
Tapi Mala tahu, bahwa sekarang ancamannya sudah berkurang, Ririn telah tiada, setidaknya mereka tidak bisa lagi mengancam melalui Ririn.
"Ayah ayo kita kembali, jangan sampai istri kesayanganmu ini semakin mempermalukan keluarga kita." Kata Bili. "Maaf Om, Rik saya permisi dulu, maaf atas kelakuan istri ayah saya." kata Bili, segera keluar meninggalkan ruang kerja Rahen. Kemudian pamit dengan Lidia untuk pulang.
...
Sebekum mereka kembali, Raya segera keluar melihat jendela. Raya segera melangkah menuju jendela, dan bertemu pandang dengan Mala, mantan ibu tirinya.
Raya tersenyum manis ke arah Mala, sembari melambaikan tangan, kemudian menurunkan tangannya, seolah mengejek Mala.
Mala sangat geram dengan sikap Raya, yang kini berada di atas awan. Mala segera menutup pintu mobilnya, dengan sangat keras, membuat Raya tersenyum kemenangan.
Tiba tiba ponsel Raya berdering, membuat Raya segera memandang ke arah ponselnya. Ternyata yang menelponnya adalah Bili.
"Halo." kata Bili terkekeh di ujung sana.
"Kenapa sayang?" tanya Raya bingung dengan kekehan Bili.
"Dasar, jangan buat masalah sayang." kata Bili, membuat Raya tersadar, bahwa yang melihatnya bukan cuman Mala, namun juga Bili.
"Iya iya maaf." kata Raya sedikit terkekeh. "Udah dulu ya sayang, takutnya nanti mereka naik." kata Raya kambali.
"Iya hati hati ya sayang, kalau ada apa apa hubungi." kata Bima sembari terkekeh. "Tidur lagi, istirahat yang banyak, calon dari ibu anak anakku." kata Bima dengan nada menggoda.
"Dasar Mafia genit, sudahlah, kalau sudah sampai hubungi ya, hati hati." kata Raya membalas perkataan Bima. "Bye i love you." kata Raya segera mematikan sambungan telfonnya.
Raya segera membaringkan dirinya di tempat tidur, dan menarik selimutnya. Raya kemudian memejamkan matanya, agar segera tertidur.
Sementara di tempat lain, Ariana tengah menunggu mereka pulang. Ariana tak dapat tenang, jika tidak mendengar kabar dari mereka. Namun saat Arkan menghubungi kedua keponakannya tidak ada yang menjawab.
Ariana segera menghubungi calon kakak iparnya dan kakak nya, namun sama halnya tak ada yang menjawab.
"Ih Mas ngeselin banget sih mereka." kata Ariana sembari cemberut.
"Sabar sayang, mungkin mereka sudah ada di jalan." kata Arkan mencoba menenangkan Ariana.
"Ah iya mas mungkin ya." kata Ariana mencoba bersikap positif.
Tiba tiba bunyi klakson mobil terdengar, membuat Ariana dan Arkan segera ke arah depan. Kini yang masuk hanya dua mobil, sementara yang lain sudah kembali.
Arkan dan Ariana mengerutkan keningnya bingung. mengapa hanya ada dua mobil, jika yang lain kembali maka seharusnya ada tiga mobil, kemana mobil ayu dan Andre. Itulah yang mereka pikirkan.
"Andre masih di rumah sakit, katanya ada yang mau di urus." kata Farid tersenyum. "Ayo kita masuk dulu." kata Farid membuat Ariana tersenyum, kemudian segera masuk ke dalam rumah.
Setelah mereka semua sampai di ruang keluarga, Mereka segera mengistirahatkan diri, sementara Gilang dan Vian segera menapaki anak tangga menuju kamar mereka.
"Jadi Vian gimana?" tanya Arkan, khawatir dengan keponakannya. Saat melihat Vian harus di papah dengan Gilang.
"Vian baik baik saja, justru tengah hamil." kata Aida membuat Ariana bersorak tak percaya.
"Ah masa?" tanya Ariana, membuat yang lain mengangguk tanda meng iya kan.
"Iya sayang." kata Aida kepada adik iparnya. "Kita sebentar lagi akan jadi nenek." kata Aida, membuat Ariana berpikir sejenak.
"Maksudnya Ana bakal jadi nenek? Tapi kan masih muda." protes Ariana, membuat yabg lain terkikik geli.
"Ya kan kamu nikahnya dengan adiknya Mba." kata Aida, sontak membuat Ariana mengerucutkan bibirnya.
"Kalau di pikir pikir lucu ya, keponakan lebih tua dari pada tante nya, untung Om nya lebih tua, kalau om nya lebih muda kan tambah lucu." kekeh Ariana, membuat yang lain ikut terkekeh.
"Anakku yang sebentar lagi akan lahir saja, sudah memiliki calon keponakan." kekeh Ariana. Membuat Arkan segera mengusap lembut perut istrinya.
"Ya wajar dong, Arkan kan cuman beda satu tahun dua bulan dengan Andre." kekeh Farhat, membuat yang lain tiba tiba tersadar, kemudian terkekeh.
Sementara di tempat lain, Ayu dan Andre memasuki ruang pemeriksaan. Ayu meminta agar dokter memeriksa tentang masa subur nya.
Ya Ayu juga manusia, yang ingin memiliki keturunan. Melihat kedua sahabat, sekaligus keluarganya hamil, Ayu sedikit merasa bersedih, padahal dibandingkan dengan mereka, ayu memang lebih dahulu menikah dengan Andre. Namun hingga saat ini Ayu bahkan belum memiliki momongan. Ayu takut sesuatu yang salah terjadi pada dirinya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya dokter tersebut, sembari tersenyum ke arah Ayu dan Andre, ketika mereka telah duduk.
"Begini dok istri saya ingin mengecek kesehatan rahimnya." kata Andre membuat Ayu menganggukkan kepalanya.
Dokter itu mengangguk, dam mempersilahkan Ayu untuk memeriksakan ayu, di ruang periksa.
"Loh pak untuk apa cek kesehatan janini?" tanya dokter tersebut membuat Ayu dan Andre bingung.
...
Selamat datang 2021.