
Ketika Brian membuka t-shirt hitamnya hingga ke atas dadanya, beberapa wanita memandangnya, dengan pandangan menggoda. Ada juga yang memandangnya dengan pandangan lapar.
"Cih wanita jaman sekarang benar benar tak memiliki sopan santun." guman Brian, sembari mengabaikan t-shirt nya, untuk menutupi roti sobeknya.
Anna yang mendengar hal itu, hanya menggeleng. Menurut Anna itu bukan sepenuhnya salah mereka, namun Brian yang begitu gamblang, membuka t-shirt nya.
"Hei aku juga wanita, kau lupa?" tanya Anna menggoda Brian, yang tampak kesal.
Brian memicingkan matanya memandang Anna, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Kau wanita yang sebentar lagi berumur tujuh ratus dua puluh lima tahun." kata Brian sedikit berbisik.
Anna tertawa mendengar penuturan sahabatnya benar, bahwa dia benar saja mungkin mantan pacarnya, yang terakhir kali kini sudah sebesar dirinya.
"Jika kita menelusuri sejarah, mungkin mantan kekasih mu dulu, sekarang sudah mempunyai cicit." ledek Brian sembari cengengesan.
Bukannya marah Anna justru ikut tertawa, mendengarkan ucapan Brian. Untuk apa dia marah, toh itu memang benar, makhluk panjang umur sepertinya memang begitu, Meski setiap lima tahun sekali harus mencari penawar.
"Kaum vampir itu memang cukup mengesalkan, pengawasan mereka memang semakin ketat, belum lagi mereka mengetahui keberadaan mu, mereka pasti akan menyembunyikan penawar mu." bisik Brian membuat Anna mengangguk mengerti.
Anna tersenyum kecut, karena ternyata keberadaannya sudah di cium oleh banyak orang.
"Untung saja kaum serigala kemarin memberontak di kota, beberapa gedung terbakar." kata Brian melanjutkan pembicaraannya.
"Kita kaum cahaya, tidak boleh ikut campur." kata Brian lagi, membuat Anna benar benar mengangguk.
Anna adalah hasil terlarang, karena menentang hukum alam. Anna di lahir kan dari cahaya dan kegelapan. Ibu Anna adalah kaum cahaya, atau bangsa peri, sementara ayahnya adalah kaum kegelapan, yang berasal dari bangsa vampir.
Di dunia ini terdiri dari beberapa kaum dan bangsa yaitu. Kaum cahaya, yang berasal dari bangsa peri. Kaum kegelapan, yang berasal dari bangsa vampir dan bangsa serigala. Dan terakhir bangsa manusia.
Keberadaan Anna sebuah berkah dan juga sebuah petaka, kekuatan besar bersemayam di dalam tubuh Anna. Perpaduan kaum kegelapan dan cahaya memang menakjubkan. Bisa berguna sebagai obat maupun sebuah mesin penghancur, asal dapat mengendalikannya maka akan menjadi pemimpin dua kaum sekaligus.
"Hm... sepertinya menerima pekerjaan ini memang benar, karena itu ada di pulau pribadi klien ku, lagian mereka juga tak di sana." kata Anna tersenyum kaku.
"Iya ini adalah salah satu cara untuk bersembunyi, maka aku akan mencari lokasi, dan cara akan mendapatkan penawar nya." seru Brian. Anna segera pergi tidur untuk berangkat pagi sekali ke villa tersebut.
Anna bangun dan memesan taksi online untuk mengantarnya ke pantai. Anna kemudian memesan sebuah sped boat, untuk membawanya ke pulau tersebut. Anna menuntun sebuah kapal air, untuk mengantar perlengkapan kaca milik Anna.
Anna memiliki kesepakatan tidak resmi dengan pemilik rumah itu, saat sedang berada di negara lain. Tapi akhir akhir ini Anna tak sempat menghubungi pemilik rumah, karena kesibukannya.
Anna hanya ingin memberitahu kepada pemilik rumah, bahwa dirinya sudah akan memulai untuk mengerjakan pemasangan kaca di rumah tersebut. Pada musim lalu, pemilik rumah mengatakan bahwa Anna bisa langsung bekerja, dan langsung memulai projek yang sudah di sepakati.
Karena kepercayaan pemilik rumah tersebut kepada Anna, pemilik rumah tersebut bahkan memberikan kunci rumah mereka kepada Anna.
Penting sekali bagi Anna untuk berada di tempat ini, Karen bulan purnama masih memakan dua minggu lagi. Sementara Anna terus di buru, oleh kaum kegelapan. Dan orang yang mampu menyelesaikannya hanya Brian, yang kebetulan sedang bertugas di daerah ini, dikarenakan banyaknya warga manusia yang berjatuhan.
Belum lagi Anna yang harus menyelesaikan segala urusannya, agar bangsa kegelapan tak mengetahui keberadaan dirinya.
Pemilik rumah ini kebetulan adalah seorang penyanyi, aktor, dan juga pengusaha. Anna tahu benar orang seperti apa mereka. Orang orang yang terlihat santai, namun tak pernah menyia-nyiakan kesempatan, yang ada di depan mata. Namun memiliki sikap buruk, seperti sedikit egois, kurang ajar, pintar berkelit, namun juga menyedihkan, di saat yang bersamaan.
Namun para makhluk seperti mereka, adalah tipe orang yang tak akan memelitkan sesuatu, yang benar benar sangat memuaskan mereka. Mereka berani membayar mahal hanya untuk kepuasan. Anna membutuhkan uang, agar mampu bertahan dengan kehidupan sama seperti sekarang ini.
Anna meminta para awak kru kapal untuk menurunkan, dan mengantarkan seluruh cermin cermin yang di minta. Anna segera menuntun mereka untuk memasuki pekarangan sekitar.
Bulu kuduk para awak kapal berdiri, saat memasuki pulau hening, tampa penduduk tersebut. Rasanya mereka sedang syuting film horror saja. Apalagi saat ini mereka tengah memasuki pekarangan villa mewah, namun kosong, dan sunyi bak umah hantu. Tempat yang biasanya di jadikan untuk uji nyali para peserta dunia lain.
Pohon cendana yang mengelilingi pekarangan rumah, begitu rindang dan besar. Belum lagi semak belukar yang benar benar besar. Dan lagi patung patung yang menghiasi pekarangan rumah, menambah kengerian para awak kapal.
Mereka melirik Anna, mereka khawatir kalau Anna akan terganggu oleh makhluk halus, yang ada di sekitar tempat itu.
"Nona apa anda yakin akan sendirian di sini?" tanya salah seorang anak buah kapal.
"Iya tidak akan ada masalah bukan?" tanya Anna, santai.
Mereka semua bergidik ngeri mendengarkan kata kata Anna. Namun mereka memilih untuk diam, tak ingin bertanya lagi.
"Nona ini di letak di mana?" tanya salah seorang awak kapal itu.
"Ini bisa kita letakkan di teras itu." kata Anna menujuk sebuah sisi teras yang cukup bersih.
"Baik nona." kata para awak pekerja segera meletakkan semua, cermin cermin itu di teras rumah yang di tunjukkan.
Setelah itu mereka langsung saja pamit, sembari sedikit terburu buru, mereka terlihat tergesa gesa, karena takut akan adanya hantu.
Anna hanya menggeleng melihat tingkah mereka. Sungguh kaum manusia memang aneh, mereka takut akan yang tidak ada, namun mereka tak menyadari bahwa wanita, yang tadi mereka khawatirkan, mungkin lebih tua dari pada buyut mereka.
Membayangkan semua hal itu, sontak membuat Anna kerkekeh geli. Anna segera masuk ke dalam pekarangan, dan melihat sekitar. Anna segera memasuki rumah tersebut, sembari mengedarkan pandangan.
Anna berdecak kagum, musisi memang memiliki jiwa seni yang sungguh luar biasa. Lihat saja arsitektur mereka, yang bergaya abad ke tujuh belas, dengan berbagai corak yang benar benar sangat elegan.
Anna mengakui ini memang sangat cocok untuk dirinya, dan yang suka akan kedamaian, dan ketenangan.
Flashback off.
Siapa sebenarnya yang ada di dalam villa ini? Bukankah seharusnya tidak ada orang? Bagaiman di villa yang tepat berada di tepat berada di pulau pribadi? Namun yang semakin Justin bingung kan, bagaiman seorang wanita berada di tempat ini. Bahkan denyut nadi wanita itu sama sekali tidak mengisyaratkan ketakutan.
"Buka pintunya manis." rayu Justin, kepada seorang wanita yang tengah mengayunkan pisaunya, tengah memotong atau mengupas sesuatu. Yang pasti Justin pikir itu merupakan sesuatu yang manis.
"Siapa kau?" suara gadis itu terdengar dari sebrang pintu sana. Dari penglihatan Justin sejauh ini, wanita itu sangat tenang, atau memang wanita itu tak memiliki rasa takut.
"Ini pulau dan villa pribadi." kembali terdengar suara Justin mencoba memberi pengertian.
"Aku tahu, aku di sewa untuk bekerja di sini." kata wanita itu, sembari melanjutkan aktifitasnya.
"Siapa kau?" kembali lagi wanita itu bertanya di balik pintu.
"Aku punya pisau, jadi aku beritahu tempat ini tidak di tinggali, atau ku panggil polisi." ancam wanita itu, dengan suara yang begitu tenang.
Justin terkekeh, Justin segera menyapu rambut yang mengganggu wajahnya. Entah wanita itu terlalu percaya diri dengan pisau buahnya, atau dirinya memang tidak pernah merasa takut.
Ah, tiba tiba sesuatu yang berada di dalam dirinya kembali bangkit, sebuah monster meminta untuk di puaskan.
"Buka pintunya, kita akan bicara baik baik." kata Justin dengan sedikit lebih lembut.
Lebih lembut? Tidak, menurut Justin ini sudah sangat lembut.
Justin Manarik nafas panjang, yang menjalar, dan memasuki rongga paru parunya, hingga mengembangkan perutnya.
Justin berjongkok, kemudian meniup lubang kunci yang ada di knop pintu. Justin memejamkan matanya, berusaha mencari tahu siapa yang ada di dalam sana. Justin sejak tadi sangat penasaran, dengan siapa sebenarnya yang ada di dalam sana.
Justin hanya ingin tahu dengan siapa ia berhadapan sekarang ini, dengan pecandu narkoba atau kah memang hanya wanita yang di pekerjakan sahabat nya.
"Aku tak akan keluar, kau tahu dalam artian membuka pintu," kata wanita itu. "Jika pun kau mengatakan namamu aku akan tetap menelfon polisi."
"Semoga kau beruntung sayang," seru Justin terkekeh. "Kau tahu bukan ini pulau pribadi, ada listrik pun tidak apa apa, apalagi sebatang sinyal."
Sambil berkonsentrasi, Justin mengikuti embusan berat nafas wanita itu, mengikuti setiap tarikan nafas yang merasuki dunianya. Setelah itu, lebih mudah bagi Justin untuk mendengar detak jantung wanita itu, tenang dan tidak terdapat sama sekali tetap jantung yang begitu memburu.
Ada makhluk cantik yang terjebak di balik pintu, tanpa jalan keluar, dan menunggu untuk dijadikan santapan. Yang dibutuhkan hanya sedikit waktu, dan penyerahan. Meskipun sebenarnya Justin sedikit ragu, karena wanita itu benar-benar tidak memiliki rasa ketakutan. Lagi lagi Justin berkerut dengan ekspresi dan detak jantung wanita itu, bagaimana mungkin ia sebegitu santainya dan tenangnya menghadapi orang asing ada di luar. Apa wanita itu memiliki kemampuan untuk beladiri? Sehingga wanita itu begitu tenang di alam sana.
^^^Kau kesini untuk melawan keinginanmu itu, ingat? Justin kembali mengingatkan dirinya sendiri.^^^
Ingatan Justin kembali di saat-saat dia menghabisi orang orang yang tak bersalah, dan bagaimana keadaan Jika dia kehilangan kendali. Apalagi semua media kini telah mengincarnya.
Seakan dicambuk di luka yang masih segar, seberkas moral menyentakkan Justin keluar dari lamunannya tentang darah. Ia mundur dari pintu, menatapnya seakan baru pertama kali melihat pintu tersebut.
^^^Apa yang sedang kulakukan? Aku kesini untuk melawan kecanduan itu. Kembali lagi batin Justin mengingatkannya akan tujuannya.^^^
"Aku pikir kita memulainya dengan cara yang salah, namaku Justin William. Aku yakin kau tahu siapa aku," kata Justin yang percaya bahwa namanya telah dikenal oleh semua orang.
"Kenapa aku harus tahu siapa dirimu?" seruan Anna yang memang tidak mengetahui nama itu, dan tidak peduli sama sekali. Baginya selama itu bukan urusannya, maka dia tidak akan peduli.
Justin bisa mendengar rasa percaya diri yang meningkat dalam tarikan napas wanita itu, ketenangan menyelimuti. Tidak mudah menyerah dalam bujukan Justin. Rasa percaya diri? Bagus. Itu akan memudahkan Justin mempertahankan diri, atau mempertahankan sisi kemanusiaannya dari godaan.
Tapi tunggu, Justin merasa mendengar sesuatu kata yang asing di telinganya. Lebih tepatnya wanita itu tidak mengenal dirinya. Sebuah kejutan untuk pria yang sangat terkenal di dunia.
^^^Apa katanya? Wanita itu tidak mengenalku? Seru Justin dalam hati tak percaya.^^^
"Jadi kau belum pernah mendengarkan boyband The Star Sing? Boyband yang yang baru dan paling terkenal di dunia, dan aku juga seorang pengusaha yang baru saja memenangkan penghargaan," seru Justin seolah mencoba mempromosikan dirinya sendiri.
"Apa tuan Alf ada di bandmu?" tanya Anna masih tidak mempercayai laki-laki itu. Ya anda bukan seorang gadis yang suka membaca tabloid apa yang sedang ngetren saat ini, atau hanya sekedar untuk menonton televisi, tentang gosip dan band terbaru yang ada di dunia.
"Kau kenal Alf? Ah iya, kau bilang dipekerjakan untuknya," kata Justin kembali mengingat kata-kata awal wanita tersebut.
"untuk mengerjakan kaca jendela berwarna yang ingin dipasang tuan Alf di ruang besar di bagian belakang. Aku... ah Kami sudah sepakat, tapi kami belum menetapkan tanggal resmi untuk mengerjakannya. Aku kebetulan punya sedikit waktu luang dalam jadwalku, jadi di aku menyempatkan diri untuk ke sini," lanjut Anna mencoba menjelaskan kembali kepada Justin. "Namun tuan Alf tidak menyebut-nyebut soal orang yang tinggal di sini, dan dia memberiku kunci rumah."
Justin mengingat, bahwa sahabatnya itu pernah menyebut nyebut sesuatu tentang perbaikan rumah sebelum pindah. Justin pikir sahabatnya itu hanya membuang uang, demi rumah yang hanya ditinggalinya selama beberapa minggu dalam setahun. Tetapi studio rekaman pasti akan didatangi The Star Sing kapanpun mereka memiliki waktu luang, ataupun saat mereka libur dari manggung. Ah... atau saat ini ini rumah tersebut terpaksa dijadikan sebagai persembunyian, bagi vampir yang putus asa seperti dirinya.
"Kau masih memegang pisau?" tanya Justin kembali kepada wanita itu, meskipun sebenarnya Justin dapat merasakan bahwa wanita itu masih menggenang pisau buah, meskipun sekarang Ia hanya memotong motong kecil buah tersebut.
"Iya," jawabnya singkat, terdengar sedikit lebih santai dan lebih tenang dari sebelumnya, meskipun sebelumnya sangat tenang.
Justin tersenyum, sembari menekankan tangannya ke pintu. Ia merentangkan jari jarinya dan memejamkan matanya. "Kau akan meletakkan pisau itu?"
Hening.
Lalu.
"Kurasa tidak. Aku tidak bodoh, wanita harus berhati-hati terhadap orang asing," seru Anna dari dalam kamar tersebut.
Bohong sebenarnya iya tak harus berhati-hati, ia memiliki kekuatan untuk menghentikan apapun yang laki-laki tersebut lakukan. Namun saat ini Iya terlalu malas untuk membukakan pintu.
Justin mengepalkan tangan, ia tahu wanita itu berbohong. Justin berfikir akan bersiap-siap mendobrak pintu kayu dan menghancurkannya. Tetapi sesuatu menghentikannya, ia ingin masuk. Menggunakan kekuatan akan mengajarkan kesenangan, bukannya hal yang buruk, tetapi rasa penasaran yang besar menggemuruh dan menguasai dirinya.
^^^Jangan terburu-buru, pelan-pelan saja. Nikmati seluruh waktumu, bersukarialah di dalam. Jika tiba waktunya maka akan mendapatkan hadiah tersebut. Justin menyeringai.^^^
Ok. Justin mengangguk, ia bisa bertindak pelan. Ia tidak perlu menakuti wanita tersebut, dan sampai ketika Justin tahu dengan siapa ia berhadapan, ia akan menakuti nya hingga wanita itu ketakutan.
"Bagaiman aku tahu kau orang yang kau sebut itu, yang entahlah namanya siapa itu? Ah... sudahlah tidak penting," kata Anna sembari terus menyuapi dirinya potongan apel. "Aku tak akan membukakan hingga benar benar merasa yakin."
Justin mengibaskan tangannya dengan anggun, kemudian mengetuk pintu tersebut dengan pelan. Justin ingin meyakinkan wanita itu tentang dirinya, ah... bahkan wanita itu saja lupa nama dirinya. "Buka pintunya, dan lihat sendiri."
Justin harus sedikit bersabar, dan saat pintu terbuka ia harus menakuti wanita tersebut, ia yakin pasti akan bersenang-senang sebelum karantinanya dimulai.
"Tapi Aku bahkan tidak pernah kenal dengan band mu. Aku salah satu orang yang paling jarang menonton televisi atau mendengarkan musik populer, atau bahkan untuk melihat majalah-majalah tentang bisnis, aku terlalu sibuk untuk itu." kata Anna dengan masih keengganan untuk berdiri, Anna masih ingin menikmati tiga potong terakhir apel tersebut. "Aku bahkan tidak bisa membedakan mu dari orang yang memang sering muncul di televisi atau tidak."
"Dasar wanita gi*la, tidak waras atau tidak moderen sih," umpat Justin kepada wanita yang berada di balik pintu sana. "Yah... mungkin kau satu-satunya orang di bumi ini yang belum pernah mendengar tentang kami, ataupun kau tidak pernah membaca tentang diriku di tabloid majalah bisnis," terang Justin dengan jujur. "Tunggu aku rasa Aku membawa dompet dan kartu tanda pengenal ku dibawah, tunggu sebentar aku akan mengambilnya."
"Aku tidak akan kemana mana," apa lagi ini potongan terakhir apel ku. Lanjut Anna dalam hati.
Sambil tertawa kecil, Justin menuruni tangga dan mengambil dompetnya. Justin tertarik dengan keberanian wanita itu, mungkin wanita itu memiliki senjata api, namun dari analisis Justin ia bahkan hanya memiliki pisau dapur di tangannya. Bahkan mungkin ia sibuk memakan sesuatu di dalam, karena Justin dapat merasakan gerakan wanita tersebut seperti mengunyah. Namun ingin rasanya Justin mendobrak pintu tersebut, karena rasa penasarannya juga sangat besar.
tapi sepertinya Justin belum akan melakukannya, bahkan Justin tidak mendengar detak jantung menggoda wanita tersebut, ini mengejutkan untuk seorang wanita. Sepertinya wanita itu cocok untuk menghentikan kecanduan nya, yang perlahan-lahan akan menghancurkan. Ia baru berada di sini setengah hari, dan mungkin ini akan bekerja sejauh ini.
Ketika melangkah lebar ke lantai dua, Justin melihat pintu kamar masih tetap tertutup, Justin memeriksa knop pintu, dan terkunci.
keengganan wanita itu untuk membuka pintunya, membuatnya menjadi jengkel hingga menimbulkan seringai. Penghinaan adalah hal yang tak pernah ia rasakan selama ratusan tahun ini, bahkan orang orang terus memujinya, baik boyband nya maupun secara personal. Ia tidak yakin bagaiman menghadapi hal ini, ini merupakan hal baru baginya.
sambil mengetuk-ngetukkan kakinya, Justin penghitung sampai sepuluh, itu menghentikan dorongan dalam dirinya untuk menendang pintu.
"Ini," Justin menyelipkan sim-nya di bawah pintu. "aku mengerjapkan mataku ketika mengambil foto tersebut, bahkan mereka tidak boleh memberikan kesempatan untuk mengambil ulang poto tersebut." seru Justin sedikit memberi candaan di kata kata nya.
Justin dapat mendengar langkah kaki wanita tersebut, wanita tersebut sepertinya memungut benda kecil yang baru saja diselipkan di bawah pintu. Ah wanita itu pasti membungkuk di atas kartunya untuk memeriksa.
"Kau lahir tahun tujuh puluh delapan?" tanya Anna sembari melihat benda kecil tipis yang diberikan oleh Justin.
"Ya, ulang tahunku sebentar lagi," tapi itu tidak akan berarti untuk Justin, karena ia tidak akan tua dan akan hidup berabad-abad lagi. "Kau?"
"Hm... delapan puluh tiga."
"Bukankah delapan puluh-an itu hebat?" sahut Justin mencoba sok akrab. "Bisa dibilang era fashion yang bagus."
"Aku lebih suka gaya klasik," terdengar jawaban santai dari Anna.
Justin kembali melihat timnya meluncur keluar dari bawah pintu, Justin kembali mau memungutinya dan memasukkannya ke dalam dompet. Justin masih setia menunggu di luar pintu.
Hanya beberapa saat rasanya ia menunggu berjam-jam, tetapi mungkin hanya beberapa menit saja, terlihat sedikit knop pintu mulai terbuka.
^^^Rupanya wanita itu sudah tidak malas lagi membuka pintunya. Seringai Justin sembari memperhatikan knok pintu yang terputar.^^^
Nalurinya mendorong Justin untuk segera melompat ke depan dan mengeluarkan taringnya yang panjang, guna untuk membangkitkan ketakutan wanita yang sejak tadi tenang dan santai di dalam. Tetapi bagian dirinya dari yang lain menolak hal itu, ia masih memiliki hati nurani. Hatinya masih kuat untuk mempertahankan sisi kemanusiaannya, dan menekan sisi monster yang ada di dalam tubuhnya.
SesuatuPian tidak bisa dihilangkan berputar keluar dari kamar tidur, wangi itu membelai pipi Justin, hingga memasuki pori-porinya. Wangi mengalahkan aroma bunga lavender, yang menekan bau darah dari wanita tersebut.
Wanita itu setinggi bahu Justin, dengan rambut yang panjang, dan terlihat lembut dengan sedikit sentuhan merah baja di beberapa tempat. Justin dapat mengendus tidak terdapat riasan wajah yang menempel di wajah wanita tersebut, tidak ada lipstik yang berminyak, atau maskara hitam yang berbau menyengat, dan tidak mengenakan untuk Justin.
Justin suka hal itu, dan bibir pucat tersebut memberikan kesan yang sangat memabukkan. Di balik pisau buahnya, Justin kembali melihat wanita itu mengelupas buah apelnya. Ah... sepertinya wanita itu mengambil buah dulu baru kemudian membuka pintu. Wanita itu mengupas apel dengan sampainya di depan Justin, tidak ada terpancar rasa takut dari raut wajahnya maupun dari detak jantungnya.