
“Sudah jangan memasang tampang seperti itu, aku juga tak tahu kenapa bisa begitu, kau selalu membutku resah dan risih, ketika berada di samping laki laki, atau pun hanya sekedar melayani omongan laki laki.” Kata pangeran Zang Limo sambil mengalihkan pandangannya.
Kata kata yang keluar dari pangeran Zang Limo sukses membuat Gu Ana melongo tak percaya, dengan apa yang di dengarnta. Gu Ana tak menyangka jika pangeran Zang Limo memiliki tingkat kecemburuan yang benar benar mencengangkan.
…
“Wah kau benar benar pencemburu yang mengerikan, sebegitu takutnyakah kau kehilanganku sayang?” goda Gu Ana kepada pangeran Zang Limo sambil terkekeh.
Sementara pangeran Zang Limo hanya diam, sambil melihat Gu Ana yang sangat senang menggodanya. Diam diam pangeran Zang Limo tersenyum melihat tingkah Gu Ana yang sangat menggemaskan.
Tak lama kemudian, pangeran Zang Limo dan Gu Ana telah sampai di kediaman keluarga Gu, pangeran Zang Limo segera keluar dari kereta dan segera membantu Gu Ana untuk keluar dari keretanya. Mereka segera masuk ke pafilium Gu Ana, sambil berbincang bincang tentang pelatihan yang akan mereka lakukan.
Gu Ana segera masuk ke kamarnya, dan mengganti hanfunya, dengan hanfu latihan. Hali ini hanfu Gu Ana berwarna merah bercampur putih. Setelah Gu Ana selesai mengganti bajunya, pangeran Zang Limo memasuki kamar Gu Ana sambil meletakkan sebuah kotak yang tak asing bagi Gu Ana, kotak tersebut adalah kotak kalung giok dari Charibert. Gu Ana sedikit mengerutkan keningnya ketika melihat pangeran Zang Limo membuka dan memperlihatkan kalung tersebut.
“Aku sudah memperbaikinya untukmu, maaf kan aku atas emosiku malam itu.” Kata pangeran Zang Limo, sambil membuka kotak lainnya, yang tak Gu Ana kenali. Pangeran Zang Limo segera membuka kotak tersebut dan memasangkan kalung tersebut dangan Gu Ana.
“An’er, ini kalung untuk mu, apa kau menyukainya?” tanya pangeran Zang Limo, sambil memasangkan kalung giok setengah hatu untuk Gu Ana.
Melihat hal tersebut Gu Ana tersenyum, sambil mengusap kalung tersebut, Gu Ana segera berlari ke arah cermin, dan memandang kalung setengah hati tersebut. Sambil terus tersenyum, Gu Ana memperhatikan kalung tersebut sanbil terus mengusap, dan memperhatikan kalung tersebut.
“Kau menyukainya?” tanya pangeran Zang Limo memeluk Gu Ana dari belakang, sambil terus tersenyum, sesekali mengecup puncak kepala Gu Ana.
“Hm… kau dapat dari mana ide ini? Mana sepasangnya lagi?” tanya Gu Ana sambil terus memandangi kalung tersebut.
Pangeran Zang Limo kemudian menyingkap lengan bajunya hingga naik ke siku, kemudian memperlihatkan gelang tangan yang bertengger di tangan pangeran Zang Limo, yang berbentuk setengah hati juga sambil menyatukannya dengan kalung Gu Ana tanpa melepas pelukannya.
Flashback on.
Setelah penghormatan pangeran Zang Limo segera menemani Gu Ana yang akan segera melakukan latihan tangding dengan pangeran Zang Jade, saat Gu Ana akan mengganti pakainannya pangeran Nan Cheng menemuai pangeran Zang Limo.
“Kelihatannya kau dan An’er sudah baikan.” Kata pangeran Nan Cheng sambil menepuk bahu pangeran Zang Limo.
“Hm… Gege apa kau tahu tempat memperbaiki kalung atau memebuat kalung?” tanya pangeran Zang Limo kepda pangeran Zan Cheng.
“Iya, apa kau mau membuat kalung untuk An’er?” tanya pangeran Nan Cheng.
“Tidak, aku ingin memperbaiki kalung An’er yang aku tarik kemarin.” Kata pangeran Zang Limo menunjukkan kotak yang berisi kalung Gu Ana.
“Apa kau hanya ingin memperbaiki kalung An’er? Tidak kah kau ingin membuat kalung dan gelang sepasang untuk mu dan An’er?” tawar pangeran Nan Cheng, kepada pageran Zang Limo.
Medengar hal tersebut, pangeran Zang Limo berbinar dan mengangguk dengan semangat. Sambil melihat ke arah pintu ruang ganti untuk Gu Ana, seolah melihat gadis tersebut sedang berdiri di sana.
“Baikalh kalau begitu aku pergi dulu, aku usahakan sore ini akan selesai.” Kata pangeran Nan Cheng meninggalkan pangeran Zang Limo.
Pangeran Zang Limo hanya mengangguk, mempertahankan kewibawaannya di depan para dayang dan penjaga yang saat ini berada di dekat pangeran Zang Limo.
Setelah sekian lama menunggu, akhirnya pangeran Zang Jade datang dengan hanfu yang baru saja Ia kenakan. Sambil menunggu Gu Ana, pangeran Zang Limo dan angeran Zang Jade berbincang bincang.
Setelah sore hari, pangeran Zang Limo mengantar Gu Ana hingga menaiki kereta di depan gerbang pintu. Pangeran Zang Limo kemudian meninggalkan gerbang setelah Gu Ana pergi jauh, dan tak lagi terlihat dari gerbang utama kerajaan. Pangeran Zang Limo kembali ke pafiliumnya, sambil menyunggingkan senyum yang sangat tipis, sehingga tidak ada yang menyadarinya.
Saat menjelang malam tiba, pangeran Nan Cheng datang ke pafilium pangeran Zang Limo, mengantarkan dua kotak kayu. Satu kotak kayu yang tadi pagi diberikan pangeran Zang Limo kepada pangeran Nan Cheng, sementara yang satunya lagi kotak kayu yang itu, merupakan kotak kayu yang telah di janjikan oleh pangeran Nan Cheng kepadapangeran Zang Limo.
Pangeran Nan Cheng kemudian membukakan kotak kayu, yang baru saja di belinya saat menempa sebuah kalung dan gelang tangan kepada pembuat perhiasan di kerajaan tersebut.
“Ini untukmu, dan ini untuk An’er.” Kata pangeran Nan Cheng memperlihatkan sebuah gelang tangan dan sebuah kalung yang berada di kotak yang sama.
Pangeran Zang Limo dengan senang hati menerima dan menggunakannya, kemudian pangeran Nan Cheng segera memasangkan permata Giok milik pangeran Zang Limo dan Gu Ana, setelah di satukan, betapa bahagianya pangeran Zang Limo, karna kalung dan gelang itu berbentuk hati setelah di satukan.
Flashback off.
“Selamat ulang tahun sayang.” Kata pangeran Zang Limo sambil memeluk Gu Ana dan mencium puncak kepala Gu Ana.
“Terimakasih, ini adalah kado terindah yang pernah aku temui.” Kata Gu Ana sambil terus mengelus kalung dengan permata giok yang saat ini masih menyatu dengan gelang milik pangeran Zang Limo yang berbentuk hati dan berwarna biru laut, seperti warna yang Gu Ana sukai.
“Aku bahagia mendengarnya, aku menyangimu dan akan terus menyayangimu, untuk di kehidupan ini dan di kehidupan selanjutnya.” Kata pangerang Zang Limo sambil terus menatap cermin, yang memantulkan cahaya dirinya dan Gu Ana.
…
Jangan lupa like and comment, tolong tinggalkan jejak ya biar author tambah semangat, dan punya masukan agar bisa memperbaiki kesalahan yang author buat, sip… ok.
Mohon maaf author cuman bisa up sedikit karena author tengah sibuk saat ini, dikarenakan harus berkutat dan bergelut dengan para tugas yang dengan tidak tahu dirinya semakin bertambah, terimakasih semoga kalian mengerti.