pangeran Zang Handrong sedang bergosip tentang kelakuan aneh pangeran Zang Limo semenjak menganal Gu Ana.
Pafilium Bulan, seorang wanita tengah membuka kelopak matanya berlahan lahan, sesekali mengerjab menyesuaikan cahaya yang masuk, kini Ia tidak lagi mengigau, ataupun mimpi buruk.
“Ehm…” keluah Gu Ana saat terbangun, namun terdengar sangat pelan bahkan hampir tak terdengar oleh siapa pun.
Pangeran Zang Limo yang baru saja memasuki ruangan Gu Ana dibuat kaget tak percaya melihat Gu Ana tengah menggerak gerakkan sedikit tangannya sambil matanya terus mengerjab karna cahaya yang Ia terima.
“An’er, kau bangun?” tanya pangeran Zang Limo setengah berteriak, sehingga membuat semua pelayan mendengar kata kata pangeran Zang Limo.
“Cepat panggil tabib Long, katakan An’er telah bangun.” Kata pangeran Zang Limo, yang langsung diangguki oleh para pelayan.
Sementara pangeran Zang Limo mendekat dengan cepat ke arah Gu Ana, lalu mendudukkan pantatnya di samping tempat tidur Gu Ana. Pangeran Zang Limo mengecup kening Gu Ana, lalu meraih tangan Gu Ana mengelus lalu menciumnya sesekali.
“Terimakasaih kau telah bangun.” Kata pangeran Zang Limo dengan lembut.
“Terimakasih pangeran, maaf membuatmu khawatir lagi.” Kata Gu Ana dengan nada suara yang terdengar lemah.
Tak lama kemudian tabib Long datang, bersamaan dengan Gu Min, Gu Jun, Pangeran Nan Cheng, dan pangeran Zang Handrong.
Tabib Long kemudian memeriksa keadaan Gu Ana, setelah memeriksa keadaan Gu Ana tabib Long tersenyum.
“Keadaan Nona Gu sudah membaik, namun harus banyak bergerak dikarnakan bebrapa sarap harus dilatih kembali.” Kata tabib Long sambil tersenyum.
“Ini tonik yang harus nona Gu Minum. Minumlah dengan teratur setelah makan sebanyak tiga kali sehari.” Kata tabib Long sambil memberikan tonik tersebut.
“Bagaimana keadaan anakku An’er?” tiba tiba Tuan Gu datang di antara mereka, dan menerobos yang lainnya untuk melihat Gu Ana.
Melihat Tuan Gu menangis, dengan perlahan lahan tangannya digerakkan untuk menghapus air mata tuan Gu.
“Ayah kenapa kau menangis? Kau terlihat seperti anak perempuan yang kehilangan boneka kesayangannya.” Kata Gu Ana menghibut tuan Gu sambil tersenyum.
Mendengar kata kata Gu Ana sontak membuat tuan Gu menggenggam tangan Gu Ana sambil tersenyum.
“Jangan membuat lelucon kau masih sakit, jika kau ingin membuat lelucon lagi sembuh lah dulu.” Kata tuan Gu sambil tersenyum kepada Gu Ana.
“Ayah yang sakit badanku, bukan otakku atau mulutku hingga tak diperbolehkan berbicara.” Kata Gu Ana menenangkan Tuan Gu.
“Ah benar Ayah, otaknya memang tak apa apa, aku rasa setelah ini dia akan lebih gila dari yang sebelumnya.” Kata Gu Jun memancing perdebatan.
“Ya… kau ini aku memang baru sembuh, tapi aku masih bisa membalas omonganmu, Gege apa boleh aku bertanya?” kata Gu Ana mengalihkan pembicaraan.
“Iya An’er kau ingin menyanyakan apa?” kata Gu Min kepada An’er.
“Apa kau sudah berkencan dengan calon kakak ipar ku?” tanya Gu Ana dengan wajah polos.
“An’er jangan memulai lagi.” Kata Gu Min jengah melihat kelakuan Gu Ana.
Mendengar kata kata itu jiwa gibah Gu Jun, pangean Nan Cheng dan pangeran Zang Handrong terpancing.
“Aku sudah tahu siapa wanita itu, Ia memang cantik, dan beberapa kali mecuri pandang kepada Gege, tapi Gege seakan tidak peduli.” Kata Gu Jun menjawab pertanyaan Gu Ana.
“Ah benarkah? Aku takut dia akan sama seperti seseorang di antara kita, awalnya menolak dengan sangat keras. Eh ternyata dia malah jatuh cinta dan melakukan apapun demi gadisnya.” Kata pangeran Zang Handrong menyindir pangeran Zang Limo.
Mendengar perkataan pangeran Zang Handrong sontak membuat semua orang tertawa, sementara pangeran Zang Limo wajahnya sudah memerah seperti tomat busuk.
“Ah pangeran jangan begitu, kau saja belum menyatakan cita kepada sepupu jauhmu bukan?” kata Gu Ana menertawakan pangeran Zang Handrong.
Mendengar berita baru tersebut sontak membuat yang lain penasaran dibuatnya tidak terkecuali pangeran Zang Limo dan Gu Min, mereka biasanya sangat cuek dengan berita seperti itu.
“Ah… siapa?” tanya pangeran Zang Limo tiba tiba.
Mendengar pertanyaan pangeran Zang Limo sontak membuat mereka melongo, karna pangeran Zang Limo ternyata tertarik juga dengan kisah percintaan orang lain.
“Wah… sebentar lagi ada penambahan anggota Squart Gibah ya.” Kata Gu Ana sambil tertawa melihat ekspresi dari pangeran Zang Limo.
Mendengar kata kata Gu Ana sontak membuat pangeran Zang Limo, Zang Handrong, dan tuan Gu bingung dengan kata kata Gu Ana.
“Apa tadi? Se… sequart Gibah? Apa itu.” Tanya pangeran Zang Handrong.
Sementara Gu Min menepuk kepanya karna hal tersebut.
“Itu artinya perkumpulan gosip pangeran.” Kata Gu Min menjelaskan pertanyaan dari pangeran Zang Handrong.
“Ooo…” kata kata itu keluar secara serempak dari mulut pangeran Zang Handrong, pangeran Zang Limo dan Tuan Gu.