It'S Me

It'S Me
Episode 39....



“Ayo…” kata pangeran menarik tangan Gu Ana kearah Gazebo yang tempati Xu Jiang dan jendral Li Zong. Sedangkan Gu Ana yang ditarik tangannya hanya menurut saja.


Sesampainya mereka di gazebo tersebut, pangeran Zang Limo dan Gu Ana tertawa geli membayangkan wajah mereka masing-masing saat hampir ketahuan oleh Xu Jiang dan jendral Lizong.


“Kau tau pangeran? Aku sungguh akan malu jika ketahuan mengintip mereka, mau di taruh dimana mukaku nantinya, hahahaha.” Tawa Gu Ana saat mengingat kejadian tadi.


“Ya, aku tak akan melakukan hal ini lagi.” Kata pangeran Zang Limo sambil tertawa lepas.


“Ah iya… tapi apa kau melihat wajah Gege Zong yang merah padam seperti kepiting rebus? Sangat lucu dan membuatku ingin sekali tertawa keras saat dihadapannya.” Tambah Gu Ana sambil tertawa.


Mendengar hal tersebut sontak menambah tawa pangeran Zang Limo, karna menurutnya ekspresi yang ditunjukkan jendral Li Zong sungguh lucu.


Melihat pangeran Zang Limo tertawa keras membuat Gu Ana sedikit tertegun, karna menurutnya ini pertama kalinya pangeran Zang Limo tertawa begitu keras dihadapannya.


“Pangeran, kau tau menurutku kau sangat tampan ketika tertawa.” Jujur Gu Ana  ketika melihat pangeran Zang Limo tertawa lepas.


Mendengar perkataan Gu Ana pangeran Zang Limo tertegun, sambil tersenyum malu saat menengar kata-kata Gu Ana, jika di ingat-ingat lagi dulu pangeran Zang Limo memang jarang tertawa selepas ini.


“Jika kau bisa tertawa selepas ini, mungkin aku akan mengajakmu untuk melakukan hal lainnya, aku jamin pangeran akan lebih tertawa lagi.” Tutur Gu Ana dengan tersenyum manis kepada pangeran Zang Limo.


Mendengar hal tersebut sontak membuat pangeran Zang Limo merasakan bahagia yang luar bisa, wajahnya mulai memerah karna detak jantungnya yang mulai memompa lebih cepat dari biasanya.


“Pangeran, wajah pangeran kenapa merah?” tanya Gu Ana bingung.


“Ah lihat matahari akan tenggelam.” Kata pangeran Zang Limo mengalihkan percakapan mereka.


Pangeran Zang Limo melihat wajah antusias Gu Ana tersenyum, sedangkan tangan kanannya sudah melingkar di pinggang Gu Ana.


Gu Ana yang merasakan ada sebuah tangan kokoh yang melingkar di pinggangnya terkejut. Kemudian mengalihkan pandangannya kepada pangeran Zang Limo yang berada di samping kirinya, niat hati ingin bertanya namun lagi-lagi Gu Ana terkejut karna pangeran Zang Limo sudah sejak tadi melihat kearah Gu Ana sambil tersenyum.


Pangeran Zang Limo yang sejak tadi memandang Gu Ana tersenyum saat melihat wajah terkejut Gu Ana, saat Gu Ana mengalihkan pandangannya ke arah pangeran Zang Limo, pangeran Zang Limo kembali tersenym karna melihat ekspresi terkejut gadis tersebut.


 “Kenapa terkejut? Baringkan kepalamu di pundakku, katanya itu akan lebih indah.” Kata pangeran Zang Limo tersenyum menawan kearah Gu Ana.


Gu Ana melihat senyum menawan pangeran Zang Limo, kembali terkejut, seketika jantungnya berpacu dengan cepat membuat wajahnya memanas, secepatnya Gu Ana membalikkan wajahnya kearah matahari yang akan tenggelam.


“Baringkan kepalamu di pundakku An’er.” Kata pangeran Zang Limo dengan nada lembur.


Seolah di hipnotis Gu Ana membaringkan kepalanya di pundak pangeran Zang Limo, dengan sukarela sambil menikmati pemandangan matahari tenggelam, yang Gu Ana rasa itu berkali lipat lebih indah dari yang biasa Gu Ana lihat.


Sedangkan pangeran Zang Limo yang melihat Gu Ana membaringkan kepalanya, membuat pangeran Zang Limo mengeratkan pelukannya seolah tak ingin Gu Ana pergi darinya, lalu dengan lembut pangeran Zang Limo mengecup kepala Gu Ana.


Sementara itu empat pasang mata yang sedari tadi memperhatikan kemesraan mereka tersenyum-senyum dibuatnya. Mereka adalah pangeran Zang Handrong, pangeran Nan Cheng, jendral Li Zong dan Xu Jiang, mereka mengintip segala aktifitas yang Gu Ana dan pangeran Zang Handrong lakukan.


“Ah… lihatlah Limo sangat inisiatif, aku rasa mereka sangat cocok.” Kata pangeran Nan Cheng sambil tersenyum senyum.


“Iya… aku tak pernah melihat Limo sebahagia itu, Limo tertawa sangat lepassaat bersama An’er.” Kata pangeran Zang Handrong sambil tersenyum bahagia, melihat perubahan sikap pangeran Zang Limo saat bersama Gu Ana.


“Aku rasa akan ada pertunangan setelah ini, benar kan Handrong?” kata pangeran Nan Ceng sambil melihat jendral Li Zong dan Xu Jiang. Sementra wajah mereka menahan malu ketika mendengar hal tersebut.